UJUNG DESA

UJUNG DESA
Episode 2 RAHASIA YANG TERTUTUP


__ADS_3

pagi ini langit lagi tak bersahabat, awan mendung dan setitik air bercucuran membasahi permukaan bumi. Alhasil para petani tak bisa pergi ke ladang, karena hujan.


Hujan disini berbeda dengan hujan di pulau lainya, disini kalau hujan orang tak bisa keluar rumah listrik semua padam, pasalnya hujan turun berserta dengan guntur. Jangan sekali sekali waktu hujan menyalakan tivi ataupun alat elektronik lainya, sangat berbahaya. Kau bisa kesambar petir.


Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, ada seorang pendatang baru di desa ini, ya sekitar semingguan ia sudah berada disini, kepala desa sudah memberi peringatan "kalau nak tinggal disini, patuhi semua peraturan disini. Dan waktu hujan listrik harus dimatikan. jangan dihidupkan barang elektronik. bahaya," namun pendatang itu tak mau mendengar kepala desa dan al hasil, sewaktu sore hari desa ini diguyur hujan dan guntur pendatang itu masih nekat menghidupkan barang elektronik di dalam rumah dan tak lama guntur-guntur itu menyambar rumah mereka hingga habis. sore itu tak ada yang menolong semua warga tak berani keluar karena guntur yang terus menyambar di luar rumah dan akhirnya warga berani keluar rumah ketika hujan telah berhenti.


Sungguh kasihan sekali. Hal inimengajarkan kita akan jangan pernah mengabaikan peraturan di satu tempat. Apa bila kita berkunjung di tempat lain maka ikuti peraturan disana. Jangan mengabaikannya atau alam yang akan mengajarkanmu.


Karena hawa yang semakin dingin


kuraih jaketku, "aden, mau kemana ?," tanya pak kasim, aku menoleh "tak kemana-mana, hanya dingin,"


"Oalah, kirain mau kemana, sini aden minum kopi," pak kasim sembari menuangkan segelas kopi di cangkir.


"Pak, sejak kapan adi pergi merantau ?," tanyaku lalu menyeruput kopi panas itu.


"Sudah satu tahunan aden, aden kenapa menanyakan itu lagi ?," sembari menaruh segelas kopi miliknya.


"Besok mau ke rumah adi pak,


barang yang kemaren sudah pak kasim antar ?"


"sudah aden,"


"apa katanya pak," tanyaku penasaran dan membuat pak kasim terdiam, seperti enggan menjawab. Pasti sudah terjadi sesuatu. "Ya sudah pak, ngak usah dijawab, biar besok saja saya selesaikan dengan


mereka,"


"maaf ya aden, saya ndak berani mengatakannya," ucap pak kasim.


"iya tak apa pak," jawabku lalu kembali menyeruput kopi "hahh" aku membuang nafas


jengah. "maaf aden" ku raih gelas berisi kopi itu dan meminumnya lagi, lalu meletakkannya kembali. sepertinya memang harus aku yang bertindak, jika tidak di lanjuti mereka akan semakin melunjak. Seketika aku berdiri dan meraih payung disamping pintu dan melangkah keruang depan.


"Aden, aden mau kemana ?," tanya pak kasim yang tiba-tiba aku beranjak pergi.


"Rumah kepala dusun," jawabku, ketika tanganku sudah memegang hendel pintu pak kasim berlari menghampiri "jangan aden, jangan sekarang, bahaya. Hujan sudah mulai


deras ditambah guntur sudah mulai terdengar, aden," jelas pak Aden yang terlihat panik.


"tak apa pak," segera tanganku menarik hendel pintu hingga pintu terbuka lalu membuka payung, ku abaikan perkataan pak kasim yang memperingatiku.


"Aden. besok saja aden !,"


Aku terus berjalan cepat tak


menghiraukan teriakan pak kasim. "Aden,!"


