Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 11


__ADS_3

Delio sudah lama merasa penasaran tentang hal ini.


Sava yang tinggal di lantai bawah punya ayah, Dudung yang di TV juga punya ayah. Setiap orang punya ayah, tapi dia tidak.


Dia ingat Paman Sopir tadi juga membicarakan tentang ayah, kemudian Ibu tampak marah. Delio merasa ibunya sepertinya tidak menyukai pertanyaan ini, tetapi dia benar-benar penasaran.


Pria kecil itu membenamkan wajahnya di leher ibunya, memutar matanya yang besar dan bulat sambil berpikir, 'Ibu bilang Ibu paling menyukaiku, seharusnya Ibu tidak marah padaku, 'kan?'


Vera memang tidak marah. Dia menepuk punggung Delio dan berpikir bagaimana menjelaskan hal ini kepadanya.


Dia sudah pasti tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak berniat untuk membawa Delio ke rumah tokoh utama pria seperti pemilik tubuh sebelumnya. Ayah anak ini pasti akan bersama tokoh utama wanita. Keberadaan mereka berdua hanya akan menjadi penghalang bagi tokoh utama pria dan wanita.


Dalam hampir semua novel, pada akhirnya semua faktor yang menghalangi tokoh utama pria dan wanita bersama akan dimusnahkan. Meskipun novel ini telah menjadi dunia nyata, Vera tidak berani mempertaruhkan nyawa mereka berdua.


Dia tidak sanggup untuk kalah.


Setelah mempertimbangkan pro dan kontra, gerakan Vera melambat. Dia menyusun kata-kata dalam hati sebelum mendekati telinga Delio dan berkata perlahan, "Karena ayah Delio sudah terbang."


Delio jelas tertegun. Dia lalu mengangkat kepala dan melebarkan matanya. "Terbang?"


Vera mulai mengarang, tetapi ekspresinya tampak serius. "Ya, ayah Delio adalah superman. Dia harus menyelamatkan dunia, dan tidak bisa kembali sampai penjahat dilenyapkan."


Delio jelas tertipu olehnya.


Anak berusia empat tahun masih percaya ada superman di dunia. Setelah mendengarkan kata-kata Vera, dia tertegun lama, kemudian ber'oh' ria. Dia tiba-tiba turun dan membuat gerakan menyilangkan tangan.


"Ayah adalah superman. Apakah dia berubah seperti ini?"


Dia membuat gerakan transformasi yang biasa digunakan oleh protagonis dari sebuah kartun. Delio sangat mengagumi tokoh tersebut. Dia sering bermimpi bahwa dia menjadi teman dari tokoh itu dan membelikannya permen.


Vera tercenung. Dia tidak dapat membayangkan tokoh utama pria dalam novel yang dingin dan serius melakukan gerakan tersebut.


Vera mengulas senyum sambil berkata kepada Delio. "Ibu juga tidak tahu."


"Yah ...." Delio sedikit kecewa. "Kenapa Ibu tidak tahu?"


"Karena Ibu juga tidak pernah melihat Ayah memukuli penjahat." Vera mengulurkan tangannya untuk menarik si kecil ke dalam pelukannya, lalu lanjut mengarang. "Identitas superman Ayah harus dirahasiakan, tidak boleh diketahui orang lain. Jadi Ayah keluar diam-diam sendiri saat memukul penjahat."


Si kecil mendengarkan dengan serius, lalu dia mengangguk dengan sungguh-sungguh. Pipinya yang tembam bergetar ketika dia mengangguk. "Aku tahu. Karena ada banyak penjahat, jadi Ibu dan Delio akan dalam bahaya kalau orang lain tahu!"


Vera mencubit pipinya dan mengangguk setuju. "Ya, begitu."


"Kalau begitu, kapan Ayah selesai melawan penjahat?" Setelah mendengarkan deskripsi ibunya, Delio secara otomatis membayangkan ayahnya sebagai superman dalam kartun. Dia bersandar di pelukan Vera dan tampak berharap. "Aku sedikit merindukannya."


