Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 12


__ADS_3

"Bisa dimakan."  Vera membawa Delio masuk, meletakkan barang-barang di atas meja, kemudian menarik napas. "Capek sekali."


Konten program anak-anak yang Delio tonton banyak berisi tentang berbakti kepada orang tua. Melihat wajah ibunya merah, dia mengajukan diri untuk menjadi anak berbakti. "Ibu, aku tuangkan air untuk Ibu!"


Vera memang sangat lelah. Dia pergi ke banyak tempat hari ini dan membawa banyak barang.


Dia yang berbaring di sofa dengan tangan terentang, menoleh untuk berterima kasih kepada putranya yang penuh perhatian.


"Sama-sama." Delio sangat sopan. Dia mengambil gelas air, kemudian pergi ke dapur untuk menuangkan air, lalu berjalan keluar dengan hati-hati sambil memegang gelas dengan dua tangan.


Airnya terlalu penuh sehingga tumpah ketika dia berjalan. Delio merasa sayang saat melihat air yang dituang dengan susah payah, tumpah ke lantai.


Dia sangat gugup, gerakannya menjadi lebih hati-hati. Butuh waktu lama untuk mengambil satu langkah kecil. Tetapi air tetap keluar. Ketika Vera menerima gelas air, air tersisa setengah gelas.


Vera sibuk di luar sampai melewatkan makan siang. Dia merasa lelah, gerah, lapar dan haus. Setelah minum setengah gelas air, dia akhirnya merasa lebih "hidup".


Dia tidak beristirahat terlalu lama. Air yang memercik ke lantai bisa membuat orang terpeleset. Dia meminta Delio untuk duduk di sofa, kemudian bangkit dan mengambil kain pel untuk mengepel air di lantai.


Delio duduk di sofa sambil mengayunkan kakinya ketika melihat ibunya mengepel. Dia cemberut dan terlihat tidak senang.


"Ibu."


Vera baru saja selesai mengepel lantai ketika dia mendengar putranya memanggilnya. Dia menoleh dan melihat Delio memegang cangkir kosong sembari berkata dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak akan menumpahkan air lagi lain kali!"


”Hm, Delio-ku paling hebat." Vera meletakkan pel, kemudian berjalan mendekat dan menyisir rambut anak itu. Rambut Delio agak panjang, poninya sudah melewati alis.


Selesai menyisir rambut Delio, dia berkata, "Aku akan membawamu pergi memotong rambut besok."


Begitu kata-kata Vera diucapkan, ekspresi Delio tiba-tiba berubah.


Banyak anak tidak suka memotong rambut.


Sebagian besar alasannya karena pembuluh darah anak-anak tipis, terkadang mereka sakit kepala atau demam sehingga kepalanya disuntik. Kemampuan anak kecil dalam membedakan hal tidak begitu baik. Lambat laun, infus dan potong rambut menjadi hal yang sama bagi mereka.


Delio juga salah satu dari mereka.


Dia kurang sehat sejak kecil, selalu demam setiap beberapa bulan. Pemilik tubuh sebelumnya tidak mau merawatnya, jadi begitu Delio demam, dia membawanya pergi infus. Itulah mengapa Delio sangat panik jika orang luar akan menyentuh kepalanya.


Sekarang dia sudah besar dan tahu bahwa memotong rambut tidak sama dengan diinfus, tetapi dia masih sedikit takut.


Dia mengangkat kedua sisi wajahnya, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh rambutnya. Ujung poni kebetulan mengenai matanya.


Delio melihat ujung poni dan merasa tidak terlalu panjang.


"Ibu, aku tidak ingin potong rambut." Dia mencoba untuk bernegosiasi.


"Tidak bisa ditawar. Kalau tidak dipotong, rambutmu bisa menusuk mata." Vera langsung menolak permintaan pria kecil itu, berdiri dan berjalan ke meja makan.


