
Vera menatap tangannya sendiri dengan syok.
Dia hanya tidur sebentar. Kenapa bangun-bangun dia menjadi orang lain?!
Ingatan di benaknya terlalu aneh. Vera berdiri, ingin mencari cermin. Namun, pergelangan kakinya tak sengaja menabrak kaki meja membuatnya meringis kesakitan, tapi dia tidak berhenti.
Kamarnya sangat kecil, luasnya hanyasekitar 10 meter persegi. Terlihat sempit karena menyimpan terlalu banyak barang. Vera tidak punya waktu untuk mengagumi tata letaknya. Dia langsung berlari ke pintu, membukanya, lalu menemukan cermin di kamar mandi di seberang kamar.
Penampilannya terpantul di cermin. Tatapannya ketakutan, wajahnya cantik tapi asing. Vera mengulurkan tangannyauntuk menyentuh pipinya. Orang di cermin melakukan hal yang sama.
Dia memejamkan matanya sebentar sebelum membukanya lagi. Sayangnya, pemandangan di depannya tidak berubah.
Ini bukan mimpi.
Vera menghirup napas dalam-dalam dan bersandar di dinding, memaksa dirinya untuk tenang. Dia kemudian memejamkan matanya lagi untuk mengatur memori dalam benaknya. Dia harus mencari tahu apa yang terjadi sekarang.
Memori di benaknya tidak koheren, hanya potongan-potongan dari beberapa hal yang pernah dialami pemilik tubuh sebelumnya. Pemilik tubuh sebelumnya memiliki nama yang sama dengan Vera.
Ayahnya meninggal saat dia berusia tujuh tahun. Ibunya kemudian menikah lagi dan meninggalkannya di rumah nenek. Nenek pemilik tubuh sebelumnya lebih menyukai cucu laki-laki daripada cucu perempuan, sehingga tidak baik padanya. Beliau berhenti memberinya biaya hidup ketika dia beranjak dewasa.
Pemilik tubuh sebelumnya sangat cerdas. Nilainya bagus sejak kecil. Dia tahu bahwa hanya belajar satu-satunya jalan keluar. Untuk mengumpulkan biaya kuliah, dia bekerja paruh waktu di mana-mana setelah lulus SMA.
Tidak mudah bagi seorang gadis berusia 18 tahun untuk mendapatkan pekerjaan bagus. Secara kebetulan, dia
diperkenalkan ke sebuah bar menjadi "penjual minuman".
Bar penuh dengan orang yang ingin mendapatkan uang secara instan. Pemilik tubuh sebelumnya sering melihat transaksi seks di sana, dan mendengarkan orang lain menghasilkan gajinya selama sebulan dua bulan dalam semalam. Awalnya dia masih bisa mempertahankan moral, tetapi dia perlahan tercemar oleh pikiran-pikiran itu dan menjadikan tubuhnya sebagai komoditas untuk dijual.
Namun, dia juga pintar. Tahu bahwa terlalu asal tidak bisa dijual dengan harga tinggi. Jadi, dia terus menunggu.
Dia berhasil mendapatkan kesempatan. Seseorang bersedia membayarnya seharga sembilan digit untuk menemani seorang pria yang dibius.
Pria itu tampan dan tampaknya memiliki latar belakang keluarga yang tidak biasa. Pemilik tubuh sebelumnya
cukup senang menemaninya. Setelah satu malam berlalu, dia sedikit tidak rela.
__ADS_1
Namun, hubungan mereka hanya sebatas itu. Pria itu dijebak. Meskipun dia tidak menyalahkan pemilik tubuh sebelumnya, dia kurang menyukainya. Dia memberinya sejumlah uang dan mengusirnya.
Malam itu, si pria dibius, sedangkan pemilik tubuh sebelumnya juga masih polos. Tindakan kontrasepsi tidak dilakukan dengan baik. Dua bulan kemudian, pemilik tubuh sebelumnya menemukan bahwa dia hamil.
Awalnya ketika mendengar kabar itu, pemilik tubuh sebelumnya ketakutan. Reaksi pertamanya adalah menggugurkan janinnya. Tetapi setelah tenang dan terpikir akan pakaian pria itu serta trik dalam film-film, dia menjadi ragu.
Jika dia melahirkan anak ini, mungkin dia bisa menikah dengan pria kaya itu. Kalaupun tidak bisa, menjadi kekasihnya juga tidak buruk.
Dia tidak merasa pikirannya salah. Lantas dia keluar dari rumah sakit dan melakukan prosedur berhenti kuliah, mengandung anak sambil mencari tahu tentang pria itu.
Informasi tentang pria itu tidak banyak. Setelah mencari tahu selama beberapa bulan, pemilik tubuh sebelumnya hanya tahu bahwa pria itu bermarga Chashida dan merupakan penerus sebuah perusahaan. Kekayaannya berlimpah. Yang paling penting adalah, dia masih lajang.
Mimpi pemilik tubuh sebelumnya untuk menjadi istri konglomerat selama beberapa bulan dihancurkan ketika dia akan melahirkan.
Sebuah berita sosial melaporkan seorang model muda yang melahirkan anak haram dari pria kaya, dibunuh oleh keluarga pria itu karena minta dinikahi.
