Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 16


__ADS_3

Mendengar suara tangisan, hati Vera menegang. Semua spekulasi sebelumnya muncul kembali di benaknya. Semakin dia memikirkannya, semakin dia panik.


"Ada apa, sayang? Apakah ada yang mengganggumu?" Vera berkata sambil mengeringkan tangannya, mengambil kunci dan hendak pergi.


Dia sudah memutuskan untuk membawa Delio pulang jika bocah itu benar-benar diganggu. Paling-paling memindahkannya ke taman kanak-kanak lain.


Si kecil menangis beberapa saat sebelum berkata sesegukan. "Aku ... aku sangat merindukan Ibu!"


Kemudian, dia menangis lebih keras.


Tiba-tiba berada di lingkungan asing, Delio merasa sedikit takut. Setelah bertemu banyak anak seusianya dan bermain bersama, dia merasa bahwa taman kanak-kanak tidak buruk. Tetapi ketika dia memakan makanan yang kurang enak di jam makan siang, dia merasa sedih lagi.


Kenapa Ibu mengantarnya ke tempat ini dan tidak datang melihatnya? Ibu pasti sudah tidak menyukainya!


Semakin berpikir, si kecil semakin sedih. Dia mengetuk arlojinya ke atas meja saat makan, lalu mengingat bahwa ibu bilang dia bisa menggunakan benda ini untuk menghubunginya. Jadi, Delio mencobanya.


Ternyata dia benar-benar bisa mendengar suara Ibu.


Delio ingin mengeluhkan banyak hal. Setelah menangis, dia mulai bercerocos.


Dia bertanya apakah Ibu sudah tidak menyukainya. Mengatakan bahwa makanan taman kanak-kanak tidak selezat masakan Vera, dan betapa dia merindukannya. Kemudian, dia mengganti topik dan mulai bercerita tentang berapa banyak teman yang dia kenal, dan guru mengajari mereka sebuah lagu.


.


"Ibu, aku nyanyikan untuk Ibu."


"Oke." Vera merasa lega hal-hal yang dia bayangkan tidak terjadi. Dia melepaskan kenop pintu, kembali ke sofa dan duduk bersila, lalu berkata sambil tersenyum, "Ibu belum pernah mendengar Delio bernyanyi."


Delio langsung bernyanyi, "Bintang kecil di langit yang biru. Amat banyak menghias angkasa. Aku ingin terbang dan menari ... menari ...."


Guru TK mengajarkan lagu anak-anak untuk membujuk mereka, jadi hanya mengajarkan dua kali. Delio mengingat beberapa bagian dan melupakan lanjutannya. Setelah bernyanyi beberapa baris, dia tergagap, kemudian mengerucutkan bibirnya dan menangis. "Ibu ... aku tidak tahu lagi."


Nada Delio terdengar sedih, tetapi Vera ingin tertawa saat mendengarnya. Dia berdeham sebelum menghibur. "Tidak apa-apa, Delio sudah sangat hebat bisa mengingat begitu banyak. Ibu saja tidak ingat."


Pujian orang tua bisa membangun kepercayaan diri anak-anak. Delio langsung terdiam begitu mendengarnya. Dia mengangkat wajahnya. "Ibu, aku pasti sudah bisa nanti malam."


"Oke. Kalau begitu, Delio nyanyi untuk Ibu nanti malam."


Mereka berdua mengobrol sebentar. Setelah yakin bahwa Ibu akan menjemputnya nanti malam hari, Delio dengan patuh pergi tidur dengan gurunya.


Menutup telepon, Vera menghela napas, lalu menggelengkan kepalanya sambil tertawa, kemudian bangkit dan lanjut bekerja.


Delio pulang sekolah jam 5. Vera pergi setengah jam lebih awal. Ketika dia tiba di sana, banyak orang tua sudah berkumpul di luar. Para orang tua mengantar anak-anak mereka ke sekolah untuk hari pertama, maka tidak dapat dihindari mereka akan khawatir.


Vera menatap waktu sambil mengobrol dengan orang. Orang yang mengobrol dengannya adalah ibu dari anak yang tantrum tadi pagi.


"Kamu tidak tahu, anakku itu berisik. Aku dan ayahnya sudah lama ingin menyekolahkannya. Dengan begitu, aku bisa mencari pekerjaan." Wanita muda itu berbicara seolah kesal, tetapi matanya terus melirik ke dalam taman kanak-kanak. Dia jelas mengkhawatirkan anaknya juga.