Kakiku terus melangkah menerobos hujan yang mulai deras. Suara guntur telah terdengar beberapa kali dan kilat sempat terlihat jelas di sebrang jalan. Aku tak menghiraukan itu semua, ku usir rasa takut itu jauh-jauh agar sampai di tujuan.


Jalanan yang sepi ditambah jalan sini masih tanah bercampur rumput membuat jalan kotor dan licin.


Jederrrr ! sebuah kilat menyambar sebuah pohon. Seketika hasan menepis. Aku terhenti lalu berjalan lagi. Ditambah jarak rumah antara satu dengan lainya lumayan jauh karena di setiap rumah mempunyai perkarangan.


Rumah kepala dusun sudah mulai terlihat. Jederrrr! sekali lagi kilat terlihat dan hampir menyambarku. Seketika aku melajukan langkah dengan cepat.


Jederrr !


kali ini kilat tepat berada di depanku. Sontak aku terlonjak hingga jatuh. Aku menelan ludahnya kasar, rasa gemetar yang aku tahan sendari tadi akhirnya memuncak dan dengan segera aku berlari ke bawah pohon berteduh karena payung yang ku bawa telah lenyap kebawa angin. Memang menakutkan ketika nyawa kita hampir hangus tersambar oleh kilat.


Ngeri-ngeri sedap.


aku mengatur nafas. Mengumpulkan


kepingan keberanian yang runtuh. Jujur aku masih gemetar.


Rumah kepala dusun tinggal di depan


mata. Dengan tekat aku melanjutkan langkahnya.


Akhirnya aku sampai di halaman rumah kepala dusun dan segera aku mengetuk pintu.


Tok Tok Tok. "Assalamu'alaikum, Pak,"


Aku mengetuk pintu lagi karena tidak ada sahutan dari luar.


Tok. Tok. Tok.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Dia ? aku sedikit terkejut dengan sosok yang membukakan pintu. Mata kami sempat menatap. "Siapa yang datang ?,''  seketika dia menoleh, dan terlihat kepala dusun datang menghampiri. Lalu dengan isyarat kepala dusun memerintahkan Nafisah pergi dan dengan segera iapun pergi.


"Nak apa hujan-hujan kemari ?," kepala dusun sembari melihat penampilanku yang kotor dan basah, yah bagaimana lagi tadi sempat terjatuh. Aku hanya tersenyum kikuk dan mulai kedinginan.


"Masuk"


seketika aku mengikuti kepala dusun masuk kedalam rumah.


kini kami duduk diruang tamu.


"ada urusan apa kemari ?," tanya kepala dusun yang menatap diriku penuh tanya dan menuntut sebuah jawaban.


Aku mengusap lenangku. "Saya mau bertanya perihal kasus kematian ayah saya," tanyaku langsung Tampa basa-basi, dan seketika raut wajah kepala dusun berubah.


"Buat apa kau tanyakan hal itu, tak pantas membicarakan orang yang sudah mati," ucapnya membuat ku sedikit tercengang


"Tepat sehari sebelum ayahku meninggal, ia kemari bukan, kepala dusun ?," tanyaku lagi dan membuat kepala dusun terdiam.


"Ia datang kemari. Saya benarkan kepala dusun ?," tanyaku lagi


kepala dusun diam dan belum ada niatan untuk menjawab pertanyaan ku.


Nafisah datang membawa nampan beisikan air. Perlahan ia menaruh gelas dimeja dan ia melirik wajah hasan yang penuh dengan aura penekanan menuntut suatu jawaban lalu melirik kearah kepala dusun yang terlihat diam dengan seribu ketenanganya. lalu ia meninggalkan tempat ia membaca situasi yang kurang baik lalu segera meninggalkan mereka.


"Minumlah dulu," kepala dusun sembari meraih gelas dimeja. Hasan diam, masih menunggu jawaban.


"Anak muda, tak pantas mengabaikan perkataan orang tua, apalagi menolak hidangan yang diberikan," jelasnya dengan tenang.


hasan meraih gelas dimeja lalu meminumnya. Dan segera meletakkan kembali gelas itu. Sorot matanya masih menuntut jawaban.


