UJUNG DESA

UJUNG DESA
Episode 1 Bertemu


__ADS_3

Dalam kondisinya yang lemah tubuhnya terbaring di rerumputan, tanganya


mengibas-ngibas seperti mengusir hewan. “tidak kah benar itu semua hai qosim”


sahabatnya sembari duduk di sampingnya. “sahabatku pun juga mengatakanya. Semua


orang pun mengatakanya..” ia serambi tertawa sinis, terkadang suara tawanya


lepas…sebentar, diam, menangis. dan itu berlangsung secara berulang-ulang.


Sahabatnya prihatin dengan kondisi temanya itu..”haruskah ku bawa ia kesini,


Qosim ?” qosim terbangun, sambil menatap wajah temanya itu “hahaha…bagaiman


kamu akan membawanya kesini ? kamu naikan burung merpati terbang ?!” suaranya


sedikit meninggi dan bercampur emosi. Qosim berdiri, langkahnya terseret-seret


sambil berguman tak jelas lalu terjatuh tak sadarkan diri. Temanya segera


membawanya masuk ke rumah. Sungguh miris, sekali, kau qosim. Iklaskanlah bunga


menikah dengan orang lain, dia bukan takdirmu…


Pintu


rumah terbuka terlihat wanita duduk di sofa, ia menghampiri“Qosim.!” (suaranya


panik)


“tante,


tolong ambilkan air,  dan paman..paman…


paman dimana tante ?” ibu qosim datang dengan membawa segelas air, “tante paman


kemana ?” nadanya panik, “masih di rumah pak Romli” hasan bergegas keluar  meninggalkan qosim dan ibu qosim.


Saat


di tengah perjalanan “hasan ! mau kemana” suara itu menghentikan lankah hasan,


“ada apa?! “  hasan mendekat “ini…”


wanita itu sambil menyodorkan kardus kecil “apa itu?” “ini..berikan ke qosim.


Penting. Dari bunga katanya  dapat mengurangi


rasa sakit hatinya” “baiklah, oke,aku duluan.” Setelah menerima barang itu Hasan


langsung pergi meninggalkanya.


Hari


ini sepertinya akan menjadi hari yang melahkan untuk hasan, sudah beberapa hari


ini ia mengurusi sahabatnya itu yang sedang merana dan hampir gila karena


cinta. Cih. Rasa cinta apa yang membuat seseorang hingga menggila seperti itu.


“hasan.”


Seketika ia menghentikan langkahnya. Paman ! kebetulan sekali.


“ada


apa sepertinya terburu-buru ?”


“qosim,


ia kumat lagi” seketika orang itu menghelai nafas kasar dan bergegas menuju


rumahnya. Hasan mengimbangi langkahnya yang tergesa-gesa, hingga di depan pintu


rumah “paman, tunggu sebentar” hasan menghentikan langkah, seketika paman pun


berheti “ada apa ?”


“ini


titipan dari Bunga untuk qosim, “ sembari menyerahkan kardus berukuran kecil,


paman itu meraihnya “ayo sekalian masuk dan kamu serahkan kepadanya”


Hasan


menggeleng pelan, “saya tidak bisa paman, ia tak akan mempercayainya” paman itu


menepuk pundak hasan. “trima kasih atas segalanya hasan”. Hasan tersenyu simpul,


“aku pamit”


Hasan


membalikan badan dan berlalu pergi, terlalu banyak tragedy ahir-ahir ini,


hingga ia harus menguras tenaganya. Ia berjalan santai kearah taman, awal pecan


seperti ini tidak banyak orang yang berlalu lalang di taman. Ini sangat cocok


untuk menyendiri. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan orang-orang hingga tanpa


disengaja ia menubruk seseorang hingga jatuh


Brukkk!


“maaf,


maaf, anda tidak apa-apa ?” sembari mengulurkan tangan membantu seorang wanita


yang terjatuh


“tidak


apa-a.. Hasan ?” wanita it terkejut melihat siapa orang yang menubrknya.  Hasan pun sama ia juga terkejut dengan orang


yang baru saja ia tubruk.


“Nanda


?”


Ahirnya


mereka duduk di korsi taman, Hasan memberikan air mineral ke Nanda, ia


meraihnya “makasih” lalu meminumnya


“kamu


sekarang dikota ini ?” nanda mengawali pembicaraan


“ya”


“sejak


kapan ?


