WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
#BS


__ADS_3

Aku membuka mata tanpa tau berapa lama aku sudah tertidur dan menyadari bahwa nyawaku masih melekat di badan.


Yang kulihat di sekeliling hanyalah tembok rumah sakit yang sunyi. Rasa sakit yang kualami mulai berkurang. Tapi hancur di hatiku, tak ada yang bisa mengobati. Aku kembali menangis dan menjerit mengingat apa yang terjadi.


Seorang wanita berpakaian putih datang  dan mendapatiku. “Tenang, Mbak. Mbak ada di rumah sakit sekarang.”


Aku  memperhatikan bibirnya yang bergerak, tak mengerti. Kembali aku mengerang. Mengernyit kesakitan saat kepalaku terasa seperti dipukul oleh palu. Sakit sekali. Kedua tangan kuangkat untuk menekan kepala yang berdenyut hebat.


“Sakit …!” teriakku tak tahan.


Wanita berpakaian putih itu mengangguk-angguk dan coba bicara yang aku tetap tidak mengerti. Aku hanya bisa melihat bibirnya bergerak dalam pandanganku yang buram.


Aku terbangun lagi saat merasa tubuhku digoyang-goyang seseorang. Seketika pikiran buruk itu kembali lagi. Mataku langsung membuka lebar dan memukul, menepis siapapun yang mengguncang tubuhku.


Namun, kemudian aku tak berdaya melihat ibu berurai air mata di sana, tak berani mendekat.


“Ibuuu …," panggilku parau.


Ibu datang memeluk sembari tangannya mengusap punggungku. Tangisku tumpah. Aku ingin sekali meringkuk dalam pangkuannya, untuk mencari rasa aman, seperti saat aku kecil dulu. Tempat dimana aku bisa tidur tenang dan nyenyak tanpa mencemaskan apapun.


Ibu merenggangkan pelukannya, memeriksa telingaku yang nyeri luar biasa. Aku menolak dia menyentuhnya. Matanya sangat sedih. Satria datang pelan-pelan ke arahku, wajahnya menunjukkan kesedihan yang dalam.


Kupeluk dia. “Maafin Mbak, gak bisa dapat uang untuk bayar uang darma wisata. Mbak terlambat ambil uang upah karena lembur,” kataku penuh penyesalan.


Mereka berdua bicara, tapi aku tak bisa dengar.


“Telingaku kenapa? Rika enggak bisa dengar apa-apa,” kataku panik.


Ibu menangis. Mulutnya bergerak-gerak, tapi aku tetap tak bisa tahu apa yang dikatakannya. Aku hanya bisa menggeleng tak mengerti.


Satria mengambil buku sekolah dari ransel di punggungnya. Menulis seuatu di sana dan menunjukkannya padaku.


“Mbak kenapa bisa sampai di sana?” Mata Satria penuh kesedihan.


Mataku melotot membaca tulisannya. Bayangan monster itu kembali lagi menyergapku.


“Tidak! Jangan! Bapak …! Tolongin Rika, Pak ..!” teriakku panik dan mundur ke dekat tembok.


Tak lama aku merasakan mataku sangat mengantuk. Aku mengeluhkan bapak sebelum tidur. “Bapak … tolongin Rika ....”


“Putri ibu masih shock. Sebaiknya biarkan dia istirahat yang cukup dulu,” kata dokter pada ibu dan anak lelaki muda di ruangan itu. Keduanya menangis sambil berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.


Saat mereka keluar, polisi bergegas menghampiri. “Bisa kita bicara dulu, Bu?” tanyanya.


Wanita paroh baya itu mengangguk. Bersama putranya, mereka mengikuti polisi yang mencari tempat tenang untuk bicara.


“Bisa katakan informasi apa yang kalian dapat? Sejak kemarin saya belum bisa menanyainya,” kata polisi itu.


“Kata Mbak tadi, dia telat ambil upahnya karena lembur.” Satria memberikan informasi yang tadi didengarnya.

__ADS_1


“Berapa lama biasanya Mbaknya kalau lembur?” tanya polisi lagi.


“Biasanya enggak akan lewat jam delapan. Karena angkot terakhir menuju rumah, jam delapan dari sana,” jawab Satria.


Polisi itu mengangguk.


“Berarti embaknya udah bisa bicara ya,” kata polisi lagi.


“Embak bisa bicara, tapi enggak bisa dengar apa-apa,” kata Satria dengan suara tercekik.


“Oh? Maaf. Apa embaknya memang tidak bisa mendengar sebelumnya?” tanya polisi.


“Sebelumnya bisa. Tapi tadi dia bilang telinganya sangat sakit, sampai menjerit. Karena itu dia tak bisa mendengar!” jelas Satria emosi.


Polisi itu mencatat sebentar, kemudian bertanya lagi. "Jadi, bagaimana kalian bicaranya?” tanya polisi heran.


Satria menunjukkan tulisannya tadi di buku. Polisi diam sejenak.


“Apa jawabannya?”


Ibu dan Satrinya hanya menggeleng-geleng. “Dia malah menjerit histeris dan terus panggil-panggil bapaknya,” jawab ibu sembari menangis dalam pelukan putranya.


“Suami ibu di mana?” tanya polisi hati-hati.


“Bapak sudah meninggal tiga tahun yang lalu,” jawab Satria sedih.


Polisi itu menyandarkan pungung di sandaran bangku panjang rumah sakit. Dia geram dan marah melihat keadaan gadis itu saat ditemukannya tadi siang. Tapi ini memang kondisi sulit untuk menggali informasi pada gadis yang trauma atas kekerasan fisik dan seksual yang dialaminya.


