
Pintu itu terbuka, menampakan sosok wanita yang sudah paruh baya menatap diriku dengan penuh tanya.
"Aku, Hasan, bibi," ucapku menjawab tatapan tanya darinya. Kulihat wajah bibi sedikit terkejut dengan ucapan ku.
"oh Hasan, nak apa datang kemari, bukankah kau jauh hidup di pulau sebrang," aku sedikit terkejut mendengar jawabannya, seakan tak mengharapkan kedatanganku. Aku sedikit menelan ludah tatkala tatapan itu tak begitu mengenakan di pandang.
"Bagaimana kabar bibi sekeluarga ?," tanyaku mencoba mencairkan suasana yang sangat canggung ini. Terlihat wajah bibi semakin tak melihatku suka dan ku dengar dengusan tak suka dari dirinya.
"KKabar Baek," jawabnya ketus
"Tak usah basa-basi, nak perlu apa datang kemari," ucapnya sedikit sewot seakan pertanyaan ku adalah sebuah beban.
Aku sedikit menarik nafas dalam dengan apa yang terjadi padaku, "Hasan hanya mau bertanya, kejadian kedua orang tuaku," tanyaku langsung pada intinya, karena ku lihat raut wajah yang tak enak di pandang.
__ADS_1
Dan benar saja raut wajah bibi ku itu semakin garang setelah mendengar pertanyaan ku, seakan pertanyaan ku adalah sebuah bumerang yang akan membinasakan dirinya.
"Apa kau cakap ?!. Pergi sana !. Jangan sekali-kali kau ucap mala petaka kutukan itu !, Apa kau ingin bibi mu ini mati seperti ayah mu ?!, Apa kau ingin menumbalkan keluarga mu hah ! pergi sana jangan munculkan hidung mu itu lagi ! cukup berbuat onar di kampong ini, pergilah !" Ucapnya naik pitam kepadaku. Bukanya jawaban yang aku terima namun makian yang tak pernah aku tau maksudnya.
Hatiku seperti terhentak mendengar ucapan bibi kepadaku. Malapetaka ? Menumbalkan ?, apa maksudnya itu ? Aku tak mengeri. Salah apa diriku, aku sungguh tak mengerti dengan tuduhan itu.
"Apa maksud,.." belum selesai juga ku bertanya, bibi telah memotong perkataan ku.
"Tak usah kau tanya, pulang sana jangan pernah kembali lagi kemari !," Ucapnya sarkas
Aku menundukkan kepala sekilas, mengambil nafas dalam, menguatkan hati yang tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak. Lalu aku menatap bibi ku yang mengalihkan pandangannya yang enggan untuk melihatku itu.
"Syukurlah bibi sekeluarga baik-baik saja, Hasan nak pamit pulang, semoga bibi sekeluarga di lindungi Allah dalam segalanya. Dan," ucapku terhenti.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang bibi katakan, malapetaka dan tumbal, aku tak mengerti
Hasan pamit, permisi," ucap ku sedikit gemetar menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada, lantas aku membalikan badan untuk pergi dari halaman rumah itu, sekali aku menoleh ke belakang namun tak ada reaksi dari bibi, yang ku dengar hanyalah bantingan pintu yang keras.
Sekali lagi. Aku hanya mampu mereda nafasku, ketika para tetangga menengok dari celah jendela, balik pohon dan persembunyiannya dengan tatapan penasaran. Sekilas aku menoleh ke samping menatap mereka, mereka langsung menyembunyikan diri mereka dan terpancar rasa takut di mata mereka itu saat melihat ku.
Sebenarnya apa yang terjadi kepada diriku ? ayah ku? Apa yang terjadi dengan kasus pembunuhan keluarga ku itu ? Hingga mereka menutup kasus pembunuhan itu Tampa selesai ? Kutukan apa ? Kutukan apa yang di maksud mereka ?, Dari kepala dusun, bibi hingga mereka semua tak ada yang berani sejangkah pun untuk mendekat ! Sebenarnya apa yang terjadi YA Tuhan ?!.
Aku mengusap kepalaku seakan frustasi. berjalan pulang meninggalkan umpatan yang menerjang diri.
selama perjalanan aku hanya diam memikirkan perkataan dari bibi ku, dan kepala dusun, Bi ayati serta Mak sanah.
Setelah sampai di kampung halaman, ku lihat beberapa orang menatap ku dengan aneh lalu segera buru-buru jika bertemu dengan ku.
__ADS_1
Entah apa yang mereka pikirkan, mungkin mereka takut akan kena tulah, jika bertemu dengan kakiku melangkah ke puskesmas, dan selalu saja begini mata seseorang memandang diriku, setelah kejadian kepala dusun mereka menjauhi ku. Tak ada yang ingin berbicara ke padaku mereka hanya memandangi ku dengan tatapan ngeri mereka.
Ku lihat Mak Sanah datang menghampiriku, ia mengelus lengan ku memberikan kekuatan terhadap diriku, "sabar Aden, sabar," ucapnya lirih sembari menahan beningan kristal di pelupuk matanya.