Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 7


__ADS_3

Pindah rumah bukan hal yang mudah.


Pertama harus melihat rumah. Vera memiliki beberapa pilihan, tetapi dia harus pergi melihat detailnya.


Membawa Delio bersamanya tidaklah leluasa. Meninggalkannya sendiri di rumah juga Vera merasa tidak tenang. Dia sudah berjanji kepada Delio bahwa dia hanya keluar dua jam setiap harinya. Setelah itu, dia akan pulang untuk menemaninya.


Tanpa dididik, anak kecil tidak mengerti apa-apa. Vera menggunakan waktu yang tersisa untuk mengajarinya beberapa hal.


Bukan tentang makna kehidupan yang rumit, melainkan beberapa pengetahuan dasar dalam kehidupan. Misalnya, cara menyapa orang, harus mencari siapa jika tersesat di luar, apa yang harus dilakukan bila rumah kebakaran, dan lain-lain.


Delio sangat cerdas. Dia mengerti setelah dijelaskan satu dua kali. Vera menyadari bahwa anak itu sangat sensitif terhadap angka. Delio bisa mengingat nomor telepon yang terdiri dari sebelas digit setelah diberitahu sekali. Tahu jam berapa dengan melihat skala pada jam sebanyak beberapa kali.


Haruskah dia mengatakan bahwa Delio benar-benar anak tokoh utama pria?


Setelah memandikan Delio pada malam hari, Vera memberitahunya sebuah hal. "Lusa kita akan pindah rumah."


Setelah melihat selama beberapa hari, dia akhirnya menetapkan lokasi rumah baru.


Rumah yang dia pilih adalah rumah baru yang telah direnovasi. Sepasang orang tua menyiapkannya untuk pernikahan anak mereka. Alhasil, pasangan itu bertengkar sehari sebelum membuat surat nikah. Putra mereka pergi ke luar kota karena marah, dan tidak akan pulang dalam waktu dekat.


Rumah baru tak berpenghuni juga sayang. Jadi, kedua suami istri itu memutuskan untuk menyewakannya.


Area dan penghijauannya bagus karena baru dibangun. Ada taman kanak-kanak hingga sekolah menengah di sekitar sana. Vera sudah mencari tahu. Semuanya adalah sekolah bagus. Jika lancar, Delio bisa terus bersekolah di sana. Setelah punya uang, dia bisa membeli rumah di sana.


Karena rumahnya bagus, biaya sewanya tentu tidak murah. Rumah seluas 80 meter persegi berharga 10 juta per bulan. Setelah membayar untuk dua bulan, 20 juta habis begitu saja.


Vera bergerak cepat saat menandatangani kontrak dan membayar uang sewa. Setelah melihat saldo ATM, dia mulai saki hati. Tetapi, itu hanya sebentar. Rumah sudah pasti harus pindah, jadi cepat atau lambat uang itu akan dipakai. Lagi pula, uang bisa dicari lagi.


Delio sudah sangat dekat dengan ibunya sekarang. Ingin rasanya dia bersama ibunya setiap hari. Namun, ibu harus pergi melihat rumah setiap hari dan meninggalkannya di rumah. Delio tidak suka sendirian.


Antusiasme Delio terhadap pindah rumah lebih kecil ketimbang Vera. Dia tidak begitu peduli. Dibandingkan dengan pindah rumah, Delio lebih tertarik dengan jadwal Vera besok.


"Hebat sekali," jawab Delio seadanya, kemudian menanyakan hal yang paling dia pikirkan. "Kalau begitu, apakah Ibu akan menemani Delio di rumah besok?"


"Belum bisa, lho."

__ADS_1


Mendengar jawaban tersebut, ekspresi kecewa menghiasi wajah bocah itu.


"Baiklah." Dia mendesah layaknya orang dewasa. "Kalian para orang dewasa sangat sibuk. Aku tahu."


"Bukan aku, tetapi kita." Vera menggendong Delio ke kasur sebelum menyalakan AC. "Rumah baru masih kurang beberapa barang, Kita akan membelinya besok."


Vera mendeskripsikan rumah baru kepada Delio sambil menggambar di kertas.


Vera pernah belajar melukis semasa sekolah. Keterampilan melukisnya kurang bagus, tetapi cukup untuk menipu anak kecil.


Benar saja. Delio tertarik oleh lukisannya. Anak itu telungkup di kasur, mencondongkan kepalanya ke dekat tangan Vera sambil memuji.


"Ibu, Ibu hebat sekali!"


"Ini bukan apa-apa." Vera mengulas senyum ketika menerima pujian putranya. Dia mendaratkan coretan terakhir, kemudian mendorong kertas ke depan Delio.


