
Kemarahan Vera langsung sirna. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya dia menjadi seorang ibu dan tidak ada yang mengajarinya. Vera memiliki kekurangan dalam banyak hal. Contohnya, situasi saat ini.
Awalnya, dia pernah berpikir apakah Delio akan takut di rumah sendirian. Karena dia jarang mendengar keluhan dari anak itu, dan juga terlalu sibuk. Biasanya ketika dia pulang larut malam, Delio sudah tidur. Perlahan, Vera mengabaikan hal ini.
"Maaf, Ibu salah." Dia minta maaf dan memeluk balik pria kecil itu. "Lain kali telepon Ibu kalau Delio merasa takut."
"Tapi Ibu sibuk." Delio hanya mengikuti Vera ke kios sekali, dan melihat ibunya bekerja selama beberapa jam. Meskipun masih kecil, dia tahu bahwa dia tidak boleh mengganggunya di saat seperti itu.
"Kalau kamu telepon, maka Ibu tidak sibuk. Yang penting kamu berjanji, lain kali tidak boleh membaca buku di kasur, mengerti?"
Delio mengangguk.
Vera menepuk bahunya lalu menyuruh si kecil untuk berbaring di kasur. "Ibu akan menceritakan kisah ini. Tidur setelah mendengarkannya, oke?"
Delio berbaring di kasur dan menatap Vera dengan mata berbinar. "Ibu tidak pergi?"
"Hari ini tidak pergi." Vera mengulurkan satu tangan untuk menutup mata Delio. "Sudah, pejamkan matamu dan dengarkan."
"Hehe ... oke." Delio merasa hal ini sangat menarik. Dia menggenggam jari kelingking Vera dan berkedip. Bulu matanya yang panjang menyapu telapak tangan Vera. Rasanya geli.
"Aku sudah memejamkan mata, Ibu."
"Hm." Vera tidak menarik tangannya kembali. Dia duduk di pinggir kasur, membalikkan halaman lalu membaca ceritanya.
Suaranya yang pelan dan berirama terdengar menghipnotis. Setelah beberapa menit, Delio melepaskan jari kelingkingnya. Vera menunggu beberapa saat untuk memastikan bahwa dia tertidur, kemudian menarik tangannya kembali, dan membawa pakaian ke kamar mandi.
Berkat siaran langsung Ollie, bisnis Vera selama ini sangat ramai. Setiap hari antriannya panjang.
Dua orang saja kurang, jadi Vera mempekerjakan dua orang lagi dan menambahkan beberapa meja dan kursi untuk para pelanggan.
Karena pelanggan banyak, konsumsi bahan juga bertambah. Vera menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyiapkan bahan setiap hari. Dia hampir kehabisan tenaga untuk berbicara setelah sibuk seharian.
Namun, usaha selalu membuahkan hasil. Penghasilan hariannya bertambah beberapa kali lipat karena para pelanggan.
Janjinya dengan Delio juga ditepati. Tidak peduli seberapa sibuknya dia, Vera akan meluangkan waktu untuk menelepon Delio. Ketika dia bertelepon, tugas memanggang diserahkan kepada Mutia.
Setelah melihat begitu lama, Mutia sudah mengetahui beberapa hal penting. Vera memberi instruksi dari samping. Awalnya, dia agak berantakan ketika mengambil alih pekerjaan ini. Tetapi perlahan dia menjadi lebih baik, gerakannya juga rapi.
Berdasarkan umpan balik dari para tamu, keahlian koki baru ini juga patut diakui.
Karena Mutia bisa melakukannya, Vera sengaja memperpanjang waktunya untuk mengambil alih.
Selama ini berinteraksi, Vera jadi tahu sedikit tentang keluarga Mutia. Dia baru berusia 40 tahun. Suaminya sakit, ibu mertuanya lumpuh, dan anaknya duduk di bangku SMA. Dia harus menghidupi keluarga dan bekerja paruh waktu di dua tempat.
Vera tidak berencana untuk jualan barbekyu selamanya. Mutia orangnya baik dan cukup kasihan. Vera berencana untuk membiarkannya mencobanya terlebih dahulu. Setelah dia pensiun, dia akan memberi tahu Mutia tentang resep rahasia barbekyu. Dengan resep rahasianya, membuka toko atau mendirikan kios pasti jauh lebih mudah daripada sekarang bagi Mutia.
Vera telah menghasilkan sekitar dua ratus juta dalam hampir sebulan sejak dia mendirikan kios. Sebagian besar uang ini dihasilkan setengah bulan setelahnya.
