
Dungeon baru sudah dirilis, banyak sekali party yang mencari Job Saint sebagai penghancur debuff. aku hampir memliki semua jenis Job karakter termasuk saint.
Siang itu aku sedang dalam party dungeon baru. belum ada yg menyelesaikan dungeon ini sehingga masih terbuka kesempatan mendapatkan first kill boss yang biasanya terdapat item unik yg dijatuhkannya. Benar-benar menguras kemampuan debuff monster-monster di dungeon ini. sedikit salah perhitungan saja pasti mati semua.
Sejauh ini kami masih bisa mengatasinya, di stage 2 kami hampir mati kalau saja tower healku tidak cepat ku keluarkan. mereka memuji kemampuanku. Hp ku bergetar, aku lirik panggilan dari Ira. aku mengabaikannya. Panggilan kedua masih kuabaikan. saat stage 2 berhasil kami lewati, kami beristirahat sejenak menunggu cooldown skill sambil memeriksa buff. saat itu aku lihat panggilan dari Ira lagi.
"Hallo Ra...kenapa?"
"Ren rumah Mok kebakaran"
"Hah?jangan becanda Ra"
"Serius gua dapat kabar dari temen gua disana. gua dari tadi ngubungin lu g diangkat-angkat".
"Ren...Ren...."
"Eh...iya apa Ra?"
"Kenapa diam aja, gimana ni?"
Reaksiku memang sedikit lambat dalam hal darurat seperti ini. Ira menjelaskan waktu kejadian dan bagaimana awal mula bisa seperti itu. menurut kabar yang didapat tidak ada korban jiwa. syukurlah, setidaknya semua selamat. aku mencoba mencari solusi bantuan seperti apa yang bisa kami berikan.
"Lu udah coba hubungi dia Ra?"
"Udah Ren, g diangkatnya"
__ADS_1
"Yang lain udah pada tau?"
"Udah Ren tadi gua kabarin dilapak"
"Y udah sekarang kita berdoa aja mudah-mudahan g banyak kerugiannya. mudah-mudahan juga Wulan dan keluarga diberi ketabahan"
"Habis semua kayaknya Ren barang-barangnya. cuma bisa nyelamatkan keretanya aja"
"Cuma bisa ngeluarin sepeda?trus motornya dan barang-barang yang lain?g ada yang bantuin apa? kan siang"
"Kereta itu motor Ren, ah lu pea..."
"Terlalu cepat kejadiannya, apinya gede katanya g ada yang berani dekat. cuma bisa lihat aja".
Sejak kapan kereta itu motor?aku masih tak habis pikir. "Ra...kereta itu bahasa daerah sana y?" aku penasaran.
Baru aku paham, nambah lagi pengetahuan bahasaku. akhirnya kami sepakat untuk mengumpulkan dana sebagai bantuan untuk Wulan. walaupun tidak banyak tapi hanya itu yang bisa kami berikan secara material. bantuan moril jangan ditanya kami berusaha untuk tidak bercanda yang berlebihan, kami support dengan menghiburnya.
"Hallo..."
"Nah ini Eren, udah kumpul semua. ada Mok juga tu Ren" Aku mendengarkan penjelasan Rio, terdengar suara Wulan, Ira dan Nina sedang ngobrol.
"Sabar ya Mak, mudah-mudahan nanti diganti dengan yang lebih baik"
"Iya makasih Mak Nin"
__ADS_1
"Wulan..."
"Iya Ren..." terdengar nada suaranya lemah, sedikit serak. mungkin dia habis nangis.
"Sabar ya Lan, semua ini surat cinta dari Allah buat kita semua. percaya aja pasti ada hikmah dibalik kejadian ini. kuat-kuat ya Lan"
"Iya makasih ya Ren"
"Gua terharu banget sama bantuan kalian semua. bantuan kalian berarti banget buat keluarga gua. dan kalian yang pertama lho"
"Iya namanya juga keluarga Lan, jangan sungkan ya sama kita-kita" Rio terdengar bijak sekali. tak kusangka saat terjadi hal seperti ini jiwa-jiwa sosial mereka meronta, sepertinya mereka juga merasakan apa yang dirasakan Wulan.
Kami hanyut dalam suasana sedih, sampai Wulan mengingatkan.
"Jangan gitu lho woi...aku g pengen nangis lagi. kita ketawa-ketawa aja kek biasanya. hibur gua lah"
"Yo hibur Yo, biasanya lu ni paling bisa mengalihkan kita-kita" usulku.
"Iya Dio" Nina
"Iya Yo" Ira
"Iya Yo" Wulan
"Iya Yo" Aku
__ADS_1
kami semua terdiam sejenak lalu tertawa bersama.