
Ku lihat Mak Sanah datang menghampiriku, ia mengelus lengan ku memberikan kekuatan terhadap diriku, "sabar Aden, sabar," ucapnya lirih sembari menahan beningan kristal di pelupuk matanya.
"Bagaimana keadaan kepala dusun Mak," tanyaku sembari melihat kedalam bilik rumah sakit.
"Sudah dibawa ke kota Aden," jawab Mak Sanah lembut.
"ayo, sekarang kita pulang, Aden. Biar nanti kita menyusul ke kota," sambung Mak Sanah mengajak ku pulang dan aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Sebelum kami pergi meninggalkan puskesmas sekali lagi ku mengarahkan pandangan. Benar saja tatapan mereka masih sama dengan tatapan ketika aku datang.
"Aden," panggil Mak Sanah mengalihkan perhatianku.
"Ayo," ucapnya masih dengan nada lirihnya.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kedalam kamar ku. Ku rebahkan badan ini ke kursi dan bersandar. Ku usap wajah ku, mengacak rambut hitam ku.
"Aden," ku dengar suara pak kasim memanggilku dari balik pintu. Dengan segera aku bangkit dan membuka pintu kamar ku.
ku lihat pak kasim, berdiri di depan pintu sembari membawa tas di tangannya. mataku tertuju apa yang di tangan pak kasim.
"gini Aden, Aden mau ikut ke kota, kita akan menyusul kepala dusun kesana," ujar pak kasim.
aku terdiam sejenak,
"oke," jawab ku singkat lalu masuk mengambil jaket dan ku kenakan.
Perjalanan ke kota memakan waktu sekitar dua jam lebih, dengan menggunakan angkutan umum dan dua kali pindah kendaraan.
Jalanan yang masih tanah berdebu dan ketika hujan akan berlumpur, kulihat jalanan yang basah dan berlumpur, aku baru teringat bahwa disini baru saja hujan mengguyur cukup deras membuat jalanan menjadi tanah berlumpur.
Tanah yang tergerus karena ban kendaraan menjadikan perjalanan menjadi semakin lama, beberapa kali ban kendaraan terselip karena lubang dan licin. Sungguh perjalanan kali ini memakan banyak waktu, sudah melebihi dua jam padahal perjalanan baru setengah jalan menuju kota.
Aku terdiam melihat jalanan yang begitu memperhatikan, dan seketika pikiranku teringat kepada kepala dusun dan keluarganya saat melewati jalan ini. Bagaimana keadaanya selamat atau tidak saat melintasi jalanan seperti ini waktu yang di tempuh akan semakin lama karena hujan.
Sungguh perjalanan ku dipenuhi dengan rasa khawatir. Hingga setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya kendaraan yang aku tumpangi melaju di jalan kota, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit dimana kepala dusun dirawat.
Bus berhenti di halte rumah sakit, kami segera turun dan langsung bergegas menuju rumah sakit.
kulihat lalu lalang orang disana.
__ADS_1
"Ramai," gumam ku lalu menuju ke resepsionis untuk menanyakan dimana kepala dusun dirawat. Setelah mendapat petunjuk kami segera bergegas keruangan tersebut.
Di depan ruangan yang dituju, aku terdiam sejenak saat akan masuk,
"ayo Aden," ajak pak kasim terhadap ku. Jujur aku sedikit ragu untuk masuk.
Saat pak kasim dan Mak Sanah masuk aku pun membuntut dibelakang mereka.
Kulihat mereka menoleh saat kami masuk.
"Mau apa kau kemari !," Itu suara Tante Ayati yang langsung menyeru tatkala melihatku.
Seketika kami semua terdiam.
"Keluar kau !, aku tak Sudi melihat mu ! dasar pembawa tulah !, Pergi kau ! Pergi !," Teriak Ayati makan urat membuat Hasan terpaku ditempatnya.
