
Hai.. gaes..
maafkan Blue yang sudah lama belum kunjung up date dan baru up date sekarang..
karena sebuah kendala leptop Blue masih diservice, dan akhir-akhir ini sedikit lebih sibuk jadi belum kesempat nulis ditambah beberapa hari ter akhir ini badan tidak terlalu fit😷 jadi mohon maafnya ya..
doakan Blue semoga blue bisa segera rutin untuk update kembali..
oh iya, sebenarnya yang bab ini tuh sudah setengah jadi tapi tertunda karena beberapa hal jadi baru bisa di lanjut sekarang...
Nah selamat membaca yaa...
Malam menjelang, aktivitas rumah sakit mulai menurun dan hanya ada beberapa dokter dan suster yang memang berjadwal malam.
Malam itu udara terasa dingin, koridor rumah sakit terlihat sangat lengang, terlihat beberapa suster telah kembali ke bangsal mereka untuk istirahat.
Suasana sepi, hanya suara angin yang berhembus melewati ruang fentilasi. Semakin malam rumah sakit itu semakin berkurang aktivitasnya, sudah tak ada aktivitas, semua beristirahat.
Rumah sakit yang luas itu namun tak terlalu banyak orang yang menginap di sana, rumah sakit itu ramai ketika pagi hingga sore, ketika menjelang malam hanya ada beberapa orang yang disana dan itupun orang yang sakit dan butuh perawatan.
Rumah sakit itu mempunyai beberapa bangunan tapi tak bertingkat, bangunan lama, dengan bangunan yang saling berhadapan dan dipisahkan dengan lapangan yang cukup luas. di tengah-tengah itu ada dua buah pohon beringin, serta tertanam beberapa pohon oak.
Sementara itu disisi lain, terlihat Ayati tertidur di sofa, sedangkan Nafisa menghampiri Ayati membangunkannya.
"Buk, ibuk," panggil Ayati sembari menyentuh lengan Ayati.
Terlihat Ayati perlahan membuka matanya yang masih terasa berat untuk dibuka.
"Ada apa Nafis ?," tanya Ayati dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Buk, Nafis keluar dulu, ibuk gantian yang jaga kakek, tidak lama kok" pinta Nafisa karena ia teringat lupa membawa sabun dan pasta gigi.
"Nak kemana ?," Tanya Ayati sembari duduk.
"Beli pasta gigi, dan sabun," jelasnya sembari berharap Ayati mengijinkannya.
"Ya udah sana, jangan lama-lama, oh, iya sekalian beli air mineral satu dus tapi yang gelas, ya Fis, buat nanti kalau ada yang kesini," jelas Ayati sembari menyadarkan badannya kembali.
__ADS_1
"iya buk," sahut Nafis lalu bergegas keluar.
Terlihat Ayati kembali memejamkan matanya karena kantuk.
Nafisa berjalan keluar terasa hawa dingin menyentuh kulitnya, ia melihat sekeliling dan hanya segelintir orang yang ada disana.
Sementara itu dari kejauhan Tampa ia sadari seseorang memperhatikannya kemudian menjauh.
Ayati tertidur lelap hingga suara dengkuran halus terdengar di ruangan itu. Tampa ia sadari terlihat sosok mengintip dari jendela kamar, perlahan ia membuka pintu kamar tersebut. Orang itu mendekat perlahan, menuju ke tempat kesakitan kepala dusun, tangan itu perlahan ia angkat dengan sebilah pisau di tangannya.
Tangan itu diangkat tinggi dan ujung pisau berada di bawah, siap menghunus orang yang sedang berbaring lemah itu.
"hah," terdengar suara Ayati orang itu seketika menoleh, terlihat Ayati mengigau dalam tidurnya dia sangat lelah menangis sepanjang hari ditambah perjalanan panjang yang mereka lewati membuatnya terlelap.
Orang itu kembali menatap kepala dusun yang tak sadarkan diri dan dengan secepat kilat.
Jleb,
pisau menghunus di tempat jantung dan noda darah merembes dibalik luka.
Jleb,
Beberapa kali pisau itu di hunuskan, mencerca brutal tak karuan. Darah membasahi ranjang itu hingga kelantai.
Orang itu tersenyum, setelah menghabisi nyawa seseorang ia kemudian melirik ke arah Ayati yang tertidur pulas sembari menyeringai.
"Ayati," gumamnya sembari mendekat, tangannya masih menggenggam pisau yang berlumuran darah segar,
Disisi lain Nafisa bergegas kembali ia kini bersama seseorang yang membawakan satu dus air mineral, saat sampai di depan ruang melati kamar kakeknya di rawat Nafisa berhenti sejenak
__ADS_1
"bentar ya bang," ucap Nafisa lalu membuka ruang tersebut. Dalam sekejap seketika ia berteriak histeris.
"Ahhhhhh !,"
Ia terjatuh lemas, melihat apa yang ada di depannya, kakinya lemas tak bertulang.
Seorang yang membawa kardus air mineral itu kaget, dan segera masuk melihat keadaan Nafisa.
Namun saat orang itu masuk ruangan ia tak jauh berbeda terkejutnya.
Darah !,
pembunuhan !,
Ayati terbangun karena teriakan Nafisa, ia mengusap matanya dengan sebelah tangannya dan terlihat Nafisa semakin menjerit ketakutan
"Nafis kamu kenapa ?," tanya Ayati sedikit Ling Ling, ia belum menyadari situasi sekarang.
orang yang membawa kardus itu bergetar, kardus air itu jatuh saat melihat Ayati bangun dengan pisau yang berlumuran darah serta wajah penuh darah.
lelaki itu menunjuk Ayati sembari bergetar "Pem. Pembunuhan," ucapnya bergetar dan bergegas lari sembari berteriak ketakutan hal itu memicu keributan.
sementara itu Nafisa bergetar tatapan tak percaya kepada ibunya.
"pembunuh, apa maksudnya ?," ucap Ayati belum paham.
namun wajah Nafisa menunjukan ekspresinya sembari menatap dirinya tak percaya tatapannya tertuju pada tangannya.
seketika Ayati melihat tangannya, matanya terbuka lebar ekspresinya terkejut tangannya memegang pisau berlumuran darah
"Pi pisau," seketika ia melihat ke ranjang tempat kepala dusun terbaring, seketika tatapannya kaget dan bergetar seketika itu ia menjatuhkan pisau yang berada di tangannya tatapannya beralih dari tangan dan kembali ke ranjang kepala dusun yang sudah berlumuran darah.
__ADS_1
ia menggeleng sembari tangannya bergetar hebat,