
Memutuskan untuk berperilaku baik agar ibu lebih menyukainya, Delio berkata bahwa dia mau memakai baju sendiri.
Vera menyetujuinya. Dia berdiri di samping dan meletakkan pakaiannya. "Kalau begitu, pakailah."
Ini bukan pertama kalinya Delio memakai baju sendiri sehingga dia memiliki sedikit pengalaman. Dia tahu apa yang harus dipakai terlebih dahulu dan apa yang harus dipakai kemudian.
Dia mengambil celana dalam, memegangnya dengan dua tangan sambil melihatnya dengan serius untuk sejenak, baru kemudian memasukkan kakinya ke dalam lubang.
Vera menahan tawa tanpa memberi tahu Delio saat melihat anak itu mengenakan celana dalamnya terbalik.
Delio mengenakan celana dalamnya dengan percaya diri, lalu berdiri untuk menariknya ke atas. Setelah menarik celana dalam ke atas, dia baru merasa aneh.
Pria kecil itu menunduk dan merasa heran saat melihat potongan kain besar di antara kedua kakinya. Dia mengulurkan tangan ke belakang dan akhirnya sadar.
Dia mengangkat kepalanya untuk melirik ibunya. Vera memalingkan wajah dan pura-pura tidak melihat rasa malu Delio. Delio menghela napas lega, kemudian melepas celana dalam secepat mungkin dan memutarnya. Kali ini akhirnya benar.
Memakai baju sungguh tidak mudah, ya!
Delio menepuk satu-satunya kain yang melekat di tubuhnya, seolah-olah dia melakukan hal besar.
"Ibu!"
“Hm?” Vera menoleh, lalu berseru seakan dia baru melihatnya. "Delio memakainya sendiri? Kamu luar biasa!"
"Hehe."
Si kecil sangat senang saat dipuji. Dia mengambil pakaian yang ada di samping, kemudian memakainya lagi.
Pakaian yang Vera pilih adalah kaos putih lengan pendek dan celana selutut berwarna hijau tentara. Pakaian itu telah dicuci hingga bersih. Wanginya masih menempel.
Delio melihat kaos di depannya bolak-balik. Setelah melihatnya untuk waktu yang lama, dia masih tidak tahu bagaimana memakainya. Dia berpikir dengan bibir cemberut, menemukan sebuah lubang dan hendak memasukkan tangannya.
"Sudah, biarkan Ibu membantumu untuk sisanya."
Melihat si kecil memasukkan tangannya ke kerah, Vera segera menghentikannya.
"Ibu akan membantumu memakai pakaian luar."
Delio sedikit enggan. "Ibu, aku bisa memakainya."
"Ibu tahu Delio bisa memakainya, tetapi Delio masih kecil. Ada beberapa hal yang lebih baik dibantu oleh orang lain," ujar Vera sambil melepas pakaian dari tangan si kecil, lalu memakaikannya ke kepala Delio.
"Ayo, keluarkan tanganmu dari sini."
__ADS_1
"Oh."
Pria kecil itu memiringkan kepalanya untuk melihat lubang lengan baju, lalu memasukkan tangannya.
Setelah memakaikan pakaian dan sepatu pada Delio, Vera merapikannya lagi. Si kecil memiliki gen yang baik. Hanya mengganti pakaian, dia berubah dari anak kecil yang malang menjadi pria kecil yang tampan.
"Beres! Delio tampan sekali!"
Delio sudah terpikat oleh aroma makanan sejak tadi. Setelah Vera bilang "beres", dia dengan tidak sabar turun dari kasur.
Dia berlari ke depan wastafel kamar mandi dan berteriak kepada Vera. "Ibu, ayo gosok gigi!"
"Ya, ya."
Anak itu baru berusia empat tahun, tingginya hanya satu meter. Tidak lebih tinggi dari wastafel.
Vera mengambil bangku kecil untuk Delio injak. Setelah itu, dia memencet pasta gigi dan menyerahkan sikat gigi kepadanya.
Sikat gigi untuk anak-anak terdapat katak kecil di pegangan. Delio belum pernah melihatnya, jadi dia sangat penasaran.
Setelah bermain sebentar, dia masih ingat apa yang harus dia lakukan. Dia meniru apa yang dia lihat sebelumnya, memasukkan sikat gigi ke dalam mulut.
Rasa pasta gigi anak-anak berbeda dengan pasta gigi orang dewasa. Ada rasa buah. Begitu memasukkan sikat gigi ke dalam mulut, mata Delio melebar. Dia menggigit dan mengunyah sikat gigi.
“Ini bukan untuk dimakan.” Vera merasa tidak berdaya. Dia memegang tangan si kecil dan mengeluarkan sikat gigi, kemudian menyerahkan cangkir untuk Delio berkumur.
"Kumur dua kali lalu muntahkan airnya. Jangan diminum."
