
Ibu mengusap-usap punggungku, hingga tangisku reda dengan sendirinya. Setelah aku tenang, Ibu menulis sesuatu.
“Agus datang menjengukmu. Jangan kasar dan menolaknya. Dia juga terluka, tapi masih datang dari luar kota.”
Kurasa, ibu sedang membujukku. Memintaku untuk menghormati tamu, meskipun aku merasa lebih baik bersembunyi di dalam lubang, dari pada bertemu dengannya. Kemudian ibu keluar dan kembali dengan Mas Agus.
Tanpa sadar, aku mundur dan duduk menempel ke kepala tempat tidur. Menunduk dan menutupi diriku rapat-rapat dengan selimut usang.
Kurasa, ibu pasti sudah bilang kalau aku tak bisa mendengar. Maka selembar kertas disodorkan pria itu padaku.
Sambil menunduk, kubaca tulisannya. “Maafin Mas gak ada di sana membantumu,” tulisnya.
Tubuhku bergetar tak terkendali. Aku meringkuk makin dalam setelah menepis kertas tulisannya.
“Pergi! Aku udah kotor! Enggak pantes lagi!” teriakku dengan hati terkoyak.
Aku kembali menangis, entah berapa lama. Sepertinya aku tertidur kelelahan. Harum tubuh ibu membuatku membuka mata. Ibu memelukku sambil terus mengusap punggung. Dan usapan itu seperti kekuatan dahsyat yang membuatku bertekad untuk segera pulih. Agar tidak lagi menyusahkan ibu dan Satria.
Keesokan hari, Mas Agus masih datang. Dia membawakan buah-buahan untukku. Dulu aku senang dan akan tersenyum bahagia menyambut buah tangannya. Meski itu sekedar martabak yang dibelinya di pinggir jalan, Bagiku itu adalah pernyataan cinta yang tulus darinya.
Sekarang, semua itu tak berarti lagi. Dia tak perlu memberi apapun padaku. Aku tidak pantas lagi dicintai. Aku tak mungkin lagi mendampinginya. Aku ingin semuanya segera berakhir antara kami.
“Rika udah enggak pantes lagi. Mas jangan ke sini lagi!” kataku dengan napas berat karena menahan jatuhnya air mata.
Sebuah tulisan disodorkan padaku. “Mas akan balas dia!”
Aku terkejut dan mengangkat kepala. “Tidak! Biarkan Tuhan yang membalasnya. Mas enggak perlu ngapa-ngapain!” cegahku cemas.
Dia duduk diam dan menatapku. Kurasa, dia bisa melihat kecemasan dalam mataku. Cemas pada nasibnya jika dia gelap mata.
“Mau dibalas kek gimana pun, Aku enggak pernah bisa utuh lagi!” kataku ketus.
“Mas enggak usah pikirin aku lagi. Cari calon istri yang lain saja. Pergi!” kataku kasar.
Aku melihat bibirnya komat-kamit. Bahkan kedua tangannya bergerak ke sana ke mari. Kurasa dia sedang mengatakan banyak hal. Tapi aku tidak bisa mendengarnya.
“Rika enggak bisa dengar apapun. Rika gadis cacat dan kotor. Enggak pantes lagi buatmu. Pergilah.” Kataku sambil membuang muka. Aku tak mau melihat matanya yang sedih.
Setelah begitu lama tak kugubris, Mas Agus keluar juga dari kamar. Kurasa, dia tak akan datang lagi. Karena biasanya dia tak bisa libur terlalu lama. Aku sedikit lega, kalau dia kembali ke kota tempatnya bekerja. Dia tak perlu terlibat dalam masalah yang tak perlu.
__ADS_1
Minggu kembali terlewati. Sedikit-demi sedikit, pendengaranku yang satu bisa kembali. Meskipun tidak keduanya, tapi aku bersyukur. Kesehatan fisikku juga perlahan pulih. Aku hanya masih sering mengigau saat tidur.
Aku keluar kamar untuk mengatakan pada ibu, bahwa aku sudah bisa mendengar.
Kucari-cari ibu di dalam rumah, tidak ada. Aku keluar. Ibu menjual gorengan di depan rumah untuk meringankan beban Satria. Karena aku masiih butuh pergi ke rumah sakit untuk memeriksa telingaku.
Aku tidak melihat ibu di depan meja jualan. Mataku mencari-cari. Aku sudah terlihat sehat, tapi sejujurnya, aku masih takut keluar jauh dari teras rumah.
“Lihat tuh si Rika. Sakit kok dibikin lama-lama. Apa enggak kasihan sama ibunya," kata ibunya Sarmin, teman SMA-ku.
“Halah, sakit apa. Paling juga bayaran yang dimintanya kegedean, makanya dia dihajar. Macam gadis suci aja, minta bayaran besar. Kan kita tahu dia udah lama pacaran sama siapa tuh?” Seorang perempuan muda, yang tak kukenal, menimpali.
Suara mereka cukup keras untuk bisa ditangkap oleh pendengaranku yang cuma sebelah.
“Iyo. Pacaran udah lama, gak dinikah-nikah. Datang sesekali terus pergi keluar. Ngapain coba?” timpal yang lain.
“Paling juga dia selingkuhannya si Agus itu. Makanya datangnya cuma sesekali.” Perempuan muda itu kembali menambahi. Aku hanya bisa menatap mereka dengan tubuh bergetar.
Betapa kejinya mulut para tetanggaku ini.
“Lihat! Dia lihatin kita terus. Udah, berhenti ngomongin,” ibunya Sarmin mengingatkan.
