
Manusia selalu kurang menyadari penampilan mereka sendiri. Joshua tidak merasakan kontak batin atau kemiripan apa pun setelah melihat foto ini. Dia hanya merasa bahwa asistennya kurang kerjaan.
[Apakah kamu kurang kerjaan?]
Begitu Yakub melihat kalimat pendek tersebut, wajah tanpa ekspresi bosnya muncul di benaknya. Dia menggigil, kemudian menghapus kata-kata yang sudah diketik.
Lupakan saja. Kalau bos merasa tidak mirip, maka tidak mirip. Yakub melirik anak itu, kemudian melihat pemilik kios cantik yang sedang sibuk. Rasa curiga di hatinya tidak bisa dihilangkan.
Anak ini terlihat seperti berusia tiga atau empat tahun. Kalau ditambah masa kehamilan, saat itu bos belum berkuasa, dan sepertinya tidak memiliki reputasi playboy di luar. Anak itu mungkin akibat dari kondom bocor.
Dia mendengar ibu bos mendesak bos untuk menikah dan melahirkan cucu. Beliau sedang ribut dengan bos. Jika anak ini benar-benar cucunya Nyonya, dia seharusnya akan senang sekali.
Memikirkan wanita yang terawat dengan baik dan murah hati, Yakub terpikir sesuatu. Kalau dia membawa pulang cucu Keluarga Chashida, dia percaya bahwa dia bisa mendapatkan bonus besar.
Mungkin dia bisa dipromosikan. Dengar-dengar cabang perusahaan masih kekurangan direktur bisnis.
Delio minta datang bersama Vera. Dia hanya sesekali lancang karena bersemangat, tetapi dia adalah anak yang bijaksana. Dia sudah puas bisa datang ke sini, dia tidak akan menangis dan meminta Vera untuk menemaninya.
Tiba di pasar malam, Delio diam di depan Vera untuk beberapa saat. Melihat Vera mulai sibuk, dia mencari tempat untuk duduk dan memainkan rubik yang dia bawa.
Dia tampan. Bermain sendiri dengan patuh di pinggir membuat orang merasa gemas. Sesekali orang mendekat untuk mengobrol dengannya.
"Dik, bisakah kamu memainkan ini?"
"Bisa." Delio mengangguk serius. Tangannya kecil, sedangkan rubiknya berukuran 4x4. Dia tidak bisa sepenuhnya menggenggam rubik. Gerakannya terlihat kesulitan saat memutar.
Orang yang berbicara dengannya tersenyum, merasa Delio bermain asal, hanya tertarik pada warnanya saja. Sebenarnya, dia tidak mengerti apa-apa. Dia pernah mempelajari rumus rubik, dan merasa rubik 4x4 sangat mudah diselesaikan. Dia ingin memamerkannya kepada Delio.
"Apakah kamu tahu cara memainkan rubik? Sini, Paman ...." Delio tiba-tiba memutar rubik ke atas menjadi warna yang sama, sebelum dia selesai berbicara.
Orang itu terdiam, sedangkan orang-orang yang melihat Delio bermain, memuji kecerdasannya.
"Dik, kamu luar biasa."
Delio merasa senang dipuji, kemudian dia memutar arah lain.
Mungkin karena pujian meningkatkan kepercayaan dirinya, Delio menyelesaikan bagian yang sebelumnya sulit diselesaikan, dengan mudah hari ini. Setelah lebih dari setengah jam, dia akhirnya membuat setiap sisi berwarna sama.
Sebenarnya ini adalah kesuksesan pertamanya. Delio tidak sabar untuk memamerkannya. Dia membawa rubik dan melompat ke sisi Vera.
“Ibu, lihat!” Dia menarik pakaian Vera dan memberi isyarat padanya untuk melihat barang di tangannya.
"Wah, Delio sudah berhasil!"
Vera tahu bahwa si kecil belajar bermain rubik belakangan ini. Dia masih kecil sehingga tidak mengerti rumus-rumus yang rumit. Dia bermain sesuai dengan imajinasinya sendiri. Setelah mencoba berkali-kali dan gagal, dia terkadang merasa kesal dan membuangnya. Setelah emosinya reda, dia akan mengambil rubik dan memainkannya lagi.
Keberhasilan langka si kecil membutuhkan dorongan. Vera menyerahkan pekerjaan kepada Mutia dan berjalan ke samping bersama Delio. Dia berjongkok dan mengambil rubik dari tangan Delio. Si kecil berdiri tegak, menunggu pujian.
