Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 13


__ADS_3

"Enak sekali." Tetangga itu mengingat rasa tadi, dan mengacungkan jempol kepada Vera. "Tidak ada barbekyu yang rasanya lebih enak dari milikmu. Kapan kiosmu buka? Aku pasti akan membelinya."


"Dalam waktu dekat." Vera merasa senang keahliannya diakui. Dia memberikan beberapa tusuk daging yang tersisa kepada tetangga, menyisakan satu untuk diri sendiri.


Tetangga itu menolak berkali-kali, tetapi akhirnya pasrah oleh semangat Vera. Dia mengambil beberapa tusuk daging itu, memberikan dua tusuk kepada putrinya, lalu bertanya kepada Delio yang hampir ngiler. "Delio mau?"


Air liur Delio diproduksi dengan cepat. Dia ingin sekali, tetapi alih-alih menerima daging itu, dia menoleh ke arah ibunya.


"Punyaku ini untuk dia. Kamu tidak perlu memberikannya." Vera menyerahkan satu tusuk daging terakhir kepada Delio. Si kecil mengambilnya dengan tidak sabar.


Vera hanya menambahkan sedikit bumbu untuk daging Delio sehingga rasanya lebih ringan. Namun, daging yang sudah diasinkan terasa segar meskipun tidak ditambahkan apa-apa.


Mulut Delio penuh dengan minyak. Dia tidak lupa untuk mendesah saat mengunyah. "Enaknya!"


Vera membelai rambutnya dan kembali membereskan barang-barang.


Tugas hari ini telah selesai, api arang bisa dipadamkan. Dia sudah menemukan sebuah tempat dua hari yang lalu. Jika tidak ada masalah, dia bisa mulai jualan besok.


Vera menghela napas lega ketika berpikir bahwa dia akhirnya bisa terlepas dari kehidupan pengangguran.


Karena hanya setusuk daging, Delio menghemat dengan mengunyah perlahan. Dia menggigit sepotong daging lalu menelannya setelah mengunyah berkali-kali.


Mendekatkan tusuk daging ke hidung, Delio menelan air liur ketika mencium aroma barbekyu, kemudian memaksa diri untuk memalingkan muka. Dia berlari menuju Vera, lalu menyerahkan setengah dari daging yang tersisa kepada Vera. "Ibu, untuk Ibu."


Anak kecil selalu berantakan kalau makan. Daging yang tersisa terdapat air liur Delio. Vera melihatnya sekilas lalu membuang muka. "Ibu tidak mau makan, Delio makan saja."


Delio tidak menyangka ada orang yang bisa menolak makanan lezat ini. Dia menelan air liur sambil menggoda, "Ibu, ini benar-benar enak, lho."


Setelah Vera menolak lagi, Delio dengan senang hati menarik tangannya kembali dan menggigit sepotong daging.


Sebelum makan daging panggang, makanan favorit Delio adalah nasi buah. Setelah makan daging panggang, posisi nasi buah pun tergeser.


Mengikuti prinsip "makanan lezat harus dimakan setiap hari", ketika pulang, Delio mengajukan permintaan untuk makan daging panggang lagi besok kepada Vera.


Kemudian dia ditolak oleh ibunya.


"Kenapa?!" Mata Delio melebar tak percaya. Ibu jelas-jelas mengiakan setiap permintaannya sebelumnya.


Vera menekan lift dan berkata kepada si kecil, "Karena kalau makan terlalu banyak, Delio tidak bisa tumbuh tinggi."


Dia mengarahkan tangannya sedikit di atas pria kecil itu, kemudian menakut-nakutinya. "Delio hanya bisa setinggi ini. Anak-anak lain akan menertawakan Delio kalau Delio keluar."


Mata Delio melebar. Dia menatap tangan Vera sebentar, lalu membuang muka dan mendengus, "Ibu berbohong!"

__ADS_1


"Berbohong apa?"


"Bibi Ani juga makan, tetapi dia tinggi." Pria kecil itu cemberut lalu menambahkan dengan kesal. "Lebih tinggi dari Ibu!"


Logikanya cukup masuk akal.


Sudut bibir Vera berkedut. Dia tersenyum dan lanjut berbohong, "Itu karena Bibi Ani sudah dewasa. Tidak apa-apa kalau orang dewasa makan."


Delio bingung. "Kenapa?"


"Karena orang dewasa sudah tumbuh tinggi dan tidak bisa tinggi lagi. Setelah dewasa maka boleh memakannya."


Setelah mendengarkan penjelasan ini, wajah Delio cemberut. Dia menarik kancing bajunya dan berpikir lama sebelum dia menemukan celah dalam kata-kata ibunya. "Kak Niny juga makan. Dia juga masih kecil!"


Niny adalah anak tetangga. Dia berusia sebelas tahun dan tingginya hampir 1,6 meter. Tadi Delio melihatnya makan daging panggang.


“Kak Niny itu anak besar, kalau kamu anak kecil. Jadi berbeda.” Vera mencubit wajah tembam si kecil. "Kapan kamu setinggi Kak Niny, maka kamu boleh makan."


Delio merasa tingginya hampir sama dengan kakak tetangga itu. Mendengar ucapan Vera, dia mengangguk dengan percaya diri. "Aku akan segera lebih tinggi darinya!"


Delio mengkhawatirkan tinggi badan sejak dia berkoar-koar bahwa dia akan lebih tinggi dari kakak tetangga itu.


Vera memasang pengukur tinggi badan di rumah. Delio akan mengukurnya sebentar-sebentar. Ketika dia melihat tinggi badannya berada di angka yang sama, bahkan terkadang menyusut, Delio terkejut. Dia berlari ke sisi Vera, menarik lengannya dan berteriak, "Ibu, aku menjadi rendah!"


