
Bisnis Vera berkembang pesat dari hari ke hari.
Makanannya enak sehingga pelanggan tetapnya banyak. Ditambah lagi pelanggan yang bantu promosi dari mulut ke mulut. Dalam waktu setengah bulan, bisnis Vera menjadi yang terbaik di pasar malam.
Ada banyak orang yang menjual barbekyu di sana. Melihat bisnis Vera semakin baik, mereka merasa iri tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Menjual makanan tergantung dari rasa. Pelanggan yang pergi sekali, akan menetapkan barbekyu Vera sebagai kesukaan mereka. Pedagang lain merasa dongkol pun tidak berdaya.
Mereka tidak mungkin membayar orang lain untuk menghancurkan stannya.
Namun, hari ini agak berbeda.
Aditya Buana mendirikan kanopi, mengatur bahan makanan, kemudian berjongkok di depan untuk merokok.
Di sekitarnya sangat ramai. Aroma kaki babi rebus dari kios seberang menembus hidungnya. Aditya menjepit rokok di antara jari-jarinya, menghembuskan asap, lalu melihat ke arah kanan sekilas.
Tempat itu awalnya kosong, tetapi pedagang baru datang ke sini setengah bulan yang lalu. Aditya awalnya meremehkan wanita itu, alhasil dia tercengang. Pelanggan wanita itu bertambah setiap hari, bisnisnya semakin ramai, sedangkan pelanggannya pergi semua.
Memikirkan omset yang menurun lagi kemarin, Aditya merasa gusar. Dia tidak mengerti mengapa semua pelanggan pergi makan barbekyu. Makanan kios itu jelas tidak begitu enak!
Mematikan puntung rokok, Aditya mengeluarkan dahak, lalu berdiri dan mengaisnya. Dahak hijau tua meninggalkan jejak basah di jalan. Aditya mengangkat kepala dan melihat seorang pemuda sedang mengedarkan pandangannya.
Pemuda itu berusia dua puluhan, sedikit lebih tinggi dari Aditya, dan tampak putih bersih.
Aditya mengatainya banci dalam hati, lalu pemuda itu menoleh dan bertanya sambil tersenyum. "Permisi, kapan kedai barbekyu di sebelah dibuka?"
Lagi-lagi orang buta!
Aditya merasa semua orang yang suka makan barbekyu sebelah itu buta. Sekarang orang buta ini bahkan bertanya kepadanya? Aditya memaki dalam hati, nada bicaranya juga terdengar kasar. "Sudah tutup, bangkrut!"
“Hah?” Pemuda itu mengangkat tongkat selfie dan tercengang.
Namanya Ollie Pram. Dia adalah seorang food blogger, yang biasanya suka pergi mencari makanan enak. Karena dia menilai dengan jujur dan tidak melakukan promosi demi uang, pengikutnya percaya pada rekomendasinya. Ada banyak pengikut yang datang dari jauh untuk mencicipi makanan yang Ollie rekomendasikan.
Ollie sangat menyukai makanan. Mayoritas teman pencinta kuliner adalah sesama pencinta kuliner. Seorang teman Ollie mengunggah foto barbekyu di Instagram Story dua hari yang lalu, dan memuji makanan yang dia temukan secara tidak sengaja itu. Katanya, itu adalah barbekyu terenak yang pernah dia makan.
Ollie percaya pada selera temannya, jadi dia menanyakan alamatnya. Namun, karena dia belum membuat konten tentang restoran sup pangsit yang telah dijanjikan, dia telat dua hari untuk datang ke sini.
Alhasil, kedai barbekyu ini sudah tutup? Ollie merasa tak berdaya dan memastikannya lagi kepada Aditya.
Ekspresi Aditya menjadi lebih tidak kesal. Dia merasa pria banci di depannya ini sakit.
"Aku bilang sudah tutup, ya sudah tutup. Memangnya laku kalau makanannya tidak enak?"
Pernyataan Aditya berbeda dari apa yang dia dengar dari temannya, Ollie tertegun dan berpikir sejenak. Dia tahu bahwa orang di depannya ini mungkin berbohong.