Satu langkah lebih dekat dengan targetnya, Vera merasa semakin rileks.
Hari ini ada kegiatan orang tua-anak di taman kanak-kanak.
__ADS_1
Vera bangun lebih awal dari biasanya, membuat sarapan sebelum pergi membeli bahan untuk barbekyu. Setelah mengantar Delio ke taman kanak-kanak, dia pulang dan mulai membumbui daging.
Setelah akhirnya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini sebelum jam 11, Vera merias wajah dan berganti pakaian secepat mungkin lalu keluar tanpa sempat beristirahat.
Pada hari kegiatan orang tua-anak, taman kanak-kanak dibuka untuk umum. Untuk memastikan keselamatan anak-anak, satpam di taman kanak-kanak bertambah hari ini.
Makan siang dimakan di taman kanak-kanak. Orang tua menunggu di kantin lebih awal, guru yang membawa anak-anak dari setiap kelas ke sana.
Delio sangat bersemangat sejak dia tahu bahwa ibunya akan datang. Dia menunggu sepanjang hari dan akhirnya melihat Vera. Dia berlari ke arahnya dengan tidak sabar.
"Ibu!" teriak Delio, wajahnya merona karena bersemangat.
Vera membelai kepalanya dan tidak melihat keringat. "Panas?"
Delio menggeleng kemudian menempel pada Vera. "Aku ... aku menunggu Ibu sejak tadi."
"Kamu begitu merindukan Ibu?"
"Hm!" Delio mengangguk. "Rindu sekali!"
Kantin taman kanak-kanak tidak besar. Semua orang tua yang berpartisipasi dalam kegiatan orang tua-anak kali ini adalah orang tua dari kelas kecil. Setelah memastikan bahwa setiap anak telah menemukan orang tua masing-masing, makanan mulai dibagikan.
Taman kanak-kanak membiarkan para orang tua makan siang di sini agar mereka tenang.
SPP taman kanak-kanak tinggi, makanannya juga enak. Ada ahli gizi khusus yang bertanggung jawab atas makanan. Mereka juga memadukan warna-warna cerah agar terlihat lebih menggugah selera bagi anak-anak.
Makan siang terdiri dari tiga lauk dan satu sup, porsinya tidak banyak, pas untuk dua atau tiga orang. Vera meletakkan peralatan makan. Begitu dimakan, rasanya enak.
"Delio," panggil Vera kemudian bertanya dengan suara rendah. "Apakah makanan hari ini berbeda dengan makanan sebelumnya?"
Lalu dia menambahkan, "Semuanya tidak selezat buatan Ibu!"
Vera terkekeh dan merasa lega. Dia merasa biaya SPP-nya sepadan. Setidaknya anak-anak diperlakukan dengan baik.
Tidak seperti Vera, Delio selalu tidak puas dengan makan siang di taman kanak-kanak. Dia terus bergumam saat makan. Katanya, ini tidak enak, itu tidak enak. Intinya, hanya makanan buatan ibunya yang paling enak di dunia ini.
Vera merasa berbunga-bunga mendengar pujian Delio. Dia menasihatinya untuk tidak pilih-pilih makanan secara simbolis. Mendengar itu, Delio berpikir sejenak sebelum memakan wortel dengan ekspresi rumit.
"Aku tidak pilih-pilih makanan."
Setelah makan, anak-anak pergi tidur siang, sedangkan orang tua dibawa oleh guru untuk mengunjungi taman kanak-kanak.
Taman kanak-kanak tidak jauh berbeda dengan apa yang Vera lihat ketika dia mendaftarkan Delio. Hanya bertambah karya grafiti anak-anak di kelas.
Guru memperkenalkan anak mana yang menggambar setiap karya. Orang tua yang nama anaknya disebut menatap lukisan anak-anak mereka dengan ekspresi bangga.
Vera juga melihat salah satu dari lukisan itu. Delio yang menggambarnya. Judul lukisannya sangat sederhana; Ibu dan Aku.
Bocah itu baru mulai belajar menggambar, juga tidak bisa mengendalikan pensil. Orang dalam lukisan itu terlihat aneh, perpaduan warnanya juga menyakitkan mata.
Tetapi entah mengapa, Vera merasa lukisan itu bagus dari segi mana pun ketika melihatnya. Dia bahkan ingin membawanya pulang untuk dikoleksi. Namun, permintaannya ditolak oleh guru sehingga dia menyerah. Dia bertekad untuk menggambar bersama Delio ketika dia punya waktu luang, kemudian membingkai hasil karya mereka.
