WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
#BS


__ADS_3

Jangan lupa kasih Like dulu ya kakak semua.. Jangan skip iklan juga ya.. Terima kasih.


*****


Dadaku penuh luka cakar dan hunjaman luku. Serta beberapa noda merah tua. Aku merasa pernah melihat yang seperti itu di leher beberapa buruh wanita.


Dengan jijik aku menyeka dan menggosoknya kuat. Rasa sakit yang menjalar tak kupedulikan. Luka-luka yang hampir mengering, kembali terbuka hingga darahnya menodai baju biru rumah sakit yang kukenakan.


Seorang perawat yang masuk karena mendengar tangisanku, menahan tanganku yang terus menggosok dada dengan jijik. Mulutnya terus komat-kamit. Tapi aku tak menggubris.


Sepertinya perawat itu memanggil temannya. Karena sekarang ada dua perawat di depanku. Yang satu menahan tanganku di sisi tempat tidur. Kemudian mengikatnya dengan tali kain.


Aku meronta. Aku harus membersihkan bekas-bekas bajikan itu dari tubuhku. “Menjijikkan!” teriakku marah.


Mulut para perawat itu komat-kamit, tapi aku tak peduli. Toh aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Tapi itu berakibat fatal. Satu tanganku yang bebas, sekarang ikut diikat juga di sisi tempat tidur.


Aku berontak  beberapa kali dan mengerahkan tenaga untuk melepas ikatan. Tapi itu sia-sia. Mataku kembali mengantuk.


Aku tak tahu waktu yang berlalu. Saat bangun, kulihat ibu duduk di kursi samping tempat tidur. Matanya terpejam dengan raut lelah.


“Ibu …,” panggilku lirih.


Ibu membuka mata dan segera duduk karena melihatku bangun. Ibu menunjuk botol air padaku. Sepertinya menawariku minum. Aku mengangguk.


Dengan hati-hati sedotan didekatkan ke mulutku. Aku meminumnya hingga tenggorokan keringku menjadi lebih basah.


“Satria mana?” tanyaku.


“Ke sekolah!” ibu menunjukkan lembaran kertas yang entah sejak kapan ditulisnya.


“Maafin Rika, Bu. Enggak bisa lunasin uang darmawisata sekolah Satria,” kataku lagi.


Ibu menggeleng. Kemudian sebuah tulisan lain ditunjukkan padaku. “Satria mengundurkan diri dari darma wisata. Karena sekolah tahu apa yang menimpamu, maka uang itu bisa dikembalikan. Itu bisa dipakai untuk bayar biaya rumah sakit.”


Aku termangu sedih. Kasihan pada adikku itu.


Kemudian ibu menunjukkan kertas lain padaku. “Bilang sama ibu, siapa yang melakukan ini.”

__ADS_1


Tak kuasa aku menahan gemetar di tubuh. Itu refleks begitu saja, setiap kali aku mengingatnya. Monters itu berdiri di depanku. Aku menggeleng menghindar dari tatapannya yang terasa menelanjangiku.


“Jangan! Saya enggak mau! Jangaaan …!” teriakku kencang.


Satu usapan tangan yang kukenali. Bau tubuh ibu yang menenangkan, membuatku kembali sadar. Ibu memeluk dan menciumi dengan air mata yang luruh membasahi wajahku.


“Ibu ….” Suaraku bergetar seiring getar tubuh yang belum mau reda.


Ibu melihatku sebentar. Tapi dia kembali memeluk dan menciumi pipiku. Aku bisa lihat bibirnya bergerak samar. Entah apa yang dikatakannya. Tapi getar tubuhku perlahan reda. Sepertinya dia lebih memahami apa yang dirasakan ibu. Kubiarkan kedamaian dari tubuh ibu menenangkanku.


Tapi tiba-tiba ibu melepas pelukannya. Aku mau protes saat ibu memutar tubuhnya ke arah pintu ruangan. Tubuh ibu menghalangiku melihat siapa yang ada di sana.


Kemudian aku segera tahu. Sangat jelas itu seorang pria berpakaian seragam polisi. Aku ingin berlindung di balik punggung ibu. Tapi kedua tanganku diikat di sisi tempat tidur. Jadi aku hanya melihat ibu dan polisi itu bicara.


Dia melihat padaku. Mengambil sebuah kertas dan menulis. Aku yakin, itu adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi.