Dia ber'oh' dan tampak kecewa, menolak secara halus tawaran pemilik kios itu, kemudian berbalik dan berjalan ke luar.
__ADS_1
Setelah keluar dari jalan ini, Ollie mengangkat tongkat selfie dan tersenyum pada kamera. "Sepertinya perjalanan eksplorasi kita hari ini tidak berjalan dengan lancar. Pemilik kios mungkin akan tiba sebentar lagi. Aku akan mencari tempat untuk istirahat dulu."
Ollie pergi ke kedai teh susu terdekat, memesan segelas teh buah sambil sesekali melihat kios Vera dari jauh. Hingga jam 9 lewat, kios di ujung masih tidak ada tanda-tanda akan dibuka.
Minum tegukan terakhir di gelas, Ollie berkata tanpa daya ke kamera. "Sepertinya Bapak tadi tidak membohongiku. Kios barbekyu itu benar-benar sudah tutup."
Apakah Vera benar-benar menutup kiosnya? Tentu saja tidak.
Dia hanya meliburkan diri.
Pertama, karena dia terlalu lelah selama ini. Tubuhnya tidak tahan pergi pagi pulang malam setiap hari. Kedua, karena Delio akan masuk taman kanak-kanak.
Dunia ini agak berbeda dengan sistem dunia Vera sebelumnya. Misalnya, masuk sekolah terdekat. Menyewa rumah di sini sama seperti membeli rumah. Bisa masuk sekolah dekat rumah.
Ini juga alasan mengapa Vera tertarik dengan tempat ini. Ada TK hingga SMA terkenal di sekitar.
Delio akan masuk sekolah besok, dia sangat antusias.
Selama Vera sibuk akhir-akhir ini, Delio sudah akrab dengan Niny si anak tetangga. Delio mendengar Niny mengatakan bahwa ada banyak mainan dan teman di taman kanak-kanak, juga bisa belajar bernyanyi. Jika mereka bisa bernyanyi untuk orang tua, mereka bisa mendapatkan hadiah.
Ninya mengatakan bahwa ibunya membawanya ke taman bermain selama sehari saat itu. Taman bermain sangat menyenangkan.
Delio belum pernah ke taman bermain, dan sangat mendambakan hal-hal yang Niny ceritakan. Alangkah baiknya jika Ibu membawanya pergi bermain juga.
Membayangkan Ibu membawanya keluar, mereka bermain bersama, lalu Ibu membeli es krim untuknya, Delio merasa sangat senang.
Vera mengantuk. Dia tidak beristirahat dengan baik selama setengah bulan terakhir. Berbaring di tempat tidur sekarang, dia ingin tidur. Mendengar ucapan Delio, dia menjawab singkat. "Oke."
"Aku juga akan menggambar untuk Ibu!"
"Hm."
"Aku ... aku juga akan memasak untuk Ibu dan menghasilkan uang." Delio menggosokkan wajahnya di tubuh Vera. "Masuk sekolah berarti aku sudah besar. Aku bisa melakukan banyak hal!”
Cerocos Delio mengganggu tidurnya. Vera mengerutkan kening, lalu memeluk bocah itu. "Tidur."
"Oke, Ibu."
Sebelumnya, Delio membuat rencana dengan baik. Dia akan mempelajari ini dan itu, kemudian menunjukkannya di depan Ibu.
Namun, setelah dia benar-benar menginjakkan kakinya di taman kanak-kanak, semua rencananya menjadi angin berlalu.
Pada hari pertama sekolah, gerbang taman kanak-kanak sangat ramai. Orang tua yang mengantar anak dan anak-anak yang akan masuk sekolah enggan berpisah. Beberapa anak tantrum dan minta pulang.
Terbawa oleh suasana di sekitar, Delio pun merasa sedih. Dia memeluk leher Vera, tidak mau turun.
__ADS_1
"Sudah, kita sudah di sekolah. Delio harus mendengarkan guru, paham? Ibu akan menjemputmu nanti malam." Vera membungkuk, hendak menurunkan Delio, tetapi lelaki kecil itu menempel padanya, tidak mau turun ke lantai.