Dia melirik lagi, lalu menoleh dan bertanya kepada Vera. "Aku lihat kamu bawa anak sendirian tadi pagi. Ke mana suamimu?"


"Dia tidak ada." Sama sekali tidak ada sosok suami.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu hebat." Wanita muda itu mengira suami Vera sedang dinas. "Aku menjaga seorang anak bersama suami dan mertuaku saja merasa lelah. Apalagi kamu yang suaminya sedang tidak ada. Pasti capek sekali."


Dia menghela napas. "Membesarkan anak membutuhkan uang dan energi. Kalau suami tidak bekerja, apa gunanya menikah?"


Wanita itu tiba-tiba mengganti topik, mengatakan bahwa untung suaminya bertanggung jawab. Vera tersenyum tanpa mengatakan apa-apa ketika mendengarkan keluhannya yang sebenarnya berkedok pamer.


Siapa pun yang menginginkan pria, ambil saja. Toh, dia tidak berencana untuk menginginkannya.


Saat mengobrol, waktu berlalu dengan cepat. Begitu jam 5, musik ceria terdengar di taman kanak-kanak. Para orang tua mendekati pintu, ingin menjadi yang pertama melihat anak-anak mereka.


Vera terdorong ke depan, dia menahan dengan tangannya sehingga tidak mendorong orang lain.


Dia bergerak ke samping, melihat ke dalam melalui celah pintu. Tak lama kemudian, dia melihat guru membawa anak-anak keluar.


Hari pertama masuk TK, anak-anak diajarkan untuk berbaris. Mereka berjalan mendekat dalam garis lurus.


Pintu terbuka, tim guru pertama keluar. Dia menyebut nama anak, lalu orang tuanya datang. Dengan cara itulah, anak-anak dibawa pergi.


Vera menunggu beberapa saat sebelum mendengar nama Delio. Dia menjawab dan melangkah maju. Orang tua di kedua sisi memberi jalan untuknya.


Delio berdiri di depan. Saat melihat Vera, dia berlari mendekat. Vera berjongkok untuk menangkap dan mencium pipinya, kemudian berdiri dan menggandeng tangannya. "Ayo kita pulang."


Memakai tas punggung kecil, Delio melompat sambil berjalan. Dia bercerita bahwa dia telah belajar cara menghitung bebek tadi sore, dan akan bernyanyi untuk Vera setelah mereka tiba di rumah.


"Oke." Vera menyentuh kepalanya, lalu bertanya berapa banyak teman yang dia dapatkan.


Delio menghitung dengan jarinya, kemudian mengulurkan empat jari. "Empat! Aku kenal Lala, Jojo, dan Nico! Kami bermain perosotan bersama!"


"Benarkah? Kalau begitu, kalian benar-benar berjodoh." Vera tersenyum.


Mungkin tak lama lagi, anak polos ini akan tahu bahwa sebagian besar teman sekelasnya berusia empat tahun.


"Hm!" Delio mengangguk kuat. Meskipun dia tidak tahu apa arti berjodoh, dia mengulangi kata-kata Vera. "Kami berjodoh!"


Setelah menceritakan tentang apa yang dia lihat dan dengar sepanjang hari, Delio bertanya kepada Vera. "Ibu, bagaimana kabarmu hari ini?"


Pria kecil itu menatapnya dengan mata berbinar, seperti sedang mengharapkan sesuatu.


Vera mengerti apa maksudnya. Dia berpura-pura berpikir, kemudian berkata, "Ibu memikirkan Delio di rumah hari ini."


"Aku juga memikirkan Ibu!” seru Delio melompat dan memeluk tangan Vera. Matanya menyipit karena tersenyum.


Tiba di rumah, Delio menyanyikan lagu anak-anak yang dia pelajari hari ini untuk Vera. Setelah dipuji, dia berlari-lari.


Setelah membuat makan malam, Vera memanggil Delio untuk makan.


Si kecil gelisah saat makan. Dia mengambil nasi yang menempel di sudut bibir dan memasukkannya ke dalam mulut sambil mengeluh bahwa makanan di sekolah tidak seenak masakan ibunya.


"Aku ingin makan masakan Ibu."


Vera juga ingin Delio makan lebih baik, tetapi taman kanak-kanak menyamakan semua makanan dan melarang makanan yang dibawa dari luar. Dia tidak bisa memberi Delio hak istimewa, hanya bisa menasihatinya.

__ADS_1


Untuk menghibur jiwa Delio yang terpukul oleh makanan, Vera bermain sebentar dengannya sehingga dia terlambat satu jam lebih untuk membuka kios.


