
Chapter 8 (Enka dan Dubas)
Setelah pasukan Barema mundur untuk mengatur rencana selanjutnya,pasukan Malona masih mengejar mereka yang dipimpin oleh Turva dan diikuti oleh semua sahabat yang lain kecuali Enka.Ia masih terluka karena terkena panah dari pasukan Raja Mesune.Enka masih berusaha untuk bertahan,tapi darah yang mengalir dari kepalanya sangatlah banyak sehingga ia kehabisan darah dan meninggal.Raja Kurgosul yang melihat kematian Enka merasa sangat takut terhadap Reaksi Turgam dan Tarlor.Ia tidak bisa membayangkan apa yang harus ia katakan jika ia gagal lagi melindungi para murid Turgam itu.Raja Kurgosul berusaha memberanikan diri untuk memanggil Turgam dan Tarlor untuk melihat keadaan Enka.
Sementara itu,pasukan Barema yang dipimpin oleh Tirgas masih dikejar oleh pasukan Malona yang dipimpin oleh Turva.Pasukan Barema lalu berhasil menutup pintu masuk ke Kerajaan dan berusaha mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya.Raja Mesune meminta bantuan kepada Kerajaan sekutu yang terdekat untuk meminta bantuan.Setelah semuanya berkumpul,terhitung ada 50.000 pasukan yang siap menghadapi pasukan Malona yang ada di balik pintu gerbang.
Turva merasa bahwa Raja Mesune pasti akan melakukan serangan balasan,ia lalu kembali ke Kerajaan Malona untuk membawa pasukan bantuan dari Kerajaan sekutu.Turva lalu menyerahkan kepemimpinan kepada Dubas.Setelah itu,Turva lalu dengan cepat menuju ke Kerajaan Malona untuk meminta bala bantuan.
Di Kerajaan Malona,Enka terlihat sudah tak tertolong lagi,Raja Kurgosul lalu meminta kepada Tarlor dan Turgam agar mereka segera membawa Enka untuk dimakamkan di Burd.Tak lama kemudian,Raja Kurgosul melihat Turva.Raja menanyakan bagaimana pasukannya yang tengah berperang di sana.Turva mengatakan bahwa ia membutuhkan bala bantuan karena ia merasa bahwa Raja Mesune terlihat seperti masih mempunyai rencana untuk membalas dendam atas pertempuran nya dengan membawa pasukan yang sangat banyak.Sebelum itu,Raja memberitahukan kepada Turva bahwa Enka saat ini telah meninggal.
Turva merasa sangat tidak percaya dengan itu,ia lalu berlari menuju kamar Enka dan melihat keadaannya.Ternyata benar,Turva melihat Enka yang telah tewas dengan kepala yang kehabisan banyak darah di bagian kepala.Turva merasa bersalah karena ia meninggalkan para sahabatnya untuk menghadapi Raja Mesune.Turva berusaha untuk tetap tegar dan menguatkan mental nya.Ia lalu dengan nada tinggi campur sedih meminta kepada Raja Kurgosul agar ia diberikan pasukan dari Kerajaan sekutu.Raja pun menuruti nya.
__ADS_1
Di Kerajaan Barema,Raja Mesune kini mengumpulkan 50.000 pasukan ditambah 5.000 pasukan nya sendiri untuk menghadapi pasukan Malona yang berjumlah 17.000.Raja Mesune merasa yakin dengan pasukannya itu.Raja lalu memerintahkan agar membuka gerbang masuk Kerajaan nya dan ia lalu memerintahkan agar seluruh prajurit agar maju menggempur Pasukan Malona yang dipimpin Dubas.Para Prajurit Barema kini terlihat sangat yakin mengalahkan Pasukan Malona mengingat jumlah pasukan mereka yang sangat banyak.Pasukan Malona sempat jatuh mental nya,tapi Dubas sebagai pemimpin pasukan segera menaikkan mental pasukannya agar tidak menyerah hanya karena jumlah pasukan yang berbeda jauh.Pasukan Malona pun menyerang dengan kekuatan 17.000 menuju Pasukan Barema yang berjumlah 55.000.