Dari sana polisi mengembangkan kasus, karena ada foto serta identitas korban di dalam tas itu. Jelas sekali pelaku berusaha membuang semua bukti tentang gadis itu. Berbekal informasi yang sedikit, polisi berhasil menemukan rumah keluarga korban dan memberi tahukan sedikit informasi pada dua orang di depannya.


“Apakah ponsel Mbak Rika sudah ketemu?” tanya Satria.


“Belum,” jawab polisi. Setelah berdiam lama, polisi itu berdiri.


“Sepertinya sekarang hanya informasi ini yang kita punya. Jika ada informasi tambahan, hubungi saya,” katanya memberi kartu nama pada Satria.


“Mari pulang, Bu,” ajak Satria.


“Ibu tungguin mbakmu di sini,” kata wanita itu.


“Besok saja, Bu. Kita enggak bawa alas untuk ibu tidur,” bujuk putranya.


“Tapi kasihan embakmu,” kata ibunya sedih.


“Ada banyak dokter dan perawat yang jagain. Tadi ibu lihat sendiri mereka langsung masuk waktu mbak Rika teriak,” bujuknya lagi.


Wanita itu melihat jelas bahwa ada meja tempat berjaga di dekat pintu ruangan putrinya. Kemudian dia mengangguk. “Ayo pulang.”


***

__ADS_1


Aku merasa sedikit lebih baik saat bangun tidur. Pikiranku mulai jernih. Sepiring makanan menunggu di meja. Dengan beringsut aku menggapai ke meja samping. Meskipun karena itu, rasa nyeri di sekujur tubuhku kembali menjalar, tapi aku haus dan sangat lapar. Kupaksa tubuh untuk menggapainya. Berhasil! Aku makan dengan lahap.


“Mbak Rika, gimana keadaannya sekarang?”


Seorang dokter wanita yang mulutnya bergerak-gerak, datang mendekat sambil tersenyum. Di belakangnya mengikuti beberapa orang berpakaian sama putih dan melempar senyum. “Mereka pasti dokter,” pikirku.


“Dokter, kenapa saya tidak bisa mendengar apapun?” tanyaku.


Dokter itu menoleh pada seseorang yang berpakaian  dengan warna berbeda. Entah dia mengatakan apa, aku tidak tahu.


Dokter itu menulis sesuatu di kertas kecil yang diambilnya dari saku. Kemudian ditunjukkan padaku.


Aku membaca huru-huruf kabur itu dengan memicingkan mata. “Nanti dokter THT akan datang memeriksa.”


“Mataku juga kabur,” kataku ingin mengucek mata yang terasa gatal dan perih.


Seseorang menahan tanganku dengan tangannya. Kepalanya menggeleng. Yang lain kembali menunjukkan kertas bertulisan padaku.


“Wajah Mbak bengkak dan matanya merah. Tunggu setelah pulih lagi.”


Aku terdiam. Sekilas ingat bagaimana monster itu memukuli wajahku berkali-kali. Refleks aku merasa takut dan bergidik ngeri.


Satu tangan lembut, menenangkanku. Aku menoleh padanya. Dokter yang tadi. Dia menunjukkan tulisan lain,


“Saya periksa lukanya dulu, ya Mbak Rika.”


Aku mengangguk sebagai jawaban. Tangan seseorang menepuk tempat tidur. “Apa aku harus berbaring?” tanyaku.


Mereka semua mengangguk senang. Lalu mulut beberapa orang kembali bergerak, tapi aku tak mengerti apapun.


Dokter meminta aku melakukan sesuatu, tapi aku tak tahu apa. Aku hanya melihat mereka dengan bingung. Hingga dokter yang tadi, menekuk satu kakiku di atas tempat tidur.


Aku masih mengamati mereka dengan ragu. “Saya mau pipis. Aku bangkit dari baringku dan duduk. Seseorang bicara, tapi aku tak mengerti. Aku berusaha turun dari tempat tidur.


Sebuah tangan menahanku, mulutnya juga komat kamit. “Saya mau pipis sebentar,” jelasku.


Sebuah kertas ditunjukkan padaku. “Pipis dengan selang dulu, Mbak. Di situ sedang luka, nanti infeksi kalau kena urine.”


Aku duduk dengan kaku. Aku mengintip ke balik selimut. Melihat senang yang berakhir di tepi tempat tidur. Ada kantong urine yang hampir penuh di sana. Aku kembali berbaring.


Setelah beberapa kali penolakan, akhirnya aku tak kuasa melarang para dokter itu melihat bagian pribadiku itu. Mereka melihat dan membuat catatan.


“Dok, dada saya juga terasa nyeri. Kenapa ya?” tanyaku.


Dokter memeriksa dadaku. Kemudian mengangguk. “Sebentar lagi akan pulih. Sabar ya.” Tulisan itu ditunjukkan padaku. Tangannya yang halus menepuk-nepuk lenganku pelan. Kemudian rombongan itu pergi setelah bicara dengan perawat yang sibuk mencatat.


Memangnya apa yang membuat dadaku sakit? Dokter tadi terlihat prihatin. Aku menyingkap bagian atas baju rumah sakit, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dan aku juga hanya bisa menggeram marah dan sakit hati.

__ADS_1


“Bapak, kenapa Bapak enggak jemput Rika aja malam itu?” lirihku dengan air mata berlinang.


-Bersambung …


__ADS_2