UJUNG DESA

UJUNG DESA
11


__ADS_3

Pagi menjelang bising kota mulai terdengar mengusik pendengaran. Tak jauh berbeda dengan Hasan yang sekarang sedang memanaskan sepeda motornya sebelum berangkat bekerja.


hari ini ia berangkat lebih pagi, karena tempatnya bekerja sedang dibooking oleh seseorang untuk acara pernikahan. Hal hasil pekerjaannya akan sangat padat untuk beberapa hari kedepan.


Sepeda motornya melaju diantara keramaian kendaraan, setelah setengah jam perjalanan akhirnya ia sampai ditujuan.


"Pagi pak," Sapa Hasan saat masuk kedalam restoran.


"Pagi, kau sudah datang," sahut pak Gulam selaku manajer restoran.


"Bukankah hari ini akan lembur ?," Jawabnya lalu ia menaruh tasnya dan bergegas mengerjakan tugasnya.


Waktu semakin berlalu dan para tamu mulai berdatangan, acara dimulai dan berakhir siang hari.


"San !," Panggil rekan kerjanya dari jauh, Hasan menoleh seraya membawa nampan ditangan kirinya.


"Hem, apa Ga ?," Tanya Hasan saat Yoga menghampirinya.


"Dipanggil pak Gulam lu,"


"Pak Gulam ?, Ada apa ?,"


"Mana gue tahu, udah sana aku yang gantiin kamu," Jawab Yoga seraya mengambil alih nampan yang berada ditangan Hasan.


Akhirnya ia segera bergegas menemui pak Gulam diruangan ya. Ia mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk setelahnya.


"Hasan," Panggil pak Gulam seraya berdiri dan menghampirinya.


"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepadamu," ujarnya membuat Hasan mengerutkan keningnya.


Sementara itu acara terus berlanjut Yoga dan para yang bekerja disana masih disibukan atas sisa-sisa pesta.


Hasan keluar ketika semua pekerjaan semua sudah selesai. Pak Gulam menahannya begitu lama diruangan ya.


"Hey Bro, baru selesai ?, Kusut amat ?," Sambar Yoga yang menghampirinya.


"Hemm,.." Jawab Hasan hanya dengan deheman, wajahnya terlihat tak enak saat keluar dari ruangan pak Gulam.


"Ada apa bro, Kusut amat wajah mu, kamu tidak dipecat kan ?," ujarnya lagi seraya menuju tempat peristirahatan.


Hasan mengusap wajahnya dengan tangan lalu membuang nafasnya kasar.


"Emang kamu ?, Pulang kerja Nongkrong gih, pusing aku" ajak Hasan yang langsung menyambar jaketnya.


"Siap bro, nanti malam tempat biasakan ?,"


"Hem, aku duluan," Sahut Hasan yang sudah beranjak keluar dari lestoran. Ia menstater motornya dan melaju menjauh.

__ADS_1


Satu jam perjalanan telah ia lewati dan sekarang motornya memasuki halaman rumah yang luas, bangunan megah berdiri kokoh di tanahnya.


Hasan terhenti sejenak sebelum membuka pintu, lalu setelah mengambil nafas ia segera masuk kedalam.


"Selamat datang kembali tuan muda," Sapa lelaki paruh baya saat dirinya memasuki rumah tersebut.


"Bagaimana keadaan rumah ?," Tanya Hasan seraya berjalan menuju sofa dan duduk disana seraya bersandar.


"Aman tuan muda," jawabnya dan tak lama seorang pelayan membawakan secangkir air minum dan meletakkannya di meja.


"Bagaimana kabar paman ?," Tanya Hasan menatap pria yang sudah paruh baya itu,


"Baik tuan muda," Jawabnya. Dia adalah pak Agus Derwanto orang kepercayaan Alm. orangtua Hasan, dan mengurus semua aset kekayaan keluarga Hasan.


Hasan tersenyum melihat pria paruh baya itu, pasalnya dia adalah orang yang sangat kaku dan jarang tersenyum. Namun dibalik itu semua dia adalah orang yang sangat multitalenta dan sangat setia.


Sungguh Hasan penasaran bagaimana dulu ayahnya bisa menemukan orang seperti itu.


"Paman, seringlah tersenyum, senyum itu ibadah low," ujar Hasan.


"Baiklah tuan muda," Jawabnya masih dalam ekspresi serius.


"Ha ha ha, paman jangan terlalu memasang wajah serius, kau membuat keningku berkerut," ujar Hasan kembali.


"Itu tidak ada hubungannya tuan muda,"


"Ya ya, terserah paman saja,"


Alhasil dia harus membatalkan nongkrong bersama rekan kerjanya di restoran.


Mereka kini berada diruang perpustakaan, disana terdapat beberapa rak buku, meja tunggal untuk bekerja dan beberapa hard file menumpuk di atas meja.