Delio menatap Vera dengan kesal. Sayangnya, ibu kejam itu sama sekali tidak berbalik. Delio melihat sebentar dan memastikan bahwa ibunya tidak akan menghiraukannya, baru kemudian dia berkata dengan enggan. "Baiklah kalau begitu."


Setelah itu, dia turun dari sofa dan mendekati Vera.

__ADS_1


Barang-barang yang Vera beli sudah termasuk bumbu dan beberapa bahan makanan.


Dia belum pernah membuka usaha barbekyu sebelumnya. Meskipun dia yakin dengan keterampilan memasaknya, dia tidak jamin pertama kali membuatnya akan enak. Untuk berjaga-jaga, dia berencana untuk mencoba membuatnya di rumah. Kalau yakin enak baru jualan di luar.


Bahan utamanya adalah daging, seperti daging kambing, daging sapi, dan sayap ayam. Di dalamnya ada kantong es.


Cuaca panas, bongkahan es sudah meleleh di sepanjang jalan. Daging yang awalnya keras pun mulai menjadi lunak.


Vera mencuci daging sapi dan kambing, kemudian memotong dan membumbukannya bersama sayap ayam.


Daging butuh waktu untuk dibumbui. Masukkan sisanya ke dalam lemari es, Vera bermain sebentar dengan Delio.


Dalam setengah jam, bumbu sudah meresap.


Saat ini sudah sore, sengatan panas pun telah menghilang.


Delio tidak makan banyak pada siang hari, sekarang perutnya keroncongan. Dia telungkup di pinggir meja sambil memperhatikan gerakan Vera dan menelan air liur. "Bu, apakah kita makan ini untuk makan malam?"


Daging yang dibumbui berwarna menarik dan terlihat lezat. Vera mengenakan sarung tangan sekali pakai untuk memasukkan potongan daging ke stik, kemudian meletakkannya di samping.


Air liur Delio terus keluar melihat tumpukan daging. Dia mengisap air liur, kemudian mengulurkan tangan untuk menusuk tumpukan daging di depannya.


Dia kecewa menemukan bahwa dagingnya tidak bisa dimakan.


Barbekyu tidak sehat sehingga Vera tidak membiarkan Delio memakannya. Delio makan nasi buah untuk makan malam.


Nasi rebus yang lembut ditutupi dengan buah-buahan warna-warni. Aroma nasi berpadu sempurna dengan aroma buah. Delio langsung melupakan daging-daging mentah itu.


Setelah tinggal lama bersama Vera, Delio menjadi lebih berani. Dia yang awalnya harus menjilat dulu jika menyukai sesuatu, kini mengatakannya secara langsung.


"Boleh." Vera sudah terbiasa dengan Delio yang ingin makan makanan kesukaannya setiap hari. Dia mengiakan, lalu membawa piring berisi daging mentah itu untuk turun ke lantai bawah.


Mesin barbekyu yang Vera beli sudah tiba. Mesin itu tidak muat di rumah, jadi dia meletakkannya di lantai bawah.


Rumah yang dia sewa berada di ujung, dengan dinding di kedua sisinya.


Ada halaman besar antara pagar dan rumah. Vera akan memanggang di sini.


Bau asap minyak barbekyu cukup kuat. Vera merasa sedikit takut ketika dia membuat keputusan ini. Untungnya, angin hari ini cukup kuat sehingga tidak bertiup ke rumah orang lain.


Mesin barbekyu menggunakan arang tanpa asap. Meskipun perlindungan lingkungan sekarang ketat, mesin barbekyu juga menggunakan listrik, Vera merasa makanan yang dipanggang dengan kompor listrik terasa kurang enak.


Antara makanan lezat dan menjaga lingkungan ... dia memilih yang pertama.


Arang di kompor sudah terbakar, suhu di sekitar juga meningkat. Vera meletakkan daging, lalu menggunakan kuas untuk mengoleskan lapisan minyak kacang ketika daging berubah putih.


