
Melihat Delio tertarik, Vera mengajarinya menulis lagi. Dimulai dari garis horizontal dan vertikal. Dia menulis terlebih dahulu, kemudian memegang tangan Delio untuk menulis beberapa kali.
Setelah melihat beberapa kali, si kecil merasa bahwa dia sudah bisa. Dia dengan bersemangat mengatakan bahwa dia ingin menulis sendiri.
“Oke, kalau begitu coba tulis sendiri.” Vera melepaskan tangannya.
Delio duduk di kursi sambil memegang pensil. Gerakannya memenuhi permintaan Vera. Ujung pensil mendarat di kertas. Dia menarik garis ke belakang, membuat goresan panjang di atas kertas.
Delio bingung.
"Ibu." Dia mengangkat kepalanya sambil menunjuk huruf yang dia tulis. "Jelek!"
"Pertama kali mulai menulis memang begitu. Ibu juga tidak bisa memegang pensil waktu kecil. Delio sudah hebat." Vera membelai kepala Delio, dan tidak ragu untuk menjelekkan dirinya demi menghibur anaknya.
“Ibu juga begitu?” seru lelaki kecil itu. Melihat Vera mengangguk, rasa sedih di hatinya menghilang. Dia terkikik, lalu menunduk dan membuat garis horizontal lagi.
Tulang anak-anak lunak, kontrol otot-otot tubuh tidak pada tempatnya, huruf yang ditulis pun tidak teratur.
Delio berlatih berkali-kali, namun garis horizontal yang dia tulis masih seperti kecebong. Karena tidak bisa memegang pensil, dia mengotori tangan dan wajahnya.
Vera tidak membiarkannya berlatih lama. Dia mengambil pensil dan kertas ketika waktunya tidur.
Dia membawa Delio ke wastafel, kemudian mencuci wajah dan tangannya hingga bersih, meletakkannya di kasur dan menyelimutinya. "Sudah larut, Delio harus tidur."
"Oke." Si kecil menarik selimut ke dagunya, menatap ibu sambil berkata, "Tidur baru bisa tinggi."
“Ya, tidur baru bisa tinggi." Vera menunduk lalu mencium kening Delio. “Selamat malam, sayang.”
Delio mencium balik. "Selamat malam juga, Ibu."
Keesokan harinya, Vera membawa putranya ke supermarket terdekat untuk membeli barang-barang.
Rumah baru yang disewa sangat lengkap, hanya kekurangan peralatan dapur seperti panci dan wajan.
Pemilik tubuh sebelumnya pada dasarnya tidak memasak. Hanya ada sebuah rice cooker dan penggorengan di rumah. Bagian bawah wajan tidak rata dan tidak bisa panas. Vera merasa tidak nyaman setiap kali dia memasak. Karena cepat atau lambat akan pindah rumah, dia hanya bisa bersabar. Sekarang dapur baru cukup besar, dia akhirnya bisa membeli semua peralatan yang dia inginkan.
Vera berhenti di tempat yang menjual peralatan dapur. Dia membeli semua peralatan dapur yang terpikir olehnya. Totalnya hampir tidak muat di keranjang belanja.
Setelah melengkapi peralatannya, Vera membawa Delio ke area perlengkapan anak-anak dan membelikannya beberapa mainan, buku literasi, dan buku cerita.
__ADS_1
Delio pertama kali menerima mainan. Dia sampai tidak mau melepaskan superman-nya. Ketika mau membayar tagihan pun, dia tidak ingin meletakkannya. Berjalan beberapa langka, dia akan menyentuh superman-nya.
Karena ada layanan pengiriman di supermarket, Vera memutuskan untuk menulis alamatnya sebelum naik taksi menuju rumah baru bersama Delio.
Rumah baru didekorasi dengan indah, cerah dan hangat. Jauh lebih baik daripada rumah sempit dan gelap dulu.
Si kecil jatuh cinta pada pandangan pertama ketika dia tiba di rumah baru. Dia berlari di ruangan dengan gembira. Setelah melihat ruangan, dia berlari ke sisi Vera, menarik pakaiannya sambil bertanya, "Ibu, apakah ini rumah kita?"
"Ya, ini rumah kita. Setelah Ibu menghasilkan uang, kita akan pindah ke rumah yang lebih besar."
"Pindah ke rumah yang lebih besar!" seru Delio.
Dia merentangkan tangannya hingga maksimal sembari membuka mulutnya lebar-lebar: "Mau yang sebesar ini."
Delio telah berusaha, tetapi apa daya dia pendek, lengannya hanya sepanjang satu meter. Itu tak seberapa.
Sudut bibir Vera berkedut. Dia mengusap rambut lelaki kecil itu. "Oke. Kalau begitu Delio harus semangat. Lain kali hasilkan uang untuk membeli rumah sebesar itu."
"Oke!"
Karena rumah ini akan dijadikan rumah pengantin baru, tidak ada kasur di rumah. Pemilik mengatakan bahwa kasur akan dibawa ke sini pada malam hari.
