
Hujan mengguyur bumi begitu deras, sebuah mobil melaju dengan cepat dijalan yang lenggang. Karena curah hujan yang begitu lebat sang sopir terganggu dengan pengelihatannya sedangkan sebuah truk dari arah berlawan melaju dengan kecepatan tinggi dan sorot lampu memantul ke kaca mobil.
Sang sopir mobil hilang kendali, mobil itu Oling sopir mengarahkan mobilnya ke luar jalur dan.
"Aaaa !"
Brak !.
Tabrakan maut terjadi disela hujan yang begitu deras.
"Tole !," Rintih seorang wanita yang menjadi korban kecelakaan.
[Dalam Bahasa Jawa, Tole: panggilan anak laki-laki]
"Tole, nak," ujarnya lirih seraya melihat anaknya yang terpental dari gendongannya.
Sementara itu didalam mobil suara tangisan anak pecah ketakutan, ia menangis sangat keras dengan kepala mengeluarkan darah.
Semua orang didalam mobil itu tak sadarkan diri kecuali anak kecil yang menangis.
Warga yang menepi mulai berdatangan dan panik, mereka segera menghubungi aparat kepolisian dan ambulans.
"Orangnya masih hidup !, Cepat bantu keluar," terdengar hiruk pikuk warga. Tidak lama kemudian ambulan datang ke lokasi, polisi mengamankan tempat kejadian.
Suara sirine begitu memekik telinga di tengah hujan lebat.
"Tole,"
"Tidak !,"
Seketika Hasan terbangun, dengan keringat bercucuran di dahinya, dengan segera ia banyak beristigfar seraya memegang dadanya. Kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Jam menunjukan pukul tiga pagi dini hari, bergegas ia melaksanakan solat sunah tahajud dilanjutkan membaca Alquran sebagi pengobat hati.
Ia selalu mengingat pesan gurunya, obat hati itu ada lima macam, pertama membaca Al-Qur'an dan maknanya, kedua sholat malam, ketiga berkumpul dengan orang-orang saleh, keempat berpuasa, kelima berdzikir.
Lakukanlah agar hati tenang dan lapang, jikalau tidak bisa melakukannya setidaknya lakukanlah salah satu dari mereka secara Istiqomah, petunjuk Allah itu selalu ada bagi orang-orang yang mau berusaha.
Waktu terus berjalan suara adzan subuh berkumandang, Hasan segera bergegas melaksanakan sholat wajibnya.
"Apakah mimpi buruk itu datang lagi Tuan muda," Hasan menoleh dan ternyata disana berdiri pak Agus dan seorang lelaki muda.
"Yah begitulah,"
"Sepertinya anda harus datang ke dokter tuan," ujar pak Agus memberi saran.
"Tidak perlu, nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Oh iya pak, apa pak Agus sudah bertemu Mak Sanah ?,"
"Sudah tuan muda,"
"Bagaimana keadaanya sekarang ?,"
"Mak Sanah, sudah lebih membaik dan sudah saya tempatkan satu orang untuk menemaninya tuan," Jelasnya
Hasan mengangguk lalu ia bergegas berdiri dengan setelan baju olah raga.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, jangan lupa jaga Mak Sanah dengan baik," ujarnya lalu bergegas keluar untuk lari pagi.
Setelah melakukan aktivitasnya tak lupa ia segera pulang untuk bekerja, kali ini dia datang ke toko martabak, salah satu tempat dia bekerja.
Dengan pakaian khas tokonya, ia masuk dan segera berbaur dengan yang lainya, berbagai macam varian masakan martabak yang di sajikan dia hampir menguasai semuanya.
Menurutnya membuat makanan seperti ini adalah hal yang mengasikan, tidak hanya itu saja karyawan lainya juga sangat bersahabat walaupun hanya empat orang tapi keakraban mereka tidak diragukan lagi.
"Hari ini Lo pulang kemana bro ?," Tanya Dedi yang ke Hasan yang baru saja mengantar pesanan.
"Gue ?," Tanya Hasna menunjuk dirinya.
"Ya iyalah, emang siapa lagi kalau bukan dirimu ?, asih,"
"Oh, kirain ke tuh Kamal,"
"Oi, apa ?," Sahut Kamal yang baru saja menutup panci pemasak martabak.
"Panggil tuh Dedi," sahut Hasan menimpali.
"Eh ngaco, mana pula mau bicara sama elu Kamal,"
__ADS_1
"Resek Lo, ganggu orang saja,"
"Kresek tuh di sampingmu," sahut Dedi.
