
Vera tidak tahu apa yang terjadi. Delio hanya mengompol. Kenapa reaksinya begitu besar?
Si kecil menangis dengan sedih. Vera merasa tidak tega melihatnya. Dia menarik Delio menjauh untuk mencium keningnya. "Sayang jangan menangis. Bagaimana mungkin Ibu membuangmu? Ibu paling suka Delio."
Mata Delio merah, masih ada tetesan air yang menggantung di bulu matanya. Dia mengusap matanya dan menangis lagi.
"Delio ... Delio juga paling suka Ibu." Dia mendekatkan wajah kecilnya, lalu mencium wajah Vera, dan mengulangi. "Paling, paling suka."
Ingatan Vera tentang pemilik tubuh sebelumnya tidak lengkap. Tidak ada hal sepele seperti mengompol dalam ingatannya.
Namun, Delio mengingat hal-hal ini.
Terakhir kali Delio mengompol adalah ketika dia berusia tiga setengah tahun. Dia masih ingat seperti apa ibunya saat itu. Wanita tersebut menekan hidung dengan tatapan jijik, dan menyuruhnya menjauh ketika dia mendekat.
Dia juga berkata, "Kenapa aku melahirkanmu?!"
Orang dewasa selalu merasa anak-anak pelupa sehingga mereka berbicara seenaknya. Sebenarnya, ketika mereka mendengar sesuatu, mereka bisa mengingatnya seumur hidup. Terkadang bahkan sampai masuk ke mimpi, menjadi mimpi buruk yang ingin mereka singkirkan tetapi tidak bisa.
Dalam ingatan Delio yang terbatas, ibunya sangat membencinya. Dia tidak tahu apa penyebabnya, tetapi dia secara tidak sadar tetap ingin menyenangkan orang terdekatnya itu.
Dia tidak menangis atau ribut, berusaha untuk sepatuh mungkin. Dia tidur sendiri, berpakaian sendiri, makan sendiri. Sebenarnya dia hanya ingin menunjukkannya kepada orang terdekat itu. 'Lihat, aku sudah begitu penurut. Sukailah aku.'
Kemudian suatu hari, ibunya yang tidak menyukainya tiba-tiba menjadi sangat menyayanginya. Selain merasa senang, dia juga merasa gelisah.
Dia takut suatu hari ibunya berubah menjadi seperti dulu. Tidak berbicara maupun tersenyum padanya, mengusirnya ke rumah dulu, dan tidak memberinya makan.
Seberapa Delio menyukai kehidupan saat ini, maka setakut itulah dia untuk kembali ke masa lalu.
Dia selalu berperilaku baik, dengan harapan hari itu tidak datang.
Tetapi, hari ini dia melakukan kesalahan.
Membuat kesalahan berarti dia bukan anak yang baik. Jika dia tidak baik, dia akan dibenci.
Si kecil menyimpulkan dan mengira ibunya akan menjadi seperti sebelumnya. Dia merasa takut sekaligus sedih.
__ADS_1
Jika Vera mengabaikannya, Delio tidak akan menunjukkan rasa takut dan sedihnya. Karena menangis tidak ada gunanya, justru akan dimarahi.
Namun sekarang, ibu yang ada di depannya masih ibu yang berbicara dengannya, tersenyum padanya, memasak makanan lezat untuknya dan menceritakan cerita sebelum tidur. Emosi negatif yang menumpuk di hatinya seolah menemukan tempat pelampiasan sehingga tiba-tiba meluap.
Anak yang dimanjakan selalu tak kenal takut.
Delio dibujuk. Semakin Vera membujuknya, semakin Delio merasa sedih. Dia akhirnya berhenti, tetapi menangis lagi setelah beberapa saat.
Vera sangat tidak tega melihatnya. Dia mencoba banyak cara tetapi tidak berhasil. Dia memeluk anak itu dan mengatakan hal baik. Delio akhirnya berhenti ketika dia lelah menangis.
Tubuh lembut di dalam dekapannya menjadi tenang, Vera pun merasa lega. Dia mengambil tisu untuk menyeka air mata lelaki kecil itu. Delio menangis terlalu lama dan matanya sakit. Dia memejamkan matanya dan bersandar di dalam pelukan Vera, sesekali cegukan.
Vera tidak peduli pakaiannya basah karena air mata Delio. Dia menggendong si kecil dan ke dapur untuk mengisi semangkuk bubur, kemudian menyuapinya.
"Ayo, buka mulutmu."
Delio menangis terlalu lama, kepala dan matanya terasa tidak nyaman sehingga dia tidak nafsu makan. Vera menyuapinya, jadi dia terpaksa makan setengah mangkuk, lalu menggelengkan kepalanya dan berkata tidak mau makan lagi.
Vera pun tidak memaksanya untuk makan. Dia meletakkan pria kecil itu di sofa, lalu pergi mengambil makanan untuk diri sendiri.
