Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 6


__ADS_3

Joshua Chashida menoleh ke arah yang ditunjuk, tetapi hanya melihat kerumunan ramai yang berlalu-lalang.


"Apa?"


"Di sana. Anak bercelana hijau, dengan seorang dewasa di sampingnya. Aku bilang, anak itu mirip sekali denganmu!" Orang di sebelah Joshua menunjuk lagi ke arah itu. Setelah melihat dengan teliti, dua orang yang dia lihat sebelumnya sudah menghilang.


“Yah ... sepertinya dia sudah pergi.” Dia berdecak lalu mendorong temannya. “Joshua, bagaimana kalau kamu cek CCTV? Mungkin itu putramu yang hilang.”


Joshua hanya melihatnya sekilas, mengabaikan humor rendah pria itu, lalu berbalik dan berjalan ke arah lain.


Vera tidak tahu bahwa dia telah berpapasan dengan tokoh utama pria. Dia membawa Delio ke toko pakaian anak-anak dan mulai memilih pakaian untuknya.


Sebagai anak berusia empat tahun, Delio juga memiliki pakaian kesukaan sendiri. Namun, apa daya selera lelaki kecil itu sedikit bermasalah. Pakaian yang dia sukai agak jelek menurut Vera, jadi dia langsung menolak.


Untungnya, Delio tidak memiliki kebiasaan tantrum ketika permintaannya tidak dituruti. Ditolak pun, dia hanya cemberut. Setelah itu, dia kembali mengekori Vera.


Di toko pakaian anak-anak menjual pakaian anak laki-laki dan perempuan. Mayoritas adalah pakaian anak perempuan. Vera terpesona oleh rok kecil yang lucu sehingga dia berhenti di sana.


Delio merasa sedikit takut melihat ibunya terus memandangi rok. Dia menarik ujung pakaian Vera dan memanggil dengan suara kecil, "Ibu."


“Hm, kenapa?” Vera menoleh ke arahnya.


"Itu untuk anak perempuan." Dia berkata dengan ekspresi sungguh-sungguh. "Aku anak laki-laki."


"Hmph!" Pramuniaga yang mengekori mereka tidak bisa menahan kekehannya. Dia berkata kepada Vera. "Adikmu sangat imut."


Tadi Delio memanggil Vera dengan suara kecil sehingga pramuniaga tidak mendengarnya dengan jelas, dan mengira mereka adalah kakak adik yang jalan-jalan.


“Ini ibuku!” Sebelum Vera berbicara, Delio sudah memeluk kaki Vera sambil berteriak kepada pramuniaga dengan wajah cemberut. “Bukan kakak, tapi ibu!”


Pramuniaga itu tampak canggung. Dia terkekeh lalu berkata kepada Vera. "Maaf. Kamu terlihat muda, jadi saya kira kalian itu kakak beradik."


“Tidak apa-apa.” Vera tersenyum, lalu menunduk untuk berkata kepada si kecil. “Sudah, kakak ini tidak sengaja. Delio jangan marah, oke?”


Di bawah tatapan ibunya, Delio membentuk mulutnya menjadi huruf O dengan enggan. Kemudian dia menggandeng tangan Vera, menoleh ke arah pramuniaga dan mengulang, "Ini ibuku."


"Kakak sudah tahu." Pramuniaga itu mengulurkan tangan dan menyentuh wajah kecil Delio. "Dik, tadi Kakak salah bicara. Kakak minta maaf. Maafkan Kakak, oke?"


Ini adalah pertama kalinya Delio menghadapi situasi seperti ini. Dia sedikit bingung, lantas dia menatap Vera sekilas sebelum berkata kepada pramuniaga di bawah isyarat Vera. "Oke, aku maafkan."


Vera menyentuh kepalanya. "Anak baik."

__ADS_1


Setelah kejadian ini, Delio mengekori Vera lebih dekat. Setiap kali ada yang melihat mereka, dia akan menarik Vera sambil memberi tahu mereka bahwa Vera adalah ibunya.


Vera sedikit tidak berdaya melihat Delio begitu posesif. Tetapi dia juga tahu bahwa anak itu melakukannya karena merasa tidak aman. Setelah sekian lama diabaikan oleh pemilik tubuh sebelumnya, lalu tiba-tiba mendapatkan cinta dan perhatian, Delio secara tidak sadar tidak ingin melepaskannya.


Takut anak ini berpikir yang tidak-tidak, Vera tidak melihat pakaian anak perempuan lagi. Dia membawa Delio ke area pakaian anak laki-laki untuk memilih pakaian untuk Delio.


Bagus jeleknya pakaian anak-anak kurang penting, yang penting adalah nyaman dipakai.


Vera menyuruh Delio untuk mencobanya ketika dia melihat pakaian yang dirasa bagus. Setelah Delio mencobanya, dia menanyakan pendapat Delio. Kemampuan berekspresi anak ini lumayan baik. Dia bisa mengatakan apa yang dia rasakan dengan jelas.


Setelah berkeliling selama lebih dari setengah jam dan membeli tiga helai pakaian, Delio sedikit lelah.


Melihat ini, Vera tidak keliling lagi. Meskipun belum puas, tiga helai pakaian sudah cukup untuk diganti-cuci. Mereka bisa membeli lagi jika kurang.


Ada banyak keperluan yang harus menggunakan uang, jadi dia memang tidak boleh menghamburkan uang seenaknya.


Mengingat situasi saat ini dan saldo dalam kartu ATM, Vera menghela napas lagi. Semua masalah memang berhubungan dengan uang. Karena harus menghemat uang, mereka berdua tidak mungkin makan di luar.