"Kuping kau itu apa wajan, resek malah kresek,"
"Ha ha ha," tawa menyambar diantara mereka.
"Pulang sana dah, kau periksa kuping mu apa masih fungsi," ujar Kamal yang kemudian fokus ke martabaknya.
"Ya kale, emang elu pikir kuping gue budek ?,"
"Bisa jadi kebanyakan makan ati tuh sama siapa namanya Rina, Rena, Salma ? Ah sapa tuh yang kau gebet ?," sahut Kamal kembali
"Tiga-tiganya lah," sahutnya.
"Wah wah wah pantas saja aku jomblo selama ini ternyata ada yang dobel-dobel," Sahut Wawan menimpali.
"Ketika suhu bereaksi, hati-hati geng,"
"Pantas saja tiba-tiba populasi jomblo wanita berkurang pesat," sahut Wawan yang baru saja kembali.
"Aish, sudah-sudah makanya jadi laki itu harus main trik ! Sini kalaian harus berguru sama gue," timpali Dedi seraya bergaya.
"Ogah, tampang lu menyesatkan," sahut Wawan.
"Eh buset ni bocah,"
"Dari pada ngomong Mulu nih gantian anter ke sana," ujar Hasan menyodorkan nampan berisi pesanan ke Wawan.
"Eh San lu belum jawab pertanyaan gue," balasnya seraya melipat kardus martabak.
"Masih, ke tempat saudara," jawabnya singkat.
"Aih, padahal gue mau nginep dirumah lu," sambungnya.
"Mau apa nginep, ogah paling low kabur-kaburan lagi kan ngaku low ?,"
"Aih, malam ini aja San, tolongin gue," pintanya memohon.
"Ayo lah San, malam ini saja, biar aku bisa menghindar dari Rena, kau tahu betul bagaimana Rena itu, jika sudah ngajak pergi abis uang aku," Jelasnya memelas.
"Sudah tahu kelakuannya masih saja kamu tangani jadi pacar,"
"Aish, kau tak tahu San, Dia itu cantik mana bisa aku melewatkan begitu saja, rugi aku," ujarnya.
Hasan menggeleng mendengar penuturan dari temannya itu.
"Tidak bisa, itu resiko dirimu sendiri jadi tanggung sendiri,"
"Tega sekali kau ini San, ayolah tolong sekali ini saja,"
"Masalahnya bukan aku tega Di, tapi rumah ku itu nanti sore sudah ada yang menempati orang," jelas Hasan.
"Kau jual rumah kau ?," Tanya Dedi kaget.
"Gue kontrakan,"
"Yah," keluhnya.
"Sang suhu sedang galau gan !," Teriak Kamal
"Ais, apa kau teriak-teriak, berisik"
"Bosbo pusing gaes, gepetan ngejar-ngejar," timpali Wawan.
"Bosbo ?," Tanya Hasan
"Bos Boayaa," jawabnya membuat gelak tawa kembali bergema diantara mereka. Memang receh sih
"Aish, kalian tu emang tak tahu kesusahan ku,",
"Sudah putusin aja Rena, kan masih ada yang lain," Timpali Wawan.
"Mana bisa bro, rugi aku dia itu cantik dari pada yang lainnya,"
"sudah deh, pusing ngurusin orang seperti mu, sudah dah urus sendiri," jawab Kamal yang kemudian sibuk membuat menu pemesanan berikutnya.
__ADS_1
"Dari pada pusing nih Anter ke meja sana," ujar Hasan memberikan nampan berisi beberapa pesanan martabak.
"Aish mana-mana," ujarnya berdiri kalau membawa nampan itu pergi.
"Ada-ada aja tuh orang tak ada tobat-tobatnya," celetuk Wawan.
"Namanya juga orang," sahut Hasan yang kini duduk melempit beberapa kardus.
Waktu semakin berputar tidak terasa kini sudah pukul sepuluh malam. Hasan mengendarai motornya memasuki halaman rumah yang cukup megah.
Ketika hendak membuka pintu, ternyata dari dalam Mak Sanah telah membukanya.
"Mak, belum tidur ?,"
"Belum le, habis pulang kerja pasti lelah, sana cuci tangan dan makan Mak sudah buatkan makan malam, tadi Mak sudah ijin untung saja di perbolehkan kepada mereka yang mengurus dapur," Jelasnya
"Mak masak ?," Iya masuk ke dalam bersama Mak Sanah, Hasan langsung menuju ke ruang makan lalu cuci tangan.
