
"Santai bro, masih ada waktu untuk memberinya pelajaran, kita nikmati keberhasilan mu akhirnya bisa naik jabatan,"
"Ha ha ha,.. kau benar, aku hampir melupakannya, setelah ini selesai kita langsung ke club'," ujarnya dan disanggupi oleh kedua temannya.
"Hai Ardi," Sapa seorang perempuan menghampiri tiga orang lelaki itu, dan mereka melihat Tampa berkedip sosok wanita yang menghampiri mereka.
Cantik.
Dan
Seksi.
Pikir mereka.
"Oh hai Nile," sapa Ardi lelaki jangkung yang menatap wanita itu dengan tatapan busuknya terhadap wanita bagaimana tidak ?, Pakaian yang terbilang cukup terbuka dan panjangnya hanya sebatas lutut, tidak lekang dari pandangan lelaki keranjang.
"Boleh gabung ?,"
"Tentu," Jawab Ardi lalu wanita itu duduk disampingnya yang kosong.
"Kalian temanya Ardi ?, Perkenalkan Aku Niel," Ujarnya memperkenalkan diri seraya menjulurkan tangannya.
"Yuda,"
"Heri,"
Mereka memperkenalkan bergantian.
"Ngomong-ngomong kau dan Ardi,.." pancing Heri menatap Nile dan Ardi bergantian.
"Pacar," Jawab Ardi membuat Nile menoleh ia sungguh terkejut dan bahagia dan merasa malu.
"Wah, hebat bro, kau mendapatkan wanita secantik dia" ujar Yuda seraya mengamati tubuh Nile sendari tadi.
Sementara Hasan bekerja seraya mengamati mereka dari jauh.
"San, dipanggil pak Gulam tuh," ujar Linda membuat Hasan menoleh dan bergegas keruangan pak Gulam.
Ia mengetuk pintu dan masuk kedalam. Mereka berbincang cukup lama dan akhirnya pun ia keluar.
Hasan membuang nafasnya pelan.
__ADS_1
"Kenapa ?," Tanya Yoga menghampiri dan Hasan menggeleng pelan.
"Biasa kerja lembur lagi," ujar Hasan dan mereka kebelakang beristirahat.
"Lakuin kesalahan apa lu sampe dipanggil Mulu sama pak Gulam ?," Tanya Yoga lalu menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Kesalahan tidak ada, tapi masalahnya Restoran ini sudah beralih pemilik, Ah, Pak tua itu tetap saja keras kepala, bagaimana bisa ia membeli restoran ini begitu saja.
"Mungkin mau naik jabatan kali," Ujar Hasan bercanda.
"Wah wah wah, Jangan-jangan iya broh,"
Tidak Jangan-jangan Ga, tapi pemilik. Batin Hasan seraya meminum air dinginnya.
Setelah selesai beristirahat mereka melanjutkan pekerjaannya. Tampa diduga ternyata ketiga orang lelaki itu masih stay disana dan juga wanita itu juga masih disana.
"Hai pelayan !," Panggil Yuda sedikit mengeraskan suaranya. Salah satu pelayan itu menghampirinya.
"Kami nambah menu ini dan ini, buruan ngk pake lama,"
"Eh tunggu !" Pekik Ardi menghentikan pelayan itu.
"Ada yang mau ditambah lagi pelanggan ?,"
"Cih sombong sekali mereka," gerutu Linda seraya menaruh kertas dimeja.
"Ada apa Lind ?," Tanya temannya.
"Tuh lihat meja disana mereka sangat arogan, belagu Ta," ujarnya membuat Sinta melihat arah tunjuk Linda.
"Sabar Lind," ujarnya menenangkan temannya itu.
"Eh Hasan, kau yang mengantar makanan ini ya mereka menyuruh kamu antar kan," Ujar Linda seraya menunju ke meja Ardi dkk.
Hasan akhirnya membawa pesanan kearah meja Ardi.
"Woah, ini dia, yang aku ceritakan," ujar Ardi kepada Nile.
Hasan mengerutkan keningnya dan menaruh makanan di meja.
"Lelaki ini ?, Yang berani bersaing dengan mu ?," Ujar Nile mengamati penampilan Hasan yang mengenakan pakaian pekerja restoran.
__ADS_1
"Wajahnya lumayan sih, tapi sayang miskin," ujarnya mampu didengar mereka dan gelak tawa memenuhi meja mereka.
"Dan tadi siapa namanya Hasan ?, Norak sekali namanya," ujarnya.
"Sayang maklum dia dari desa jadi wajar namanya Norak dan orangnya udik,", Ujar Ardi mengolok Hasan.
"Masih mending saya udik dan nama saya kampungan, dari pada berpenampilan mewah tapi otaknya udik," ujar Hasan tersenyum smrik sangat tipis dan itu mampu membuat mereka kebakaran jenggot.
"Apa maksud mu ha ?,"
Hasan berlalu pergi seraya melambaikan tangannya. Persetan meladeni orang seperti mereka hanya membuang waktu saja.
"Tenangkan dirimu kita balas nanti orang udik itu," ujar Nile menenangkan Ardi.
***
"Tuan, Ini berkas yang anda minta," ujar asisten itu seraya menyerahkan beberapa berkas.
Pak Agus memeriksa berkas yang baru saja dia terima.
"Jadi mereka bekerja di perusahan ini ?, Ardi Santosa. Anak tunggal keluarga Santosa, perusahan mereka gulung tikar karena kasus penggelapan dana perusahaan," ujarnya seraya memeriksa beberapa riwayat kasus Ardi.
"Bagaimana bisa dia diterima di perusahan ini ?, Dan kau lihat dia telah berani menggelapkan uang perusahan, Urus dia secepatnya !," Ujarnya seraya menutup berkas itu dengan kasar.
"Baik tuan," ujar sang sekertaris lalu beranjak dari tempatnya.
Sementara itu Hasan menstater motornya dan melajukan sepeda motornya kejalan raya. jalan yang sedikit tengang membuatnya melajukan kendaraan dengan cepat.
Dirinya fokus, namun tiba-tiba seorang pedagang membawa gerobak menyebrang dan membuat Hasan mengerim mendadak namun tabrakan tak terhindar.
Sepeda motor itu menabrak gerobak sampai terguling dan Hasan juga terjatuh. Sang pedagang kaki lima selamat karena ia segera menghindar ketepian jalan.
Hasan segera berdiri, untung ia mengenakan helem. jadi kepalanya masih terlindungi.
"Aduh, anak muda, sampean¹ tidak apa-apa tho ?" Ujar wanita yang sudah tua itu menghampirinya.
(¹Kamu)
"Tidak apa-apa Bu, maaf karena telah menabrak anda dan gerobaknya..."
Hasan mendongakkan kepalanya saat dan menatap sosok wanita yang terlihat sudah tua itu.
__ADS_1
"Mak Sanah ?," Ujar Hasan terkejut, dan wanita tua itu terlihat terkejut pula.
" A Aden ?," Ujarnya sedikit gugup.