Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 3


__ADS_3

Vera tidak terlalu menyukai novel. Novel itu direkomendasikan oleh sahabatnya. Katanya, toko sampingan wanita yang memiliki nama serupa dengannya sangat jahat. Dia selalu bertingkah. Vera merasa penasaran toko sampingan itu bisa sejahat apa sehingga dia membacanya.


Ayah toko utama pria dalam novel itu meninggal muda, jadi dia mengambil alih bisnis keluarga besar ketika dia berusia dua puluhan. Tetapi karena dia terlalu muda, dia tidak bisa meyakinkan publik dan dikalahkan oleh para tetua perusahaan selama beberapa tahun.


Tokoh utama pria awalnya berpura-pura menjadi pria boros yang tidak berguna. Setelah dia menjadi kuat, dia melenyapkan orang-orang yang menentangnya, lalu menjadi pemimpin yang tak terbantahkan dalam perusahaan itu.


Dalam beberapa tahun itu, tokoh utama pria mengalami banyak jebakan. Orang-orang diutus untuk mendekati, menggoda, dan mencoba membawanya ke dalam jurang agar dia tidak bisa bangkit lagi.


Oleh karena itu, tokoh utama pria menjadi sulit untuk mempercayai orang dan tidak bisa membuka hatinya untuk ibu kandungnya.


Pada saat inilah tokoh utama wanita mendekati tokoh utama pria. Menurut novel, tokoh utama wanita polos tetapi tidak bodoh, baik hati tetapi tidak buta. Dia seperti api yang menghangatkan hati tokoh utama pria.


Hubungan mereka telah melalui banyak kesulitan, dari pertentangan keluarga hingga gangguan tokoh sampingan wanita, lalu tokoh sampingan pria yang merebut perusahaan tokoh utama pria. Ceritanya bisa dibilang menyiksa secara fisik dan mental. Ketika hampir tamat, tokoh utama pria dan wanita akhirnya bersama.


Sedangkan tokoh sampingan wanita jahat yang mencoba untuk merebut tokoh utama pria bernama Vera.


Dalam novel, Vera hamil setelah menjebak tokoh utama pria. Vera melahirkan anak mereka, tetapi anehnya dia tidak meminta pertanggungjawaban tokoh utama pria.


Hingga suatu kali Vera mengikuti seorang sultan yang membayarnya menghadiri sebuah perjamuan untuk bertemu dengan tokoh utama pria. Ketika dia melihat semua orang di sana menjilat pria itu, keinginannya timbul lagi. Dia menyingkirkan sultan yang didapatkan dengan susah payah itu, kemudian membawa putranya untuk mencari tokoh utama pria.


Tokoh utama pria tidak lagi muda. Ibunya ingin sekali menggendong cucunya.Setelah melakukan tes DNA, dia menerima anak itu.


Meskipun anak tersebut diterima, ibu tokoh utama pria memiliki rasa hierarki yang kuat. Dia tidak menyukai tokoh utama wanita yang berlatar belakang keluarga biasa, apalagi tokoh sampingan wanita yang hamil sebelum menikah dan menjadi simpanan orang lain. Dia sama sekali tidak menerima tokoh sampingan wanita untuk menjadi menantunya.


Tokoh sampingan wanita bertekad untuk menjadi istri orang kaya. Dia tidak mungkin membiarkan hanya anaknya yang diterima. Karena ibu tokoh utama pria tidak mau menerimanya, dia membawa anak itu pergi. Kemudian, dia sering membawa anak itu ke perusahaan tokoh utama pria dengan alasan anak itu merindukan ayahnya.


Pada saat itu, tokoh utama wanita sudah memiliki perasaan terhadap tokoh utama pria. Situasi tersebut membuatnya merasa patah hati. Dia sering merasa sedih setelah bekerja.


Tokoh sampingan pria yang diam-diam menyukai tokoh utama wanita tidak ingin melihat dewinya sedih, jadi ketika tokoh sampingan wanita datang, dia menahannya dengan berbagai cara. Dia bahkan memberi tahu tokoh sampingan wanita bahwa tokoh utama pria sudah memiliki wanita yang dicintai dan sedang mempersiapkan pernikahan mereka.


Tokoh sampingan wanita sangat marah ketika dia mendengar hal tersebut. Dia impulsif dan memasuki kantor tokoh utama pria tanpa izin untuk mempertanyakan kebenarannya.


Tokoh utama pria adalah pecandu kerja dan benci diganggu saat kerja. Dia mengabaikan tokoh utama wanita dan menyuruh orang untuk mengusirnya.


Tokoh sampingan wanita yang diusir semakin yakin dengan pernyataan itu. Dia telah merasakan kehidupan keluarga kaya dan tidak ingin kembali ke kehidupan sebelumnya. Setelah memikirkannya, dia memutuskan untuk memanfaatkan anaknya.

__ADS_1


Anak itu masih kecil dan kesehatannya juga kurang baik. Tokoh sampingan wanita sengaja membuatnya kedinginan agar dia demam, kemudian meminta tokoh utama pria untuk sering mengunjungi anaknya.


