WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
1. Bintang Sunyi


__ADS_3


#BS


Aku Rika, 22 tahun. Gadis sederhana, buruh harian pabrik di satu daerah.


Aku berjalan riang ke kantor perusahaan. Memang agak sedikit terlambat datang ke sana, karena tadi tugasku belum selesai.


Jam pada ponsel sudah menunjukkan angka 20:35. Kupercepat langkah. Kantor administrasi itu akan tutup pukul sembilan malam.


Setelah ketukan di pintu mendapat jawaban, aku masuk. Melihat Pak Sumanto masih duduk di mejanya sambil menatap layar komputer, hatiku merasa lega. Pria setengah baya itu mengangkat kepala melihatku masuk.


"Ada apa?" tanyanya dengan kening sedikit berkerut.


"Maaf, Pak. Saya belum ambil upah saya minggu ini," kataku sopan.


Kuharap uang itu bisa kudapat malam ini, agar adikku Satria bisa bayar uang iuran darmawisata sekolah. Besok adalah hari terakhir cicilan ke enam. Satria sangat ingin pergi bersama teman sekolah di akhir masa SMK mereka. Mereka hendak ke Bali akhir bulan nanti.


Pria itu melihatku sejenak, sebelum kembali pada komputernya.


"Oh, Bu Surti sudah pulang sejak sore," katanya.


Aku berdiri bingung di sana. Bukankah bagian keuangan di pabrik adalah Pak Sumanto?


"Bukankah biasanya Bapak yang bagi upah buruh pabrik ini?" tanyaku heran.


"Ya, biasanya begitu. Tapi tadi sudah saya serahkan pada Bu Surti untuk mengurusnya. Pekerjaan saya masih banyak," kata pria itu lagi sambil menunjuk komputernya.


Kali ini dia menatapku dalam-dalam, hingga membuatku merasa risih dan seperti sedang ditelanjangi oleh matanya yang jelalatan tanpa malu.


"Tapi saya butuh banget uang itu," gumamku nyaris tak terdengar.


Rasanya tak sanggup melihat wajah kecewa Satria. Kemudian sebuah ide muncul di kepalaku.


"Bisakah bapak pinjami saya uang 500 ribu saja? Saya membutuhkan itu sekarang. Besok saat terima upah dari Bu Surti, langsung saya bayar."


Aku memohon dengan ragu. Siapa sih yang mau pinjamin uang di jaman sekarang ini? Semua orang lebih memilih mengurus diri sendiri dan tak peduli pada sekitarnya.


Pria itu tersenyum. Tapi entah kenapa, aku tak menyukai senyum itu. Naluriku mengedarkan alarm bahaya. Menyuruhku pulang saat itu juga. Tapi aku harus membawa uang sejumlah itu, agar Satria bisa melunasi cicilan iuran ke sekolah besok. Jadi aku tetap bertahan di sana.


"Berapa tadi? 500 ribu ya? Duduk dulu, biar saya periksa berapa upahmu minggu ini," katanya. Masih dengan senyum yang membuat bulu tengkukku merinding.


"I-iya, Pak. 500 ribu saja."


Meski ekspresinya sedikit membuatku gugup dan tak nyaman, namun kurasa Pak Sumanto tidaklah seburuk pemikiranku tadi. Nyatanya, pria itu langsung merespon dengan memeriksa komputer di depannya. Jadi aku duduk menunggu dengan sabar.


"Oh, ya. Minggu ini penghasilanmu sampai sejuta. Rajin juga, ya."

__ADS_1


Pria itu manggut-manggut. Aku merasa lega. Penghasilan itu masih akan tersisa setelah di pakai bayar hutang pada Pak Sumanto, besok. Aku menatapnya penuh harap.


"Sayangnya uang saya pas-pasan saja di dompet. Kalau benar-benar butuh, ayo ikut saya ke atm di ujung jalan sana, bagaimana?" tanyanya.


Keraguan menggayutiku. Aku tahu atm di persimpangan itu tidak begitu jauh. Tapi arahnya berlawanan dengan jalan pulang. Dan tidak ada banyak angkot dari sana yang menuju rumahku di jam segini. Jika berjalan siang hari, tidak masalah. Tapi ini kan sudah mulai larut.


"Kalau tidak mau, ya ... bagaimana lagi. Saya cuma mau nolong saja kok."


Aku masih diselimuti kebimbangan. Antara mengikuti, atau melihat adikku kecewa.


Melihatku hanya diam, pria itu membereskan meja, mematikan komputer dan mengambil kunci mobilnya di dekat kotak pensil yang berisi pulpen dan spidol usang.


Aku panik melihatnya berdiri. "Bapak mau pulang?" tanyaku.


"Iya. Ini kan sudah hampir jam sembilan. Gara-gara kamu, saya batal lembur malam ini." Pria itu memasang wajah ditekuk dan berjalan ke pintu.


Aku hanya bisa terpaku di tempat, melihatnya pergi. "Bagaimana ini?" pikirku sambil menggigit bibir.


"Hei! Kamu mau pulang atau tidur di situ?" bentak pria itu tak sabar. Dia sudah siap untuk mengunci pintu ruangan.


Meski kakiku lunglai, kupaksa juga bergegas mengikutinya keluar ruangan. Kutatap pagar pabrik yang tinggi dan dingin dengan lesu. Orang kecil sepertiku sering tak punya banyak pilihan.


Aku menyesali kebodohan tadi sore. Seharusnya saat diberitahu bahwa upah sudah cair, aku langsung pergi ke kantor dan mengambilnya. Tapi tadi kerjaan sedang tanggung, jadi kutunda hingga semua selesai.