“sudah


lumayan lama sekitar satu tahun”


“benarkah,


kenapa aku tidak tahu kamu ada disini selama itu. Oh iya, bagaimana kabar Nafis

__ADS_1


?” hasan menoleh lalu menghelai nafas tak berdayanya,


“apa


terjadi sesuatu diantara kalian ?”


“banyak


sekali,”


“dia


masih bersamamukan ? kapan rencana kalian untuk menikah ?”


Hasan


hanya tersenyum kecut. “aku saja sekarang tak tahu kabarnya bagimana… bagaimana


kami bisa merencanakan untuk menikah ?”


“apa


maksudmu ?”


 Hasan menghelai nafasnya kembali,


“ini berawal sejak……


23 november enam tahun yang lalu aku putuskan


untuk pergi ke tanah kelahiranku, yah aku pulang ketanah lahiranku, rasanya


sudah tak ingin menundanya lagi, rasa rindu ini sudah tak terpendamkan.. sudah


berapa tahun aku meningalkan tanah kelahiranku itu, dan kini aku kemali. Hingga


tibalah saat itu… saat dimana kisah ini dimuai


Hembusan


angin masih segar walaupun di pnggir jalan,  suara indah kicauan burung di pagi hari


menambah suasana tenang, ku lihat sosok gadis berdiri tak jauh dariku, wajahnya


yang ayu dengan rambut hitamnya yang terurai, angin pagi yang begitu sepo itu sepertinya


mampu menembus jaket tebal yang ia pakai, “permisi…” seeorang setengah baya itu


mendekatinya, wanita itu menatap wajahnya


 “ nafisa” ucapnya,


 Wanita itu tersenyum dan diikuti dengan lesung


pipinya yang menambah ayu di paras wajahnya “ fisa sudah lama menunggu di sini


? ayo, buruan sepertinya kamu sangat kedinginan” mereka pergi meninggalkan


halte, mata ini tak mengalih ke pandangan lain dan masih melihatnya pergi


hingga tak terlihat, dan tinggalah aku di sisni,


 “aden,,!” aku menoleh “maaf aden lama ke


sininya, soalnya tadi mampir dulu ke rumah pak dusun”


 “oh gak apa pak, ayo pak kita langsung aja”


tanpa basa-basi banyak kita langsung pergi’. Di sepanjang perjalanan pak kasim


bercerita tentang apa yang terjadi selama disini, dari perubahan kecil hingga


besar, sudah seperti seorang ilmuan sejarah yang menceritakan kembali masa


lampau,


inggat ?” aku sangat kaget dengan apa yang ku lihat, di sisni telah banyak yang


berubah namun kesegaran dan keasrian alamnya masih terjaga “pak kasim,,” “iya


den,”


  “pak kasim, ini benarkan tanah kelahiranku


dulu”


 “lho, ya benar aden, ini tanah kelahiran aden”


 “aku sangat takjub, pak kasim, walaupun sudah


banyak yang berubah namun ke asrian alamya masih terjaga”


 “lihatlah itu aden, aden masih inggat ? waktu


aden masih kecil dulu, aden sering bermain bandulan di sana saat almarhum ayah


aden sedang menegok pertanian” pak kasim menunjukkan tempat dimana sebuah


peristiwa pernah terjadi disana.


 aku masih tercengang dengan apa yang ku lihat,


semuanya masih sama, aku mendekati ayunan itu dan memegangnya “benar pak kasim,


taka ada yang berubah, aku masih ingat waktu dulu aku sering ke sini dan juga


teman-teman kecilku” aku tersenyum haru.


“pagi pak kasim,,,(sambil melambaikan


tangan)” sapa dari beberapa orang


“anak siapa itu pak, cakap, darimana datangnya”


sambut petani yang ada di pinggir sungai


“kau tak ingat ? ini hasan anak


almarhum syamsumar ” balas pak kasim


“anak, sultan syamsumar itu ? yang


katanya di pulau jawa ?” “benar, udah yo kita lanjut perjalanan”


Kami


melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak “pak kasim,” “iya aden” “pak


kasim, bagaimana kabar kerabat di sisni, lama sekali aku meninggalkan tanah


ini, hingga tak tau kabar karna jauh di pulau sebelah” “yah, begini lah aden,


semenjak kepergian kedua orang tua aden belum ada yang berubah, hanya saja,,,si


Adi sekarang merauntau ke negri orang karna kondisi ekonomi keluarga”


adi


ialah salah satu kerabat ku di sini, ibunya ialah adik ke tiga dari ayahku,


“bukankah almarum ayah saya telah menyumbang sebagia besar hartanya untuk keluarganya


?”


