WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
#BS


__ADS_3

Aku benar-benar ketakutan sekarang. “Sa-saya turun di sini saja, Pak,” kataku dengan suara gemetar yang nyata. Mataku melihatnya dengan takut.


Pak Sumanto tak langsung menggubris. “Kau mau turun di pinggir kebun begini?” tanyanya dengan wajah selicik rubah.


“Enggak apa-apa. Sa-saya bi-bisa pulang sendiri,” kataku cepat.


Aku berusaha menarik-narik handel pintu, dengan panik. Bahkan meski mobil itu sedang melaju kencang, aku tidak lagi memikirkannya. Aku hanya ingin keluar dari sana.


"Kau mau merusak mobilku? Maka kita berdua akan terjebak di sini!"


Tawanya terdengar mengerikan bagiku. Mobil melaju makin kencang menuju jalan luar kota. Dengan panik kucoba memukul kaca jendela, tapi tak berguna.


“Pak, saya enggak jadi pinjam uangnya. Saya turun di sini aja,” kataku lagi.


Aku semakin gugup saat tangan kasarnya mulai diletakkan di atas pahaku. Aku menepis tangan itu dan menghindar sejauh mungkin. Menempel serapat-rapatnya pada pintu mobil.


“Kau sudah menyusahkanku, sekarang bilang tidak jadi?” katanya marah.


“Maaf, Pak … maaf sudah menyusahkan. Tapi saya mau pulang,” kataku lagi dengan suara tercekat. Mataku panas dan mulai sebak. Sebentar lagi, air bendungannya akan meluncur jatuh.


Tak lama, mobil itu memelan. Aku melihat sekeliling yang gelap gulita. “Di mana ini?” pikirku dengan jantung memukul keras. Kurasa, andai telinga bisa mendengar, maka degub jantungku mungkin terdengar lebih kencang dari tabuhan drum pada pawai marching band.


Mobil itu masuk ke dalam jalan yang tak rata. Bergoyang ke kanan dan kiri di jalan tanah. Kepalaku membentur kaca jendela hingga dashboard beberapa kali.


"Aduh ...," keluhku sambil mencoba membuat posisiku stabil.


Entah sudah berapa jauh mobil itu keluar dari jalan raya. Sekitarku hanya gelap dan bayangan hitam pohon saja yang tampak. Kucoba lagi menarik tuas pintu untuk membukanya, tapi masih tak bisa.


Akhirnya mobil berhenti dan langsung mematikan lampu. Aku merasa seperti sedang berada di gua. Gelap gulita keseluruhannya. Tanganku masih berusaha keras untuk membuka pintu mobil.


“Kau tak akan bisa membukanya!” aku mendengar nada ejekan dalam suaranya.


Tangan Pak Sumanto sudah hinggap di pundakku, membuatku menggeliat, menghindar dari jamahannya. Aku merasa sangat jijik disentuh oleh tangan kotornya.


"Jangan! Biarkan saya pergi. Saya tak akan mengatakan apapun soal ini." Aku mencoba membujuknya.

__ADS_1


“Tak perlu malu. Kau sengaja datang malam-malam ke kantor memang untuk ini, kan?” katanya serasa menggeser tempat duduk, agar lebih dekat denganku.


Aku terkejut. Bagaimana orang ini bisa berpikir aku segila itu? “Enggak, Pak. Saya mau ambil upah tadi,” kataku meluruskan.


“Apa kau kira aku tidak tahu akal bulus kalian? Sengaja datang terlambat lalu berpura-pura pinjam uang, kan!” tuduhnya.


Wajahnya makin didekatkan padaku yang sudah terpojok dekat dasboard mobil. Aku memutar wajah mengelakkan bibirnya.


“Tenang, uang itu akan kuberikan. Enggak perlu ngutang. Malah akan kuberi lebih, kalau kau bisa memuaskanku,” katanya mesum.


Kata-katanya membuatku mual dan jijik. Mulutnya yang semakin dekat ke wajahku, merebakkan bau tak sedap setiap kali dia bicara bahkan menarik napas. Baunya campur aduk paduan aroma kopi murahan, rokok dan makanan basi serta bau gigi yang kotor menguning. Perutku mual begitu saja tanpa bisa ditahan.


Berkali-kali aku mengelak, menepis dan mendorong wajahnya yang terus ingin mendekat. Sampai akhirnya tanganku dicekal kuat dan satu tangannya menahan rahangku. Memaksa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


“Ya Tuhan, manusia durjana ini!” pikirku geram sambil mengatupkan mulutku rapat-rapat. Aku meronta!


Saat lidahnya berusaha masuk lebih dalam, aku menggigitnya kuat-kuat tanpa ampun, hingga dia terpekik. Tangannya memukulku dengan keras, berkali-kali agar aku melepaskan gigitanku.


Karena merasakan sakit aku tak bisa mempertahankan gigitan itu. Pegangannya juga mengendur. Dengan tangan, di depan, aku melindungi wajah dari pukulannya


“Pasti lidahnya sedang berdenyut-denyut,” pikirku. Aku mengusap bekas bibirnya dengan kasar dan meludah ke sembarang tempat, membuang sisa-sisa ciuman busuk itu.


