
Suasana rumah sakit masih ramai, beberapa polisi sedang mengolah TKP. Beberapa wartawan juga masih ada disana untuk mencari informasi sedetail mungkin.
Hasan dan mak Sanah turun dari angkutan umum dengan tergesa-gesa, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah mobil polisi yang terparkir dipinggir jalan.
"Aden, ayo Aden," ujar Mak Sanah yang menarik lengan Hasan dan berjalan sangat cepat. mereka segera masuk kedalam rumah sakit namun dicegat oleh polisi yang sedang menangani kasus disana.
"Maaf ibu dan Masnya tidak boleh masuk lokasi sedang ditutup untuk mengolah TKP,"
"Kami kerabat dari korban pak, biarkan kami masuk," ujar Hasan menjawab.
"Kalau begitu silahkan ikuti saya untuk menemui pihak korban," ujarnya lalu menuntun jalan masuk kesebuah ruangan.
Di suatu bangsal terlihat Nafisa duduk di ranjang kesakitan tatapannya kosong, dan ada bekas peluh diwajahnya.
"Nafis," panggil Mak Sanah seraya mendekat Nafisa mendongakkan kepalanya menatap siapa yang memanggilnya, pandangannya sayu dan kosong. Mak Sanah langsung memeluk tubuh Nafisa yang lemas mengusap punggung yang terlihat rapuh.
"Ibu, Mak, dia.." ujarnya lirih dan bergetar tak sanggup meneruskan kalimatnya.
"Shuttt, sudah diam jangan dilanjutkan, Masih ada Mak disini, kamu yang tabah ya Nak," ujar Mak Sanah yang menahan tangis supaya tidak jatuh dihadapan Nafisa.
Sementara itu di ambang pintu Hasan sedang berbincang dengan polisi yang meminta kesaksian Nafisa.
"Bila saudari Nafisa sudah sadar saya mohon untuk menemuinya dan menanyakan beberapa hal,"
__ADS_1
"Dia masih tertekan pak mohon pengertiannya, dia butuh waktu, datanglah setelah Nafis keadaannya lebih membaik," jawab Hasan yang berada diambang pintu.
Dua polisi itu menengok kearah Nafisa yang masih menangis di pelukan Mak Sanah.
"Baiklah kami akan kembali jika saudari Nafisa telah siap untuk kami tanyai beberapa pertanyaan," ujarnya lalu mereka pergi.
Sementara itu ditempat lain.
Ayati sudah berada di kantor polisi ia duduk dikursi dengan tubuh yang gemetar dan shok, mulutnya terus bergumam.
"Bukan aku bukan aku," lalu menangis bergumam lagi lalu menangis kembali, lalu melihat kedua tangannya dan berteriak histeria ketakutan.
"Bu bukan aku, jangan bunuh aku aku tidak salah jangan bunuh aku, bukan aku !," Ia kembali menangis.
"Tersangka mengalami depresi berat, untuk sementara waktu kita pindahkan diruang rehabilitas," ujar dokter yang memeriksa Ayati.
"Hubungi keluarga tersangka,"
"Bukan aku, dia dia dia bukan aku, jangan Bu bunuh aku," Histeris Ayati menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya.
Dokter segera menyuntikkan obat bius agar Ayati tenang. Saat ini ia tertidur dengan tenang dan mereka segera membawanya keruang rehabilitas.
***
__ADS_1
"Makanlah Nak," ujar Mak Sanah yang membujuk Nafisa beberapa kali namun tetap gagal Nafisa terus berbaring di ranjang kesakitan dan mogok makan. Ia kehilangan Hawa nafsunya untuk makan.
"Taruh saja di meja mak," sahut Nafisa yang masih berbaring.
"Ndak, Kau harus makan sekarang Nak, sudah sendari pagi perutmu tak kau isi," Nafisa hanya menggeleng dan memejamkan matanya.
Hasan yang baru datang masuk kedalam dan menghampiri Mak Sanah, terlihat tangan Mak Sanah memegang piring yang isinya belum berkurang sama sekali.
"Biar aku coba membujuknya Mak," ucap Hasan mengambil alih makanan yang berada ditangan Mak Sanah,
Beberapa kali Hasan membujuk tak membuatkan hasil namun ia masih memaksa hingga akhirnya Nafisa mau makan walau hanya beberapa suap nasi saja.
"Sudah," elaknya dan Hasan mengambil piring dari tangan Nafisa. Lalu Mak Sanah memberi segelas air minum kepadanya.
Mak Sanah merasa lega akhirnya Nafisa mau memakan makanannya walau sedikit.
"Aku ingin pulang," ujarnya pelan.
"Belum saatnya, kata dokter besok kamu baru bisa pulang,* jawab Hasan yang berada disampingnya.
"Aku mau pulang sekarang, aku tidak mau tinggal disini lagi," ujarnya dengan lemah ia selalu terbayang-bayang akan insiden itu saat berada dirumah sakit.
Nafisa ingin pulang ia benar-benar trauma dengan rumah sakit.
__ADS_1