Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 17


__ADS_3

Rumah Reyhan Abrisam tidak jauh dari pasar malam, sekitar sepuluh menit berjalan kaki.


Dia mengakhiri obrolan dengan Ollie, lalu pergi ke pasar malam sendirian tanpa menelepon temannya yang lain.


Di pasar malam, aroma makanan yang berbeda bercampur menjadi satu, membuat orang ngiler. Reyhan tidak melihat yang lain, tetapi langsung berjalan ke paling ujung.


Bagian dalam adalah kedai barbekyu dan warung nasi goreng. Bahan makanan yang dituangkan ke dalam minyak mendidih menghasilkan bunyi.


Semakin ke dalam, semakin banyak pejalan kaki. Banyak di antaranya searah. Melihat cahaya dari papan kedai terdalam dari jauh, mata Reyhan berbinar. Dia mempercepat langkahnya.


Kanopi kecil penuh orang, kipas angin bekerja tanpa henti.


Di depan kompor, seorang wanita muda sedang mengoles tusuk sate daging dengan minyak. Gerakannya cepat. Setelah mengoles, dia menaburkan daging lain dengan rempah-rempah. Setelah itu, dia meletakkan beberapa tusuk sate di atas nampan, seorang wanita berusia yang membawanya ke para tamu.


Hanya melihat sekali, Reyhan merasa detak jantungnya cepat. Sebagian besar orang yang mendirikan kios di pasar malam berusia tiga puluhan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat yang begitu muda.


Tidak hanya muda, dia juga begitu ... cantik.


Musim panas cuaca panas. Suhu di sebelah kompor bahkan lebih tinggi. Meskipun kipas bertiup kencang, orang yang berada di dekat kompor tetap berkeringat.


Keringat bersimbah di dahi, mengembun menjadi tetesan air, lalu meluncur ke pangkal hidung dari alis. Berhenti sejenak di ujung hidung, kemudian menetes ke lantai dan menghilang.


Reyhan menatap tetesan keringat itu tanpa mengalihkan tatapannya dari pangkal hidung Vera. Dia menelan air liur dan merasa tenggorokannya agak kering.


Vera berparas cantik, kulitnya putih dan lembut, ujung mata melengkung, pangkal hidung kecil dan mancung, sudut bibir terangkat dan merah, seolah menggoda orang sepanjang waktu.


Karena suhu panas, lehernya juga berkeringat. Butiran keringat meluncur ke tulang selangka yang terlihat jelas, kemudian menyelinap ke dalam pakaian, diresap oleh kain.


Reyhan merasa tubuhnya memanas. Dia memaksa diri untuk memalingkan wajah dan mengambil nampan untuk memilih makanan. Dia tidak fokus. Setelah mengambil dua tusuk daging, dia tidak bisa mengendalikan matanya lagi.


Dari belakang pun, tubuh wanita ini masih sempurna. Pinggangnya dapat dilingkari dengan satu tangan, pinggulnya bulat dan penuh, kedua kakinya ramping dan cukup menarik perhatian. Betapa Reyhan ingin mengangkat kedua kaki itu dan menyembah setiap incinya dengan lidah.


Suara kekehan terdengar dari sebelah. Reyhan sadar dan menarik pandangannya kembali dengan canggung. Dia melirik orang sebelah, tatapan orang itu juga tertuju pada wanita yang ada di depan kompor. Sesaat kemudian, dia menarik tatapannya kembali dan berkata kepada Reyhan. "Bung, gunakan kemampuan masing-masing?"


Reyhan berdeham tanpa mengatakan apa-apa.


Bisnis barbekyu ramai, semua kursi terisi. Reyhan menunggu sambil berdiri sebentar, lalu segera mengambil meja ketika orang yang duduk di sana membayar dan pergi.


Orang yang tadi berbicara dengannya pun mendekat. Dia mengambil sebotol bir, membuka dan meminumnya, kemudian mengangkat alisnya kepada Reyhan. "Kamu dulu atau aku?"


Reyhan diam. Terakhir kali datang ke sini, dia melihat lebih dari lima orang mendekati wanita itu, tetapi mereka semua ditolak tanpa kecuali. Reyhan tidak berpikir bahwa dia memiliki harapan, jadi dia tidak akan mempermalukan diri.


Pria di sebelahnya tidak sabar. Melihat Reyhan tidak menanggapi, dia berdiri dan berjalan ke sana. Dengan senyum percaya diri, dia mendekati Vera. "Cantik, apakah kamu panas?"


