UJUNG DESA

UJUNG DESA
14


__ADS_3

"Tidak apa-apa Bu, maaf karena telah menabrak anda dan gerobaknya..."


Hasan mendongakkan kepalanya saat dan menatap sosok wanita yang terlihat sudah tua itu.


"Mak Sanah ?," Ujar Hasan terkejut, dan wanita tua itu terlihat terkejut pula.


" A Aden ?," Ujarnya sedikit gugup dan akan pergi namun ditahan oleh Hasan.


"Mak, akhirnya ya Allah," Lirih Hasan.


"Lepas Aden, biarkan Mak pergi," Hasan menggeleng. "Mak dengerin Hasan Mak," Hasan menunduk seraya menjatuhkan dirinya agar Mak Sanah tidak pergi darinya.


"Mak kemana saja sama pak Kasim ?, Hasan mencari Mak tidak ketemu-temu,"


Mak Sanah akhirnya terdiam melihat Hasan yang menjatuhkan dirinya seraya memegang kedua tangannya menahan dirinya agar tidak pergi.


Mak Sanah mengambil nafas dalam, memandang sosok lelaki muda yang sudah dianggap sebagai anaknya itu.


"Berdirilah nak," ujarnya namun Hasan menggeleng.


"Mak nanti pergi kembali,"


"Mak tak akan pergi, tapi gerobak Mak masih terguling di jalan, kasihan yang lewat," katanya dan akhirnya menyadarkan Hasan tentang gerobak yang terguling.


Ia menepikan gerobak Mak Sanah dan sepedanya. "Mak ada yang luka ?," Tanya Hasan khawatir.


Mak Sanah menggeleng pelan, "Ndak ada, justru Aden yang jatuh tadi ada yang luka ?, Coba Mak lihat, pasti ada yang tergores," ujarnya dengan perhatian membuat Hasan diam saat perhatian itu masih sama tidak ada yang berubah walaupun telah bertahun-tahun tak bertemu.


"Lengan kamu berdarah Aden, Kaki kamu juga,", ucapnya panik.


Hasan menahan peluh dimatanya, "Mak jangan khawatir ini hanya luka ringan nanti juga sembuh,"


"Apanya yang ringan, getih e Ndak mandek-mandek," ujarnya.


(Darahnya tidak berhenti-berhenti)


"Ke Puskesmas yak Aden,"


Akhirnya mereka ke puskesmas terdekat mengobati luka Hasan yang ternyata lumayan parah di lengan.


Sepeda motor tinggal, toh sudah ada yang jaga diam-diam. Kabar kecelakaan dirinya pasti sudah terdengar ke telinga pak Agus.

__ADS_1


Benar saja baru selesai diomongin ponsel Hasan sudah berdering beberapa kali dan itu dari pak Agus.


Hasan menggeser tombol hijau dan terangkat.


"Bagaimana anda bisa kecelakaan ?, Apakah parah ?," Sederetan pertanyaan Tampa henti dari seberang telepon namun Hasan Engan menjawab.


"Halo ?, Tuan muda ?, Anda mendengar saya ?, Anda baik-baik saja ?," Tanyanya kembali.


Hasan mengambil nafas dalam, "Alhamdulilah tidak parah pak tua, cuma jahitan tangan saja,"


"Apa ?, bagaimana bisa?,"


**


Sebuah mobil berhenti di samping Hasan dan mak Sanah. Pintu mobil terbuka, Sopir pribadi itu turun dan menghampiri Hasan dan mak Sanah.


"Silahkan tuan," ujarnya seraya membuka pintu mobil.


"Ayo Mak, kita masuk dulu," ujarnya mengajak Mak Sanah yang terlihat sedikit bingung dan ragu.


"Tak apa Mak, kita akan pulang kerumah ku dan setelah itu menjemput pak Kasim bersama," ujarnya membuat Mak Sanah terdiam.


Hasan belum tahu kepergian pak Kasim, beberapa tahun yang lalu. Mak Sanah bingung mau mengatakan bagaimana. Jika dikatakan sekarang jelas Ia akan terkejut dilihat begitu akrabnya mereka dulu.


Mobil itu memasuki halaman rumah yang luas, hingga pandangan Mak Sanah tak pernah lekat dari rumah mewah itu.


Mereka turun.


"Aden, ini rumah kamu ?,"


Hasan mengangguk pelan, "Benar Mak, mari masuk," ajaknya seraya menuntun Mak Sanah masuk kedalam rumah.


"Buk, tolong siapkan minum dan makanan ringan,"


"Baik tuan,"


"Mari Mak, duduk sini," Ajaknya.


"Tapi Aden, apa pantas Mak duduk disana ?, Pakaian Mak kotor nanti mengotori kursi Aden,"


"Jangan begitu Mak, ini hanya sebuah kursi dan sama seperti fungsi kursi-kursi lainya untuk diduduki," ujarnya seraya mengajak Mak Sanah duduk.

__ADS_1


Tidak begitu lama seorang pelayan datang dan menyajikan minum dan camilan diatas meja.


Hasan menyilahkan Mak Sanah untuk minum dan makan makanan ringan seraya bercerita.


"Sejak kapan Mak berada di Jakarta ?," Tanyanya, penasaran.


"Sudah lama Aden, sudah hampir empat tahunan, dan yah disini Mak cuma jualan sayur keliling,"


"Kenapa aku tidak kepikiran ya Mak, kalau Mak berada di sini, aku dulu kembali ke dusun, tapi Mak Sanah dan pak kasim sudah tidak ada, dan menghilang Tampa kabar, aku sangat khawatir memikirkan kalian Mak,"


"Oh iya Mak, bagaimana kabar pak Kasim ? Dia sehat kan Mak ?, Sudah lama tidak berjumpa aku kangen cerita-ceritanya tentang dongeng rakyat," ujarnya membuat Mak Sanah bingung harus menjawab bagaimana.


"Gusti, mesti tak jawab kepiye Iki tole,",


(Tuhan, harus ku jawab bagaimana ini anak ?) ujarnya dalam batin.


[[Tole: Sebutan untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa]]


"Bapak mu sampun tindak Le,"


(Bapakmu sudah pergi Le,) ujarnya lirih dengan suara keibuannya.


Hasan terdiam mendengar perkataan Mak Sanah.


"Maksud Mak ?,"


~~~``



Note:



Silahkan mampir juga di cerita baru Author judulnya ((KETIKA AKU BERUBAH)



![](contribute/fiction/62898/markdown/3532977/1647006840411.jpg)


__ADS_1


Jangan Lupa, Like, komen dan love nya.. kawan.


__ADS_2