"Sudah, sana pulang! Ambil upahnya besok pagi saja ke Bu Surti!" kata Pak Sumanto. Pria itu berjalan pergi menuju tempat parkir.


"Tunggu, Pak. Biar saya ikut ambil ke atm. Saya butuh banget uang itu, malam ini," kataku sambil menunduk, berharap dia tidak membatalkan tawarannya tadi.


"Ya sudah, cepat masuk. Sudah malam banget ini!" sergah Pak Sumanto sambil membuka kunci mobil dengan remote yang dipegangnya.


Mobil itu meluncur keluar pabrik. Berbelok menuju arah berlawanan dengan rumahku. Aku harap-harap cemas. Entah kenapa tubuhku merasa dingin, sementara jantungku memukul dengan hentakan kuat. Aku risih dan agak takut bersama pria itu di mobil.


Jarak pabrik dengan persimpangan itu sekitar satu kilometer. Masih banyak pepohonan di sekitar pabrik itu. Tempat itu sangat sunyi di malam hari. Kecuali di dalam pabrik yang seperti tidak ada bedanya siang dengan malam. Mesin-mesin terus berputar 24 jam.


"Karena sudah malam, coba telpon pacarmu untuk jemput ke sana," saran pak Sumanto.


Aku menunduk. Pacarku ada, tapi dia bekerja di kota lain. Tak mungkin memintanya menjemput ke sini. "Enggak apa-apa. Saya bisa pulang sendiri," kataku sok berani.


"Oh." Hanya itu yang diucapkan pria itu.


Dalam gelisah, aku merasa persimpangan itu jadi semakin jauh saja. Dan waktu bergerak sangat lambat, seperti terperangkap dalam mesin waktu.


Akhirnya bangunan atm itu terlihat juga. Rasa lega menjalari hatiku lagi.


"Tunggu saja di sini. Saya lihat ke sana. Bahaya kamu malam-malam berdiri di luar mobil!" katanya setelah memarkir mobil.


Aku mengangguk patuh. Lalu memikirkan cara pulang nanti. Dari jendela, kulihat tak ada angkot yang lewat malam itu. Sepertinya aku harus berjalan kaki untuk mendapatkan angkot dari persimpangan lain yang ada di ujung tembok pabrik.

__ADS_1


Tak lama pria itu masuk lagi dengan cemberut. "Atm-nya sedang dalam perbaikan!" katanya. Matanya melihat ke jalan, mencoba berpikir.


Aku belum sempat memproses info itu karena tadi sudah sangat berharap uang itu ada.


"Ah, ada atm yang sama dekat alun-alun!" ujarnya cepat. Wajahnya terlihat cerah. Kemudian menoleh padaku yang masih diam dan berpikir.


"Bagaimana? Kalau mau diambil, ayo ke sana sekarang. Kalau tidak mau, kamu bisa turun di sini dan pulang! Saya sudah ngantuk!" katanya kesal.


Ah, sudahlah ... Toh sudah jalan jauh juga dari pabrik. Mungkin kalau dari alun-alun yang ramai, masih bisa ditemukan angkot untuk pulang. Begitulah yang kupikirkan saat menganggukkan kepala padanya.


"Apa arti anggukanmu? Mau ikut saya, atau mau turun?" tanyanya memastikan.


"Ikut ke atm, Pak," jawabku cepat.


"Ya sudah!" Suara ketus pak Sumanto terdengar.


Mobil itu kembali melaju. Setelah melewati deretan panjang rumah warga, kami melewati pertigaan jalan. Namun tak ada tanda mobil berbelok ke sana.


"Kenapa enggak belok situ, Pak? Bukannya lebih dekat lewat sana?" kataku mengingatkan.


"Apa kamu gak lihat tanda perbaikan jalan di situ!"


Secara otomatis, aku langsung melihat ke belakang. Tapi persimpangan itu sudah lewat jauh. Aku tak bisa melihat apapun lagi.


"Kenapa? Kamu Enggak percaya sama saya?" tanyanya dengan nada kasar.


Aku mendengar nada ketus itu lagi. Rasanya tak enak hati sudah menyusahkannya malam-malam begini. Jadi aku diam saja dan berharap mobil akan berbelok di persimpangan berikutnya.


Kembali kami melewati perempatan jalan, tapi mobil itu masih terus melaju. Aku jadi terbengong. Yang kutahu, alun-alun kota adanya di sebelah kanan.


"Pak, kita harusnya belok sana, bukan---"


"Kamu itu cerewet sekali. Atau begini saja, kamu aja yang nyetir biar cepat!" bentaknya kasar.


Suara kerasnya membuatku mengkerut di jok mobil. Mobil melaju sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Kecemasanku muncul lagi. Kuambil ponsel yang bergetar. Ada pesan masuk dari adikku. Satria menanyakan kenapa aku belum pulang.


Tapi Pak Sumanto merampas ponsel itu sebelum aku sempat mengetik pesan dan melemparnya ke belakang.


Aku mendengar bunyi klik serentak pada semua pintu mobil. Aku menyadari sesuatu. Pintu terkunci dan mobil benar-benar melaju kencang ke jalan luar kota yang sepi. Alarm bahaya yang tadi kurasa, memang benar adanya.


"Saya enggak jadi pinjam duit, Pak. Saya turun di sini saja," kataku panik.


Aku berusaha pindah ke belakang mobil untuk mengambil ponsel yang tadi dilemparnya. Aku harus menjauh darinya.


"Duduk yang bener! Apa kamu mau kita kecelakaan!" Bentakan itu disertai gerakan tangannya yang menarik tanganku keras. Aku jatuh lagi di jok depan. Kepalaku membentur keras dasboard dan kaca jendela dan membuatku pening.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2