
Sang dokter telah selesai merawat kepala dusun. Kini
tinggal para perawat merapikan kembali alat-alat dan perban di nagkas. Sang dokter keluar dan para warga sudah
berkerumun mendekatinya.
“disini siapa keluarganya ?”
“saya dokter,” ayati mendekat. “silahkan masuk,” ayati, Nafisah dan mak sanah masuk kedalam ruang perawatan kepala dusun. Beberapa orang masih penasaran dan mengintip lewat jendela-jendela.
Terlihat sang kepala dusun terbaring lemah tak berdaya di ranjang dengan bantuan alat pernafasan,
“bagaimana keadaanya kakek saya dok ?”
Dokter itu mengambil nafas, “begini bu,
beliau harus dirujuk ke rumah sakit untuk melakukan operasi di bagian perut. Kami
sudah menghentikan pendarahannya dan mengobati bagian luka luar lainya, namun
untuk melakukan operasi, disini belum ada alat yang memadai”
Ayati menangis tak bersuara sembari
memeluk mak sanah.
“ke rumah sakit dok ?”
“iya, untuk itulah, kami membutuhkan
persetujuan keluarga.”
“baik, dok. Kami setuju”
“baiklah, kalau begitu kami akan segera
menyiapkan semuanya agar segera dibawa ke rumah sakit besar,”
Dokter itu keluar ruangan, melewati
beberapa orang yang masih berkerumun di sana. Tak lama mak sanah keluar.
“aden,” seketika hasan tersadar, mak
sanah menghampiri hasan. “iya mak ?”
“aden, bisa minta tolong aden ?”
“apa mak ?”
“tolong temani nak nafis pulang ke rumah,
biarkan ia mengemasi beberapa barang tuk bawa ke rumah sakit”
Hasan mengangguk, “baik mak, tapi
sebelum itu, bolehkah aku masuk menengok kepala dusun ?”
“boleh, masuklah, nak nafis juga masih
di dalam” hasan menghampiri pintu dan perlahan membuka pintu. Hasan berjalan
menghampiri kepala dusun yang terbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya penuh
dengan luka dan di perban.
“bagaimana, keadaan kepala dusun ?”
Nafisah hanya menggeleng kepala pelan.
Ayati mengusap air matanya segera ia menghampiri hasan dan….
PLAKK !!
Ayati menampar wajah hasan. Sontak Nafisah dan
hasan terkejut, hasan menoleh ke wajah ayati. “kau.!” Ayati sembari menunjuk
“gara gara kamu. Ia jadi celaka !! apa yang kau katakana padanya hah !” sembari mendorong tubuh hasan, dan hasan tidak berkutik “ jawab ! apa yang kau bicarakan
__ADS_1
! Jawab ! ” masih mendorong hasan.
“ ibu, cukup ! ”
“ kamu diam. ” Seketika nafisa terdiam.
“cepat jawab apa kau tak punya mulut !
apa yang kau bicarakan dengannya !” sekali lagi mendorong tubuh hasan.
“kematian ayahku.” Seketika ayati
menampar wajah hasan kembali dengan penuh tenaga bercampur emosi.
“ Ibu ! ” Nafisah terkejut dengan apa yang
ia lihat,
“ Anak, tak tau di untung ! beginikah
caramu membalas perjuangannya. Apa masih belum cukup kau membuat masalah ! seharusnya kau tak usah kembali kesini ! hanya membawa mala petaka saja ! pergi
kau ! pergi ! ” ayati sembari mendorong hasan kembali.
“ibu, cukup”
“ diam kau nafis, ”
“ tante, aku… ”
“ ku bilang pergi kau ! tak perlu kau
berkata lagi ! pergi dari sini !” ayati benar-benar tak memberi hasan untuk
berkata.
Nafisah menghampiri ibunya dan mencoba
menenangkannya dipeluknya sang ibu. Dengan isyarat Nafisah menyuruh hasan pergi. Ayati masih menangis di pelukan anaknya. “kenapa begini, apa salahnya, kenapa
harus terulang lagi,”
diluar menyingkir ketika hasan keluar. Sepertinya mereka mendengar pembicaraan
mereka, ada beberapa orang menjauh merasa takut dan tidak mau menjadi korban
berikutnya, lebih baik menghindar dari pada menjadi sial.
Hasan terhenti sejenak dan melihat orang
disekelilngnya. ia membuang nafas kasar lalu beranjak pergi. Kakinya terus
melangkah denan cepat. Dengan kesal ia mengepalkan tangannya. Meninju pohon
pinus di depannya. Matanya merah sebuah sesal kini memenuhi hatinya. Kenapa
semuanya menjadi seperti ini. Siapa sebenarnya siapa dibalik semua ini ?!
