
Suara Guntur bergemuruh di langit awan yang menghitam menutupi matahari pagi yang akan memancarkan cahayanya hujan rintik-rintik telah membasahi bumi membuat jalanan yang tak beraspal itu menjadi berlumpur.
Hari semakin siang namun langit masih saja menunjukan mending ya. Dijalankan pasar para penjual berkeluh karena hujan yang tak kunjung reda, ada juga beberapa penjual koran mendagangkan korannya seraya berteriak.
"Pak koran pak !, Lima ribu saja !,"
"Berita Panas ! Berita panas ! Seorang wanita telah membunuh ayahnya sendiri !, Dia berasal dari desa Bande !"
Beberapa orang langsung mengerumuni penjual koran karena mengenal desa tersebut.
"Yang benar kau ?,"
"Beli dan bacalah kau orang agar percaya,"
"Aku beli bang !,"
"Aku juga !,"
"Desa Bande ?,"
"Woy Desa Bande ada pembunuhan lagi !,"
"Apa pelakunya seorang wanita ?!,"
"Apa jangan-jangan dia pelaku pembunuhan yang misterius itu ?,"
Beberapa orang juga ikut berkumpul melihat berita didalam koran.
"Ish Ish Ish, Anak bunuh bapaknya sendiri !, Anak macam mana itu !,"
"Kepada dusun Bande ?!,"
"Apa yang dibunuh kepala dusun Bande ?!,"
semua orang menjadi penasaran saat mendengar sebutan kepala desa Bande, orang berbondong-bondong membeli koran dan mencari berita yang baru saja mereka dengar.
"Kejadiannya tadi malam, aku di telepon anak ku yang bekerja di kota !,"
"Benarkah ?,"
"Kalian tahukan anakku bekerja di dekat rumah sakit kota itu, katanya keadaannya sangat ricuh malam tadi, banyak polisi yang datang, Katanya dia dibunuh dengan cara sadis," Jelasnya yang kepada orang-orang.
__ADS_1
"Sempat kaget aku mendengar itu dan ternyata yang dibunuh adalah kepala desa Bande,"
"Kepala desa Bande ?, Hei Maman bukankah itu desa mu ?, Desa Bande," ujar salah satu memanggil seorang yang bernama Maman yang baru saja tiba dan menaruh sekarung sayur.
"Iya ada apa Tro ?,"
"Kepala desa kau mati dibunuh anaknya sendiri Man," ujarnya membuat Maman terkejut.
"Yang benar kau Tro kalau berucap," ujarnya tak percaya.
"Lihat saja kau sini ini berita panas," Maman segera mendekat dan meraih koran dari tangan Mantro.
"Baca tuh berita, jangan sibuk kerja terus," Maman membaca berita yang ada di koran matanya terkejut tak percaya dengan berita yang menjadi topik utama dihalaman pertama.
"Kepala desa ?!, Ayati ?!," Ujarnya masih dalam terkejut kemudian ia beregumam
"Ayati membunuh kepala desa ?, Macam mana ini orang ?, Kemarin dia histeris kepala dusun dibawa kerumah sakit dan sekarang malah membunuhnya ?," Ujar Maman tak percaya dengan apa yang dilakukan Ayati.
"Yang benar kau Man ?,"
"Heh aku melihat sendiri dengan mata kepalaku saat kepala desa dibawa ke Puskesmas dan Ayati histeris disana, dia bahkan sempat menunjuk Hasan sebagai akibat kepala desa celaka,"
"Ternyata dia pandai bersandiwara ?,"
Prasangka-prasangka mulai bermunculan dikalangan masyarakat.
"Aish, apa benar itu ?,"
"Jadi dalang pembunuhan beruntun itu Ayati ? Anak kepala desa sendiri ?,"
"Apa jangan-jangan kepala dusun juga terlibat dalam pembunuhan itu ?,"
"Pantas saja tidak pernah terungkap kasusnya"
"Hus, jangan asal bicara mana mungkin kepala dusun Bande melakukan hal itu, aku tahu sendiri orangnya bagaimana, aku termasuk dekat dengan kepala dusun," sahut Maman yang mendengar prasangka-prasangka yang semakin melebar kemana-mana.
"Ish Ish ish,, Man jaman sekarang orang baik dan buruk itu tak kelihatan jelas, orang yang penampilan baik pun bisa jahat," sahut salah satu dari mereka.
"Ihh, Ngeri juga orang semacam itu,"
"Apalagi yang tak percayai itu Ayati anaknya sendiri yang membunuh, Apa jangan-jangan senjata makan tuan ?, Ha ha ha,"
__ADS_1
"Hus !, Jangan dibuat bercanda kualat nanti kau, kita belum tahu yang mana yang benar, kita tunggu berita lagi dari kota,"
"Benar-benar,"
Sementara itu seorang perempuan berlari dengan tertatih menuju rumah Hasan.
"Mak Sanah. Mak. Mak Sanah," Ujarnya seraya menggedor pintu berkali-kali. "Mak Sanah !, Mak !,"
Mak Sanah yang berada di dapur segera bergegaa saat mendengar suara pintu yang di gedor berkali-kali.
"Iya," Ia membuka pintu dan disana ada tetangga sebelah.
"Mak !," Panggilnya panik saat pintu terbuka
"Mariam, ada apa dengan dirimu ?," Tanya mak Sanah yang terheran dengan Mariam yang wajahnya panik.
"Mak kepala dusun, Mak, kepala dusun dibunuh," ujarnya sedikit tergagap.
"Apa ?, Jangan bercanda kau Mariam," Ujar Mak Sanah terkejut.
"Beritanya sudah menyebar Mak, di tivi koran, semua orang membincangkannya,"
"Mana mungkin Mariam , baru saja Mak pulang tadi malam antar kepala dusun kerumah sakit,"
"Semua warga desa geger Mak, mana mungkin Maryam berbohong, dan dan katanya yang membunuh Ayati Mak, Ayati," ujarnya
"Jangan bercanda Mariam !," Ujar Mak Sanah seperti dihantam hatinya. "Mana mungkin Ayati melakukan itu !,"
"Mak semua berita sudah tersebar, polisi menahan Ayati sebagai tersangka !,"
"Ada apa Mak ?," Tanya Hasan yang keluar dari kamar karena mendengar keributan.
"Ayati, mana mungkin," gumamnya tak percaya.
"Nafisa ?!," Ujarnya kemudian seraya mendongak. ia mengkhawatirkan kedua perempuan itu yang berada di kota.
"Hasan, Kita ke rumah sakit sekarang ayo !," ujarnya seraya menggeret Hasan.
"Ayati, Nafisa ?, Ada apa Mak ?," Tanya Hasan yang memang belum tahu berita panas itu.
"Kepala dusun di bunuh, Aden," ujarnya lirih.
__ADS_1
"Apa ?!,"