"Sekarang jawab, ada urusan apa ayahku datang kepadamu, apa yang kalian bahas ?"


kepala dusun membuang nafasnya.


"anak muda. memang benar ayahmu


datang kemari, tapi kami tidak membahas apapun, dia berkata, kalau dia akan


pindah, dan berpamitan,"


"mana mungkin ! ia bilang ada


ursan penting yang harus dibahas dengan anda, mana mungkin hanya mengatakan hal


itu !"


"anak muda, ayahmu hanya


berpamitan kesini dan tidak mengatakan apapun,"

__ADS_1


"lalau kenapa dia bisa dibunuh


!, kenapa kepala desa menutup kasus itu ?! sebenarnya apa yang terjadi. katakan


padaku !"


"anak muda, kejadian itu sudah


lama, tidak baik di ungkit kembali"


tidak baik diungkit ?


"ini bukan masalah baik atau


tidak pak, ini masalah keadilan. ini pembunuhan.! aku harus mencari keadilan


demi ayahku. pembunuh itu harus di tangkap !"


kepala dsun terdiam. sara guntur


yang bergemuruh menambah suasana menjadi semakin nyata.


kepala dusun membuang naasnya.


"kau sama kerasnya dengan ayahmu"


" jangan terlalu jauh, bila kau


menyelam terlalu jauh maka nyawamu sebagai gantinya. hanya itu. ya, hanya itu.


hanya kata itu yang aku bisa sampaikan kepadamu, sekaang pulanglah.hujan telah


berhenti" kepada dusun itu sembari mendorong hasan keluar. "pak"


"aku sudah tak ada kata untuk


dibicarakan lagi. pulanglah." kepala dusun sembari menutup pintunya.


"kepala dusun, kau tak bisa


mengusirku seperti ini." sembari mengebruk pintu dengan tangan. "aku


tahu anda mengeahui semuannyakan.!"


"kau salah anak muda. aku tidak


tahu apa pun. sekarang kau pergilah. hanya sia-sia jika kau datang kemari lagi.


pulanglah dan jangan kemari lagi.!"


ahirnya ia pergi meninggalkan rumah


kepala dusun.


Sang kepala dusun melihat ia pergi


meninggalkan rumahnya, ada helaian nafas penyesalan didiri kepala dusun.


"kakek," nafisa memegang


pundak kepala dusun. kepala dusun menghelai nafas dan menggelengkan kepalanya


"sungguh malang nasib anak itu" kepala dusun berpindah duduk di korsi


dan di ikuti nafisa.


"ayahnya menjadi korban


orang itu pasti akan celaka dan sampai ada yang mati. jadi tak ada yang berani


membicarakannyaa dan menguak kasus itu."


"apa kakek mengetahui kejadian


itu ?"


"seperti yang kau tahu cucuku.


kakek tak bisa berkutik apapun. mereka selalu bilang. Jangan terlalu jauh


menyelam atau nyawamu sebagai gantinya. ada  beberapa korban yang selamat


namun ia seperti orang ketakutan hingga harus dirawat dirumah sakit jiwa,ia


selalu mengatakan, jangan terlalu jauh menyelam atau nyawamu sebagai gantinya


"


"bagaimana bisa begitu ?"


"sudahlah, tidak baik


membicarakan hal itu terlalu jauh"


hasan kembali, ia membuka pintu


dengan keras. "aden,"


"aden udah kembali," hasan


tak menghiraukan mak sanah, ia langsung segera masuk ke kamar. dan membanting


pintu dengan keras.


aghhh!!! kenapa  ! kenapa !


semua orang menghindarinya ! kenapa !


ia mengacak rambutnya.


aghhh !


"aden,,," mak sanah


mengetuk pintu kamar. "aden, aden kenapa nak, cerita sama mak"


"aden tak apa kan ?" tak


ada jawaan dari dalam.


pak kasim pun mendekat "gimana


mak e,"


''gimana piye tho, lihat aden ndak


jawab sendari tadi."


