URINE

URINE
Chapter 28 Ira III


__ADS_3

HP ku bergetar saat aku tiba dirumah. Aku lihat panggilan dari Nina.


"Hallo sayang..."


"Assalamualaikum dulu lah yank"


"Eh waalaikumsalam"


"Ish...suka bener kekgitu, udah nyampe yank?"


"Belum diapa-apain yank gimana bisa nyampe"


"Iiihh apaan sih? serius ini"


"Hahaha...karena kamu udah serius akhirnya aku nyampe"


"Sayaaannng" Nina geram dengan ulahku. aku masih saja tertawa.


**


Gitar adalah salah satu alat pengungkap rasa di hati. saat kau memetiknya dan mulai bernyanyi pahami lah lagu yang kau nyanyikan biasanya itu adalah wakil dari hal apa yang kau rasa (kalau bahasaku ini sulit dipahami coba kamu cek mungkin IQ mu dibawah rata-rata. hehe)


Seperti malam ini saat sedang bicara lewat telpon dengan Nina aku memetik gitarku. 'Kupinang dengan Bismillah' nya Ungu mengalir syahdu, aku tenggelam dengan nada dan suara gitarku. aku hanyut dalam keindahan lirik lagu itu. seolah benar-benar mewakili rasa yang aku punya.


"Itu lagu mewakili perasaan kamu g yank?"Suaranya lembut terdengar penuh harap.


"Kamu bisa g merasakannya saat aku nyanyiin tadi?"

__ADS_1


"Hmmm....iya sih, tapi aku takut salah sangka"


"Seringkali kita membohongi apa yang sudah dibisikkan oleh hati Nin, kita sering menyangkalnya. padahal begitulah yang sebenarnya. apa yg kita ucapkan dari hati akan sampai ke hati juga. jadi kalo hatimu merasakannya berarti apa yang aku katakan berdasarkan dari hatiku".


Aku masih memetik gitarku pelan, mengiringi setiap kata yang aku ucapkan. Nina terdiam, aku bisa mendengar nafasnya.


"Nina jangan dekat-dekat gitu lah, nafasmu kedengeran..g tahan aku"


"Masakh sihh Renh..apah kamuh gak sukah" setiap katanya diiringi desahan. petikan gitarku berhenti.


"Jangan mancing yank, aku tu mesum jangan biarkan kemesumanku bergerak brutal..hahaha"


"Hahaha....tau kok, iya deh g aku godain"


Hampir satu jam pembicaraan itu, Nina mengakhirinya lalu mengajakku ke lapak. Mereka bertiga sudah ngobrol disana. Wulan antusias sekali menanggapi cerita Ira tentang masalahnya. Rio terlihat muncul tenggelam sepertinya dia sibuk dengan pelanggannya.


"Kayaknya gak Mok, ku liat ketawa-ketawa aja dia. Padahal kan Mok, aku belum mandi waktu dipanggil ke kantor itu".


"Jorok kali lah kau ni Gel, harusnya kau mandi dulu..dandan yang cantik kau ukir lah alis kau itu. siapa tau ada disana yang naksir sama kau"


"Gak sempat lho Mok, cuci muka aja nya aku. udah g sabar kali ku tengok polisi itu waktu nelpon aku"


"Wkwkwk PD kali lah kau Gel"


"Iya kan dia g bakal nanya aku mandi atau gak nya".


"G boleh gitu Gel, kita sebagai cewek mesti bersih, wangi bukan buat orang lain tapi untuk diri sendiri. kalo aku g bisa lho Gel kalo pergi-pergi g mandi. kok kau santai aja?"

__ADS_1


Aku senyum-senyum membaca chat mereka. aku aku putuskan untuk tidak ingin bergabung mereka menyapaku.


"Eren ini dari tadi cuma ngintip-ngintip aja"


"Ooi...kuncir mana suara loe?"


"Balek dari sana aku baru mandi Mok, mandi junub, soalnya ternoda kali rasanya aku diliatin sama abang-abang disana".


"Gak usah kau sapa dia Mok, makin kau sapa makin g ada suaranya itu si Eren. diamkan aja"


"Hahaha kampret lu Ra, gua g gitu keles"


"Asli jorok lu Ra, udah gitu PD banget pula. pengen gua karungin lu terus gua masukin kecoa kedalamnya. biar lu di gelitikin sama sungutnya"


"Hahaha...setuju gua Ren, karungin aja dia"


"Gua rasa sebelum digelitikin kecoanya udah pingsan duluan Ren, bau Ogel nauzubillah" Rio bergabung dalam obrolan. disusul dengan kehadiran Nina.


"Hahaa...sabar Ra ini ujian, btw lu mau berapa banyak kecoanya biar gua bantu nambahin"


Emoticon tawa bermunculan. Ira sedang menulis.


"Kok bawah gua senut-senut y?Kapan kelen mau melaksanakannya?gua udah g sabar ni pengen ngerasainnya"


Malam itu lapak ceria sekali obrolan masih membahas tentang Ira, dia selalu tersudut tapi pandai sekali dia berkelit seolah dia tidak merasa tertekan dengan bullyan kami.


'Manis juga anak ini' aku beranjak melihat profilnya. Hmmmm...boleh juga.

__ADS_1


__ADS_2