Nafasnya memburu. Apa salah jika
seseorang menceritakan tentang kematian ayahku ! apa salah jika mencari
kebenaran selama ini yang di tutupi ?! aku hanya butuh keadilan ayahku yang
dibunuh namun kasusnya ditutup dan penjahatnya tidak ditangkap. seakan akan semua
sudah direncanakan. Dan di kendalikan. Kenapa !!
Ia berjalan gotai tanpa arah.
****
Mak sanah masuk kedalam ruang serba
putih itu, rumah sakit kota itu. “ayati,” mak sanah mendekati ayati yang sedang
duduk ditempat tunggu. Sembari memegang tangan ayati “ ayati, maafkan aden
hasan ayati, mak minta maaf atas aden hasan, tolong dimaafkan ya ayati, anak
__ADS_1
itu.. sudah lama menderita.. di tinggal keluarga. Ia melihat sendiri ayahnya
meninggal dengan penuh darah, ia sempat syok dengan itu semua, di hanya anak
yang mencari keadilan untuk kedua orang tuanya”
"ayati. mak mohon, maafkan nak hasan,,"
ayati tak bersuara, ia masih diam menahan tangisan agar tak keluar dalam matanya.
Nafisah berjalan mendekat bersama putu. "mak, bagaimana ?" putu sembari menaruh tas di kursi.
"masih belum ada kabar "
Nafisah duduk di samping mak sanah, ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"nak nafis, sudah kau hubungi kerabat di desa sebrang ?"
Nafisah menoleh " sudah mak, besok mereka akan datang berkunjung kesini."
"putu, kau setelah ini pulang ? tolong beri kabar sama pak kasim malam ini saya menginap di rumah sakit dan pulang besok pagi."
"baiklah mak, ada yang mau nak disampaikan lagi ?"
"sudah ndak ada"
sudah selama dua jam mereka menunggu diluar ruang operasi ,menunggu kepastian dengan penuh harap supaya tuhan memberikan kelancaran dan kesempatan, dan akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. sontak mereka berdiri menghampiri sang dokter. "dok, bagaiman kakek saya" Nafisah bertanya duluan.
"semua berjalan dengan lancar, dan sekarang pasien akan segera di pindahkan ruangan,"
alhamdulillah.
ada wajah lega di sana, satu keluhan terberat itu sirna.
kini akhirnya sang kepala dusun dipindahkan keruang ICU. selang infus dan oksigen terlihat saat mereka memasuki ruangan dengan pakaian serba biru. kepala dusun terbaring lemah tak sadarkan diri, beberapa perban di badannya nampak sempurna menutupi luka.
Nafisah mendekat keranjang kesakitan.
"kakek, maaf."
sore itu, hasan bergegas keluar, rumah. pak kasim yang sedang merawat halaman pun tak ia hiraukan saat namanya dipanggil
" aden, mau kemana ?"
ia berlalu pergi, berjalan sangat cepat menuju halte. beberapa orang yang berpas-pasan dengannya selalu menghindar dengan tatapan tak bersahabat dan beberapa orang meneriakinya.
"he kau, nak apa kembali kesini ? bikin tuah aja."
"sudah, kau kembali saja ke pulau sebrang. jangan pernah kemari."
"benar, kau itu lebih baik tak usah kembali kesini..kami tak ingin mati kena tula gara-gara kau !"
"pergi sana. tak usah kembali !"
cacian demi cacian ia mendengarnya. hingga sampai di halte. ia segera menaiki angkutan umum.
angkutan umum itu terus melaju dari halte satu ke halte lainya. hingga akhirnya ia sampai ditujuan.
"kampong juari sade"
akhirnya. aku sampai. hasan mengambil buku dari tas kecilnya. ia membuka buku itu memastikan sebuah alamat.
ia berjalan memasuki kampung tersebut.
"maaf pak, mau tanya, kalau alamat ini rumahnya sebelah mana ya pak ?" sembari menunjukan sebuah alamat.
"tinggal lurus saja, nanti ada pertigaan belok kanan lurus nanti ada sebuah perempatan belok kiri, rumahnya dekat ladang, dan empang"
"terima kasih pak"
ia melanjutkan perjalanannya, suasana kampong juari ini sangat sepi jarak antara rumah satu dengan yang lainya cukup berjauhan, mereka dipisahkan dengan ladang-ladang milik mereka, pepohonan nan masih rimbun menambah suasana mencengkram saat malam tiba.
akhirnya hasan sampai ditujuan, ia berjalan menghampiri rumah yang cukup sederhana itu. mengetuk pintu dan menunggunya.
ceklek.
suara pintu terbuka "siapa ?"
hasan menoleh "ini, aku tante. hasan "
__ADS_1