Vera tidak tahu bahwa dia kehilangan kesempatan untuk menghasilkan uang karena terlambat satu jam.


Karena kios barbekyu tidak buka kemarin, Ollie datang lagi untuk mencoba keberuntungannya hari ini. Tetapi ketika semua orang sudah membuka toko, kios di paling ujung itu masih tertutup.


Dia sedikit kecewa, dan hampir memercayai ucapan Aditya. Dia mencari jajanan lain yang katanya enak, kemudian menghentikan taksi.


Ollie baru saja masuk ke dalam taksi ketika Vera tiba dengan sepeda roda tiganya. Dia membuka tirai kanopi, mengeluarkan papan lampu, dan memindahkan bahan-bahan dari sepeda ke brankas yang ada di dalam.


"Pilih sendiri ingin makan apa."


Karena Vera tidak datang kemarin, bisnis Aditya membaik. Dia cukup senang dan berpikir bahwa jangan-jangan dia benar.


Aditya berspekulasi jahat. Dia berharap kedai sebelah sudah tutup. Lebih bagus lagi kalau tutup selamanya.


Setelah membereskan stannya, dia menatap luar. Langit semakin gelap, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa penjual barbekyu sebelah akan datang. Dia merasa sangat senang. Sudut bibirnya terangkat ketika dia merokok.


Seorang tamu masuk, Wati menggoreng nasi lalu membawa ke sana. Ketika berbalik, dia melihat suaminya berkeliaran di luar tanpa melakukan apa-apa. "Apa yang kamu lakukan di sini?"


Dia agak gusar, lantas berjalan mendekat dan menampar Aditya. "Kenapa tidak menjamu tamu?!"


Aditya mengerutkan bibirnya. "Apakah toko ini sudah tutup?"


"Sepertinya tidak mungkin." Wati tidak terlalu percaya. "Bisnisnya begitu bagus. Sayang sekali kalau ditutup."


"Mungkin dia mencampurkan sesuatu? Baguslah kalau sudah tutup." Aditya mendengus. Melihat beberapa orang datang, dia membuang puntung rokok dan menginjaknya, kemudian hendak menjamu, tetapi mereka berjalan melewatinya.


"Kedai ini sudah tutup," tukas Aditya, berpikir bahwa orang-orang itu akan datang ke tempatnya. Alhasil, dia melihat Vera mengendarai sepeda roda tiga ke sini.


Kenyataan tidak sesuai harapan, mata Aditya melebar. Melihat beberapa tamu itu tidak mungkin datang ke tempatnya, dia mengumpat, meludah sambil memelototi Vera, lalu menoleh dan berteriak kepada Wati. "Untuk apa kamu masih di sini?"


Di sisi lain, Ollie tiba di restoran lain. Setelah Ollie memesan mi kering panas, temannya menelepon.


"Bukankah kamu bilang ingin membuat konten tentang barbekyu itu? Bagaimana? Sudah buat belum? Kalau belum, kita pergi ke sana hari ini." Teman Ollie tidak bisa melupakan barbekyu Vera setelah memakannya. Mumpung ada waktu hari ini, dia hendak mengajak Ollie untuk makan lagi.


Bagaimanapun, makan barbekyu harus melihat suasana. Semakin banyak orang semakin baik.


Ollie mengaduk mi sambil menjawab, "Aku sudah pergi, tetapi tidak membuat konten."


"Ada apa?" tanya temannya heran.


Ollie menghela napas. "Aku sudah pergi dua hari berturut-turut, tetapi kedai itu tutup. Orang lain bilang, kedainya tidak dibuka lagi."


Dia mendecakkan lidahnya lalu bertanya kepada temannya, "Apakah barbekyu itu benar-benar seenak yang kamu katakan?"


"Tentu saja enak! Untuk apa aku membohongimu?" Temannya tidak terima seleranya dipertanyakan. Dia bertanya bingung setelah berseru. "Apakah kedai itu benar-benar sudah ditutup?"


"Ya, aku baru dari sana, sekarang di Jalan Cincin Timur. Kamu mau ke sini?" Ollie makan sesuap mi dan merasa rasanya enak. "Mi kering panas di sini cukup enak."


"Tidak, aku akan pergi melihatnya." Teman Ollie sudah mengidamkan barbekyu Vera selama beberapa hari. Dia tidak terima bahwa makanan enak yang baru dia makan sekali, tak dijual lagi.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke sana. Siapa tahu ganti kedai baru."


__ADS_2