Vera tidak pelit pujian. Dia mencium wajah lelaki kecil itu. "Kesayangan Ibu sungguh pintar!"
"Hehe ...." Delio meletakkan tangan di belakang punggung dan memamerkan gigi mungilnya, lalu mencium Vera balik. "Ibu juga pintar!"
Sekarang baru jam 6.30, belum waktunya Delio tidur. Suhu menurun baru-baru ini. Suhu malam hari mencapai 20 derajat.
__ADS_1
Vera menyentuh tangan pria kecil itu dan merasa sedikit dingin. Dia mengambil mantel dan memakaikannya kepada Delio, kemudian bertanya apakah dia ingin minum.
Delio memang agak haus. Dia minum setengah gelas air dengan tangan Vera, mengibaskan tangan padanya setelah minum. "Ibu pergi saja. Jangan khawatirkan aku."
Ada banyak orang di malam hari. Mutia memang kewalahan, Vera tidak bisa bermain dengan si kecil sepanjang waktu, jadi dia mengiakan.
Meja dan kursi di dalam sudah penuh dengan orang. Vera menemukan bangku kecil, menyuruh Delio duduk di sana dan berpesan lagi. "Sayang, main di sini. Panggil Ibu kalau ada apa-apa. Jangan pergi dengan orang lain, paham?"
"Paham, Ibu."
Vera pergi bekerja, meninggalkan Delio duduk di sana dan bermain rubik.
Melihat kesempatan itu, Yakub berjalan mendekat seolah tidak ada apa-apa.
"Dik, kamu pintar sekali."
Mendengar suara itu, Delio mendongak dan tersenyum padanya.
Yakub berdiri di samping, mengatur emosi sebelum bertanya dengan tenang, "Apakah kamu sudah bersekolah, Dik?"
Delio mengangguk. "Aku kelas TK."
"Apakah kamu berusia empat tahun tahun ini?" Yakub menebak setelah menghitung usia Delio masuk sekolah.
"Um?" Delio mengangkat kepalanya dengan heran, seolah berkata "bagaimana kamu tahu?"
"Aku tebak." Kebetulan seseorang pergi, Yakub memindahkan bangku dan duduk di samping Delio, kemudian lanjut bertanya, "Apakah kamu bosan bermain sendirian?"
Yakub tidak tahu bahwa dia sudah dibenci. Setelah menunggu begitu lama, dia akhirnya mengajukan pertanyaan yang sebenarnya. "Di mana ayahmu? Kenapa dia tidak bermain denganmu?"
Dia sedikit gugup, tangannya yang menopang pada lutut bahkan berkeringat. Jika tebakannya benar, Delio mungkin akan menjadi calon bos kecilnya.
Delio melihatnya sekilas. Ibu bilang selain polisi, orang lain yang bilang akan membawanya mencari orang tuanya adalah penjahat. Orang yang terus bertanya tentang kondisi keluarga juga penjahat. Paman ini terlihat mirip sekali dengan penjahat.
Dia memelototi Yakub, mendengus lalu berbalik, memutuskan untuk mengabaikannya.
Yakub merasa bingung karena dipelototi. Dia tidak tahu apa salahnya, tetapi reaksi Delio diartikan sebagai bentuk "tidak ingin berbicara" oleh Yakub. Dia semakin yakin dengan tebakannya.
"Apakah kamu tidak punya ayah?"
Delio meletakkan mainannya, berdiri dan berlari ke arah Vera. Yakub belum bereaksi ketika si kecil memeluk kaki ibunya sambil mengaduh. "Ibu, paman ini adalah penjahat!"
Vera mengerutkan kening, melihat sekilas Yakub yang tampak canggung, kemudian meletakkan barang di tangannya dan berjalan ke sana.
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya mengatakan beberapa patah kata," jelas Yakub.
Vera mengangguk. "Maaf, anakku agak takut orang asing."
Sebelum Yakub mengatakan "tidak apa-apa", dia mendengar Vera berkata lagi, "Dia penakut, dan sekarang merasa takut ketika melihatmu. Kebetulan ada banyak orang yang mengantre hari ini. Bagaimana kalau kamu datang lain hari saja?"
Delio mengadu dengan suara keras sebelumnya sehingga banyak orang mendengar. Sekarang bos mengusir orang, hal itu semakin menarik perhatian.
Yakub merasa kesal ketika ditonton, tetapi dia tidak berani melakukan apa pun. Kesampingkan tentang banyak yang menonton, pria kecil ini mungkin adalah anak bosnya, jadi dia harus berhati-hati.