"Rumah baru seperti ini. Lebih bagus dari yang Ibu gambar. Apakah Delio menyukainya?"


"Suka!" seru Delio tanpa ragu.


Sekarang, melalui tangan Vera, lingkungan baru yang kosong dan asing itu sudah tersingkap sebagian di depannya. Gambar dalam kertas itu memberitahunya bahwa rumah baru tidak menakutkan, justru sangat indah.


Lebih bagus dari rumah yang sekarang.


Bocah ini seketika bersemangat. Dia telungkup di kasur sambil menyentuh sudut-sudut rumah dengan jemarinya, seolah ingin merasakannya melalui gambar ini.


"Ibu." Dia mengambil kertas itu, melompat ke sisi Vera dan bersandar padanya, kemudian menunjuk salah satu kamar. "Apakah Delio dan Ibu akan tinggal di sini?"


"Ya, kita akan tinggal di sini." Vera menunjuk berbagai ruangan sambil memperkenalkan, "Ini ruang tamu, ini dapur, ini ruang belajar. Ibu akan memajang banyak buku. Delio bisa membaca buku di sini."


Vera melihat bocah di bawahnya, lalu menambahkan, "Bisa mengerjakan PR di sini juga."


Bocah itu langsung menimpali, "Delio suka menulis PR."


Selama ini, Vera akan memberikan PR ketika mengajarkan Delio sesuatu. Sebenarnya, lebih seperti permainan ketimbang PR. Setelah Delio menyelesaikannya, dia akan diberi hadiah. Anak tersebut sangat menyukai kegiatan seperti itu.

__ADS_1


Selama ini Delio makan dengan baik, nutrisinya terjaga sehingga pipinya pun mulai tembam. Saat berbicara, bibirnya mengerucut. Kedua pipinya yang berisi membuat orang ingin mencubitnya.


Vera pun tidak menahan keinginannya. Jika ingin, maka dia akan mencubitnya. Dia bahkan dengan jahatnya menjebak Delio. "Benarkah? Delio hebat sekali! Tapi, bagaimana kalau kamu tidak mau menulis PR lain kali?"


Bocah itu tertegun karena kurang paham mengapa Vera bertanya demikian. Dia mengerjapkan mata. Bulu matanya yang panjang mengipas seperti kuas, tenang dan indah seperti bukan orang sungguhan.


"Tidak mungkin! Delio suka menulis PR."


Suara Delio menarik Vera dari bayangannya. Dia sadar kemudian melihat putranya berdiri tegak sambil berkata kepadanya. "Kalau Delio tidak suka menulis PR, Ibu boleh memukul pantatku."


Pemilik tubuh sebelumnya hanya mengabaikan Delio. Dia tidak pernah memukulnya lagi setelah malam itu.


Delio tidak tahu bagaimana rasanya pantat dipukul, tetapi bocah di lantai bawah sering dipukul pantat dan menangis dengan kencang untuk waktu yang lama.


Tangisannya begitu kencang, jadi rasanya pasti sakit sekali. Pukul pantat selalu menjadi hukuman paling mengerikan bagi anak kecil.


"Kalau begitu, janji, ya." Karena putranya sudah berkata demikian, Vera pun setuju. Dia merobek selembar kertas lagi, kemudian menulis sesuatu dengan pensil tadi.


Bocah itu mengira sang ibu akan menggambar lagi. Begitu mendekat, dia menemukan huruf yang tidak dia paham.


Dia merasa penasaran. "Ibu, apa ini?"


"Ini surat perjanjian. Agar kamu tidak lupa." Setelah itu, Vera membubuhkan tanda tangannya di kanan bawah, lalu memasukkan pensil ke dalam genggaman Delio, menggenggam tangannya untuk menulis nama bocah itu.


Tangan anak kecil lembut sehingga Vera pun tidak bisa mengendalikan tenaganya. Tulisannya miring.


Ini adalah pertama kalinya Delio melakukan kegiatan semacam ini. Dia sangat penasaran. "Ibu, apakah aku sedang menggambar juga?"


"Ini bukan menggambar, tapi tanda tangan. Beberapa huruf ini adalah nama Delio. Tanda tangan berarti sudah konfirmasi."


Vera bahkan membacakan isi surat perjanjian itu. Secara garis besar berisi Delio jamin akan selalu suka menulis PR. Jika dia berubah pikiran, maka dia akan menerima huuman.


Delio baru berusia 4 tahun sehingga ada banyak kalimat dalam surat tersebut yang dia tidak mengerti.


Dia hanya peduli dengan namanya. Dia terus menatapnya, kemudian memuji diri sendiri dengan narsis.

__ADS_1


"Ibu, namaku juga sangat bagus, ya!"


__ADS_2