Di Kerajaan Malona,Raja pun berhasil meminta bantuan kepada kerajaan-kerajaan sekutunya.Para pasukan itu pun berkumpul dan berjumlah sebanyak 47.000.Turva lalu memberitahukan Raja Kurgosul bahwa ia akan pergi untuk membantu pasukannya yang ada di Barema.Raja pun mempersilahkannya.Turva pun dengan memimpin 47.000 pasukan segera menuju ke Kerajaan Barema.
Di Barema,pasukan Malona sangat terdesak karena jumlah pasukan yang berbeda jauh.Mereka berusaha bertempur mati-matian.Salah satu tantangan terbesar pasukan Malona yaitu pemimpin pasukan Barema,Tirgas.Pasukan Malona sangat susah mendekati Tirgas karena ia dilindungi oleh para prajurit di sekitarnya.Dubas segera membawa 1.000 pasukan siap mati menuju langsung ke jantung pertahanan Pasukan Barema dan berniat mengakhiri nya dengan menghabisi Tirgas.Dubas lalu menerobos barisan pasukan Barema bersama 1.000 pasukan berani mati itu.Tigra yang melihat Dubas lalu berusaha untuk mengejar dan menghentikan hal gilanya.Namun,ia sudah tidak bisa melihat Dubas dan ia sama sekali tidak punya kesempatan untuk menghentikannya.
Dubas pun berhasil menerobos barisan pasukan Barema dan ia menemukan Tirgas berada dalam perlindungan banyak prajurit.Ia lalu bersama pasukan berani mati yang tersisa 571 segera menghampiri Tirgas dan memberikan serangan terakhir.Tigra merasa sangat khawatir dengan keadaan Dubas.Ia lalu dengan membawa 300 pasukan bersamanya menuju Dubas.Tigra menduga bahwa saat ini Dubas sedang ada di sekitar Tirgas.Ia lalu bersama 300 pasukannya menuju ke tempat Dubas.
Di Barema,Dubas dan pasukannya kini sudah berada sangat dekat dengan Tirgas.Pembatasnya adalah para prajurit yang melindungi Tirgas.Dubas lalu memerintahkan kepada pemanah yang ada untuk memanah prajurit yang melindungi Tirgas.Pemanah lalu melepaskan beberapa panah dan akhirnya pelindung Tirgas tidak ada dan sangat mudah untuk membunuhnya.
Tirgas adalah prajurit yang sangatlah kuat.Ia bahkan mampu melawan 50 orang sendirian.Karena kekuatannya itu,Raja Mesune mempercayakan posisi pemimpin tertinggi pasukan kepada Tirgas jika Raja Mesune tidak ikut perang.Dubas memerintah kepada seluruh pasukannya untuk tidak mengganggu duel nya dengan Tirgas.Para pasukan siap mati itu kini melindungi pertarungan Tirgas dan Dubas dengan melingkari sekitar area pertempuran mereka berdua.
__ADS_1
Para prajurit Barema berusaha menembus pertahanan pasukan siap mati Malona itu agar pemimpin mereka tidak terbunuh.Raja Mesune berkata bahwa Tirgas tidak perlu pertolongan dengan alasan bahwa Tirgas hanya melawan Dubas,bukan melawan para prajurit siap mati itu.Para Prajurit nya pun menurutinya dan kembali berperang di medan yang lebih besar melawan ribuan pasukan Malona.Dubas kini berhadapan dengan Tirgas.Dubas awalnya merasa tidak percaya diri karena kemampuan nya jauh di bawah kemampuan Tirgas.Ia kini berusaha untuk berduel dengan nya agar ia bisa menurunkan mental semangat pasukan Barema.Dubas pun menyerang dengan kemampuannya yang masih belum dibilang bagus.Tirgas merasa heran dengan permainan pedang Dubas.Tirgas merasa bahwa ia sama sekali tidak merasakan perlawanan apa-apa saat berduel dengan Dubas.Tirgas merasa bahwa Dubas masih belum bisa menguasai teknik berpedang yang baik.Ia juga mengingat bahwa keahlian Dubas yang sebenarnya yaitu adalah sihir.Namun,Tirgas heran mengapa Dubas tidak ingin mengeluarkan sihirnya itu.Tirgas lalu memberikan Dubas kesempatan untuk bisa lebih lama menikmati hidupnya dengan berduel dengan nya.