Vera merenung sejenak. "Mungkin harus tunggu Delio dewasa."

__ADS_1


Setelah dewasa, dia akan tahu bahwa semua ini bohong.


"Apakah ketika aku bisa tidur sendiri?" Delio masih ingat apa yang Vera katakan padanya ketika mereka datang ke sini malam itu.


"Harus lebih dewasa dari itu."


"Hah, harus lebih dewasa lagi, ya ...." Delio sedikit bimbang. Dia ingin melihat ayahnya, tetapi dia tidak ingin tidur terpisah dari ibunya.


Si kecil berpikir dengan kepala kecilnya, lalu merasa tidur dengan ibunya lebih penting.


"Kalau begitu, aku tidak mau tumbuh dewasa." Delio berjinjit dan mencium wajah Vera. "Aku ingin selalu tidur dengan Ibu."


Vera tersenyum, tetapi tidak menertawakan kepolosannya. Lagi pula, dia telah memutuskan untuk membiarkan lelaki kecil ini tidur sendirian ketika Delio menginjak bangku SD.


Hanya saja kamarnya tidak cukup. Vera melihat sekeliling dan menetapkan target untuk diri sendiri, yaitu mendapatkan uang muka untuk rumah tiga kamar tidur dalam tiga tahun!


Setelah pindah rumah, Vera akan mulai mencari nafkah.


Jika ingin mendapatkan uang muka rumah baru dalam waktu tiga tahun, dia tidak bisa hanya mengandalkan pekerjaan paruh waktu. Apalagi pendidikan tertinggi pemilik tubuh sebelumnya hanya SMA. Sulit untuk mencari pekerjaan yang bagus.


Tetapi tidak masalah, Vera tidak berencana untuk bekerja juga.


Di dunia sebelumnya, Vera adalah anak kedua di rumah. Karena orang tuanya berusaha melahirkan anak laki-laki, dia dititipkan di rumah kakeknya begitu dia lahir.


Nenek moyang kakek Vera pernah menjadi koki istana. Meskipun pada generasi kakek tidak sejaya dulu, beliau tetap koki yang terkenal.


Dia dan kakeknya tidak punya uang. Kakeknya pun sakit-sakitan. Vera telah belajar menghasilkan uang sejak SMP. Saat itu dia tidak punya cara lain, jadi dia bangun pagi-pagi untuk mengukus nasi, kemudian menjual onigiri di depan gerbang sekolah. Dia bisa menghasilkan enam puluh ribu sehari. Itu cukup untuk memenuhi kehidupan mereka berdua.


Karena makanan yang dia buat lezat, bisnis Vera selalu ramai. Ketika dia lulus SMA, dia sudah menabung biaya hidup dan biaya kuliah untuk tahun pertama.


Di saat mahasiswa lain sibuk belajar, jatuh cinta atau bermain game, Vera masih memikirkan cara menghasilkan uang. Dia menyewa sebuah toko di sebelah kampus untuk membuka kios camilan, mempekerjakan dua pembantu, dan menghasilkan ratusan juta setelah empat tahun kuliah.


Di saat mahasiswa lain sibuk mencari pekerjaan atau ujian masuk pascasarjana, Vera menggunakan tabungannya untuk menyewa halaman di jalan tua untuk membuka restoran bawah tanah.


Vera sangat berbakat dalam memasak, dan memiliki resep warisan keluarga. Restoran bawah tanahnya terkenal hanya dalam satu tahun. Dengan restoran ini, dia membeli rumah tanpa cicil hanya dalam beberapa tahun.


Sayangnya, dia sudah datang ke tempat ini sebelum dia tinggal di rumahnya yang baru direnovasi.


Hubungan Vera dengan keluarganya tidak dekat. Kakeknya meninggal ketika dia semester dua. Dia seperti sebatang kara. Ganti dunia dan identitas pun, dia masih bisa hidup dengan baik.


Yang harus dia lakukan sekarang adalah mengulangi jalan sebelumnya.


Tabungan pemilik tubuh sebelumnya hanya sedikit. Untuk menyewa etalase pun tidak cukup. Makanan yang bisa dibuat hanyalah jajanan pinggir jalan.


