
Dalam kondisinya yang lemah tubuhnya terbaring di rerumputan, tanganya
mengibas-ngibas seperti mengusir hewan. “tidak kah benar itu semua hai qosim”
sahabatnya sembari duduk di sampingnya. “sahabatku pun juga mengatakanya. Semua
orang pun mengatakanya..” ia serambi tertawa sinis, terkadang suara tawanya
lepas…sebentar, diam, menangis. dan itu berlangsung secara berulang-ulang.
Sahabatnya prihatin dengan kondisi temanya itu..”haruskah ku bawa ia kesini,
Qosim ?” qosim terbangun, sambil menatap wajah temanya itu “hahaha…bagaiman
kamu akan membawanya kesini ? kamu naikan burung merpati terbang ?!” suaranya
sedikit meninggi dan bercampur emosi. Qosim berdiri, langkahnya terseret-seret
sambil berguman tak jelas lalu terjatuh tak sadarkan diri. Temanya segera
membawanya masuk ke rumah. Sungguh miris, sekali, kau qosim. Iklaskanlah bunga
menikah dengan orang lain, dia bukan takdirmu…
Pintu
rumah terbuka terlihat wanita duduk di sofa, ia menghampiri“Qosim.!” (suaranya
panik)
“tante,
tolong ambilkan air, dan paman..paman…
paman dimana tante ?” ibu qosim datang dengan membawa segelas air, “tante paman
kemana ?” nadanya panik, “masih di rumah pak Romli” hasan bergegas keluar meninggalkan qosim dan ibu qosim.
Saat
di tengah perjalanan “hasan ! mau kemana” suara itu menghentikan lankah hasan,
“ada apa?! “ hasan mendekat “ini…”
wanita itu sambil menyodorkan kardus kecil “apa itu?” “ini..berikan ke qosim.
Penting. Dari bunga katanya dapat mengurangi
rasa sakit hatinya” “baiklah, oke,aku duluan.” Setelah menerima barang itu Hasan
langsung pergi meninggalkanya.
Hari
ini sepertinya akan menjadi hari yang melahkan untuk hasan, sudah beberapa hari
ini ia mengurusi sahabatnya itu yang sedang merana dan hampir gila karena
cinta. Cih. Rasa cinta apa yang membuat seseorang hingga menggila seperti itu.
“hasan.”
Seketika ia menghentikan langkahnya. Paman ! kebetulan sekali.
“ada
apa sepertinya terburu-buru ?”
“qosim,
ia kumat lagi” seketika orang itu menghelai nafas kasar dan bergegas menuju
rumahnya. Hasan mengimbangi langkahnya yang tergesa-gesa, hingga di depan pintu
rumah “paman, tunggu sebentar” hasan menghentikan langkah, seketika paman pun
berheti “ada apa ?”
“ini
titipan dari Bunga untuk qosim, “ sembari menyerahkan kardus berukuran kecil,
paman itu meraihnya “ayo sekalian masuk dan kamu serahkan kepadanya”
Hasan
menggeleng pelan, “saya tidak bisa paman, ia tak akan mempercayainya” paman itu
menepuk pundak hasan. “trima kasih atas segalanya hasan”. Hasan tersenyu simpul,
“aku pamit”
Hasan
membalikan badan dan berlalu pergi, terlalu banyak tragedy ahir-ahir ini,
hingga ia harus menguras tenaganya. Ia berjalan santai kearah taman, awal pecan
seperti ini tidak banyak orang yang berlalu lalang di taman. Ini sangat cocok
untuk menyendiri. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan orang-orang hingga tanpa
disengaja ia menubruk seseorang hingga jatuh
Brukkk!
“maaf,
maaf, anda tidak apa-apa ?” sembari mengulurkan tangan membantu seorang wanita
yang terjatuh
“tidak
apa-a.. Hasan ?” wanita it terkejut melihat siapa orang yang menubrknya. Hasan pun sama ia juga terkejut dengan orang
yang baru saja ia tubruk.
“Nanda
?”
Ahirnya
mereka duduk di korsi taman, Hasan memberikan air mineral ke Nanda, ia
meraihnya “makasih” lalu meminumnya
“kamu
sekarang dikota ini ?” nanda mengawali pembicaraan
“ya”
“sejak
kapan ?