Vera sedang menghitung suhu setiap tusuk daging. Suara kipas angin terlalu keras sehingga dia sama sekali tidak mendengar orang berbicara.


Pria itu merasa tidak senang karena diabaikan. Dia bertanya dengan suara lebih keras. Ketika Vera menoleh, dia bertanya lagi, "Kapan kamu menutup kios? Ayo kita pergi karaoke."


Vera membuang muka, melihat benda di depannya lagi. "Aku tidak bisa nyanyi."


"Tidak apa-apa. Kamu tidak bisa, aku bisa mengajarimu. Aku lumayan bisa nyanyi."

__ADS_1


"Tidak tertarik."


Vera membalik beberapa tusuk daging dan berbalik ke arah orang itu. Pria di sebelahnya mengira Vera akan berbicara padanya sehingga dia tersenyum lebar. Namun, Vera berkata, "Tolong menyingkir."


Dia menggertakkan gigi, tetapi tidak bergerak. Seseorang mendesak dari belakang. Wanita paruh baya membawa nampan dan mendorong pria itu dengan tubuhnya. Setelah meletakkan daging, dia menyapanya, "Apa pesananmu, tampan? Akan kulihat apakah sudah matang."


Orang itu datang untuk menggoda wanita, sama sekali tidak memesan makanan. Apa yang mau matang? Dia dengan tidak tahu malu ingin mengatakan sesuatu kepada Vera, tetapi wanita itu setengah mendorong dan menariknya hingga dia menjauh.


"Sabar, tampan. Daging akan segera matang."


Setelah mengusir lalat, Mutia Sari kembali ke sisi Vera sambil berbisik kepadanya. "Kamu tidak bisa sendiri. Orang-orang itu datang ke sini setiap hari. Takutnya suatu hari akan terjadi masalah."


Gerakan Vera berhenti sejenak.


Sejak mendirikan kios di sini, tidak ada habisnya pria yang mencoba untuk mendekati Vera. Beberapa orang bahkan menunggu di luar sampai dia menutup kios untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat.


Tidak mungkin Vera tidak khawatir. Oleh karena itu, dia merekrut Mutia.


Mutia berusia kepala tiga atau empat. Dia memiliki banyak pengetahuan dan temperamen. Dia memang telah membantunya menyingkirkan banyak masalah.


Hanya saja Mutia tidak tinggal bersamanya, jadi dia hanya bisa membantunya ketika jam bekerja. Setelah menutup kios, maka tidak bisa. Seperti yang Mutia katakan, siapa tahu di antara pria-pria itu ada yang berani mengambil risiko. Sudah terlambat bagi Vera untuk menyesalinya saat itu.


Vera menghela napas dalam hati, memikirkan rencana untuk mengatasinya.


Dia tidak pernah mengalami situasi seperti ini di kehidupan sebelumnya. Dia masih muda saat mendirikan kios, di luar sekolah pula. Semua pelanggannya adalah teman satu sekolah. Tidak ada yang berani mengganggunya.


Di bangku kuliah, dia sudah membuka warung, dan biasanya jarang pergi ke sana. Setelah lulus kuliah, dia membuka restoran pribadi. Pelanggannya berkurang karena harganya tinggi. Orang-orang yang makan di sana adalah orang-orang yang lumayan kaya. Mereka sudah sering melihat wanita dan biasanya berhubungan atas dasar suka sama suka.


Mutia tahu bahwa Vera memiliki seorang anak berusia empat tahun yang baru saja masuk taman kanak-kanak. Dia mengira masih ada sosok ayah dalam keluarga mereka sehingga dia mengusulkan ide tersebut.


"..." Dia harus mencari suami di mana?!


"Aku akan mempertimbangkannya."


"Coba bicarakan dengan suamimu setelah pulang. Kalau suamimu tidak mau menjemputmu, aku akan pulang bersamamu. Paling-paling aku berjalan sedikit jauh."


Ide itu bagus juga. Dia bisa mengantar Mutia pulang setelahnya. Vera mengangguk padanya. "Terima kasih kalau begitu."


Mutia pergi mengantarkan pesanan. Tangan Vera terus bergerak, tetapi dia sedang memikirkan cara menangani hal ini.


Waktu pulang kerja saat ini terlalu malam. Malam selalu lebih berbahaya daripada siang. Selalu bersama Mutia pun belum tentu benar-benar aman. Vera teringat akan rencananya sebelumnya; mengumpulkan uang untuk membuka toko, mempekerjakan orang untuk membakar sate, dia hanya perlu membuat saus.


Dengan begitu, dia tidak perlu keluar di malam hari sehingga tidak akan bertemu dengan para pengganggu itu.