“kamu

__ADS_1


tau lah aden seperti apa keluarga mereka” aku hanya diam tak membalas perkataan


dari pak kasim, dalam hati aku berbicara diam diam berterima kasih atas jasa


pak kasim yang telah menjagaku sejak kecil hingga kini, pak kasim sudah


berkerja sejak lama di rumah ayah, pak kasim asli orang jogja yang pindah ke


pulau Sumatra setelah anak semata wayangnya pulang ke rumah keabadian, ia dan


istri beliau sankat terpukul atas apa yang menimpa mereka di tambah lagi


kondisi eonomi yang menyurut, pak kasim ahirnya memutuskan untuk pindah ke


Sumatra hingga ahirnya bertemu dengan ayahku, kini pak kasim dan istrinya


menetap di sini, meskipun beliau bukan keluarga kami namun beliau sudah saya


anggap seperti keluarga saya sendiri. Beliau sangat menghormati sosok ayah yang


telah membantu keluarganya, istri beliau  sangat menyayangi ku, ia mengganggap ku sudah seperti anaknya sendiri.


“tungu pak,” aku menghentika langkah ku,


mataku tertuju pada sosok wanita setengah baya yang berada di ladangnya, tanpa


banyak kata aku langsug menghampirinya,  “assalamu’alaikum,,” wanita setengah baya itu


membalikan badan “wa’alaikum sa..lam” ia terkejut, dan langsung berlari


memelukku “anakku,,,,hasan,,,,” aku mencium tangannya, matanya meneteskan air


mata “kenapa kau tak kunjung pulang,,,kenapa lama sekali” bu sanah ialah istri


dari pak kasim, pak kasim menghampiri “ayo kita pulang, kita siapkan makanan


aden pasti sudah lelah karna sudah menempuh perjalanan jauh”. Selama perjalanan


menuju rumah ku liahat wajah bu sanah sangat bersemangat, ia bergemberira.


sesampainya di halaman ia bergegas membuka pintu rumah “ ayo cepalah masu nak


aden, mana tasmu biar mamak yang membawakannya, tangan ibu sanah meraih tas yag


ku bawa, dan membawanya ke kamar, tak lama bu sanah pergi kedapur dan kembali


menyusul aku dan pak kasim dengan membawa nampan dan berisikan air minum, “lama


benar kau nak, tak kunjung kemari kapan kau akan menetap disini, ini rumahmu,


tak enak rasanya jika hanya kami yang tinggal disini”


“tak apalah mak, anggap saja seperti rumah


sendiri, lagian kalau bukan mamak dan pak kasim siapa lagi yang akan mengurus


tempat ini, lagian setelah ayah dan ibu saya tiada tak ada yang mengurus


semuanya, aku juga sangat berterma kasih kepada mamak dan pak kasim, terimkasih


sudah mau membantu ayah saya, dan segalanya”


“tak apa nak, seharusnya kami yang


berterimakasih atas kebakan ayah mu dan keluargamu yang telah membantu kami,,”


mak sanah sambil menuankan air ke gelas, “ayo diminum dulu”


Di tengah-tengah perbincangan kami, seseorang


mengetuk pintu “permisi,… mak  sanah”  mak sanah membukakan pintu dan berbicara di


ambang pintu, tangan ku mengambil gelas di meja dan meminumnya, “aden, saya


tinggal dulu ke rumah pak dusun mengurus rabuk pertanian” pak kasim sambil


beranjak pergi  “pak kasim,,,” suara ku


agak keras, hingga mak sanah dan tamunya menoleh “ada apa aden ?“ aku mendekati


pak kasim “ini sekalian pak” aku menyodorkan kardus berukuran sedang “apa ini


aden ?” sambil menerima kardus dariku “tolong berikan ke keluarga adi dan yang


lainya”


“kenapa ndak aden sendiri aja yang


memberikanya sekalian mengunjungi mereka”


 “tak apa pak kasim, besok saja saya kesana, mau istirahat dulu” kakiku melangkah ke samping pintu,