Setelah beberapa saat,Dubas tampaknya lengah dan Tirgas terlihat tidak kuat lagi dengan rasa penasarannya.Tirgas lalu mendorong Dubas hingga terjatuh dan menanyakan mengapa Dubas tidak mengeluarkan sihirnya agar menang.Dubas menjawab bahwa ia ingin berduel secara adil dan hanya memanfaatkan teknik berpedangnya saja dan tidak menggunakan sihir.Dubas merasa bahwa ia harus melawan Tirgas dengan pedang melawan pedang.Di
dalam hati,Tirgas merasa kagum dengan semangat Dubas.Namun ia harus bertindak layaknya pemimpin pasukan yang harus membawa pasukannya menang dan membuat Raja Mesune bangga.Tirgas lalu berniat menghabisi Dubas,tapi sebelum itu ia ingin menanyakan apa yang ingin diharapkan oleh Dubas di saat-saat terakhirnya.Dubas merasa sangat kagum dengan sikap Tirgas yang ternyata punya rasa belas kasihan kepada musuhnya saat ia berada di posisi menang.Dubas lalu mengatakan bahwa ia ingin membantu Raja Kurgosul untuk membunuh Raja Mesune dan membebaskan rakyat Barema dari kekejamannya.Dubas juga ingin mengatakan bahwa ia ingin menyusul para sahabat nya dengan segera.Keinginan terakhir Dubas yaitu ia ingin dimakamkan hanya pada saat Raja Mesune tewas.Dubas ingin dimakamkan di sebelah makam nenek nya yang sudah merawat nya dari kecil karena orang tuanya telah meninggal akibat pertemuan yang pernah terjadi antara Barema dan Malona di Burd.Tirgas merasa bersalah karena ia harus membunuh Dubas yang tidak memegang senjata.Tirgas lalu memberikan pedang Dubas dan memintanya untuk berduel dengannya untuk terakhir kalinya.
Dubas lalu memegang pedang nya dan ia pun kembali berduel dengan Tirgas.Dan akhirnya,Dubas terbunuh oleh Tirgas dengan cara perutnya ditusuk pedang oleh Tirgas agar ia bisa segera menyusul para sahabatnya.Dubas lalu mengatakan kepada Tirgas "Terima Kasih Telah mempertemukannya dengan para sahabatnya"dan Dubas pun lalu terjatuh ke tanah dan meninggal.
Tirgas lalu kembali ke peristirahatan dan meminta kepada Raja Mesune untuk memimpin pasukan dengan alasan bahwa Tirgas merasa tidak enak badan.Raja Mesune menyanggupinya dan Tirgas pun segera beristirahat dan membayangkan bagaimana semangat yang ada di dalam jiwa Dubas dan para sahabatnya.Tirgas merasa kagum dengan semangat mereka.Tirgas selalu memikirkan bahwa ia akan membantu pasukan Malona agar bisa membuat rakyat Barema bisa lepas dari kekejaman Raja Mesune.Tirgas juga sering melihat Raja Mesune mengambil uang secara paksa dari pedagang kecil yang ia temui.Raja Mesune juga tidak segan-segan memukul anak kecil yang berada di jalur nya.Tirgas merasa bahwa ia harus membantu kerajaan Malona tapi ia tidak berani berkhianat kepada Raja Mesune karena ia adalah kepercayaan Raja.Tirgas lalu tidur dan berharap bahwa ia akan melupakan semua perbuatannya hari ini.
Berlanjut Ke Chapter 9!
__ADS_1