Pak Agus sangat serius menjelaskan beberapa hal, mengenai perusahaan. Ia harus memeriksa beberapa dokumen yang memang harus didiskusikan dengan dirinya.


Diakhir lembar terakhir setelah menandatangani beberapa dokumen, pak Agus menyela.


"Tuan muda, saran saya lebih baik Anda berhenti sebagai pelayan restoran kecil itu, dan fokus dalam memahami perusahan anda,"


"Ah, paman itu belum saatnya,"


"Orang tua anda pasti akan sedih jika melihat anda begini,"


"Paman oh paman,.. jangan khawatir ini tidak akan selamanya kok tenang saja,"


"Sampai kapan ?,"


"Tidak lama paman,"

__ADS_1


"Saya harap tuan muda segera kembali memimpin perusahaan," Ujarnya.


Hasan hanya mengangguk, pak Agus akhir-akhir ini sering memintanya untuk segera kembali memimpin perusahaan, namun sayangnya Hasan belum niat untuk menampakkan batang hidungnya dimuka perusahaan.


Alhasil hampir semua pekerja di perusahaannya tidak tahu wajah pemilik asli perusahaan itu. Yang mereka tahu hanyalah sebongkah rumor yang belum tentu falid kebenarannya.


"Paman, Apakah Minggu ini perusahaan membiayai restoran tempat aku bekerja ?," Tanya Hasan seketika saat teringat dipanggil pak Gulam diruangan ya. Dan tiba-tiba ia naik jabatan. Siapa lagi dalang dibalik itu semua ?.


Pak Agus terdiam mendengar penuturan Hasan dia ketahuan. "Tuan muda, gaji disana terlalu kecil untuk anda bagaimana bisa anda telah bekerja begitu keras dan upahnya tidak sebanding," jelasnya.


Hasan sedikit mengacak rambutnya, tidak sekali dua kali pak Agus selalu begitu, di setiap beberapa tempat kerja part-time yang ia bekerja dulu pun sama begini.


Saat dirinya mengunjungi halaman kampung orangtuanya yang diluar pulau pun juga sama bahkan lebih parah, dia diam-diam mengirim pengawal dan ikut berbaur disana.


Tapi untung saja itu tidak sampai menekan kehidupannya masih dalam hal yang wajar.


"Paman aku penasaran apakah anakmu juga persis sepertimu," Gumam Hasan namun tak ada sahutan dari pak Agus.


Ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan setengah dua belas malam dan tidak mungkin untuk kembali ke rumah kontrakannya. Akhirnya dia tidur dirumahnya.


Pagi harinya setelah lari pagi, ia bergegas memakai seragam kerjanya lalu segera sarapan seorang diri.


Terlihat pak Agus sudah siap dengan setelan jasnya dan juga tas kantornya.


"Sarapan dulu pak biar semangat," ajak Hasan


"Sudah tuan muda, Anda makanlah yang banyak," ujarnya berdiri menunggu Hasan sampai selesai makan. Lalu mengikutinya keluar sampai rumah.


"Tuan muda, Silahkan masuk kedalam mobil," ujar pak Agus dan di sana telah ada seorang supir yang membukakan pintu mobil.


"Begini lagi," ucap Hasan dalam batin.


"Paman, aku pakai motor," ujarnya seraya memakai helem dan menuju kearah sepeda motornya yang terlihat agak butut.


"Aku heran kenapa tuan muda suka suka sekali memakai motor rosokan itu, dibandingkan itu mobil lebih nyaman untuk dikendarai," Ujar pak Agus yang didengar sopir disampingnya seraya melihat kepergian Hasan dari halaman ruah itu.


"Karena sepeda motor bisa menyelip dalam kemacetan," gumam pak sopir yang masih bisa didengar oleh pak Agus.


"Tapi tetap saja keamanan dan kenyamanan tidak bisa dijamin," Sahut pak Agus lalu masuk kedalam mobil.


Tidak berselang lama setelah mengucapkan itu disisi lain Hasan terhenti dipinggir jalan karena merasa motornya oling.


Saat turun dan memeriksa ternyata ban belakang motornya bocor.


"Aish, kenapa harus bocor segala," keluhnya dan akhirnya ia menuntun sepedanya sampai tempat tambal ban.


sementara itu didalam mobil pak Agus menerima panggilan dari salah satu pengawal yang mengikuti Hasan secara diam-diam.

__ADS_1


"Lapor tuan sepeda motor yang dikendarai tuan muda mengalami ban bocor,"


seketika pak Agus bergumam menyindir sopir yang memang mendengar obrolan ditelepon "Kau dengar ? kenyamanan dan keamanan sepeda itu sangat memprihatinkan,"


__ADS_2