
Aku terdiam sejenak, hampir saja asap rokok yg kuhirup lupa aku keluarkan lagi.
"Bukannya semalam kita chat group y yo? kapan lu nelpon dia?" aku mulai penasaran. karena tadi malam kami chat sampai jam 2 lewat. kupikir setelah selesai chat dan undur diri semua bakal istirahat masing-masing. ternyata....
"Gua inbox dia ren, gua tanya bisa g telponan bentar?dia bilang bisa.akhirnya gua telpon lah dia" seperti ada kekecewan yg kubaca dari chat Rio.aku makin penasaran dengan hasilnya. tapi kalau dilihat dari chat ini sepertinya hasil pembicaraan semalam tidak sesuai dengan harapan Rio.
"Terus lu bilang gimana?"
"G enak ngobrol di chat gini ren, gua telpon aja y lu?" jawab Rio. tanpa menunggu jawabanku HP ku sudah bergetar ada panggilan dari Rio.
"Hallo Dokter Cinta disini" jawabku sedikit bercanda agar Rio tidak terlalu hanyut dalam perasaannya.
"hahahaa....iya pak saya mau konsultasi tentang hati saya pak"jawab Rio tertawa. ah anak ini selalu bisa bersikap santai kalau sudah berbicara denganku. seolah tidak ada masalah yang mengganggunya.
"Maaf...saya Dokter Cinta bukan Dokter Hati" lanjutku menimpali candaan Rio.
__ADS_1
"hahaha....udah ah ren, tapi makasih y udah ngehibur gua"
"ngehibur apaan, emang lu kenapa?" tanyaku
"ah g perlu gua cerita kyaknya lu udah tau lah gmna hasilnya"
"lu kira gua dukun, yg bisa lihat kejadian masa lalu" aku sedikit protes karena belum mendapatkan cerita tentang Rio dan Nina.
"Jadi gini ren...." Rio mulai bercerita. aku mendengarkan dengan baik, menggangguk walau dia tidak melihatku, kadang aku menanggapi dengan "hm" terakhir aku ternganga. bener-bener dalam sepertinya rasa yang dirasakan oleh anak ini pikirku. kok bisa sih dia sampai segitunya padahal baru kenal, belum pernah bertemu, hanya lewat chat dan telpon saja dia bisa sampai seperti ini.
Aku sedikit curiga, jangan-jangan Rio hanya ingin membuat sandiwara saja. sebuah melodrama dari pertemanan ini biar ada sedikit konflik, jadi tidak hanya tertawa dan senang-senang saja.
"Lu beneran suka yo?cewek kekgitu?cantik sih iya cuma menurut gua rata-rata lah, g terlalu hebat juga, tapi kenapa lu sampe segitunya?" aku berpikir mungkin dengan berkata seperti itu bisa membuka mata Rio. tapi sebenarnya aku memang tidak melihat sesuatu yang istimewa dengan wanita itu.
"Lu g tau ren, lu belum kenal sama dia. udah setahun ini gua selalu lihat profilnya dia. gua pantau terus aktifitasnya dia. semakin buat gua suka sama dia"
__ADS_1
Aku terkejut, baru aku tau kenapa Rio bersikap sangat manis terhadap Nina. ternyata bukan hanya sekedar perasaan suka biasa. Gila ni anak pikirku.
"Jadi sekarang lu maunya gimana yo? gua sih kalo lu g nyaman sama group itu g masalah sih kita cabut dari sana. gua g pengen temen gua ntar malah tersiksa"
"jangan ren...gua udah terlanjur seneng sama group itu, ada Wulan sama Ira juga yg gokil abis. dan lagi walau gua ditolak tapi kan masih tetap bisa berteman, setidaknya gua udah nyampein perasaan gua ke dia. di group pun gua tetap bisa ngobrol. ya kan?" Rio seperti menyemangati dirinya sendiri.
"Y udah deh, gua salut sama lu yo. lu kuat men. tapi kalo ntar lu g betah bilang sama gua ya".
"hahaha thanks y ren. gua sayang sama lu"
"Anjay....jijik gua dengernya. kampret lu"
"hahaha muach muach" Rio semakin brutal menggodaku.
"woy gila lu, jangan gara-gara ni lu berubah haluan". aku makin geram dengan kelakuan Rio. tapi disisi lain aku lega karena temanku ini sepertinya masih bisa mengendalikan hatinya.
__ADS_1
"hahaha....ren jangan sampai anak-anak di group tau tentang ini ya"
"Okeh...tenang aja gua g ember kok, cuma baskom pecah. hahaha..." pembicaraan itu pun berakhir dengan senyum miris dibibirku. aku menghela nafas lalu mulai menggerakkan kursor dan masuk dalam dunia Naga Dragonnest.