“sudah
lumayan lama sekitar satu tahun”
“benarkah,
kenapa aku tidak tahu kamu ada disini selama itu. Oh iya, bagaimana kabar Nafis
__ADS_1
?” hasan menoleh lalu menghelai nafas tak berdayanya,
“apa
terjadi sesuatu diantara kalian ?”
“banyak
sekali,”
“dia
masih bersamamukan ? kapan rencana kalian untuk menikah ?”
Hasan
hanya tersenyum kecut. “aku saja sekarang tak tahu kabarnya bagimana… bagaimana
kami bisa merencanakan untuk menikah ?”
“apa
maksudmu ?”
Hasan menghelai nafasnya kembali,
“ini berawal sejak……
23 november enam tahun yang lalu aku putuskan
untuk pergi ke tanah kelahiranku, yah aku pulang ketanah lahiranku, rasanya
sudah tak ingin menundanya lagi, rasa rindu ini sudah tak terpendamkan.. sudah
berapa tahun aku meningalkan tanah kelahiranku itu, dan kini aku kemali. Hingga
tibalah saat itu… saat dimana kisah ini dimuai
Hembusan
angin masih segar walaupun di pnggir jalan, suara indah kicauan burung di pagi hari
menambah suasana tenang, ku lihat sosok gadis berdiri tak jauh dariku, wajahnya
yang ayu dengan rambut hitamnya yang terurai, angin pagi yang begitu sepo itu sepertinya
mampu menembus jaket tebal yang ia pakai, “permisi…” seeorang setengah baya itu
mendekatinya, wanita itu menatap wajahnya
“ nafisa” ucapnya,
Wanita itu tersenyum dan diikuti dengan lesung
pipinya yang menambah ayu di paras wajahnya “ fisa sudah lama menunggu di sini
? ayo, buruan sepertinya kamu sangat kedinginan” mereka pergi meninggalkan
halte, mata ini tak mengalih ke pandangan lain dan masih melihatnya pergi
hingga tak terlihat, dan tinggalah aku di sisni,
“aden,,!” aku menoleh “maaf aden lama ke
sininya, soalnya tadi mampir dulu ke rumah pak dusun”
“oh gak apa pak, ayo pak kita langsung aja”
tanpa basa-basi banyak kita langsung pergi’. Di sepanjang perjalanan pak kasim
bercerita tentang apa yang terjadi selama disini, dari perubahan kecil hingga
besar, sudah seperti seorang ilmuan sejarah yang menceritakan kembali masa
lampau,
inggat ?” aku sangat kaget dengan apa yang ku lihat, di sisni telah banyak yang
berubah namun kesegaran dan keasrian alamnya masih terjaga “pak kasim,,” “iya
den,”
“pak kasim, ini benarkan tanah kelahiranku
dulu”
“lho, ya benar aden, ini tanah kelahiran aden”
“aku sangat takjub, pak kasim, walaupun sudah
banyak yang berubah namun ke asrian alamya masih terjaga”
“lihatlah itu aden, aden masih inggat ? waktu
aden masih kecil dulu, aden sering bermain bandulan di sana saat almarhum ayah
aden sedang menegok pertanian” pak kasim menunjukkan tempat dimana sebuah
peristiwa pernah terjadi disana.
aku masih tercengang dengan apa yang ku lihat,
semuanya masih sama, aku mendekati ayunan itu dan memegangnya “benar pak kasim,
taka ada yang berubah, aku masih ingat waktu dulu aku sering ke sini dan juga
teman-teman kecilku” aku tersenyum haru.
“pagi pak kasim,,,(sambil melambaikan
tangan)” sapa dari beberapa orang
“anak siapa itu pak, cakap, darimana datangnya”
sambut petani yang ada di pinggir sungai
“kau tak ingat ? ini hasan anak
almarhum syamsumar ” balas pak kasim
“anak, sultan syamsumar itu ? yang
katanya di pulau jawa ?” “benar, udah yo kita lanjut perjalanan”
Kami
melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak “pak kasim,” “iya aden” “pak
kasim, bagaimana kabar kerabat di sisni, lama sekali aku meninggalkan tanah
ini, hingga tak tau kabar karna jauh di pulau sebelah” “yah, begini lah aden,
semenjak kepergian kedua orang tua aden belum ada yang berubah, hanya saja,,,si
Adi sekarang merauntau ke negri orang karna kondisi ekonomi keluarga”
adi
ialah salah satu kerabat ku di sini, ibunya ialah adik ke tiga dari ayahku,
“bukankah almarum ayah saya telah menyumbang sebagia besar hartanya untuk keluarganya
?”