Sambil melihat si kecil berkumur, Vera memencet pasta gigi lagi. Tetapi kali ini dia tidak membiarkan Delio menggosoknya sendiri. "Buka mulut dan tunjukkan gigimu, seperti ini."
Dia memberikan contoh, dan Delio melakukan apa yang dia katakan. Memperlihatkan gigi.
Vera membantu Delio menggosok sambil memberitahunya cara menggosok gigi. Dia menggosok giginya luar dan dalam, lalu terakhir menyuruhnya untuk berkumur.
Delio memuntahkan air di dalam mulutnya. Vera membasahkan handuk untuk menyeka wajahnya.
Si kecil sangat penasaran dengan rasa setelah menggosok gigi. Dia masih membuka mulutnya saat mukanya dilap.
"Ibu." Dia mengikuti Vera ke ruang tamu, menunjuk mulutnya sambil berkata, "Dingin."
“Itu karena ulat kecil di dalam mulut sudah pergi.” Vera menggendongnya ke kursi. “Kalau ada banyak ulat, Delio akan merasa sakit, gigi Delio juga akan menjadi hitam dan jelek. Jadi lain kali Delio harus menggosok gigi pagi dan malam, paham?"
Pria kecil itu sedikit ketakutan. Dia menutup mulutnya sambil melebarkan mata. "Ibu, aku tidak mau ada ulat."
__ADS_1
"Tidak akan ada ulat kalau Delio gosok gigi secara teratur." Vera memberinya semangkuk bubur. "Oke, saatnya makan."
Sarapan mereka adalah bubur dan bakpao daging jamur, yang baru dibeli tadi pagi.
Bubur direbus hingga kental dan harum. Tepung bakpao ditambahkan dengan jus sayuran sehingga warnanya sangat indah. Jamur dan daging cincang digoreng dan berminyak saat dikunyah. Berbagai aroma memenuhi mulut mereka.
Untuk menyesuaikan porsi makan Delio, Vera membeli bakpao berukuran kecil yang bisa dihabiskan dalam dua gigitan.
Si kecil sangat menyukai rasa bakpao. Dia sudah makan dua dan masih merasa kurang. Vera tidak memberikannya lagi mengingat ukuran perut Delio. Si kecil juga patuh, tidak ribut.
Dia melompat ke lantai, menepuk-nepuk perutnya sambil bersandar pada Vera, menatap makanan yang tersisa di atas meja sembari menelan air liur.
"Ibu, bakpaonya enak."
“Tentu saja.” Vera tidak merendah. Dia sangat percaya diri dengan keahliannya.
Delio merasa bakpao ini menggeser posisi mi sebagai makanan terenak di dunia. Dia bersandar pada Vera dan bertanya dengan penuh harap. "Apakah kita akan makan bakpao lagi nanti siang?"
"Tidak, kita makan yang lain." Vera menghabiskan makanan yang tersisa di mangkuk, kemudian mulai membersihkan peralatan makan.
Pria kecil itu mengikutinya dari ruang tamu ke dapur. Vera mencuci piring ketika dia bertanya, "Kenapa?"
“Karena bakpao untuk sarapan, kita harus makan yang lain untuk makan siang.” Vera melap mangkuk lalu mencuci tangannya sebelum berbalik dan mencubit wajah si kecil. “Selain itu, kita belum tentu akan makan di rumah nanti siang. Kita akan pergi membeli pakaian untukmu."
"Beli untukku?"
"Ya, membeli banyak pakaian bagus untuk Delio."
Anak-anak belum tentu menyukai baju, tetapi mereka pasti suka jalan-jalan. Delio tidak pemilih. Dia suka dua-duanya.
Mendengar itu, dia melompat dengan gembira. "Hidup Ibu!"
Ketika si kecil melompat-lompat, Vera pergi merias wajah.
Pemilik tubuh sebelumnya memperlakukan anaknya dengan buruk, tetapi memperlakukan diri sendiri dengan baik. Dia tahu bahwa wajahnya adalah modal sehingga dia merawat diri. Dia yang berusia 24 tahun terlihat seperti berusia 19 tahun. Anaknya seperti adiknya.
Tempat tinggal mereka tidak bagus, tetapi lokasinya strategis. Pintu masuk kereta bawah tanah ada tepat di luar. Kawasan bisnis berjarak dua halte.
Vera sudah mencari tahu sebelum pergi, jadi dia merasa yakin. Dia membawa Delio ke mal yang baru dibangun. Lantai tiga di sini adalah area pakaian anak-anak. Karena baru saja dibuka, ada banyak toko yang mengadakan diskon.
Si kecil jarang keluar sehingga dia sangat bersemangat sepanjang jalan. Dia memegang tangan Vera sambil melihat sekeliling.
Tidak jauh dari sana, seseorang melihat wajah Delio, lalu menoleh dan bertanya kepada orang di sebelahnya. "Joshua, lihat. Apakah anak itu mirip denganmu waktu kecil?"
__ADS_1