
"Pi pisau," seketika ia melihat ke ranjang tempat kepala dusun terbaring, seketika tatapannya kaget dan bergetar seketika itu ia menjatuhkan pisau yang berada di tangannya tatapannya beralih dari tangan dan kembali ke ranjang kepala dusun yang sudah berlumuran darah.
ia menggeleng sembari tangannya bergetar hebat,
"tidak, Bu bukan i ini ti tidak mung kin," ia bergumam tak karuan. Ia mengangkat kepalanya melihat Nafisa yang terduduk di ambang pintu.
Ia melihat wajah itu kerkejut, sembari Munduk kebelakang "Fis, i ini ti tidak benar," Ayati berbicara dan mencoba melangkah ke depan namun seketika terhenti ketika Nafisa mundur dengan wajah takut bercampur tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"ti tidak, Bu Bu kan aku, Fis, kamu harus percaya," ucapnya terbata-bata.
"itu itu dia," seru seseorang pembawa kardus minuman tadi seraya ketakutan dengan diikuti beberapa orang disana.
Ayati menggeleng, dan mundur ketika petugas rumah sakit mendekatinya, ia memberontak ketika ditahan oleh beberapa orang.
"Bu bukan aku !, Bukan aku !, Tidak !, Kalian harus percaya aku tidak melakukanya," rancaunya.
"Ibu ikut kami dan jelaskan di kantor polisi," sahut salah satu petugas itu,
"tidak, aku tidak melakukannya !," Ia diseret saat melewati Nafisa terlihat ia terdiam tak percaya "Nafis, kau harus percaya ibu nak ! ibu tidak melakukanya kau harus percaya !," teriaknya.
Nafisa masih terdiam karena syok.
"ibu harap tenang dan ikut kami ke kantor polisi," ucap salah satu petugas disana.
suara serine terdengar polisi mulai berdatangan, terlihat kerumunan warga telah memenuhi halaman rumah sakit. Begitu cepat sekali berita menyebar.
suara ricuh, dan penuh penasaran. Beberapa awak media lokal pun telah berdatangan dengan kameranya.
__ADS_1
Polisi bergegas memasuki rumah sakit itu, dan memasuki sebuah ruangan dimana Ayati diamankan.
Terlihat Ayati duduk bergetar, dia linglung dengan kejadian yang dialaminya. Berbagai pertanyaan ia tak menjawab, ia hanya menangis, sesegukkan. Saat polisi datang pun ia masih menangis, dan memberontak saat dibawa ke mobil tahanan.
Suasana ricuh ketika melewati halaman rumah sakit, warga yang penasaran mendekat dan membicarakannya. Wartawan lokal sibuk berlomba mengabadikannya,
"Jadi pembunuhnya seorang wanita ?,"
"Ish, seorang Wanita membunuh ?,"
"Dasar wanita Iblis,"
"Tega sekali dia membunuh ayahnya sendiri, dasar wanita durhaka,"
"Kok ada ya orang kayak gitu,"
"Hukum gantung saja pak,"
"Benar pak !,"
"Jangan Samapi anakku seperti itu,"
suara-suara itu terdengar jelas sekali, riuh orang tak ada yang tak membicarakannya.
Ayati dipaksa memasuki mobil tahanan dengan kedua tangannya diborgol.
Sementara itu Nafisa dibawa diruang perawatan, ia pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sementara itu ruang rawat kepala dusun kini,diberi garis pembatas, polisi mengamankan barang bukti dan Jenazah segera diurus.
Malam yang begitu tenang kini menjadi mengguncang. Semua sibuk akan kejadian.
pagi menjelang,
Nafisa terbangun, pandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit rumah sakit dan ia berada di ranjang kesakitan.
"kau sudah bangun ?, minumlah dulu, biar ku panggilkan dokter untukmu," ucap seorang wanita paruh baya disampingnya sembari memberikan segelas air minum.
Nafisa menerima gelas itu dan meminumnya beberapa tegukan, lalu terdiam memegangi gelas dipangkuannya. Pandanganya tertunduk, ia merasakan pening dikepalanya.
Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya itu datang dengan seorang dokter. Dokter itu memeriksa keadaan Nafisa. Lalu menghampiri wanita paruh baya yang menunggu di sofa.
"Dia mengalami syok, biarkan ia istirahat dengan tenang, biar nanti Ayu kesini memeriksanya lagi," Ucap dokter perempuan itu kepada wanita paruh baya.
"baiklah Ayu,"
"oh iya bibi, nanti siang bibi bisa pulang masalah paman nanti biar Ayu yang menjaga, kebetulan hari ini Ayu pulang lebih awal," jelas dokter yang bernama Ayu itu.
"Baiklah, terimakasih Ayu," jawab wanita paruh baya itu.
Sementara itu Nafisa hanya diam mendengar percakapan mereka, ia teringat kejadian tadi malam, seketika ia turun dari ranjangnya.
"Nak, mau kemana ?, istirahatlah," ucap wanita paruh baya itu sembari menghampiri.
namun perkataanya tak dihiraukan, ia kekeh dan beranjak pergi sang dokter dan wanita paruh baya itu hanya bisa mengikuti dari belakang, takut jika pasien itu akan melakukan hal diluar dugaan.
__ADS_1
"Kakek,.." gumam Nafisa sembari menuju ruangan dimana terakhir kali kepala dusun dirawat.
"Kakek,.."