“kamu
__ADS_1
tau lah aden seperti apa keluarga mereka” aku hanya diam tak membalas perkataan
dari pak kasim, dalam hati aku berbicara diam diam berterima kasih atas jasa
pak kasim yang telah menjagaku sejak kecil hingga kini, pak kasim sudah
berkerja sejak lama di rumah ayah, pak kasim asli orang jogja yang pindah ke
pulau Sumatra setelah anak semata wayangnya pulang ke rumah keabadian, ia dan
istri beliau sankat terpukul atas apa yang menimpa mereka di tambah lagi
kondisi eonomi yang menyurut, pak kasim ahirnya memutuskan untuk pindah ke
Sumatra hingga ahirnya bertemu dengan ayahku, kini pak kasim dan istrinya
menetap di sini, meskipun beliau bukan keluarga kami namun beliau sudah saya
anggap seperti keluarga saya sendiri. Beliau sangat menghormati sosok ayah yang
telah membantu keluarganya, istri beliau sangat menyayangi ku, ia mengganggap ku sudah seperti anaknya sendiri.
“tungu pak,” aku menghentika langkah ku,
mataku tertuju pada sosok wanita setengah baya yang berada di ladangnya, tanpa
banyak kata aku langsug menghampirinya, “assalamu’alaikum,,” wanita setengah baya itu
membalikan badan “wa’alaikum sa..lam” ia terkejut, dan langsung berlari
memelukku “anakku,,,,hasan,,,,” aku mencium tangannya, matanya meneteskan air
mata “kenapa kau tak kunjung pulang,,,kenapa lama sekali” bu sanah ialah istri
dari pak kasim, pak kasim menghampiri “ayo kita pulang, kita siapkan makanan
aden pasti sudah lelah karna sudah menempuh perjalanan jauh”. Selama perjalanan
menuju rumah ku liahat wajah bu sanah sangat bersemangat, ia bergemberira.
sesampainya di halaman ia bergegas membuka pintu rumah “ ayo cepalah masu nak
aden, mana tasmu biar mamak yang membawakannya, tangan ibu sanah meraih tas yag
ku bawa, dan membawanya ke kamar, tak lama bu sanah pergi kedapur dan kembali
menyusul aku dan pak kasim dengan membawa nampan dan berisikan air minum, “lama
benar kau nak, tak kunjung kemari kapan kau akan menetap disini, ini rumahmu,
tak enak rasanya jika hanya kami yang tinggal disini”
“tak apalah mak, anggap saja seperti rumah
sendiri, lagian kalau bukan mamak dan pak kasim siapa lagi yang akan mengurus
tempat ini, lagian setelah ayah dan ibu saya tiada tak ada yang mengurus
semuanya, aku juga sangat berterma kasih kepada mamak dan pak kasim, terimkasih
sudah mau membantu ayah saya, dan segalanya”
“tak apa nak, seharusnya kami yang
berterimakasih atas kebakan ayah mu dan keluargamu yang telah membantu kami,,”
mak sanah sambil menuankan air ke gelas, “ayo diminum dulu”
Di tengah-tengah perbincangan kami, seseorang
mengetuk pintu “permisi,… mak sanah” mak sanah membukakan pintu dan berbicara di
ambang pintu, tangan ku mengambil gelas di meja dan meminumnya, “aden, saya
tinggal dulu ke rumah pak dusun mengurus rabuk pertanian” pak kasim sambil
beranjak pergi “pak kasim,,,” suara ku
agak keras, hingga mak sanah dan tamunya menoleh “ada apa aden ?“ aku mendekati
pak kasim “ini sekalian pak” aku menyodorkan kardus berukuran sedang “apa ini
aden ?” sambil menerima kardus dariku “tolong berikan ke keluarga adi dan yang
lainya”
“kenapa ndak aden sendiri aja yang
memberikanya sekalian mengunjungi mereka”
“tak apa pak kasim, besok saja saya kesana, mau istirahat dulu” kakiku melangkah ke samping pintu,
“nak, mak tinggal dulu, istirahatlah, tak lama mak akan kembali”
mak sanah beranjak pergi dengan tamunya dan sesaat mereka sudah tak terlihat,
tangan ku meraih ganggang pintu ketika pintu hampir tertutup rapat seseoang
memanggil
“permisi,! Tunggu !” bergegas aku membuka pintunya kembali dan meliahat siapa yang datang, aku tak menyangka. ia adalah wanita yang ku lihat di halte tadi “maaf mengganggu” aku sedikit tercengang tak berkutik, wanita itu mendekat
“maaf mengganggu, saya cari mak sanah apakah beliau ada ?” tutur katanya yang
lembut membuat aku terdiam,
“maaf, anda mendengarkanku ?” aku tersadar “eh..maksanah baru saja pergi, ada yang saya bantu ?”