Ada jajanan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan. Mempertimbangkan cuaca dan situasi pribadinya saat ini, Vera memutuskan untuk membuka kios barbekyu.

__ADS_1


Mendapatkan kios bukanlah hal yang mudah. Pertama harus menentukan lokasi, harus mencari tempat yang ramai. Kedua, harus membeli kebutuhan seperti kompor, piring makan, meja dan kursi, serta freezer. Terakhir, harus mencari bahan baku.


Lezat atau tidaknya makanan tergantung dari bahan-bahannya. Sepotong daging busuk tidak dapat dijadikan sebagai hidangan lezat meskipun dewa yang memasaknya.


Vera bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan, membangunkan Delio, kemudian memberitahunya tentang hal itu saat makan.


"Delio, Ibu akan keluar hari ini, dan mungkin tidak bisa pulang waktu siang. Kamu makan siang di rumah bibi tetangga, oke?"


Tetangga baru mereka adalah keluarga beranggotakan tiga orang. Suami dan istri berusia tiga puluhan, anak perempuan mereka kelas enam SD. Vera memberi mereka kaki babi yang dia rebus sendiri pada hari pertama dia pindah ke sini. Keluarga itu ramah. Vera meminta tolong kepada mereka untuk menjaga Delio dan pasangan itu langsung setuju.


Delio berhenti makan. Setengah kentang masih menggantung di mulutnya. Dia membuka mulutnya untuk mendesah. Kentang di mulutnya jatuh ke pakaiannya.


"Kenapa tidak pulang?"


"Karena Ibu akan menghasilkan uang untuk menafkahi Delio."


Delio tidak memiliki konsep dalam tentang uang. Dia tidak mengerti mengapa menghasilkan uang harus keluar. Tetapi karena dia adalah anak baik, jadi dia mengiakan meski kurang senang.


"Baiklah kalau begitu." Delio mengambil kentang dalam kue dan memasukkannya ke mulut, lalu berkata dengan samar. "Aku akan merindukan Ibu."


Delio duduk di ruang tamu dengan mainan balok berwarna-warni berserakan di depannya.


Dia mengambil balok dan mulai meletakkannya di atas. Gerakannya sangat cekatan, jelas bukan pertama kalinya dia bermain.


Balok terbentuk sedikit demi sedikit, dan akhirnya menjadi kincir air. Delio memasang potongan terakhir, kemudian menatap pintu.


Pintu tertutup rapat. Delio menghela napas, menopang dagu dengan tangan gemuknya lalu cemberut.


'Ibu sudah pergi begitu lama, kenapa masih belum pulang?'


Delio mengira Vera akan menemaninya setiap hari setelah mereka pindah rumah. Mereka akan bermain bersama pada siang hari dan tidur bersama pada malam hari, menjalani kehidupan yang sangat bahagia.


Namun, kenyataannya adalah Vera sibuk lagi sehari setelah mereka pindah. Waktu Vera keluar semakin panjang. Dia bahkan tidak kembali pada siang ini. Delio makan siang di rumah tetangga.


Masakan bibi tetangga enak, tapi tidak seenak masakan Vera. Delio mengganti tangannya dan menghela napas lagi.


Dia benar-benar merindukan ibunya.


Delio mempertahankan postur menopang dagu. Ketika satu tangan mati rasa, dia mengganti tangan lain. Setelah berganti tiga kali, akhirnya pintu terbuka.


Dia segera bangkit dari lantai dan berlari ke pintu seperti anjing kecil.


Pintu terbuka, Delio memanggil "Ibu", lalu hendak memeluk Vera.


Namun, kantong besar di depan ibu menghalangi interaksi mereka. Pria kecil itu berhenti setengah meter dari Vera, mendongak dan tertegun sejenak, kemudian dengan cerdas memutari barang-barang itu dan memeluk paha Vera dari samping.

__ADS_1


“Ibu, apa ini?” tanyanya sambil menunjuk benda di tangan Vera.


__ADS_2