Villainess Raising Kiddo

Villainess Raising Kiddo
Bab 2


__ADS_3

Vera menghela napas.


Seingatnya, hubungan antara pemilik tubuh sebelumnya dan anak ini tidak baik. Pemilik tubuh sebelumnya sengaja mengabaikan anak ini. Anak ini masih kecil dan memiliki insting. Biasanya, dia tidak akan mencari pemilik tubuh sebelumnya.


Hanya saja, mereka berdua hidup saling bergantungan. Meskipun baru dipukul dan dimarahi, anak ini tetap melekat pada ibunya.


Vera membawa anak itu ke kamarnya sendiri sesuai dengan potongan ingatan.


Kamar itu sebenarnya lebih mirip loteng. Lima atau enam meter persegi, dengan hanya satu jendela kecil yang tidak bisa dibuka. Ada kasur kecil sekitar satu meter di dalam kamar, dan beberapa pakaian yang terlihat kurang bersih ditumpuk di kasur.


Ada bau barang busuk dan fermentasi di dalam kamar, dan sangat pengap karena tidak ada ventilasi. Vera baru saja masuk dan belum menemukan sumber baunya, tapi tubuhnya sudah mulai menolak lingkungan ini.


Potongan ingatannya kurang tepat. Vera awalnya hanya merasa rumah ini agak kecil. Setelah dia masuk, dia menyadari betapa buruknya lingkungan ini.


Bagaimana dia tega menempatkan anaknya di tempat seperti ini?


Vera memaki pemilik tubuh sebelumnya lagi dalam hati, kemudian berbalik dan keluar dari kamar.


Rumah ini kecil, satu-satunya kamar yang bisa ditinggali adalah kamar tidur utama. Vera meletakkan anak itu di tempat tidur utama, kemudian terpikir bahwa anak itu belum makan dan mandi.


Sebagai seorang anak berusia empat tahun, si kecil jelas tidak bisa masak dan mandi sendiri. Pemilik tubuh sebelumnya merasa si kecil merepotkan, dan baru memandikannya ketika dia tidak tahan dengan baunya.


Vera tidak tahu kapan terakhir kali pemilik tubuh sebelumnya memandikan putranya. Dilihat dari pakaian si kecil, seharusnya sudah lama.


Pantas saja dia mencium aroma aneh sejak tadi.


Sebagai gadis bersih, Vera tidak tahan tidur tanpa mandi. Dia membungkuk dan mendorong lengan si kecil.


"Hei, bangun."


Anak itu tidak tidur nyenyak. Dia bangun setelah didorong dua kali oleh Vera. Dia mengusap lalu membuka matanya. Setelah melihat Vera, dia beringsut mundur, mengepalkan tinjunya yang kecil, menatap Vera tanpa berbicara.


Vera menghela napas lagi dalam hati.


Dia mencondongkan tubuhnya dan berkata selembut mungkin. "Tubuhmu kotor. Ayo mandi."


Anak itu masih belum rileks.


Awalnya tidak sadar jadi masih bisa diabaikan. Tetapi sekarang setelah menyadarinya, Vera semakin tidak tahan dengan baunya. Dia mengulurkan tangan, lalu menggendong anak itu dari tempat tidur di bawah tatapan takut anak itu, kemudian berjalan ke kamar mandi di pintu seberang.


Si kecil mungkin takut dipukuli. Melihat Vera hanya menggendongnya tanpa gerakan lain, dia perlahan-lahan menjadi rileks. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Vera, kemudian mengangkat tangannya. Sebelum dia melingkarkan tangannya di leher Vera, mereka sudah tiba di kamar mandi.


Dia menurunkan tangannya lalu menyembunyikannya di belakang punggung dengan terkejut, kemudian melirik ekspresi Vera. Takut Vera marah.


Vera merasa sedikit sedih. Anak ini seharusnya bertindak seenaknya seperti anak seusianya.


Berpikir demikian, ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Vera tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk mencolek hidung lelaki kecil itu. "Angkat tanganmu, mau buka baju."