Delio benar-benar jatuh cinta dengan rumah ini. Dia sedikit enggan untuk pergi ketika akan pulang.
Dia mencengkeram tangan Vera sambil melihat ke dalam saat pintu akan tertutup, lalu mendongak untuk memastikan. "Ibu, apakah kita akan pindah ke sini besok?"
"Ya, kita pindah dan tinggal di sini besok."
Karena besok akan tinggal di rumah yang indah, Delio sangat bersemangat hingga dia tidak bisa tidur pada malam hari. Dia berbaring di kasur dengan mata terpejam dan berbicara tanpa henti. Semakin dia berbicara, semakin dia bersemangat.
Vera sakit kepala karena dia, dan merasa bahwa malaikat kecil yang sebelumnya lembut dirasuki oleh iblis kecil. Dia mengambil buku cerita yang dia beli hari ini untuk menghentikan khayalan Delio.
"Oke, langit sudah gelap harus tidur. Jangan bicara. Ibu akan bercerita untuk Delio."
Begitu dia berkata demikian, si kecil akhirnya diam.
Protagonis dalam buku cerita ini adalah sebutir telur. Buku ini menceritakan tentang bagaimana ia melawan penjahat dan akhirnya menjadi manusia. Ceritanya cukup menarik.
Kecepatan membaca Vera tidak cepat. Suaranya bagus, elegan dan lembut sehingga dapat menarik perhatian orang.
__ADS_1
Cerita di atas kertas berubah menjadi kata-kata dan keluar dari mulutnya. Delio tertarik dengan cerita yang Vera ceritakan dan perlahan melupakan tentang pindah rumah.
Kiki dalam cerita sungguh luar biasa. Apakah dia benar-benar bisa menjadi manusia dari telur? Jika Kiki bisa menjadi manusia, apakah Delio juga keluar dari telur?
Delio memiliki banyak pertanyaan untuk ditanyakan, tetapi Ibu menyuruhnya untuk tidak berbicara. Dia anak yang baik, jadi harus patuh.
Si kecil menyimpan banyak pertanyaan di dalam hati, rasa kantuk berangsur-angsur meningkat seiring berjalannya cerita. Dia memejamkan matanya, mendekati Vera, lalu tertidur setelah beberapa saat.
Delio mengompol.
Vera merasa ada yang salah saat bangun di pagi hari. Dia merasa bajunya basah.
Dia awalnya mengira dia datang bulan, tetapi begitu bangun, dia menemukan bahwa perkiraan dia salah. Kemudian dia melihat warna gelap di selimut yang melilit lelaki kecil itu.
Sebenarnya bisa dimaklumi. Anak tidur larut malam dan tidak bisa bangun tengah malam adalah hal yang lumrah.
Berpikir demikian, Vera mencubit pipi si kecil sambil tersenyum. Dia mengganti pakaian, mandi, kemudian kembali untuk membangunkan putranya.
Delio merasa malu.
Dia dibangunkan oleh Vera, dibawa ke kamar mandi untuk mandi. Setelah berpakaian, dia berdiri di samping sambil melihat ibunya mencuci selimut dan menyetrika sprei anti air.
Dia tidak mengatakan sepatah kata pun dari awal, hanya menunduk dan merasa ingin mencari tempat untuk bersembunyi.
Dia sudah berusia empat tahun dan bisa-bisanya masih mengompol! Ibu pasti akan membencinya.
Delio merasa ingin menangis. Matanya berkaca-kaca, tetapi air matanya tidak menetes.
Tidak, tidak boleh menangis! Ibu tidak suka anak cengeng. Dia mengangkat kepalanya untuk mengintip wanita yang sedang sibuk, kemudian diam-diam menyeka air mata dari matanya, lalu mengeringkannya di belakang punggungnya, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Vera mengangkat sprei anti air ke balkon untuk dikeringkan, lalu mengeluarkan selimut untuk dijemur. Setelah melakukan semua itu, dia mengusap pinggangnya. Ketika dia berbalik, dia melihat bocah di belakangnya.
Si kecil diam sepanjang pagi, mungkin karena harga dirinya terluka.
Vera tidak akan mengabaikan harga diri anak kecil. Dia berjalan ke depan Delio lalu berjongkok tanpa menyinggung tentang mengompol. Dia bersikap seperti biasa. "Apakah Delio lapar? Ibu hanya memasak bubur pagi ini. Ayo kita makan. "
"Ibu ...." Melihat Ibu berbicara padanya, Delio justru tidak bisa menahannya. Rasa takut dan panik meledak. Dia memeluk leher Vera, membenamkan kepalanya di bahu Vera sambil menangis tersedu-sedu.
Vera terkejut oleh reaksinya. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Delio menangis setelah transmigrasi selama beberapa hari. Dia menepuk pelan punggung Delio. "Ada apa, sayang? Kamu tidak mau makan bubur?"
__ADS_1
"Huhuhu .... Bukan ...." Delio menangis sambil menggelengkan kepala. Dia memeluk Vera lebih erat sembari berkata, "Ibu ... jangan ... jangan buang aku."