"wislah, ben sek, ben tenang


ndisik bocah e" (biarlah dulu, biarlah tenang dulu anaknya)

__ADS_1


"kawatir aku pak, kaet maeng


ora nyauri di celuk"  (khawatir aku pak, sendari tadi tidak


menyahut di panggil)


pak kasim duduk di korsi sembari


meminum teh, ahirnya mak sanah menghampiri pak kasim.


“biarkan saja dulu, nanti kalo aden


udah tenang baru di tanyai pelan-pelan” pak kasim sembari menyerput tehnya


kembali.


“pak e maeng nyag ngendhi tho,


kok tibo-tibo ngilang lan lagi kethok” (pak’e tadi kemana tho kok tiba-tiba


menghilang dan baru kelihatan)


“Cuma nengok lading sebentar”


Ceklek. Hasan membuka pintu kamarnya.


“aden” hasan menoleh. Terlihat ia


sudah berganti baju dan berpakaian rapi.


“aden mau kemana lagi ?” Tanya pak


kasim


“rumah adi” sembari memakai topi


berwarna hitam.


“aden, sarapan dulu ya, mak ambilin”


hasan tak menjawab mak sanah ia segera duduk di korsi makan. Tak lama mak sanah


datang dengan mebaw nasi satu piring beserta laknya,


“makasih mak” sambil menerima piring


dari mak sanah dan segera memakannya.


“pelan-pelan makannya”mak sanah menuangkan


air mineral di gelas lalu di letakkannya.


“iya mak,”


Tok,tok,tok. “pak kasim. Mak sanah !


mak!”


Seseorang mengetuk pintu dan


memanggil berulang kali.


“siapa tu mak ?”


“entahlah aden, mak lihat dulu ya”


seketika mak sanah berjalan menuju pintu utama “ iaya bentar, bentar “ lalu


membuka pintu.


“Putut. Ada apa ?”


“kepala dusun mak e, pak kepala


dusun”


“ada apa tho sama pak kepala dusun”


“pak kepala dusun dibawa puskesmas”


Hasan menghentikan makanya. Kepala dusun


dibawa pskesmas ?.


Lalu iabergegas menyusul mak sanah.


“lho la kok bisa, ?”


“iya mak, kejadian masa lalu


terulang lagi mak, pak kepala dusun kena tulah”


“hus ! kalo bicara jangan


sembarangan !”


“beneran mak, sekarang bayak orang


nan tengok kesanan”


“ada apa dengan kepala dusun ?”


hasan tiba-tiba muncul


“pak kepala dusun dibawa puskesmas, mak


harus segera menengoknya”


“mak, ak ikut.”


“kamu ndak jadi kerumah adi ?”


“ndak mak, beso saja”


“ya sudah, ayo” mak sanah menutup


pintu rumah dan mereka bergegas menuju puskesmas.


Benar ,ketika mereka sapai, tempat


itu telah di kerumuni banyak orang, “minggir, minggir sini orang mau lewat” putu mencari jalan untuk sampai kedalam. di luar ruangan terlihat nafisa wajahnya bercucuran air mata sembri memeluk ibnya. mak sanah menghampiri mereka. "Ayati,"


"mak," ayati ib nafisa langsung memeluk mak sanah. "sabar ayati, sabar"


aku perlahan menghamiri jendela ruang perawatan mengintip ingin tahu keadaan kepala dusun.


dan. seketika mataku terbelalak tak percaya, darah, banyak darah diruangan itu.


tanganku bergetar menyaksikan darah disana.


apa ini, kenapa bisa begini, kakiku mulai lemas ketika aku mengingat perkataan kepala dusun. jangan terlalu jauh menyelam atau nyawamu sebagai gantinya. dan seketika kakiku seperti tak bertulang. diriku jatuh ke lantai.

__ADS_1


"tidak mungkin, ini tidak mungkin,,"


__ADS_2