__ADS_1
"Maaf karena sudah membuat anakmu takut." Dia tersenyum paksa, mengangkat tangannya untuk melihat arlojinya sambil berkata, "Kebetulan aku terburu-buru, tidak sempat untuk mengantre. Jadi aku akan datang lagi lain hari."
Pukul 8.30, Joshua menyelesaikan pekerjaannya, mematikan komputer, dan mengambil jas yang terletak di samping.
Ponsel berdering saat ini. ID penelepon yang muncul di layar membuatnya merasa sedikit kesal.
Walaupun demikian, telepon tetap harus diangkat. Joshua mengangkat telepon dan menempelkannya di telinganya.
"Bu."
"Apakah kamu sudah pulang kerja?" Suara di ujung telepon terdengar lembut dan lemah, tetapi nada bicaranya terdengar tidak menerima penolakan. "Aku minta koki untuk memasak hidangan favoritmu. Makan malam di rumah, ya."
"Aku masih punya urusan ...."
"Aku sudah bertanya pada Theo. Dia bilang kamu tidak perlu pergi minum-minum dengan kolega hari ini." Nyonya Chashida berkata, "Kesampingkan pekerjaan dulu. Pekerjaan itu tidak ada habisnya. Kita sudah lama tidak bertemu, aku cukup merindukanmu."
"Baiklah." Sebagai seorang ibu, Nyonya Chashida memahami kelemahannya. Joshua sedikit putus asa. "Aku akan pulang nanti."
Di dalam mobil, asisten melaporkan jadwal besok.
"Ada upacara pengguntingan pita jam 7 pagi. Siangnya ada janji dengan Pak Suki dari Sinar Budi. Sore harus pergi ke ...."
Joshua tiba-tiba menyelanya. "Apakah masih kekurangan asisten umum di bagian pengiriman?"
Perusahaan pengiriman adalah cabang perusahaan Grup Chashida, yang baru dibuka. Kinerjanya biasa saja. Biasanya tidak terlihat. Asisten Joshua agak heran. Kenapa bos bisa menyinggung tentang asisten umum di cabang perusahaan?
Apakah asisten umum itu lebih spesial?
Dia mengingat siapa manajer perusahaan pengiriman itu. Sebelum dia mengingatnya, dia mendengar Joshua berkata, "Saya tidak kurang orang. Pindahkan Theo ke sana."
Ternyata begitu ....
Asisten seketika paham. Theo adalah orang yang diutus oleh ibunya bos. Kemampuan kerjanya biasa saja, tetapi dia pandai menjadi mata-mata. Bos telah bersabar padanya untuk waktu yang lama. Sepertinya dia tidak tahan lagi sekarang.
Dia mengangguk dan menjawab, "Oke."
Mobil melaju di jalan pegunungan yang berkelok-kelok dan akhirnya mencapai vila di puncak gunung.
Ini adalah puncak tertinggi di Kota Camahi. Dari puncak gunung, terlihat cakrawala seluruh kota.
Gerbang terbuka perlahan, mobil melaju masuk dan berhenti di depan pintu. Begitu Joshua keluar dari mobil, wanita di dalam menyambutnya.
"Kamu pulang. Aku sudah menghitung waktu, makanannya masih panas. Pas kalau dimakan sekarang." Dia berkata kepada Joshua, dengan tatapan bangga.
Tidak heran, putranya masih muda dan mapan, serta merebut kembali perusahaan dari para rubah tua itu. Bisnis keluarga semakin baik dalam beberapa tahun terakhir. Siapa yang tidak memuji putranya?
Hanya saja, pernikahan anak ini sungguh mengkhawatirkan. Entah karena dia bermain terlalu banyak wanita atau bukan, dia tidak menyukai satu pun dari sekian banyak wanita yang diperkenalkan kepadanya.
Joshua tidak terburu-buru, tetapi sebagai ibu, Nyonya Chashida lebih memusingkannya. Dia tersenyum sambil mengait lengan putranya, merasa keputusannya sangat tepat.
Lampu kristal di ruang tamu vila bersinar terang, lima atau enam piring sudah diletakkan di atas meja ruang makan. Tepat ketika mereka masuk, seorang wanita berjalan keluar dari dapur.
Dia meletakkan barang di tangannya ke atas meja, berbalik lalu menyapa Nyonya Chashida terlebih dahulu sebelum menatap Joshua dengan malu-malu. "Pak Joshua."
__ADS_1