“saya hanya inggin memberikan sebuah titipan dari ibu saya untuk mak sanah, bisakah anda memberikannya” sambil memberi wadah tertutup yang terbuat dari bambu, segera tangan ku meraihnya “baiklah,”
“terimakasih” ia tersenyum hingga lesung pipinya terlihat, matanya yang cerah
menaba keayuannya,
“saya undur diri, permisi” tingkahnya yang alus, membuat hatiku tenang, ia melangkah pergi, mata ini tak mengalih pandanan, sesaat mak sannah datang mereka berpasan saat ia turun dari tangga.
“nafis, nak apa kesini ?”
“oh itu mak, ibu saya memberi bingkisan” ia menoleh, tak sengaja mata kami saling bertatapan, dengan segera ia menatap mak sannah
“ya udah mak saya pamit
dulu” ia pergi, namun mata ini tak berpaling darinya, mak sanah tersenyum, tak sadar mak sanah sudah berada di dekatku, “ayu bener kan hasan”sambil masuk rumah, aku masih belum tersadar,
“iya mak,, eh apa mak, enggak mak “ aku menjawab sedikit gugup, bibir mak sanah menyungging senyum, dan aku mengikuti mak sanah
“lihatlah dirimu tadi tak mengalikan pandangan” sambil mengambil bigkisan berwadah anyaman bambu yang aku pegang, aku melangkah kekamar
“mungkin hanya kebetulan hasan menatapnya, mak,,,” tanganku memegang ganggang pintu kamar dan membukanya “nak,” aku menoleh
“kau tak bisa berbohong pada mak mu ini” sambil tertawa
“terserah lah mak,” segera aku membalikan muka dan diam-diam aku tersenyum sendiri saat menutup pintu kamar.
Di sore hari ini aku putuskan ikut mak sanah
ke lading, mak sanah sempat menolak aku ikut katanya tak enak hati aku baru datang dari pulau jauh-jauh pasti lelah. Namun hal itu tidak mempan bagiku, aku terus memaksa ikut keladang dan membantu mak sanah.
Setelah mengunjungi ladang tadi sore, rasanya letih menghampiri tulang-tulang kaki, malam yang panjang ini aku habiskan untuk berisiahat full karna besok akan menjadi perjalanan yang panjang untuk berkunjung kerumah kerabat. Malam yang panjang seperti lewat begitu saja, aku terbangun di sepertiga malam, ku buka jendela kamar, masih sepi, hanya terdengar suara hewan malam yang terdengar, ku pandangi rembulan
malam cahayanya sungguh menenagkan diri, sungguh betapa indahnya ciptaan Tuhan ini.
Perlahan kuhirup udara segar ini, sejuk, sunguh berbeda dengan hidup di kota besar, jam segini udara pun sudah sangat berbeda karna terkontiminasi dengan polusi udara, kupandangi lagi rembulan malam itu, sekali lagi aku menikmati ciptaan tuhan saat ini, ku hirup udara yang begitu sejuk, dan ku tutup
perlahan mata ini, tenang.
__ADS_1
Sekejap, ketenangan itu menghilang. Tergantikan dengan sosok bayangan seorang wanita tadi pagi, wajah ayunya dengan senyum manis ditambah dengan lesung pipinya menambah keindahan pada wajahnya, sangat murni. Seketika segera ku buka mataku kembali. Menyadarkan diri atas hal yang baru saja aku alami. Ku usap wajahku dengan tangan, sembari menghembuskan nafas kecil aku pun tersenyum tak percaya. Hatiku tersihir olehnya. "nafisa"