
Hasan terdiam mencerna perkataan Mak Sanah yang terasa ambigu. Begitu juga Mak Sanah yang masih terdiam.
Mak Sanah menyentuh pundak Hasan menepuknya pelan seraya menahan tangis.
"Bapak sampun tilar dunyo,"
[Tilar dunyo: Meninggal dunia]
Hasan tercengang tak percaya menatap Mak Sanah.
"Sudah lama Aden, sekitar satu tahun setelah Aden pergi ke Jakarta," lanjut Mak Sanah seolah mengerti dengan tatapan Hasan yang menuntut jawaban.
"Bagaimana bisa Mak ?," Ujarnya lirih ingin sekali menanyakan banyak hal namun tenggorokannya seakan tercekat. Hanya sorot mata yang basah menatap Mak Sanah penuh pertanyaan.
"Banyak hal yang sudah terjadi Aden, banyak sangat banyak," ujarnya dan Hasan menangis tak kuasa mendengar kenyataan yang ada.
Ia tidak tahu kepergiannya meninggalkan begitu banyak cerita disana, dia seakan dijauhkan dari orang-orang terdekatnya.
Merasa marah, kenapa kejadian besar itu tidak sampai ke telinga dirinya. Dimana hilangnya kabar itu, dimana hilangnya orang suruhannya yang mencari keberadaan mereka, mengapa mereka tidak bisa tahu hal sepenting ini.
Atau mungkinkah ada seseorang yang memang menutupi semua ini ?, Atau masih ada sangkut pautnya dengan kematian beruntun itu ?, Jika Iya, siapa dalang dibalik itu semua ?.
Hasan mengusap rambutnya lalu menatap Mak Sanah yang berusaha tenang walau dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Dimana bapak dimakamkan Mak ?, Biar Hasan mengunjungi beliau,"
Mak Sanah tersenyum seraya mengusap rambut Hasan, lalu ia menggeleng. Disorot matanya terlihat amat kesedihan yang mendalam.
"Istirahatlah Aden, pasti Aden lelah,"
Hasan hanya mengangguk dan menurut saja, ia tahu Mak Sanah belum siap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mak juga istirahat," ujarnya lalu dan seorang asisten rumah tangga menghampirinya.
"Antar Mak Sanah ke kamar dan siapkan keperluannya," perintahnya kemudian Hasan beranjak pergi setelah Mak Sanah pergi dari ke kamarnya.
*****
Gremicik air hujan menghiasi kesunyian sore yang semakin gelap, disudut ruangan terdapat seorang perempuan duduk menatap keluar dari jendela.
Dari arah belakangnya terdapat seorang lelaki mengamati setiap pergerakannya, ia tidak peduli setiap hari hanya memandang kearah jendela entah apa yang dipikirkannya.
"Tuan, Nyonya besar datang," ujar seorang pelayan wanita.
Lelaki itu menoleh dan hanya mengangguk saja kemudian ia bergegas pergi.
"Daren," Ucap wanita yang lumayan berumur saat melihat anaknya datang. Ia meletakkan cangkir tehnya lalu menatap anaknya itu.
Daren duduk di sofa menghadap ibunya.
__ADS_1
"Ada apa ma ?," Tanyanya langsung.
"Bagaimana keadaan dia ?," Ucapnya tanpa menatap Daren.
"Tidak ada perubahan ?," Lanjutnya kembali lalu sudut bibirnya tersungging sebelah.
"Sungguh disayangkan uang yang kau keluarkan untuk wanita gila itu, terbuang sia-sia," ujarnya.
"Ma, dia akan sembuh," jawabnya seraya menyandarkan tubuhnya.
"Sembuh ?," Tanyanya seraya terkekeh "Apa kau bodoh ?, Sudah berapa lama dia di obati tapi tidak ada kemajuan sedikitpun, tinggalkan dia dan cari yang lain,"
"Ma, mana mungkin aku,"
"Wasiat kakek ?," Potongnya membuat Daren terdiam.
"Ma, aku harus menepati janji kakek,"
"Kau merawatnya sudah menepati janji, tidak ada larangan untuk menikah lagi bukan ?,"
Daren mengerutkan dahinya menatap sang ibunya.
Wanita itu beranjak dari duduknya ia bergegas menuju kamar istri Daren, begitu juga Daren bergegas mengejar ibunya.
"Ma, jangan aneh-aneh," ujarnya seraya mengejar.
Ibunya terhenti tepat di pintu yang setengah terbuka.