“Lahh … wong dia jadi budek karena digaplokin sama tuh lelaki!” kata yang lain santai.
Kemudian mereka tiba-tiba kocar-kacir berhamburan. Kucari-cari penyebabnya. Ternyata ibu yang datang dan menggoyang-goyangkan tampah ke arah mereka.
“Dasar tukang gosip! Tukang fitnah! Mulut kalian keji! Coba kalau yang begitu menimpa anak gadimu. Apa yang mau kalian bilang!”
Aku tak ingat apa lagi sumpah serapah yang diucapkan ibu. Aku merasa sangat sedih. Ibu juga pasti sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa melawan gunjingan tetangga.
Kemudian ibu melihatku berdiri di depan pintu rumah. Dia berjalan dengan tergopoh-gopoh mendapatiku.
"!Kenapa kamu keluar? Sudah di rumah saja. Kalau perlu apa-apa, panggil ibu. Tunggu di dalam.
Aku tidak menanggapi kata-katanya. BIarlah, ibu tetap menganggap bahwa aku tak bisa mendengar. Biar kekhawatirannya padaku sedikit berkurang. Ibu menuntunku ke dalam dan aku mengikuti dengan patuh.
Ibu mengambil kertas dan menulis. “Tadi cari ibu? Ada apa?” tanyanya.
“Rika kangen ibu …,” kataku menunduk.
__ADS_1
Dengan cepat ibu memeluk dan kembali mengusap-usap punggungku. Aku menikmati kedamaian ajaib yang mengalir lewat tangannya. Kupejamkan mata, berharap proses hukum nanti berlalu dengan cepat.
***
Hari ini persidanganku. Aku harus datang untuk memberi keterangan. Dengan gugup kumasuki ruang sidang. Rasa takut itu tak juga mau pergi. Aku berjalan sambil memegang lengan ibu erat-erat. Selain itu, aku juga merasa tidak enak badan. Aku terus merasa pusing sejak kemarin.
Adikku Satria juga tak pernah jauh dariku. Menggenggam tanganku yang lain. Menyalurkan kekuatannya padaku. Satu bulan kerja, merubah sifatnya yang semula seperti anak remaja, berubah jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab.
Aku tahu, pasti tidak mudah baginya untuk bisa kerja di sana. Menghadapi ejekan orang. Karena pemikiran orang pastilah tak bisa diatur sesuai keinginan kita.
“Embak duduk sini sama ibu. Aku mau cari petugas yang kemarin di dalam. Katanya kalau datang, beri tahu dia,” kata adikku lewat tulisan.
Aku mengangguk, membiarkannya pergi. “Hati-hati.” Hanya itu yang bisa kupesankan padanya. Kuminum air jahe yang dibawa ibu, karena aku mengeluh mual dan masuk angin.
“Jangan banyak dipikir, nanti kamu jadi makin sakit,” begitu bujukan ibu yang kudengar. Tapi tentu saja aku akan berpura-pura tidak mendengarnya.
Tak lama seseorang datang keluar bersama Satria. Mencoba menyapaku, tapi aku bergeming. Terus pura-pura tidak mendengar. Seperti yang kukatakan pada dokter di pemeriksaan terakhir, kalau yang kudengar di telinga satu lagi hanya bunyi dengung tak jelas.
Akhirnya pria itu mengajak kami masuk dan menyuruhku duduk tak jauh dari tempat duduknya.
Hari itu aku dimintai keterangan. Duduk di depan hakim dan ditanyai. Tentu saja, dengan pertanyaan yang ditulis di kertas.
Semua bukti kesehatanku satu persatu dutunjukkan pada hakim. Aku sendiri sampai terkejut melihat kondisiku dari foto pertama yang dibuat polisi, hingga dibawa ke rumah sakit. Lalu foto-foto perkembangan di hari-hari berikutnya. Semua itu membuat kepalaku makin pusing.
Kemudian rekaman pernyataan yang kubuat di depan polisi di rumah sakit juga diperdengarkan. Aku bergidik ngeri mendengar ceritaku sendiri. Membuat hatiku mengeras, mengingat kejadian itu. Rasanya aku ingin melompat dan membunuh monster yang duduk di kursi dekat pengacaranya.
Aku tidak mengerti proses persidangan. Aku terus ditanyai hal-hal yang aku tak ingin ingat-ingat lagi. Dan aku terus didesak untuk bicara. Hingga aku tidak tahan lagi. Tubuhku rasanya panas dingin tidak karuan. Aku menoleh pada ibu.
“Ibu, Rika mau pulang …,” kataku dengan air mata bersimbah.
Tak lama, aku dibawa kembali ke tempat duduk, di antara ibu dan adikku. Merekalah kekuatan terakhirku. Tapi kepalaku terasa sangat pusing. Aku tak mampu lagi bertahan di sana.
“Rika!” suara ibu terdengar samar. Tapi aku tak bisa melihatnya. Pandanganku sudah kabur dan menghitam.
Aku bangun di sebuah ruangan putih yang kuyakin sebagai rumah sakit. Satria sedang memeluk ibu. Aku ingin memanggil, tapi tak jadi.
“Seperti belum cukup cobaanmu, Tuhan. Kenapa putriku masih Kau biarkan hamil anak binatang itu!” Begitulah kata ibu yang kudengar.
Tangan yang semula akan kuulurkan, jadi menegang di tempatnya. “Hamil? Aku hamil?” Aku kembali tak mengingat apapun.
__ADS_1
-Bersambung
…