"Ayo mbak makan bareng," ajak Hasan yang kini sudah mulai mengambil piring.
"Mak sudah makan Le, kamu makan yang banyak,"
Mak Sanah mengambilkan nasi di piring Hasna beserta lauknya dan kemudian Hasan memakannya dengan lahap.
Selama Hasna makan Mak Sanah hanya memperhatikan Hasan yang makan begitu lahapnya, dengan memakai baju kerja di warung martabak.
Setelah selesai makan Hasan mencuci piring, tak lupa dia kembali lagi ke meja makan.
"Le, kerjanya lancar ?," Tanya mak Sanah mengawali.
"Alhamdulillah lancar Mak, Oh iya sampai lupa," ujar Hasna lalu mengambil kantung plastik berisi martabak yang ia bawa dari tempat kerjanya.
"Ini Mak, tadi dapet gratis dari tempat kerja Mak makan ya, rasanya sangat enak," seraya memberikan kepada Mak Sanah.
"Ngak kamu makan saja Le,"
"Hasan sudah sering makan di tempat kerja Mak, ini spesial buat Mak Sanah, terima ya Mak," Mak Sanah menerima martabak pemberian dari Hasan seraya tersenyum penuh kasih seperti kepada anaknya.
"Baiklah Mak makan, ini hasil kerja keras dari anak Mak satu-satunya,"
"Oh iya Le, tapi apa Ndak masalah jika Mak terlalu lama disini, apa majikan Tole tidak marah jika Mak disini ?, Siapa tadi Mak dengar Yan, Tian, Sabian atau siapa lupa aku le,"
Hasan tertawa mendengarnya, "Abian Mak, bukan Sabian, Kalau sabian mah grup keroncong itu,"Jawab Hasan ke Mak Sanah.
Ia ingat perkataan pak Agus tadi pagi, bahwa Mak Sanah menanyakan perihal pemilik rumah yang ia tinggali namun pak Agus tidak mengatakan jika pemiliknya adalah Hasan melainkan Abian nama asli dari Hasan, yang mana Mak sanah belum tahu dengan nama asli Hasan.
"Iya itu maksud Mak, maklum Le, Mak kan sudah tua jadi suka lupa nama seseorang,"
Iya Mak, sehat-sehat, Oh iya Mak, tidak apa kok pasti boleh tinggal disini," jelas Hasan.
"Yang bener le, tuan rumah itu bolehin, nanti gaji kamu kalau di potong gimana ?,"
"Boleh kok Mak, nanti Hasan bilang ke dia pasti dibolehin,"
"Jangan Le, Mak pulang saja ke rumah kontrakan Mak ya,"
"Ngak Mak, Mak di sana tempatnya terlalu kumuh dan Mak seorang diri di sana, Mak tinggal di sini saja sama Bian maksudnya Hasan," Tutur Hasan keceplosan.
"Ndak le, Mak besok pulang saja tidak enak sama tuan pemilik rumah, Ndak elok tinggal lama-lama," tuturnya membuat Hasan terdiam sejenak. Dia tahu betul bagaimana gigihnya Mak Sanah yang pantang mengemis kepada orang lain.
"Ya udah gini aja Mak, Mak tinggal dirumah Hasan ya, rumahnya Deket dari tempat kerja Hasan, eman-eman tidak ada yang nempatin, Hasan juga jarang pulang ke rumah karena sering disini karena kerja Mak, tidak apa kan Mak,"
"Tapi Le,"
"Mak, aku mohon Mak tinggal dirumah Hasan ya, hitung-hitung sebagai balas Budi Hasan ke Mak Sanah, terima ya Mak aku hanya tinggal punya Mak disini, Mak sudah saya anggap seperti ibu kedua Hasan Mak," Jelas Hasna
Mak Sanah menatap Hasan yang sudah seperti anaknya itu. "Baiklah Le, Mak akan tinggal di sana, besok kita langsung pindah saja ya, tidak enak sama pemilik rumah ini,"
Hasan hanya mengangguk, ingin rasanya ia menceritakan yang sesungguhnya namun karena beberapa hal terpaksa harus ia rahasiakan semua ini dari siapapun termasuk Mak Sanah.
.
.
.
Tekan tombol Like, Love, dan juga rate ! Agar author lebih semangat lagi untuk Up date !
__ADS_1