"Ma," ujarnya seraya mengikutinya.
Daren terhenti saat ibunya terhenti melihat wanita yang duduk menatap keluar jendela.
Wanita itu menoleh melihat orang yang datang ke kamarnya, tidak ada suara hanya seulas senyum singkat lalu kembali melihat keluar jendela.
"Apa begini kamu menyambut mertuamu," kata ibunya Daren.
"Ma," larang Daren namun dicegat tatapan tajam ibunya.
Wanita itu menoleh tatapannya terkejut namun segera ia kembali tersenyum.
Cantik.
Wajahnya cantik ditambah senyumnya yang sangat manis, akan menyihir siapapun yang melihatnya.
"Ibu," ujarnya lembut menatap orang didepannya tanpa beranjak. Lalu ditatapnya orang dibelakangnya seketika ia menunduk.
Matanya bertatap dengan Daren ia tidak berani menatap orang itu, segera ia melipatkan kedua tangannya ke badan seraya ketakutan.
Ibunya Daren tersenyum kecut lalu menatap Daren kemudian keluar kamar.
__ADS_1
Daren memanggil pembantunya untuk menenangkan istrinya dan ia segera menyusul ibunya yang sudah keluar.
"Ma, berhenti," ujar Daren saat ibunya sudah membuka pintu mobilnya. Ia menutup pintu mobil kemudian menatap anaknya itu.
"Ma, lebih lembutlah kepadanya," ujarnya memohon kepada ibunya.
"Mama sudah diambang batas Ren, mama malu, sampai kapan mama akan menyandang mempunyai menantu gila," ujarnya menekan suaranya lirih kemudian ia membuang nafasnya.
"Ma, sudahlah aku juga pusing ma jika mama begini terus,"
"Ceraikan dia, dan cari wanita lain,"
"Mana mungkin ma, mama tau sendiri kan aku harus menepati janji kakek," elak Daren bersikeras.
Ibunya Daren memegang keningnya, "Kalau begitu sembunyikan dia lalu cari wanita lain, mudah bukan ?, Mama tidak mau mempunyai menantu gila Ren, mengertilah reputasi keluarga kita," ujarnya lalu berbalik.
"Ma,"
"Rena Wardana, kamu masih memiliki hubungan dengannya bukan ?," Ujarnya seraya berbalik dan menatap putranya. Terlihat Daren terdiam ia tahu putranya terkejut dengan dirinya yang mengetahui rahasianya.
"Mama merestui kalian, dan bawa calon menantu mama," ujarnya lalu masuk kedalam mobil.
Daren masih terdiam menatap kepergian ibunya itu. Lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana mama bisa tahu tentang itu," Ia takut keluarga besarnya akan tahu maka itu akan membuat bumerang bagi dirinya.
Terlebih terhadap kakeknya, bagaimana dia akan menjelaskannya jika itu terjadi. Ia akhirnya kembali kedalam rumah.
"Bagaimana keadaanya ?," Tanyanya kepada pembantu yang mengurusi istrinya itu.
"Sudah tenang tuan,"
Daren hanya mangut-mangut sekilas lalu masuk kedalam kamar istrinya. Dilihatnya wajah istrinya yang tertidur di ranjang.
Cantik. Wajahnya cantik dan ketika tersenyum sangat manis.
Ia kemudian duduk disisi ranjang menatapnya lama. Daren terus terpikirkan perkataan ibunya itu.
"Menikah lagi ?," Ia kemudian terkekeh menertawai hidupnya menertawai takdir akan dirinya. Ia teringat beberapa tahun lalu bagaimana ia tergoda akan mahluk Tuhan dihadapannya lalu dipertemukan di perjodohan oleh kakeknya.
Takdir seakan mempermainkannya, dia jengkel namun juga tidak, dia bingung mengatasi semua ini.
Haruskah ia menjaga wanita gila ini sedangkan melihat dirinya saja ia ketakutan. Haruskah ia menikah lagi seperti permintaan ibunya.
Sungguh ia juga lelaki normal seperti yang lainya. Haruskah ia menahan segalanya saat sang istri tidak bisa menjalankan kewajibannya ? Haruskah ia memaksa terus menerus kepadanya ?.
Ia juga merasa malu saat bertemu dengan teman-temanya.
Istri gila.
__ADS_1
Daren lagi-lagi terkekeh dan mengusap wajahnya kasar.
"Kau dengar ?, Jika kau tak sembuh mungkin aku akan menikah lagi sesuai dengan perkataan ibuku, Nafisa,"