Dia tidak menyayangi anaknya, hanya menganggapnya sebagai alat. Dia sengaja membiarkan anaknya sakit demi rencananya sendiri, yaitu lebih dekat dengan tokoh utama pria.


Anak itu memang sudah rapuh. Demam yang ringan akhirnya menjadi radang paru-paru yang parah. Ketika tokoh utama pria menyadari ada yang salah dan membawa anak itu ke rumah sakit untuk dirawat, sudah terlambat. Organ-organ anaknya gagal, lalu dia meninggal di meja operasi.


Vera tidak membaca lebih lanjut setelah membaca bagian itu. Dia mengerti bahwa penulis ingin menyingkirkan pengganggu hubungan tokoh utama pria dan wanita, tetapi dia kurang menerima seorang anak diperlakukan seperti itu. Walaupun tokoh sampingan wanitalah pelakunya.


Setelah mencocokkannya dengan plot dalam novel, Vera sepenuhnya yakin dengan tebakannya sebelumnya.


Ada sebuah plot dalam novel di mana tokoh sampingan wanita membawa anaknya ke rumah tokoh utama pria. Sebelum hasil tes DNA keluar, Nyonya Chashida yakin bahwa Adelio adalah cucunya karena tanda lahir ini.


Nyonya Chashida berkata, "Anak ini terlihat seperti cetakan putraku waktu kecil. Posisi tanda lahirnya bahkan sama. Tidak mungkin salah."


Vera tidak bereaksi berlebihan setelah yakin bahwa dia transmigrasi menjadi karakter dalam novel.


Hal seperti transmigrasi memang sulit dipercaya. Bagi Vera, tidak ada bedanya antara transmigrasi menjadi orang lain dan karakter dalam buku. Dia tetap harus meneruskan kehidupan.


Pemilik tubuh sebelumnya terbiasa mengandalkan orang lain, tetapi Vera tidak memiliki kebiasaan tersebut. Di dunia sebelumnya, dia membeli rumah di sebuah kota dengan usaha sendiri lima tahun setelah lulus.


Saat itu, dia berencana untuk mencari bank sperma lalu melahirkan anak. Sekarang, niat itu bisa diurungkan karena dia sudah memilikinya.


Baik untuk dia maupun anak itu.


Karena bahan makanan terbatas, Vera hanya membuat semangkuk mi dan menambahkan dua telur.


Namun, dengan keahliannya selama bertahun-tahun, masakan Vera tidak terlalu buruk.


Karena tidak mengetahui selera Delio, Vera menggoreng dua telur yang berbeda. Yang satu matang, satunya lagi setengah matang.


Telur setengah matang dibentuk lonjong biasa, putih telur dioles tipis-tipis, dengan warna kuning keemasan. Kuning telur tetap di tengah, pinggirannya berwarna sedikit lebih gelap, lalu semakin tengah semakin terang. Melalui lapisan tipis dapat melihat kuning telur bergoyang di dalam.


Yang dimasak matang tidak terlihat bagus, tetapi juga berwarna keemasan dan harum.


Meletakkan telur goreng di atas mi, Vera kemudian membawanya ke kamar.

__ADS_1


Delio duduk di kasur menghadap pintu, dengan handuk melilit perutnya. Ketika melihat Vera masuk, lelaki kecil itu tiba-tiba turun dan lupa untuk menarik handuk.


"Ibu." Dia berjalan ke pinggir kasur dari arah Vera dengan bokong telanjang, lalu menatap isi mangkuk dan menelan air liur. "Harum sekali."


"Sudah lapar, 'kan? Ayo makan."


Vera meletakkan mangkuk mi di atas meja, membersihkan sebuah tempat, kemudian meletakkan si kecil di kursi.


"Oke, kamu sudah bisa makan."


Setelah Vera selesai berbicara, lelaki kecil itu tidak bergerak. Dia mengambil beberapa mi dengan sendok, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata kepada Vera. "Ibu makan."


Vera membelai kepalanya. "Ibu sudah makan. Delio makan saja."


Pemilik tubuh sebelumnya pergi ke sebuah pesta dan sudah makan malam. Setelah pulang, dia marah-marah dan sengaja membiarkan anak ini kelaparan.


Mengingat memori pemilik tubuh sebelumnya dan akhir cerita novel, rasa cinta untuk anak di depannya ini bertumbuh di hati Vera. Dia mengambil sumpit di sampingnya, lalu memotong telur dadar menjadi kecil-kecil sebelum menyuapi si pria kecil.


"Enak?"


"Enak!"


Air liur si kecil sudah menetes. Dia tersenyum bahagia pada Vera.


"Ibu."


“Hm?” Vera menggulung beberapa mi untuk menyuapi Delio.


Delio hanya tersenyum, lalu memanggil lagi setelah menelan mi.


"Ibu."


"Ya?"


Yang satu menyuapi, satunya lagi makan. Delio memanggil ibunya setiap makan satu suap. Vera menyahut tanpa merasa jengkel.

__ADS_1


Setelah makan setengah mangkuk mi, Delio sudah kenyang. Dia melompat ke lantai tanpa alas kaki untuk memeluk kaki Vera.


"Ibu." Dia mendongak. "Aku senang sekali."


__ADS_2