
Dering ponsel menghentikan langkah Hasan yang sedang mendorong sepeda motor miliknya yang bocor. Tangannya meraih ponsel yang berada di saku celananya.
Ternyata pak Agus lah yang menelponnya.
Hasan sedikit membuang nafasnya dan langsung menekan tombol warna hijau.
"Tuan muda, silahkan masuk kedalam mobil biar saya antar sampai tujuan," Ujarnya dan seketika mobil itu berhenti di samping Hasan.
Pak Agus keluar dan langsung membukakan pintu mobil, "Silahkan Tuan,"
Akhirnya Hasan memasuki mobil setelah mengelak namun ia berpikir lagi jika ia mendorong sepeda dan mencari tempat bengkel maka akan sangat terlambat ia sampai di tempat kerja.
"Berhenti seratus meter dari restoran pak," pinta Hasan.
"Itu masih jauh tuan muda, biar mobil mengantar sampai halaman," balas pak Agus.
"Tidak, pak berhenti sesuai kesepakatan," ujar Hasan ke sopir.
"Antar sampai halaman restoran," perintah pak Agus kepada sang sopir.
"100 meter sebelum resto,"
Pak sopir menghelai nafasnya. "Mau turun mana sebenarnya ?!," gerutunya dalam batin.
Setelah beberapa menit berdebat kecil akhirnya mereka berhenti sesuai permintaan Hasan. Hasan langsung berjalan cepat menuju tempat ia bekerja.
__ADS_1
***
Siang menjelang dan keadaan resto semakin ramai oleh pengunjung. Begitu juga dengan karyawan resto yang semakin sibuk, semakin banyak pengunjung maka semakin sibuk mereka bekerja.
"Silahkan, Ini pesanannya," ujar Hasan seraya meletakkan pesanan dimeja.
"Kau Hasan ?," Tanya pelanggan yang duduk, Hasan mendongakkan kepalanya menatap asal suara yang memanggilnya.
"Wah, ternyata benar kau, ternyata kau cucunguk, kau membuatku hampir lupa dengan penampilanmu sekarang," Ujarnya membuat beberapa orang memperhatikannya.
Terlihat Hasan Tampa ekspresi memandang orang yang ada di depannya ini. Dia lelaki jangkung yang menahannya di ladang setelah pemakaman kepala dusun.
Tidak banyak berubah dari dirinya walau sudah enam tahun berlalu, hanya saja tubuhnya agak berisi.
"Hei kenapa kau diam saja ?, Apa mulutmu sekarang menjadi bisu ?, Ha ha ha," Gelak tawa menyambar.
"Wah wah wah, orang udik yang pemberani,"
"Hei bro, sekiranya ngaca dulu jika ingin bersaing mendapatkan seorang wanita, berpakaian udik sok jagoan," sahut salah satunya lagi.
Ketiga orang itu kembali menertawakannya. Namun Hasan masih diam belum juga bergeming. Ia menatap wajah orang yang menghinanya.
"Ck. Ck. Ck. Ternyata kau seorang pelayan, ku kira kau pemilik restoran ini, keluar saja dan bekerja di perusahan ku, disana gajinya lebih besar dari sini yah, karena aku berbaik hati ada lowongan disana aku bisa memasukkan mu di OB, bagaimana baik hati bukan ?,"
Gelak tawa kembali merekah diantara mereka, seakan kehidupan seseorang adalah sebuah lelucon baginya.
__ADS_1
Lelaki jangkung itu mengeluarkan sebuah kartu pengenal dari sakunya lalu melemparkannya dimeja.
"Ambil, selagi aku berbaik hati," ujarnya. Hasan hanya menatap kartu yang berada di meja.
PT. Wirajaya.
"Tawaran yang bagus, lebih baik Anda berikan saja pada teman anda atau anda simpan untuk diri sendiri mungkin kau akan membutuhkannya dalam waktu dekat ini," Ujar Hasan dan berlalu pergi Tampa menghiraukan ketiga pria yang membuang-buang waktunya.
Terlihat raut kesal dan marah dari pria jangkung itu saat diabaikan.
"Cih, sudah miskin masih saja sombong," ujarnya.
"Sudahlah abaikan saja," ujar salah satu dari mereka yang sudah memakan makanannya.
"Kau benar, tapi tetap saja aku masih kesal, karena dia aku tidak bisa mendapatkan wanita itu,"
"Santai bro, masih ada waktu untuk memberinya pelajaran, kita nikmati keberhasilan mu akhirnya bisa naik jabatan,"
"Ha ha ha,.. kau benar, aku hampir melupakannya, setelah ini selesai kita langsung ke club'," ujarnya dan disanggupi oleh kedua temannya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, vote and comen...