Karena melibatkan masalah dalam keluarga konglomerat dan pembunuhan, kejadian ini menimbulkan sensasi besar di masyarakat setelah terbongkar. Pemilik tubuh sebelumnya hamil bulan kesembilan saat itu. Ketika mendengar berita itu, dia merasa ngeri dan mengalami mimpi buruk sepanjang malam. Keesokan harinya dia mengalami tanda hendak melahirkan.
Untungnya, dia sudah rawat inap di rumah sakit setelah bulan kedelapan. Tidak ada masalah ketika dia melahirkan. Tetapi karena takut dengan berita itu, dia mengurung niatnya untuk meminta pertanggungjawaban pria itu. Tidak berani mencobanya.
Pemilik tubuh sebelumnya melahirkan anak dengan niat terselubung sehingga dia tidak memiliki kasih sayang mendalam untuk anaknya. Bayi yang baru lahir harus dijaga 24 jam, dan menangis jika ada apa-apa. Hanya dalam beberapa bulan, cinta terbatas pemilik tubuh sebelumnya untuk anak itu, terkuras habis.
Setelah merasakan enaknya menjual diri, pemilik tubuh sebelumnya menjadi malas bekerja. Dia merasa bahwa dia masih muda dan cantik. Seandainya dia tidak dapat menemukan sultan, dia tidak akan kesulitan untuk menemukan pria kaya setingkat di bawah sultan.
Kenyataan menamparnya. Tanpa koneksi, tidak mudah untuk mengenal orang kaya. Kalaupun kenal, mayoritas
berusia empat puluhan dan lima puluhan. Pria botak buncit yang mulutnya bau rokok. Anak di rumah mereka mungkin lebih tua darinya.
Pemilik tubuh sebelumnya memberikan mahkotanya kepada Tuan Chashida yang sangat tampan. Secara tidak sadar, dia memasang standar tinggi untuk pasangannya. Dia menginginkan pria kaya dan tampan. Tetapi, tidak ada hal seindah itu. Atas dasar apa pria kaya dan tampan harus menyukainya?
Terlebih lagi, dia memiliki anak.
Dia tidak menemukan alasan dalam dirinya, lantas menyalahkan anak itu atas segalanya. Dia yang dari awal tidak menyayangi anak itu, menjadi semakin membencinya. Sedikit-sedikit memarahinya dan main tangan. Kalau tidak, mengabaikannya tanpa meliriknya sama sekali.
Kali ini, pemilik tubuh sebelumnya mendekati pria kaya lagi, tetapi gagal. Pulang dalam suasana hati buruk, hal
__ADS_1
pertama yang dia lakukan adalah memukul anak itu. Setelah melampiaskan amarahnya, dia pergi tidur tanpa menghiraukan anaknya yang menangis sesenggukan.
Begitu tidur, dia berubah menjadi orang lain.
Mungkin waktu kejadiannya dekat sehingga ingatannya semakin jelas. Vera melihat banyak potongan ingatan dari pemilik tubuh sebelumnya dalam dua tahun terakhir. Semakin dia melihat, kerutan keningnya semakin dalam.
Dia benar-benar tidak percaya bahwa itu adalah cara seorang ibu memperlakukan putranya. Sama sekali tidak peduli. Baik anaknya haus atau lapar, kedinginan atau kepanasan, demam tinggi tidak kunjung turun pun, pemilik tubuh sebelumnya tidak melirik anaknya. Paling-paling hanya memberikan obat penurun demam.
Vera merasa marah hingga rasanya ingin memukul pemilik tubuh sebelumnya. Tetapi orangnya sudah tiada. Dia bahkan mengambil alih identitas pemilik tubuh sebelumnya dan memiliki seorang putra.
Mengingat anak itu, Vera lagi-lagi menghela napas. Dia lajang sejak lahir dan tidak memiliki pengalaman dalam
merawat anak. Tetapi, dia tidak tega melihat seorang anak kecil diabaikan. Dia hanya bisa merawatnya terlebih dahulu.
Dalam ingatan terakhirnya, anak itu masih di ruang tamu. Vera membuka matanya, berjalan melewati koridor sempit ke ruang tamu.
Rumah ini disewa oleh pemilik tubuh sebelumnya. Rumah ini sangat kecil, kurang dari 50 meter persegi. Dekorasinya juga sudah lama.
Vera tiba di ruang tamu. Ada sofa kotor di ruang tamu. Seorang anak berlutut di samping sofa, menyandarkan
tubuh bagian atasnya di sofa, kepalanya menunduk-nunduk.
Oh ya. Setelah pemilik tubuh sebelumnya memukul anaknya, dia memintanya berlutut di sana untuk "introspeksi diri".
Sungguh konyol. Bisa-bisanya orang yang seharusnya introspeksi diri menyuruh orang lain melakukannya.
Vera menggertakkan gigi. Rasa jijiknya terhadap pemilik tubuh sebelumnya semakin dalam. Dia berjalan cepat ke sofa, berjongkok dan menggendong anak itu.
Berdasarkan ingatan, anak ini seharusnya berusia empat tahun tahun ini. Tetapi dia terlihat jauh lebih kurus daripada anak-anak sebayanya. Wajahnya tirus, pakaiannya juga kumal.
Si kecil tidak tidur nyenyak. Dia berbicara dalam tidurnya.
Vera menggendongnya ke kamar. Ketika melihat bibirnya bergerak, dia mencondongkan tubuh dengan penasaran untuk mendengar.
"Ibu .…"
__ADS_1