Meskipun dia tidak pernah membuat barbekyu, dia pernah belajar sebelumnya. Keterampilan dasarnya selama bertahun-tahun masih ada, kontrol apinya bisa dibilang sempurna.


Selesai makan, Delio ikut turun ke lantai bawah. Namun, Vera mengusirnya karena takut dia panas.


Si kecil tidak membuat keributan, hanya bermain sendiri. Dia menarik rumput, lalu memilih dua batang untuk diikat. Setelah itu, dia mencari lagi tanpa merasa lelah.

__ADS_1


Delio bermain kemudian merasakan aroma di udara berubah.


Dia menghirup udara, berdiri dan berbalik, memastikan bahwa aroma itu berasal dari ibunya. Dia berlari ke sana sambil berteriak, "Ibu, wangi sekali!"


Vera yang mengoleskan bumbu buatan sendiri pada daging, berdengung saat mendengarnya.


Si kecil mendekat, menarik celana Vera, lalu menjulurkan kepalanya untuk melihat, tetapi Vera melarangnya.


"Di sini panas. Jangan terlalu dekat, Delio."


"Oh." Delio adalah anak yang patuh. Meskipun dia enggan, dia tetap mundur. Dia mencium aroma itu dan merasa perutnya yang baru saja kenyang, lapar lagi.


"Ibu, apakah ini enak?"


"Mungkin." Vera kurang yakin, karena ini adalah pertama kalinya dia membuat daging barbekyu. Bagaimana jika gagal?


"Kalau begitu, bolehkah aku memakannya?" Delio menelan ludah, ingin mencicipinya.


"Tidak." Vera menolak dengan kejam. "Kamu sudah makan malam. Kalau makan lagi, makanan tidak bisa tecerna. Nanti tidak bisa tidur."


"Aku pasti bisa tidur!" Delio segera menjamin. Dia menelan air liur lagi, merasa bahwa dia masih bisa makan banyak.


"Tetap tidak boleh." Vera mengulurkan tangan untuk mendorong kepala Delio. "Pergi ke sana."


Delio sangat terpikat oleh aroma itu, bagaimana mungkin dia mau pergi? Dia menyingkir sedikit, matanya tertuju pada gerakan Vera sambil tawar-menawar.


Vera mengabaikannya dan menaburkan bumbu pada daging.


Dagingnya sudah dipanggang, harum dan berminyak.


Vera mengambil tusuk daging dan hendak mencicipinya ketika dia mendengar seseorang memanggilnya.


"Aku kira aroma dari mana. Ternyata kamu sedang membuat barbekyu."


Orang yang datang adalah tetangga Vera dan putrinya, yang sepertinya baru pulang les.


Tetangga itu membawa putrinya mendekat, mengeluarkan permen dari saku dan memberikannya kepada Delio, kemudian bertanya kepada Vera. "Kamu sibuk membuat ini belakangan ini?"


"Hm, aku ingin coba mendirikan kios." Vera awalnya akan mencicipinya sendiri, tetapi sekarang ada orang yang bisa mencicipinya.


Dia menyerahkan tusuk sate sapi di tangannya. "Coba cicipi."


"Kalau begitu, aku makan, ya." Tetangga itu tidak sungkan. Dia mengambil tusuk sate sapi yang mengepul, lalu memasukkannya ke mulutnya.


Daging sapinya halus dan empuk, bumbunya terasa sekali. Aroma yang kuat menyeruak di dalam mulut.


Kalaupun tidak enak, si tetangga akan tetap memuji Vera untuk menghargainya. Alhasil, dia tidak bisa berhenti setelah memakannya.


Vera sedikit gugup ketika melihat si tetangga menghabiskan setusuk sate begitu cepat.


Melihat tetangga menelan suapan terakhir, dia akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Bagaimana rasanya?"

__ADS_1


__ADS_2