UJUNG DESA

UJUNG DESA
10


__ADS_3

Nafisa akhirnya sudah diperbolehkan pulang dan dia sekarang sudah berada dirumah. pemakaman kepala dusun akan dilakukan esok pagi.


Sementara Hasan kini berada di kantor polisi bersama beberapa kerabat jauh kepala dusun untuk menyelesaikan beberapa hal.


Rumah kepala dusun telah ramai dibanjiri orang-orang dari desa tersebut maupun desa tetangga. Banyak orang yang membicarakannya, dan melarang anak-anak mereka untuk tidak keluar rumah selama satu Minggu. Mereka was-was jika suasana kembali seperti beberapa tahun terakhir di desa mereka. Pembantaian beruntun !.


Keesokan paginya pemakaman kepala dusun dihadiri banyak orang, setelah selesai mereka segera meninggalkan tempat pemakaman dengan teratur.


Naraya masih tersimpuh di samping makam kakeknya didampingi kerabat jauhnya.


Hasan mendekat memandangi gundukan tanah yang masih segar ia berjongkok dan mengusap batu nisan kepala dusun.


"Maaf," Gumamnya lirih lalu beranjak berdiri meninggalkan pemakaman.


"Aden," Panggil pak kasim yang telah menunggu di samping jalan pemakaman, Hasan menoleh, dan mendapati pak kasim mendekat.


"Ada apa pak ?," Tanya Hasan sedikit paruh.


"Itu, ada beberapa orang mencari Aden, mari ikut saya Aden," ujarnya seraya menunjukan jalan.


Mereka berjalan menjauh melangkah dijalan setapak menuju perkebunan.


"Siapa pak yang mencari saya ?,"


Pak kasim tak menjawab, namun setelah jauh dari kerumunan mereka berhenti "Tadi Mereka disini Aden," Ujar pak kasim.


"Tapi ini perkebunan pak, siapa yang ingin menemui saya disini ?," Ujar Hasan.


"Tadi orangnya disini Aden,"


"Oh ternyata kau orang malapetaka," ujar seorang lelaki berpawakan tinggi, wajahnya putih namun sedikit kurus.

__ADS_1


Hasan menoleh ke sumber suara, menatap orang itu mendekat kearahnya.


"Hei, mengapa kau diam ?, Terkejut ?, Seharusnya kau yang berada dibalik jeruji, karena kau kepala dusun menjadi mati," ujarnya seraya menekan telunjuk di dada Hasan.


Hasan menepis tangan itu dan menatap tajam, "Orang yang banyak omong perlu dicurigai," jawab Hasan.


"Apa kau cakap ?, Orang sepertimu berani menuduh ku ?," Tak terima orang itu telah meraih kerah Hasan namun dengan cepat Hasan menepisnya.


"Anda hanya orang luar yang mendengar cerita, anda juga bukan saksi mata, jadi jaga ucapan anda," ujar Hasan.


Lelaki itu terkekeh mendengar jawaban Hasan "Hei cecunguk !, Aku ini calon suaminya Nafis dan sebentar lagi kami akan menikah, kau tahu bukan keluarga ku orang terpandang, jadi ingatlah siapa disini yang orang luar ?!, Keluarga kau sudah mati semua kau bukan siapa-siapa Hasan !," Ujarnya dengan menyombongkan diri.


Hasan terdiam sejenak, ada getaran kecewa dihatinya saat mendengar Nafis sudah memiliki seorang calon.


"Status anda Masih calon, belum menikah, jadi belum menjadi keluarga,"


Lelaki itu geram mendengar jawaban dari Hasan, lalu meraih kerah Hasan dengan erat.


"Emang kau siapa hah ?!, Sok mengatur, aku peringatkan jauhi Nafis, dan berdiamlah didalam jeruji, anda tidak pantas mendekatinya !,"


"Jangan banyak bicara kau !,"


Hasan hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, dia tidak mau meladeni orang yang tidak ada kerjaan itu.


"Ayo paman, masih banyak yang harus diselesaikan," Ajak Hasan yang langsung pergi meninggalkan mereka. Terlihat guratan kesal dari pemuda yang berdebat dengannya itu.


Pak Kasim menghelai nafas dan sekilas menatap kearah pemuda yang memakai setelan jas itu lalu segera mengikuti Hasan kembali.


***


Beberapa hari telah berlalu namun kejadian itu masih membekas di desa itu, terlihat beberapa orang mengintip dari bilik jendela melihat keluarga kepala dusun yang berada halaman.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik," ujar Mak Sanah kepada Nafisa yang akan ikut tinggal bersama keluarganya yang berada di kota.


Nafisa mengangguk, "Iyak Mak, terima kasih untuk selama ini, Mak sekeluarga selalu membantu kami dalam keadaan apapun, terima kasih Mak," ujarnya dan terlihat butiran bening menetes dari sudut matanya.


Mak Sanah mengusap rambut hitam Nafisa seolah melepas kepergian putrinya. Tak lama kemudian Nafisa naik kedalam mobil dan mereka pergi meninggalkan desa tersebut.


Sementara itu disisi tak jauh dari tempat itu ada sepasang mata yang menatap Tampa berkedip, menyaksikan kepergian Nafisa yang ingin sekali ia cegah namun ia tidak punya kuasa untuk itu.


"Den, Aden," Panggil Mak Sanah mengejutkan Hasan yang tengah ngalamun dan langsung menatap mak Sanah.


"Ya Mak ?,"


Mak Sanah menepuk bahu Hasan beberapa kali seraya tersenyum tipis, "Tidak ada yang tahu jalan takdir Aden ada pertemuan ada perpisahan, ayo kembali Aden," ajak Mak Sanah,


"Aden," panggil Mak Sanah menyadarkan ku kembali dari lamunan.


Yah begitulah akhir kunjunganku ketanah kelahiran ku Nanda, Setelah beberapa hari dari kejadian itu aku kembali ke pulau rantau untuk melanjutkan pendidikan," Tutup Hasan lalu meminum air mineralnya.


Nanda yang yang khusyuk mendengarkan cerita serta raut wajah yang berubah-ubah Tampa ia sadari telah menghabiskan air mineral yang berada di botol.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu ?, Bagaimana kalian bisa ketemu kembali ?, Lalu bagaimana nasib bibi Ayati ?," Tanya Nanda yang sangat penasaran karena Hasan belum menjelaskannya.


Hasan melihat jam ditangannya karena terik matahari semakin menyengat.


"Ternyata sudah siang," gumam Hasan dan otomatis Nanda ikut melihat pada jam tangannya sendiri.


"Oh astaga !, sudah jam 11 ?!," Ujar Nanda kaget melihat jam ditangannya, ia buru-buru berdiri,


"Duh maaf Hasan aku harus segera pergi menjemput anak ku di TK, bay !, Ingat kau harus menceritakan lanjutannya kepadaku !" Ujarnya lalu langsung buru-buru pergi.


"Oh, oke, hati-hati Na,"

__ADS_1


jawab Hasan lalu menyadarkan tubuhnya di kursi besi taman, ia mengusap wajahnya serta rambutnya yang pendek.


"Kenapa aku harus mengingat kejadian itu lagi," gumamnya lalu beranjak pergi.


__ADS_2