“nak, mak tinggal dulu, istirahatlah, tak lama mak akan kembali”


mak sanah beranjak pergi dengan tamunya dan sesaat mereka sudah tak terlihat,


tangan ku meraih ganggang pintu ketika pintu hampir tertutup rapat seseoang


memanggil


“permisi,! Tunggu !” bergegas aku membuka pintunya kembali dan meliahat siapa yang datang, aku tak menyangka. ia adalah wanita yang ku lihat di halte tadi “maaf mengganggu” aku sedikit tercengang tak berkutik, wanita itu mendekat


“maaf mengganggu, saya cari mak sanah apakah beliau ada ?” tutur katanya yang


lembut membuat aku terdiam,


“maaf, anda mendengarkanku ?” aku tersadar “eh..maksanah baru saja pergi, ada yang saya bantu ?”


“saya hanya inggin memberikan sebuah titipan dari ibu saya untuk mak sanah, bisakah anda memberikannya” sambil memberi wadah tertutup yang terbuat dari bambu,  segera tangan ku meraihnya “baiklah,”


“terimakasih” ia tersenyum hingga lesung pipinya terlihat, matanya yang cerah


menaba keayuannya,


“saya undur diri, permisi” tingkahnya yang alus, membuat hatiku tenang, ia melangkah pergi, mata ini tak mengalih pandanan, sesaat mak sannah datang mereka berpasan saat ia turun dari tangga.


“nafis, nak apa kesini ?”


“oh itu mak, ibu saya memberi bingkisan” ia menoleh, tak sengaja mata kami saling bertatapan, dengan segera ia menatap mak sannah


“ya udah mak saya pamit


dulu” ia pergi, namun mata ini tak berpaling darinya, mak sanah tersenyum, tak sadar mak sanah sudah berada di dekatku, “ayu bener kan hasan”sambil masuk rumah, aku masih belum tersadar,


“iya mak,, eh apa mak, enggak mak “ aku menjawab sedikit gugup, bibir mak sanah menyungging senyum, dan aku mengikuti mak sanah


“lihatlah dirimu tadi tak  mengalikan pandangan” sambil mengambil bigkisan berwadah anyaman bambu yang aku pegang, aku melangkah kekamar


“mungkin hanya kebetulan hasan menatapnya, mak,,,” tanganku memegang ganggang pintu kamar dan membukanya “nak,” aku menoleh


“kau tak bisa berbohong pada mak mu ini” sambil tertawa


“terserah lah mak,” segera aku membalikan muka dan diam-diam aku tersenyum sendiri saat menutup pintu kamar.


Di sore hari ini aku putuskan ikut mak sanah


ke lading, mak sanah sempat menolak aku ikut katanya tak enak hati aku baru datang dari pulau jauh-jauh pasti lelah. Namun hal itu tidak mempan bagiku, aku terus memaksa ikut keladang dan membantu mak sanah.


Setelah mengunjungi ladang tadi sore, rasanya letih menghampiri tulang-tulang kaki, malam yang panjang ini aku habiskan untuk berisiahat full karna besok akan menjadi perjalanan yang panjang untuk berkunjung kerumah kerabat. Malam yang panjang seperti lewat begitu saja, aku terbangun di sepertiga malam, ku buka jendela kamar, masih sepi, hanya terdengar suara hewan malam yang terdengar, ku pandangi rembulan


malam cahayanya sungguh menenagkan diri, sungguh betapa indahnya ciptaan Tuhan ini.


Perlahan kuhirup udara segar ini, sejuk, sunguh berbeda dengan hidup di kota besar, jam segini udara pun sudah sangat berbeda karna terkontiminasi dengan polusi udara, kupandangi lagi rembulan malam itu, sekali lagi aku menikmati ciptaan tuhan saat ini, ku hirup udara yang begitu sejuk, dan ku tutup


perlahan mata ini, tenang.

__ADS_1


Sekejap, ketenangan itu menghilang. Tergantikan dengan sosok bayangan seorang wanita tadi pagi, wajah ayunya dengan senyum manis ditambah dengan lesung pipinya menambah keindahan pada wajahnya, sangat murni. Seketika segera ku buka mataku kembali. Menyadarkan diri atas hal yang baru saja aku alami. Ku usap wajahku dengan tangan, sembari menghembuskan nafas kecil aku pun tersenyum tak percaya. Hatiku tersihir olehnya. "nafisa"


__ADS_2