Adelio Chashida merasa ibunya sedikit berbeda. Sebelumnya, Ibu tidak akan tersenyum maupun berbicara padanya saat memandikannya. Sekadar melihatnya pun tidak sudi.

__ADS_1


Tapi dia suka ibu yang tersenyum. Ibunya sangat cantik ketika tersenyum.


Vera tidak memiliki pengalaman merawat anak-anak. Ini adalah pertama kalinya dia memandikan seorang anak sehingga kurang cekatan. Untungnya, anak ini berperilaku baik, tidak menangis atau ribut, dan menurut.


Adelio berdiri tanpa alas kaki. Vera berjongkok di sampingnya, memegang pancuran dan handuk mandi sambil menggosoknya.


Cuaca panas, anak kecil juga aktif sehingga banyak berkeringat setiap hari. Setelah beberapa hari, debu dan kotoran di tubuhnya menumpuk.


Si kecil baru berusia empat tahun sehingga kulitnya sangat lembut. Biarpun Vera mengendalikan tenaganya, setelah menggosoknya, tubuh Adelio memerah seperti udang rebus.


Adelio menunduk dengan penasaran. Karena Vera bersikap baik, dia menjadi sedikit berani. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuh bagian merah di perutnya.


"Ibu."


Vera tertegun sejenak sebelum menyadari bahwa Adelio memanggilnya. "Hm, kenapa?"


Si kecil menunjuk perutnya. "Aku merah."


“Ya, kamu merah.” Vera menarik satu lengannya sembari berkata asal, “Sudah hampir matang.”


"Apa itu matang?"


Si kecil baru berusia empat tahun. Dia selalu diabaikan sehingga dia tidak tahu banyak. Vera menurunkan lengannya setelah menyekanya, lalu menjelaskan kepadanya. "Matang berarti sudah boleh dimakan. Kalau mentah tidak boleh dimakan."


Dia menyentuh perut si kecil. "Kalau makan, perut bisa sakit."


"Kalau begitu, aku sudah matang berarti aku boleh dimakan, ya?” Adelio penasaran. "Ibu, apakah aku enak?"


Vera merasa gemas, lalu mencondongkan tubuh untuk menggigit wajah Adelio, lalu berkomentar, "Cukup enak."


Si kecil sangat senang. Begitu Vera mundur, dia dicium oleh Adelio. Bibir lembut anak itu mengecup wajahnya, membuat hatinya melunak.


"Ibu juga enak."


"Ya, kita sama-sama enak." Vera menepuknya. "Berbalik. Aku sikat punggungmu.”


Dada dan punggung si kecil sama. Vera menggosok hampir setiap inci. Setelah menggosok, dia menyentuhnya dan merasa sudah bersih, baru kemudian menggosok bagian lain.


Vera dalam posisi berjongkok, sehingga kakinya merasa pegal setelah sekian lama. Dia berdiri untuk istirahat sebentar. Ketika dia berjongkok lagi, dia melihat bagian gelap di pinggang lelaki kecil itu.


Dia pikir itu kotoran. Setelah mendekat, dia baru menyadari itu adalah tanda lahir. Tanda lahir itu berbentuk kupu-kupu, sangat teratur seperti dibuat.


Vera merasa pernah melihat tanda lahir ini di suatu tempat. Tetapi setelah memikirkannya, dia tidak ingat. Dia merasa mungkin terpengaruh oleh pemilik tubuh sebelumnya, lantas dia mengabaikannya.


Setelah memandikan si kecil, Vera mengeringkan tubuhnya sebelum membawanya keluar dari kamar mandi dalam balutan handuk.


Anak itu tidak memiliki pakaian bersih, Vera juga tidak ingin memakaikan pakaian kotor tadi padanya, jadi dia membiarkannya telanjang.


Dia meletakkan anak itu di tempat tidur, mengeringkan rambutnya hingga setengah kering, lalu menyentuh wajah kecilnya sambil berkata, "Delio diam di kasur. Ibu akan memasak makan malam untukmu."