"Bukan rendah, tapi pendek." Vera sibuk menusuk daging sambil memberi tahu Delio tentang hubungan antara tekanan atmosfer dan tinggi badan.


"Lain kali aku akan mengukur tinggi badan di pagi hari," ujar Delio setelah memahami logikanya. Dia naik dan duduk di kursi sebelah Vera, melihat gerakannya sambil bertanya, "Apakah ibu akan membuat daging?"


"Ya, Ibu membuat daging untuk menghasilkan uang. Menghasilkan uang untuk membeli mainan Delio."


Si kecil merasa senang ketika mendengar mainan, tetapi sesaat kemudian senyum di wajahnya menghilang. "Apakah Ibu akan keluar lagi?"


Delio ingat bahwa dulu Ibu juga mengatakan bahwa dia akan menghasilkan uang, kemudian Ibu menghilang sepanjang hari. Delio dikunci di kamar, tidak bisa keluar dan kelaparan. Jadi dia kurang senang ketika Vera berkata akan menghasilkan uang.


Vera tidak tahu detailnya, jadi dia hanya mengangguk santai sembari menjawab "ya".


Setelah itu, bocah lelaki di sebelahnya cemberut. "Aku ingin pergi bersama Ibu."


Vera mengernyit. Berdagang di pinggir jalan bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus dikerjakan, tidak ada waktu untuk mengurus anak.


Dia membuka bibirnya hendak menolak, tetapi sebelum dia mengatakan apa-apa, Delio memeluk pinggangnya.


"Ibu, aku ingin bersama Ibu."

__ADS_1


Tekad Vera goyah dalam sekejap. Di bawah permohonan Delio, Vera akhirnya setuju untuk membawanya keluar.


Pukul 6 malam, setelah membereskan barang, dia berangkat dengan sepeda roda tiga listrik, membawa meja, kursi, bahan-bahan, dan putranya.


Sepeda roda tiga dibeli oleh Vera dua hari yang lalu. Sepedanya tidak kecil, tetapi barang bawaannya banyak. Meja dan kursi diikat di sepeda, terlihat sangat berbahaya.


Untungnya, tempat pilihan Vera dekat dengan komplek. Dia tiba di sana dalam lima menit.


Ini adalah sebuah alun-alun. Awalnya adalah kantor penjualan plaza. Kemudian, toko-toko terjual habis, kantor penjualan dibongkar, tempat ini menjadi kosong. Setengahnya menjadi alun-alun rekreasi, setengahnya lagi adalah pasar malam.


Vera tidak datang terlalu awal. Stan-stan di sekitar sudah siap, sisa dua tempat di ujung.


Dia juga tidak peduli. Dia menyuruh Delio diam, lalu pergi menurunkan barang-barang di sepeda.


Semua barang diturunkan dari sepeda, kios didirikan.


Waktu masih pagi sehingga konsumen utama pasar malam belum pulang kerja. Semua pemilik kios di sekitar menganggur. Melihat Vera sendirian, banyak orang datang membantu.


Dengan bantuan orang-orang itu, Vera akhirnya mendirikan stan kecil. Dia menghela napas lega, lalu pergi ke toko terdekat untuk membeli beberapa botol air dan beberapa kardus bir untuk mereka sebagai ucapan terima kasih.


Langit semakin gelap, orang di pasar malam semakin banyak. Kios-kios di sekitar juga mulai ramai. Hanya kios Vera yang sepi, karena pertama, lokasinya tidak bagus; kedua, wajahnya asing.


Vera tidak terburu-buru. Dia sudah siap sebelumnya. Dia memanfaatkan waktu kosong untuk mengajari Delio tentang matematika sederhana.


Si kecil sangat tertarik dengan hal ini. Dia mengerjakan soal matematika dengan kedua tangannya yang kecil dan gemuk. Kecepatannya semakin cepat.


Kegiatan belajar-mengajar mereka tidak bertahan lama. Satu jam kemudian, Vera akhirnya menyambut tamu gelombang pertama.


Saat ini jam 8 malam, waktu paling ramai. Beberapa orang itu mungkin tidak menemukan tempat di tempat lain, jadi mereka datang ke sini.


Karena hari pertama mendirikan kios, Vera tidak membawa banyak barang. Beberapa tamu ribut, mengeluh bahwa pilihannya sedikit, dan menunjukkan ekspresi tidak suka.


Kios baru dibuka, barang juga sedikit. Beberapa orang itu tidak menaruh banyak harapan pada rasa barbekyu Vera. Karena sudah datang, mereka tidak bisa pergi begitu saja. Jadi, mereka memesan sedikit saja agar tidak rugi kalau tidak enak.


Namun, kecurigaan mereka menghilang ketika mereka makan gigitan pertama.


Daging panggang terlihat sederhana untuk dibuat, tetapi sebagian besar daging panggang ditumpuk dengan terlalu banyak bumbu sehingga rasa dagingnya hanya di permukaan, daging bagian dalam kering.


Akan tetapi, daging panggang kios ini tidak seperti itu.


Aromanya sama-sama harum, lezat, tetapi dagingnya sangat empuk.


Daging panggang yang sedikit panas dimasukkan ke dalam mulut. Rasa lezat meledak di ujung lidah. Setelah digigit, dagingnya dengan mudah terbelah menjadi dua bagian. Kecap di dalamnya lumer.

__ADS_1


Rasanya enak sekali!


Para pengunjung itu hanya memakan satu gigitan. Salah satu dari mereka, seorang pria bertelanjang dada dengan kalung emas besar, berseru, "Bos, saya mau sepuluh tusuk daging kambing dan sepuluh tusuk daging sapi .... Lupakan, masing-masing dua puluh tusuk."


__ADS_2