__ADS_1
Setelah orang tua mengelilingi taman kanak-kanak, anak-anak pun bangun dari tidur siang. Kedua pihak bersatu kembali, lalu tiba waktu antara orang tua-anak yang sebenarnya.
Kegiatan orang tua-anak diadakan untuk menumbuhkan keterampilan komunikasi antara anak dan orang tua, serta memperdalam hubungan mereka. Oleh karena itu, mereka harus bekerja sama dalam waktu bermain.
Ada beberapa jebakan dalam permainan bagi orang tua. Misalnya, dalam permainan tertentu, orang tua berputar sepuluh putaran di tempat, kemudian anak menginstruksikan mereka untuk memakai pola hewan tertentu dengan hidung. Beberapa orang tua mabuk setelah berputar sepuluh putaran. Terhuyung-huyung saat berjalan, bahkan terjerembab sehingga menimbulkan semburan tawa.
Sepanjang permainan sore, anak-anak merasa senang, para orang tua menjadi mengenaskan.
Rambut Vera yang disisir rapi sebelum keluar berubah menjadi kandang ayam. Pakaiannya juga ternodai debu. Dia merasa lelah dan kakinya lemas saat berjalan.
Delio bermain sepanjang sore, tetapi dia masih sangat energik. Bermain begitu banyak permainan dengan ibunya hari ini, dia merasa sangat bahagia. Setelah meninggalkan taman kanak-kanak, dia menantikan kegiatan orang tua-anak berikutnya.
Tiba di rumah, Vera mulai menyiapkan makan malam. Delio menggambar dengan krayon di ruang tamu. Setelah menggambar sebentar, dia menyimpan krayon dan kertas sebelum Vera selesai masak, kemudian mengambil rubik.
Karena Delio mengeluh tadi siang, Vera membuat makan malam yang luar biasa enak hari ini. Setelah makan malam, dia keluar seperti biasa. Namun, Delio mengajukan sebuah permintaan.
"Ibu, bolehkah aku pergi bersamamu?"
Vera sedikit ragu. Melihat tatapan Delio yang penuh harap, dia berpikir lalu menyetujuinya, "Oke, beri tahu Ibu kalau Delio mengantuk."
"Hm!"
Di pasar malam, pelanggan sudah tiba di luar kios. Mereka terkejut melihat Vera membawa seorang anak.
Vera menyahut dengan terbuka. "Ini anakku."
Di kerumunan, seorang pemuda berpenampilan elit tercengang saat melihat Delio. Yakub Bramantio mengetahui keberadaan kedai barbekyu Vera dari rekannya. Mereka bilang, pemilik kedai barbekyu ini sangat cantik, makanan yang dia buat juga sangat lezat.
Dia juga seorang pencinta makanan. Dia tidak tertarik dengan penampilan pemilik kedai, hanya ingin tahu seperti apa rasa barbekyu lezat yang legendaris itu. Karena dia tidak harus bekerja lembur hari ini, dia datang ke sini.
Dia tidak melihat makanan, tetapi justru melihat seorang anak kecil yang sangat mirip dengan bosnya!
Yakub merasa terkejut. Dia memejamkan mata sebelum membukanya lagi.
Benar, kok. Di bawah cahaya lampu malah terlihat lebih mirip dengan bos.
Dalam sekejap, berbagai jenis plot seperti istri kabur, salah masuk kamar, dan lain-lain muncul di benaknya Yakub tenggelam dalam plot di benaknya, dan hampir melupakan tujuan kedatangannya, hanya terus menatap Delio.
Anak itu mungkin merasakan tatapan Yakub, dia menoleh ke arahnya. Yakub menggigil ketika melihat ekspresi imut di wajah versi kecil bosnya.
Anak itu mirip sekali dengan bos. Yakub tidak bisa membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa itu hanya kebetulan. Dia mengeluarkan ponsel dan mencari sudut yang pas untuk mengambil foto bagian depan si kecil.
Kemudian dia membuka WhatsApp, mencari nama kontak "Bos" sebelum mengirim fotonya.
Lantai atas bangunan di Kota Camahi terang benderang.
Joshua mengusap matanya dengan lelah setelah membaca dokumen.
Ponsel di atas meja bergetar. Joshua melihatnya dengan alis bertaut. Setelah berpikir, dia mengambil ponsel dan membuka kunci layar.
Pesan itu dari salah satu asistennya. Sebuah foto dan sebuah kalimat.
__ADS_1
[Foto seorang anak.]
[Bos, apakah anak ini mirip denganmu?]