Terlihat Nafisa menenangkan ibunya yang naik pitam. "Maaf, Hasan, lebih baik kamu jangan masuk dulu kemari, aku mohon mengertilah," ucap Nafisa memohon.
Hasan melihat mereka, lalu beranjak pergi dari ruangan.
Terlihat Ayati masih merah padam, nafasnya naik turun.
"Mak, pak kasim, terimakasih sudah mau jenguk," sahut Nafisa saat melihat keadaan ibunya itu,
Mak Sanah menghampiri keranjang kesakitan. Terlihat kepala dusun yang masih enggan membuka kedua matanya, selang infus dan selang pernafasan terpasang di badanya.
Mak Sanah sangat prihatin, melihat kondisi kepada dusun saat ini.
Setelah beberapa saat mereka berbincang, akhirnya maksanah memutuskan untuk kembali.
"Nduk¹, ini ada sedikit bekal, nanti jangan lupa dimakan," ucap Mak Sanah kepada Nafisa.
"maksih Mak," jawab Nafisa seraya tersenyum. Terlihat pak kasim tak banyak bicara sendari tadi ia hanya menjawab beberapa pertanyaan saat ditanya.
Nafisa mengantar Mak Sanah dan pak kasim keluar ruangan saat diluar terlihat Hasan duduk di kursi tunggu langsung berdiri.
"Bagaimana keadaan kepala dusun ?," ucapnya bergegas dan khawatir. Ingin rasanya dirinya masuk namun apa daya dia tidak di ijinkan.
"Kakek saya masih dalam keadaan koma, terimakasih sudah mau menjenguk kemari," Jawab Nafisa dengan suara lembutnya namun suaranya sedikit tercekat di tenggorokan, seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
Hasan yang melihat itu hanya terdiam dan sangat merasa bersalah,
"maafkan saya Fis, karena saya kepala dusun,.." belum selesai Hasan berbicara sudah terpotong oleh jawaban Nafisa.
"Kakek saya akan baik-baik saja, Insyaallah," jawabannya lembut namun tegas.
Hasan terdiam.
"Ya, sudah Nduk, kami pamit dulu, besok biar pak kasim menjenguk kemari lagi," ucap Mak Sanah.
"Terimakasih Mak atas kunjungannya dan tiak usah repot-repot Mak, kasian pak kasim perjalanannya cukup jauh, besok ada saudara yang akan menjenguk kesini," jawab Nafisa sedikit tak enak.
Akhirnya merekapun pergi, meninggalkan rumah sakit.
Terlihat Hasan sempat melihat kebelakang dan di dapatnya Nafisa yang masih berdiri di depan pintu melihat kepergian mereka.
"Apa yang harus aku lakukan ?," gumam Hasan lirih namun masih terdengar oleh Mak Sanah dan pak kasim.
"Yang sabar Aden, cobaan pasti akan berlaku," jawab Mak Sanah.
Terlihat hari ini Angkutan umum begitu penuh karena menepati waktunya orang pulang kerja.
Pak kasim dan Hasna mencoba mencari kendaraan yang sedikit longgar namun tak ada,
"Mak, disini masih ada kosong dua kursi," ucap Hasan dan mak sanah serta pak kasim segera berlari menghampiri Hasan,
"pak kasim duduk disini," ujar Hasan menunjukkan kursi disamping Mak Sanah.
"Aden saja yang duduk, saya ikut mobil belakang, disana ada teman saya jadi sopir, sekalian mau ngobrol den, lama tak jumpa," ucap pak kasim.
"Oke baiklah pak, jadi kami duluan," ujar hasan.
Pak kasim turun dari angkot dan melihat angkot itu telah melaju. Pak kasim melihat gedung bertingkat itu sejenak lalu berjalan ke angkot yang ia tuju.
______________
Nduk \= panggilan anak perempuan dalam bahasa Jawa.
______________
__ADS_1
Jangan Lupa tombol Like Ya !, komen juga boleh.