
#SP-1
“Puti, saya pulang duluan,” kataku sambil merapikan pakaian bersih yang kutumpuk di atas batu sungai besar ke dalam keranjang bambu.
“Kenapa cepat sekali?” tanya Puti yang masih sibuk mencuci pakaian di sungai kecil di belakang dusun kami.
“Hari sudah tinggi. Saya harus ke sawah Angku Leman,” kataku menyahutinya.
Aku sudah selesai menutupi seluruh tubuh dan kepala dengan kain panjang besar, di atas pakaian yang basah kuyup. Keranjang bambu yang penuh pakaian basah itu meneteskan air saat kuangkat ke atas kepala. Wajahku dialiri oleh air dingin kaki gunung.
“Apa kau tak mau memperlambat langkah sedikit? Sebentar lagi orang-orang kota itu akan lewat di jalan atas situ,” bujuknya menahan langkahku.
“Ah, kau yang mau lihat mereka. Kenapa mengajak saya?”
Aku sudah melangkah naik. Menginjak batu demi batu besar yang menjadi tumpuan kami para wanita naik dan turun ke sungai itu. Aku harus segara kembali dan menyiapkan kopi, sebelum bapak bangun.
Aku mengetatkan rahang mengingat sifat bapak yang berubah kasar sejak beberapa bulan belakangan. Semua itu karena dia kalah bertaruh dalam pacuan kuda. Dan yang paling mengejutkan, bapak menggadaikan sepetak sawah dan kebun kecil yang selama ini jadi gantungan hidup kami.
Amak jatuh sakit sejak kabar itu disampaikan oleh penagih hutang yang sebelumnya ditahan bapak dengan janji-janji. Keluargaku tidak kaya, tapi dengan mengandalkan sawah dan kebun warisan itu, keluarga kami tidak sampai kelaparan selama ini.
Uda tertua yang menjadi harapan keluarga sudah sangat pusing memikirkan tabiat bapak yang tak pernah berubah sejak muda. Dia sangat marah, tapi kata-kata sudah tak mempan lagi.
Kuliah Uda Asrul tinggal satu tahun lagi selesai. Bukan jurusan yang mahal juga. Meskipun begitu, sudah sangat berat dirasanya. Karena harus bekerja untuk membiayai hidup dan kuliahnya sendiri di kota.
Sekarang ditambah lagi Sayid, adik lelakiku melapor dan minta biaya sekolah, karena uang simpanan dagang amak sudah habis untuk biaya berobat.
Kakiku bergegas melangkah melewati pematang sawah, yang dulunya adalah sawah kami.
Berlinang air mata membayangkan padi yang menguning dan kuupayakan dengan keringat, sudah tidak mungkin lagi kupanen.
Sebuah teriakan yang mulai terbiasa kudengar akhir-akhir ini, kembali menggema dan terdengar di seluruh dusun pagi itu. Aku menyeka air mata di pipi.
“Renooo ...!” Bapak berteriak mencariku.
“Yaaa ...!” sahutku sambil setengah berlari, sembari memegang keranjang kain besar yang kujunjung di atas kepala.
Langkahku terseok-seok untuk menyeimbangkan pijakan agar tidak jatuh ke tanah.
__ADS_1
Dengan terengah-engah aku sampai juga di belakang rumah. Keranjang kain itu kuletakkan di pinggir tumpukan kayu bakar. Lalu mendorong pintu dapur.
Kulihat sepanci besar air yang tadi kutaruh di atas tungku sebelum pergi mencuci, sudah menggelegak. Kucari-cari tempat kopi untuk membuatkan kopi bapak, agar kemarahannya reda.
Hatiku merasa kecut. Bubuk kopi di situ tak sampai satu sendok. Tapi kumasukkan juga ke dalam gelas. Lalu secangkir air panas mendidih kutuang ke dalam gelas. Harum kopi tersebar memenuhi dapur sederhana kami.
“Ini kopi, Pak,” kataku. Kopi pahit itu kuletakkan di atas meja ruang tamu. Bukan karena bapak suka kopi pahit, maka kubuat begitu. Tapi karena memang sudah seminggu gula habis.
Bapak bangkit dari duduknya yang setengah berbaring di kursi panjang. Dia pasti tergugah dengan aroma kopi. Tapi matanya menatapku tajam.
“Apa masih tak ada gula?” tanyanya penuh tuntutan.
Aku menggeleng. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku sudah bekerja pontang-panting ke setiap kebun dan sawah tetangga, hanya agar kami bisa punya seliter beras untuk makan tiap hari. Usahaku itu hanya agar amak dan adikku tidak sampai kelaparan saja!
“Apa yang bisa dimakan?” tanyanya dengan suara meninggi.
“Reno baru pulang dari sungai, Pak. Belum ada yang bisa dimakan,” jawabku sambil meninggalkannya dan melihat amak di kamar. Kuambilkan air putiih hangat untuk amak mengisi perut di udara dingin kampung kami.
“Harusnya, masak dulu sebelum ke sungai!” teriak bapak dari luar.
“Tidak ada yang bisa dimasak, Pak!” balasku mulai jengkel atas ketidak pekaannya pada keadaan anak istrinya.
Tangan amak yang lemah, menepuk-nepuk tanganku, agar aku bersabar dan tidak membalas kata-kata bapak. Aku kadang kesal pada amak yang begitu sabar menghadapi tabiat buruk bapak sejak muda.