Delio sangat senang ketika dia tahu bahwa mereka akan makan di rumah. Setelah tadi malam dan pagi ini, Vera telah menjadi orang yang masakannya paling enak di hati Delio.


Dia memeluk leher Vera, yang menggendongnya. "Ibu, siang makan bakpao, ya?"


Vera sedang memikirkan apa yang harus dia masak untuk makan siang. Dia mengangkat alisnya ketika mendengar itu. "Kamu begitu suka bakpao?"


Vera menatapnya. "Kamu tidak ingin mencoba masakan Ibu yang lain?"


Delio memeluk leher Vera lebih erat, lalu meletakkan dagunya di bahu Vera sambil bergumam, "Aku ingin sekali makan bakpao."


“Baiklah kalau begitu. Ibu akan membuatkan bakpao untukmu.” Vera mengalah, dia tidak keberatan untuk memenuhi permintaan kecil Delio.


"Hidup Ibu!" Begitu permintaannya dikabulkan, lelaki kecil itu kembali bersemangat. Dia menegakkan tubuhnya lalu mencium wajah Vera. "Delio paling menyukai Ibu."


Melihat tatapan penuh harap si kecil, Vera tidak berpikir lama untuk mencium wajahnya. "Ibu juga paling menyukai Delio."


Namun, tiga hari setelah itu, Vera mulai menyesal karena telah menyetujui permintaan pria kecil ini. Alhasil, mereka sudah makan bakpao selama tiga hari.


Anak itu sangat pintar. Melihat Vera selalu mengiakan permintaannya, dia mulai ngelunjak. Setiap kali waktunya makan, dia akan datang pada Vera dan mengatakan bahwa dia ingin makan bakpao.


Vera berhati lembut. Setelah dikecup oleh Delio, dia mengalah lagi dan lagi.


Sudah tiga hari! Dia merasa sedikit mual ketika melihat bakpao sekarang. Namun, si kecil tidak merasa bosan. Nafsu makannya bahkan semakin hari semakin besar.

__ADS_1


Untuk makan malam hari ini, Vera dengan tegas menolak permintaan Delio untuk makan bakpao.


Si kecil tidak menangis atau membuat masalah setelah ditolak. Dia hanya berdiri di samping sambil menatap Vera. Tampak kasihan. Vera merasa sedikit goyah ketika melihat Delio sekilas. Mengingat bakpao sialan itu, dia kembali tegas dan memalingkan wajahnya dari Delio.


Delio bersedih selama lebih dari satu jam, kemudian bersemangat lagi ketika makan.


Ada bakso berisi daging sapi, purun tikus, wortel serta saus yang disiapkan khusus oleh Vera di mangkuk Delio. Sangat lezat.


Mulut Delio penuh dengan minyak menatap mangkuk di depannya dan seketika, bakpao telah dia lupakan. Dia makan hingga perutnya buncit, lalu duduk di kursi sambil menghela napas.


"Daging enak sekali!"


Vera menatapnya. "Bagaimana dengan bakpao?"


Delio menjawab tanpa berpikir. "Bakpao juga enak."


Sekarang, hubungannya dengan Vera menjadi lebih dekat. Setelah menjawab, dia melompat dari kursi dan bersandar di depan Vera untuk menjilat. "Semua masakan Ibu enak. Paling enak di dunia!"


“Kamu baru makan beberapa kali dan sudah tahu bahwa masakan Ibu adalah yang paling enak di dunia?” Vera mencolek hidung Delio. Dia merasa senang karena ucapan anak itu.


Anak-anak memang makhluk yang sangat imut. Dia tidak rugi.


Setelah makan, Vera pergi mencuci piring. Lelaki kecil itu mengekorinya seperti biasa, kemudian dia berdiri di ambang pintu dapur. Dia memperhatikan Vera mencuci piring sambil sesekali mengajukan pertanyaan.


Vera memiliki beban pikiran, jadi dia tidak terlalu fokus saat menjawab.


Dia meletakkan piring yang sudah dicuci, mengeringkan tangannya, lalu berjongkok di depan Delio


"Sayang, Ibu ingin mendiskusikan sesuatu denganmu."


“Apa itu?” Si kecil juga menjadi serius.


"Rumah ini terlalu kecil. Ibu ingin tinggal di rumah yang lebih besar. Bagaimana menurut Delio?"


Vera sudah berpikir untuk pindah rumah sejak hari pertama dia transmigrasi. Dia juga sudah mencari banyak rumah di Internet, dan memiliki beberapa pilihan utama. Semuanya jauh lebih baik daripada tempat ini.


Dia berpikir selama beberapa hari dan memutuskan untuk pergi melihat rumah besok. Sebelum pergi, dia harus mendiskusikannya dengan Delio. Bagaimanapun juga, tempat ini sudah menjadi tempat tinggal Delio sejak dia lahir. Vera khawatir Delio akan merasa takut jika tiba-tiba ganti lingkungan. Lebih baik dia membicarakannya terlebih dahulu dan memberinya persiapan mental.


Delio baru berusia empat tahun sehingga dia tidak memiliki konsep tentang pindah rumah. Vera menjelaskannya dengan teliti.


Si kecil mendengar dengan seksama, kemudian berpikir sebentar sebelum bertanya, "Apakah Ibu membawaku?"

__ADS_1


Vera mengangguk. "Ya, kita pindah bersama."


"Kalau begitu, pindah saja." Pria kecil itu masuk ke dalam pelukan Vera. Suara lembutnya menyapu telinga Vera. "Yang penting Delio bersama Ibu."


__ADS_2