Polisi menunjukkan kertasnya ke dekatku. “Bantu saya mencari dan menahan orang yang melakukan ini padamu.”


Air mataku berlinang, menatap tulisan itu, berganti melihat wajah polisi itu yang juga tampak sedih.


“Ibu percaya Rika?” tanyaku di antara derai air mata.


Ibu dan polisi itu mengangguk dengan tegas. Mulut mereka berdua kembali bergerak-gerak di depanku. Polisi menyadari bahwa aku tidak bisa mendengar. Dia menulis lagi di kertas catatannya.


“Katakan saja namanya!” Aku membaca tulisan pak polisi.


“Pak Sumanto, bagian keuangan pabrik!” kataku dengan bibir bergetar. Bahkan menyebutkan namanya saja membuatku merasa sangat jijik.


Aku menangis meraung  saat ingatan monster licik itu kembali muncul di ruang mataku.


Aku tak lagi melihat bagaimana polisi dan ibuku terkejut luar biasa. Entah apa yang dibicarakan mereka berdua. Tapi ibu jatuh lemas di lantai saat itu.


“Ibuuu …!” panggilku sedih.


Setelah ibu berhasil dibantu duduk di kursi, polisi kembali ke dekatku.


Dia menunjukkan tulisannya. “Dia pria licik. Kata ibumu, tadi pagi pria itu datang ke rumahmu mengantarkan upah yang terlambat diambil. Ditambah sumbangan rekan kerja yang prihatin atas apa yang menimpamu!”

__ADS_1


“Aaaaaa …!” teriakku murka.


“Bajingan!” kataku marah. Wajahku terasa panas. Hatiku  terlebih lagi,  amat sangat panas mendengar keterangan ibu.


Polisi menunjukkan kertasnya lagi padaku. “Saya ingin menahannya. Tapi saya perlu Mbak bekerja sama menceritakan apa yang terjadi.”


Pikiranku mulai jernih sekarang. Aku tak bisa berlarut-larut dalam sedih. Karena monster bajingan itu dengan tak tahu malu, berani menunjukkan muka di depan keluargaku dan bersikap sok baik! Aku mengangguk pada polisi.


Polisi mengeluarkan ponsel dan mulai menyetel rekaman. Sebuah tulisan ditunjukkan padaku. “Mbak cerita aja. Semua bukti rekaman suara dan bukti foto fisik dari visum rumah sakit akan mendukung kasus ini.”


Aku kembali mengangguk. Tak ada keraguan dalam hatiku untuk membeberkan kisah yang kualami. Mengingat apa yang dikatakannya malam itu, sepertinya mungkin ada korban lain yang tak berani mengutarakan hal buruk yang menimpanya.


“Malam kemarin, aku lembur, jadi telat pergi mengambil upah minggu lalu ….”


Aku menceritakan semua yang kualami. Tak terlewat sedikitpun. Semua yang kuingat itu muncul di ruang mata, seperti tayangan film horor.


Setelah mengatakan semuanya, aku merasa lelah dan terengah-engah. Ibu duduk kaku di kursinya, wajahnya pucat pasi, menatap ke lantai.


“Ibu, Rika haus.” Panggilanku menyadarkannya dan segera mengambilkan air di botol.


Polisi menunjukkan kertas lagi. “Saya akan periksa cctv kantor dan atm.”


Aku hanya mengangguk lemah. Tenagaku sudah terkuras habis. Rasanya aku tak akan punya tenaga untuk menceritakan hal seperti itu lagi.


Polisi pergi setelah bicara dengan ibu. Aku memejamkan mata. Tenagaku habis sudah. Kupejamkan mata dalam irama usapan tangan ibu.


Adikku datang bersama beberapa gurunya. Mereka bicara dengan ibu, karena aku masih belum bisa mendengar, meskipun telingaku tidak lagi sakit.


Setelah pengunjung itu pergi, aku melihat ibu menarik tangan Satria keluar ruangan. Entah apa yang diperintahkan ibu padanya.


“Bapak, Rika rasa … Rika hanya akan sangat menyusahkan ibu dan adik,” lirihku.


“Rika pingin nyusul bapak ….”


Bayangan bapak yang tersenyum tenang, terlihat di tepi jendela kamar. Tapi tidak lagi mampu menenangkan hatiku yang gundah. “Bawa Rika, Pak …,” pintaku


-Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2