Air mataku menitik. Rasanya kesal sekali melihat bapak seperti itu. Aku, amak dan adik lelakiku saja tidak ada yang sarapan pagi.
Kami sudah membuang kebiasaan itu sejak tak punya persediaan beras lagi. Kadang, kalau sore aku mendapat ubi atau singkong, aku akan menyisihkannya sedikit untuk pagi. Agar Sayid tidak perlu kelaparan di sekolah.
Aku mendengar suara motor bapak pergi. Aku keluar dari kamar. Kopi pahit di meja sudah habis diteguknya. Sekarang, waktunya untuk menjemur kain dan pergi ke sawah tetangga. Musim panen sudah dimulai. Dibutuhkan banyak tenaga tambahan agar panen bisa selesai segera.
“Mak, Reno pergi ke sawah Angku Leman dulu. Kemarin dipanggil untuk bantu memanen beras pulut di sana,” kataku dengan senyum. “Doakan banyak hasil hari ini.”
Amak mengangguk dan tersenyum saat kucium punggung tangannya sebelum keluar kamar. Aku berangkat dengan hati penuh harapan. Semoga bisa membawa pulang beras agak satu liter untuk makan kami sekeluarga.
Di sawah Angku Leman, sudah berkumpul banyak orang. Aku menjadi kecil hati kala melihat beberapa mesin pemotong di sana. Sepertinya, rejekiku sedikit sempit hari ini.
Jadi aku duduk saja di pematang, melihat beberapa mahasiswa KKN dari kota memperagakan cara menyabit padi dengan alat pemotong itu. Memang sangat cepat. Secepat mesin pemotong rumput yang pernah kulihat di halaman balai desa.
Aku mendesah, membuang rasa resah yang menghimpit dada. Lalu bangkit dari tepian pematang dan berjalan melewati beberapa orang yang tampak tertarik melihat peragaan itu.
__ADS_1
“Ren, mau ke mana?”
Aku menoleh. Ada Siti dan Puti juga di tepian pematang.
“Mau cari sawah lain saja. Mereka pakai alat seperti itu. Tidak akan perlu banyak tenaga,” kataku terus berjalan.
Siti dan Puti saling pandang dan mengatupkan bibir rapat-rapat. Mereka mengerti keadaanku.
Kakiku mantap menyusuri pematang sawah yang saling sambung menyambung di kampung kami. Mencari-cari tempat yang sedang panen. Aku percaya, rejeki tiap makkhluk itu sudah disiapkan. Aku hanya perlu mencari dan berusaha.
Dan memang jalan rejekiku ada di sawah lain. Di tempat Angku Amran tak banyak pekerja harian yang datang. Sebagian besar pekerja berkumpul di tempat Angku Leman untuk melihat cara menggunakan mesin pemanen yang baru.
Aku bekerja dengan giat. Wajahku yang coklat dibelai sinar matahari dengan mesra, seakan menyemangati. Masker perawatan kulitku adalah lumpur sawah yang kadang ada pacatnya. Sawah luas itu hanya dikerjakan oleh sepuluh orang.
Di tengah hari kami beristirahat. Hasil setengah hari itu aku, mendapatkan satu liter beras. Aku pulang dengan riang. Lebih riang lagi karena melihat tanaman lompong di pinggir jalan dusun banyak yang bisa dipetik. Kami bisa makan dengan sayur enak hari ini.
Dua per tiga liter beras kumasak dengan air yang lebih banyak dari biasa, agar cukup untuk semuanya. Lalu di tungku lain aku menumis sayur lompong. Kemudian makan bersama amak.
“Jangan lupa sholat,” pesan amak. Aku mengangguk. Pergi membersihkan tubuh di kamar mandi kecil yang airnya dialirkan dengan talang bambu dari batang air yang mengalir deras di depan rumah.
“Reno berangkat lagi, Mak,” pamitku setelah selesai sholat.
“Uni!”
Sayid yang sekolah SMP sudah pulang. Dia tampak letih. Kuambilkan air dingin segelas untuk melepas dahaganya.
“Uni masak sayur lompong, makanlah cepat, sebelum dihabiskan bapak,” kataku.
“Matanya berbinar mendengar aku masak enak siang itu. Aku tersenyum dan langkahku ringan menuju sawah Angku Amran. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu.
Memang rejeki anak sholeha. Petang itu aku pulang dengan membawa beras dan tiga ekor belut yang diikat dengan batang padi. Semua padi di satu sawah luas itu sudah selesai kami panen. Sawah yang masih agak berair itu menyimpan binatang lezat di bawah tumpukan lumpurnya.
Beramai-ramai kami mencari belut dan ikan sepat sore itu. Lalu membaginya rata.
Malam itu amak dan Sayid sangat gembira. Aku masih menyisakan beberapa potong belut untuk sarapan amak dan Sayid besok pagi. Betapa gembira itu sangat sederhana bagi keluarga kami.
Kubaringkan tubuh yang lelah di samping amak. Memejamkan mata sambil menikmati tepukan tangan yang seirama suara tadarus Quran dari bibirnya. Aku memeluk tubuh amak yang makin ringkih.
“Mampukan aku membahagiakan amak, Ya Allah,” bisikku dalam hati.
__ADS_1
~Bersambung ...