__ADS_1


Mata lelaki kecil itu berbinar. "Apakah Delio itu aku?"


Pemilik tubuh sebelumnya tidak memberikan nama panggilan kepada si kecil. Dia juga jarang memanggil nama Adelio dalam kehidupan sehari-hari dan selalu menggunakan "kamu".


Vera tentu tidak akan meniru pemilik tubuh sebelumnya. Namun, dia merasa memanggil nama lengkap terlalu asing. Jadi, dia menyingkat nama Adelio menjadi Delio untuk nama panggilannya.


"Ya, Delio itu kamu," jawab Vera.


Melihat lelaki kecil yang tampak bersemangat itu, Vera teringat akan keponakannya. Mereka jelas seumuran. Keponakannya bertindak seenaknya di rumah, sedangkan lelaki kecil ini merasa senang hanya karena sebuah nama panggilan.


Adelio merasa senang hingga wajahnya memerah. Dia mengulang-ngulang nama itu.


Dia berjalan ke sisi Vera dan tampak ragu sebelum mendekat. Melihat Vera tidak mendorongnya, dia dengan berani mengulurkan tangan dan memeluk pinggang Vera.


"Ibu." Dia berkata, "Aku Delio."


"Hm, kamu Delio." Vera membelai rambutnya kemudian menepuk tangan kecilnya. "Sudah, Ibu harus memasak. Delio sudah lapar, 'kan?"


Suara keroncongan perut si kecil yang meresponsnya.


Vera terkekeh.


Si kecil merasa malu. Dia melepaskan ibunya, berbaring di kasur dengan wajah memerah, lalu menutup dirinya dengan handuk mandi. Seperti kura-kura yang bersembunyi di dalam cangkang.


"Jangan tutup kepala, kamu tidak bisa bernapas." Vera menarik handuk mandi, kemudian berjalan ke luar di bawah tatapan lelaki kecil itu.


Pemilik tubuh sebelumnya bukan orang yang memperhatikan kehidupan. Dia tidak suka memasak, makanan di rumah juga sedikit.


Vera mencari-cari di lemari es, hanya menemukan mi dan beberapa butir telur. Tidak ada sayuran maupun daging.


Bahannya terlalu sederhana sehingga Vera tidak bisa membuat apa pun. Dia menggoreng dua telur rebus, lalu merebus sepanci air untuk memasak mi.


Sambil menunggu air mendidih, Vera mengingat kembali ingatan pemilik tubuh sebelumnya.


Potongan memori yang dia lihat sebelumnya adalah masa lalu. Kali ini Vera menemukan kondisi kehidupan saat ini.


Pemilik tubuh sebelumnya mendapat sekitar satu miliar setelah menemani Tuan Chashida satu malam. Dalam beberapa tahun terakhir, dia mengandung dan menganggur sehingga uangnya sudah hampir habis. Saldo dalam kartu ATM-nya sisa enam puluh hingga delapan puluh juta. Kata sandi kartu ATM-nya adalah tanggal dia melewati satu malam dengan Tuan Chashida.


Tampaknya dia masih belum menyerah.


Tidak ada bagian itu dalam ingatannya sehingga Vera tidak tahu setampan apa Tuan Chashida hingga pemilik tubuh sebelumnya tidak bisa melupakannya.


Setelah air mendidih, Vera memasukkan mi ke dalam panci sambil memikirkan banyak hal.


Pemilik tubuh sebelumnya cantik, putranya juga tampan. Tetapi mereka berdua tidak mirip. Delio seharusnya mirip ayahnya yang tidak diketahui namanya.


Entah semirip apa mereka. Mungkinkah ayah Delio juga memiliki tanda lahir?


Vera berpikir dan berpikir, kemudian gerakan tangannya spontan berhenti.

__ADS_1


Vera, Adelio, tanda lahir berbentuk kupu-kupu ....


Kenapa semua ini begitu mirip dengan isi novel yang dia baca sebelumnya?!


__ADS_2