Seorang anak kecil duduk dan berguling-guling di lantai, wajahnya berlinang air mata. Orang tua anak itu membujuknya. Setelah lama membujuk dan tidak berhasil, ayah anak itu menariknya dari lantai, memukul pantatnya sambil mengancam, "Jangan nangis lagi!"
Anak kecil itu langsung menangis lebih keras.
Delio melihat sekilas kemudian segera mengalihkan tatapannya. Dia membenamkan wajahnya di bahu Vera sambil berkata dengan suara lembut, "Ibu, bolehkah aku bolos sekolah hari ini?"
Dia sudah pasti akan masuk sekolah. Ibu bilang tidak bersekolah tidak dapat menghasilkan uang. Tetapi dia merasa sedikit takut sekarang, jadi dia ingin undur sehari.
Delio merasa dirinya masih anak baik yang suka belajar. Dia mengangkat kepalanya dan mencium wajah Vera. "Ibu, ayo kita pulang."
"Tidak boleh." Vera mendengus dan menurunkan Delio, lalu menowel dahinya. “Guru suka anak yang tepat waktu. Bilang hari ini masuk sekolah, maka harus hari ini. Kalau terlambat berarti bukan anak baik."
Delio tertegun. "Ibu yang bilang datang hari ini."
"Benar, Ibu yang bilang. Apakah Delio ingin Ibu menjadi orang jahat yang tidak menepati janji?" Vera berpura-pura sedih.
"Ibu tidak jahat!" Delio menggeleng kuat. Dia memeluk kaki Vera dan berkata dengan penuh tekad. "Aku akan masuk sekolah hari ini!"
"Anak pintar." Vera membungkuk dan mencium pipinya.
Setelah menyerahkan Delio kepada guru, Vera mengobrol sebentar lagi dengan Delio. Sebelum pergi, dia menunjuk arloji di tangan Delio sembari menjelaskan, "Kalau Delio merindukan Ibu, telepon Ibu saja. Caranya tekan tombol ini, ingat?"
Delio mengangguk. Dia menggandeng tangan guru, lalu berjalan ke taman kanak-kanak dengan enggan sambil melambaikan tangan kecilnya dan mengucapkan selamat tinggal.
Vera berdiri di tempat semula, menunggu Delio tak terlihat baru kemudian menarik kembali pandangannya.
Dia menghela napas dan menekan rasa tidak relanya. Dia masih harus menyiapkan bahan untuk dagangan nanti malam. Biaya membesarkan anak sangat besar. Biaya sekolah Delio untuk setengah tahun saja sebesar empat puluh juta.
Meskipun penghasilannya belakangan ini lumayan banyak, dia merasa sedikit tidak rela saat mengeluarkan uang.
Vera menyiapkan bahan untuk dagangan nanti malam dengan motivasi yang tiada habisnya. Sekarang dia telah mempekerjakan seorang pembantu untuk membantu mencuci sayuran dan menusuk daging. Pekerjaannya menjadi lebih ringan. Vera berencana untuk menyewa ruko setelah bekerja selama dua bulan lagi, kemudian mempekerjakan koki untuk memanggang daging. Saat itu, dia hanya perlu membumbui daging dan menyiapkan saus.
Hanya dengan memikirkannya, dia merasa bersemangat.
Vera sangat sibuk hingga dia tidak punya waktu untuk makan siang. Dia meletakkan barang di tangan dan melihat jam. Waktu menunjuk pukul 11.
Entah bagaimana keadaan Delio di sekolah. Dia seharusnya sedang makan sekarang. Tak bisa dipungkiri, hari pertama Delio tidak ada di sisinya, Vera merasa khawatir.
Bagaimana jika dia lapar, haus, dan diganggu?
Seperti ada kontak batin, setelah dia berpikir demikian, Delio meneleponnya.
Vera buru-buru mengangkatnya. Tepat setelah panggilan terhubung, Delio memanggil "Ibu", kemudian menangis.
__ADS_1
"Huhuhu ...."