Tiba-tiba sebuah tamparan keras mampir di samping wajah. Membuat telingaku berdenging seketika. Aku merasa seperti orang tuli. Dengan pandangan kabur, aku Cuma melihat bibirnya bergerak-gerak. Sebuah pukulan lain mengenai wajah yang tak bisa lagi kulindungi.


Mulutku terasa asin. Mataku berkunang-kunang. Satu hantaman keras di belakang kepala, membuat sinar mataku redup dan menggelap. Yang kuingat hanya, tubuhku terasa terbang entah ke mana. Aku melihat satu bintang kecil di langit yang gulita.


Saat sesuatu di bagian bawah tubuhku ditarik paksa, kesadaranku kembali. Aku langsung meronta, menendang dan mencoba mendorong batu gunung yang menindih dan terus memaksaku kasar disertai pukulan di sekujur tubuh. Membuatku merasa seperti karung pasir yang digunakan oleh para petinju latihan.


Tangan dan kakiku yang tak henti bergerak, telah kebal dengan pukulannya. Tapi dia tak peduli. Dan dia sungguh menjaga jarak hingga aku tak bisa lagi menggigit.


Dengan sisa tenaga, aku mengayunkan tangan ke wajahnya yang sedang sibuk membenarkan posisi. Cakaranku di wajahnya berhasil menghentikan rencana bejat itu. Akan tetapi, sebuah tinju berhasil membuatku diam. Aku merasakan sakit di bawah sana, tapi kakiku yang ditindihnya, sudah kena pukulan berkali-kali hingga tak mampu lagi digerakkan.


Aku meraung dalam hati. “Bapak ... Tolong Rika, Pak … tolong Rika ….”


Tapi bapakku sudah tiada tiga tahun lalu, siapa yang bisa menolongku saat ini? Sementara aku adalah tulang punggung keluarga.

__ADS_1


Aku masih merasakan tubuhku diguncang, dipukuli, dicakar bergantian. “Tuhan, ambil saja nyawaku,” bisikku di hati sebelum semua terasa gelap.


Malam merangkak naik. Sebuah mobil meninggalkan gelapnya hutan. Di balik semak belukar, seorang gadis terkapar dengan tubuh polos dan tubuh penuh bilur serta luka. Beberapa bekas darah mengering, terlihat di sana sini. Dia sudah kehilangan kehormatannya di malam yang tragis. Hanya bintang dan kesunyian yang menyaksikan kerasnya perjuangan yang telah dikerahkannya untuk mempertahankan itu.


Waktu bergulir senyap. Seorang pria pemburu binatang malam di hutan, terkejut dengan pemandangan di depan matanya. Pria itu berlari dengan takut ke rumah penduduk terdekat yang jaraknya lebih dari satu kilometer.


Siang hari, beberapa warga serta polisi berhasil menemukan dan membawanya ke rumah sakit.


Suara sirine ambulans yang kuat, mengembalikan kesadaranku. Seluruh tubuhku terasa remuk dan amat sangat sakit. Aku mengibaratkan sakit itu seperti dilindas traktor tapi tidak mati.


“Ugh ….” Aku hanya bisa mengeluh dengan gemetar. Semua rasa nyeri itu menyerang bersamaan, mengembalikan ingatanku pada perbuatan terkutuk malam itu. Membuatku tak kuasa menahan jeritan pilu.


"Aaaa ...."


“Tenang, Mbak, sekarang kita sedang menuju rumah sakit. Ada polisi juga di belakang. Nanti ceritakan saja yang terjadi dengan jujur.”


Aku hanya mendengar dengan samar suara seorang wanita. Hatiku tentram saat merasakan tangannya diletakkan di atas tanganku yang kotor. Air mata merebak, membayangkan ibu, adik, dan pacarku yang kecewa.


"Aaaa ...!" jeritku dengan perasaan hancur.


Ambulans terus melaju, membawa seorang wanita muda yang merasa dirinya sudah seperti kain usang tak berharga. Dokter wanita di dalam ambulans hanya bisa menggertakkan gigi dengan geram. Dia ingin marah, tapi pada siapa?


Sejak aku sampai di rumah sakit dan ditangani dokter, Polisi terus bertanya. Tapi aku tidak mendengarkan apapun yang dikatakannya. Aku hanya memandangnya dengan bingung.


“Dia masih trauma, belum bisa ditanyai,” cegah dokter.


“Tapi diagnosa awal Anda, ini tindakan pemerkosaan, bukan. Kami harus segera mendapatkan keterangannya, agar pelaku tidak kabur,” bantah polisi.


“Anda lihat sendiri dia tidak bisa menjawab,” kata dokter sekali lagi.


“Telinganya mendapat pukulan keras. Kita harus memanggil dokter THT untuk memeriksa.


Dokter pertama dan polisi saling pandang. Sekarang mereka tahu kenapa pasien wanita itu tak menjawab satupun pertanyaan.


"Saya akan kembali siang nanti.” Polisi itu pergi.

__ADS_1


-Bersambung ...


__ADS_2