Bisnisnya sekarang bagus, dengan laba bersih sekitar empat juta per hari, berarti seratus dua puluh juta per bulan. Sebuah ruko di sekitar disewa seharga empat puluh hingga enam puluh juta per bulan, termasuk biaya dekorasi dan tenaga kerja.


Kalau dijumlahkan ....


Pokoknya, tabungannya saat ini masih jauh dari cukup.


Vera menghitung. Setelah dikurangi pengeluaran harian, dia harus bekerja setidaknya tiga bulan lagi untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

__ADS_1


Tiga bulan benar-benar lama.


Apakah dia harus "pasangan" untuk menghindari para pengganggu?


Vera menggelengkan kepalanya dengan kuat, membuang pikiran menakutkan itu dari benaknya.


Itu tidak sepadan.


Di sisi lain, Reyhan yang melihat usaha pria tadi gagal, menggeleng dan menekan keinginannya. Dia mengirim pesan untuk temannya.


Setelah makan semangkuk mi kering panas, Ollie sedang berjalan untuk mencerna makanan. Dia cukup terkejut ketika menerima pesan dari temannya. Setelah memastikan bahwa sobatnya tidak berbohong, dia mengusap perutnya.


Sepertinya, perutnya masih bisa menampung makanan.


Ollie mengabari Reyhan, kemudian naik taksi ke pasar malam lagi. Setelah turun dari taksi, dia mengeluarkan ponsel lipat dan memulai siaran langsung.


Sudah ada banyak orang yang menunggu di ruang siaran langsung. Ollie menyapa mereka. "Kemarin aku ingin mencoba restoran barbekyu yang temanku rekomendasikan, tetapi sayangnya tidak buka. Bagaimana aku boleh menyerah begitu saja terhadap makanan enak? Jadi, aku akan mencobanya lagi hari ini."


Ollie berjalan di jalan antara stan dengan langkah gontai. "Kita bisa lihat kalau langitnya sudah agak gelap ...."


Dia berjalan seraya memperkenalkan, sesekali bercanda dengan pengikut. Berjalan di luar stan, Ollie menarik napas dalam-dalam. "Harumnya!"


Di dalam kanopi sangat ramai. Ollie masuk dan memotret bahan makanan yang ada di brankas. Dia memuji kesegaran bahan, lalu pindah ke mesin barbekyu untuk mengambil foto barbekyu dari dekat.


Daging yang dibakar di atas mesin mengeluarkan bunyi bak petasan. Permukaannya berminyak. Sepasang tangan dengan cepat membalik dan mengoleskan minyak. Terlihat teratur.


Dalam siaran langsungnya, banyak pemirsa menyatakan bahwa makanan ini terlihat menggugah selera. Ollie mencium aromanya dan mengangguk. "Sependapat."


Vera baru saja selesai berurusan dengan orang yang meminta nomor teleponnya, lalu seseorang datang lagi. Dia merasa sedikit kesal dan tidak ingin menghiraukan. Alhasil, orang di sebelahnya semakin dekat.


Karena tidak tahan, dia menoleh dan ingin menegur. Namun, perhatian orang itu sama sekali tidak tertuju padanya.


Melainkan ... sate di atas kompor.


Vera merasa canggung. Dia menggigit bibirnya dan ingin menoleh ke arah lain, tetapi tidak sengaja melakukan kontak mata dengan Ollie yang melihat ke arahnya.


"Maaf, maaf. Aku hanya merasa ...." Ollie langsung minta maaf ketika mereka bersitatap. Akan tetapi, setelah melihat penampilan orang di depannya, dia terpesona.


Dia menatap Vera sejenak, lalu menarik kembali tatapannya yang lancang, dan menyelesaikan kalimatnya. "Daging ini terlihat lezat."


Vera pulih dari rasa canggung, mengucapkan terima kasih, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Ollie menoleh ke arah ponsel. Tadi kamera menangkap wajah Vera dengan jelas. Orang-orang di ruang siaran terpana oleh kecantikan Vera seperti dia. Mereka semua histeris dan memenuhi kolom komentar.


[Sial, cantik sekali!]


[Bisa-bisanya wanita secantik itu membuka kios?! Sayang sekali!]


[Aku beri waktu tiga menit untuk mengorek semua informasi tentang wanita cantik itu!]


[Jangan macam-macam. Dia istriku. Terima kasih. Kami akan membuat surat nikah besok.]

__ADS_1


[Pergi, dia jelas-jelas istriku!]


__ADS_2