Setelah Vera makan dan mencuci piring, Delio tertidur lagi. Vera meletakkan handuk basah di lemari es sebelum makan. Suhunya sudah pas sekarang.
Handuknya terlalu dingin, Delio tidak menyukainya. Dalam tidurnya, dia mengulurkan tangan untuk menyingkirkan benda itu.
Vera mencengkeram tangan Delio dan menahannya. Setelah suhu handuk meningkat, dia mengambil dan memerasnya sebelum memasukkannya ke dalam lemari es.
Delio tertidur lelap, Vera mengompresnya beberapa kali dan tidak melihatnya bangun, jadi dia mulai berkemas.
Barang-barang yang bisa dikemas dulu telah Vera dikemas kemarin, sehingga tidak banyak barang yang perlu dikemas hari ini. Barang-barang yang bisa dibawa pergi dari rumah terbatas. Selain peralatan makan dan tempat tidur, satu-satunya yang tersisa adalah pakaian mereka.
Matahari terik, selimut dan seprai anti air yang dijemur tadi pagi sudah kering. Vera mengangkatnya, menggulung seprai anti air lalu menyandarkannya di dinding, kemudian melipat selimut dan memasukkannya ke dalam koper.
Ketika Vera masih sibuk, Delio sudah bangun. Ketika si kecil bangun dan tidak melihat ibunya, dia turun dan mencari sang ibu tanpa memakai sandal.
Ketika dia melihat Vera di kamar, Delio barulah rileks. Dia mengusap matanya dan memanggil "ibu". Tanpa menunggu Vera menjawab, dia berbalik dan berlari ke ruang tamu.
__ADS_1
Setelah Delio memakai sandal, dia kembali ke kamar lagi seperti anak baik.
Dia berjongkok di sebelah Vera untuk melihat sambil terkadang membantunya. Entah membantu atau merepotkan.
Barang mereka tidak banyak sehingga selesai dikemas dalam beberapa saat. Vera membawa tas-tas bawaan ke ruang tamu, lalu memberikan segelas air garam kepada pria kecil itu.
Delio kehilangan banyak cairan hari ini sehingga dia sangat haus. Dia menghabiskan segelas air dalam beberapa teguk. Memegang gelas dan duduk di tas anyaman berisi barang bawaan, dia bertanya kepada orang yang sibuk di dapur. "Ibu, kapan kita pergi?"
"Kita akan pergi setelah mobilnya datang."
Vera menyewa jasa pindahan rumah. Waktu yang dijanjikan adalah pukul 1 siang, Makanan terakhir di sini sangat sederhana. Vera membuat dua lumpia telur.
Orang-orang dari jasa pindahan rumah datang sedikit lebih awal dari waktu yang disepakati. Delio memegang lumpianya yang belum habis ketika bel pintu berbunyi.
Si kecil merespons dengan cepat. Begitu bel berbunyi, dia berlari untuk membuka pintu.
Setelah diajari oleh Vera, dia mengerti sopan santun sekarang. Dia berdiri di ambang pintu dan bertanya kepada orang di luar. "Paman, kalian cari siapa?"
Orang di luar pintu merasa anak kecil ini imut, lantas dia berkata dengan kooperatif, "Kami cari orang tuamu."
"Tolong tunggu sebentar." Delio merasa sangat puas setelah melakukan prosedur yang diajarkan oleh ibunya. Dia memegang kusen pintu dan berbalik untuk memanggil ibunya, tetapi menemukan bahwa Vera telah keluar.
Dia berlari ke arah Vera dan berkata, "Ibu, paman ini mencari Ibu."
"Oke, Ibu sudah tahu. Terima kasih, Delio."
Pria kecil itu sedikit malu. Dia bersembunyi di belakang Vera dan berkata dengan suara kecil, "Sama-sama."
Jasa pindahan rumah sangat efisien. Staf itu membawa koper di satu tangan dan tas anyaman di tangan lain, memasukkan semuanya ke dalam mobil dalam beberapa kali jalan.
Vera mengunci pintu dan membawa Delio ke lantai bawah. Mereka berdua akan pergi dengan mobil jasa pindahan rumah.
Ini adalah pertama kalinya Delio naik truk semacam ini. Rasanya luar biasa.
Dia dan Vera duduk di jok samping pengemudi. Delio menjulurkan lehernya untuk melihat luar.
__ADS_1
"Ibu." Dia kembali ke pelukan Vera dan memuji dengan keras. "Mobil ini hebat sekali! Sebesar ini! Mobil ini paling hebat! Lebih hebat dari mobil ini dan mobil itu."
Jarinya kebetulan menunjuk mobil yang melaju mendekat dan parkir di pinggir jalan. Bagian depan mobil menghadap arah mereka. Logonya bersinar di bawah cahaya matahari, menguarkan aroma uang.