WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
#SP-3


__ADS_3

Aku masih hidup dan mencoba membuka mulut lebar-lebar untuk memasukkan semua udara ke paru-paru. Samar kudengar racauan Sayid yang marah dan suara gedebag-gedebug. Kemudian teriakan adikku menggema di malam buta, mengembalikan kesadaranku yang nyaris menghilang.


“Amaaaak ...!”


Kali kedua panggilan Sayid, membuatku benar-benar terduduk dan mencari Amak. Sedikit terkejut, menyadari rumah kami yang terang benderang.


“Uni! Bawa Amak keluar. Rumah terbakar!” teriak adikku.


Kejutan yang bertubi-tubi, membuatku kehilangan respon. Aku hanya diam mematung melihat adikku kesulitan mengangkat Amak yang tak bergerak.


“Uni!” Goncangan tangan Sayid kembali menyadarkanku. “Bantu bawa Amak keluar!” kata adikku lagi.


Tubuhku yang lemah dan masiih belum pulih dari kejut, membuatu tak bisa gesit membawa Amak keluar rumah. Baru satu meter dari pintu, Sayid berlari masuk lagi ke dalam.


“Sayid!” teriakku ngeri.


Rumah kayu kami sudah tua. Lebih tua dari usia pernikahan Amak dan Bapak. Karena itu adalah rumah warisan Amai, ibu dari Amak. Cepat sekali api berkobar melahap kayu dinding yang lapuk.


“Sayid!” Aku panik dan berdiri. Adikku harus segera keluar dari rumah sebelum tiang atap ambruk.


“Aku di sini!”


Sayid muncul dari samping rumah. Di tangannya ada tempat beras yang isinya tak sampai seliter. Ada pula tas sekolah di punggungnya. Dia membentangkan kain panjang satu-satunya milik Amak. Berdua kami menjauh dari rumah yang kini sudah benar-benar terbakar.


Kutatap nanar tempat tinggal kami satu-satunya. Kemudian aku teringat bapak. “Bapak dimana?” tanyaku.


“Dia mencekik Uni dan mendorong Amak sampai jatuh. Sayid pukul kepalanyanya dengan cambuang. Berkali-kali dipukul baru Uni dilepaskannya. Lari dia sekarang!”


Adikku sangat marah. Kupeluk dia dan memeriksa Amak. Aku cemas lagi. “Ambilkan air!” perintahku pada Sayid.


Adikku langsung lari ke tali air di depan rumah dan menciduk air dengan tampungan dua tangannya. Air itu dikucurkan ke wajah amak, berharap dia segera sadar. Amak tak merespon. Panikku muncul lagi.


“Amak, bangun ....” panggilku dengan suara menggerung. Sayid ikut menangis.


“Amak kenapa?” tanyanya tak mengerti. Aku hanya bisa menggeleng.

__ADS_1


“Pergi ke tempat Datuk Soleh, panggil ke sini!” perintahku.


Rumah datuk Soleh adalah yang terdekat dengan rumah kami. Jaraknya hanya dua ratus meter saja. Adikku sudah melesat cepat seperti kijang.  Aku memeluk amak dengan deraian air mata, diterangi cahaya rumah kami yang kini sudah sepenuhnya dilalap api.


Derak kayu terbakar, seperti sudara derak kayu saat aku memasak di dapur. Tapi suara derak ini sama sekali tidak membahagiakanku. “Mau tinggal di mana lagi kami sekeluarga?” batinku lelah memilikirkan semua itu.


“Amak ... bangun. Jangan  tinggalkan Reno sendirian ...,” ratapku sedih. Kupeluk kuciumi wajahnya yang mengeriput.


Kutoleh jalanan gelap gulita yang tak diterangi lampu listrik. Sayid dan Datuk Soleh belum terlihat. Rasanya aku seperti sedang menunggu berabad-abad lamanya.


Tak lama suara orang-orang terdengar sangat ramai. Mereka pasti keluarga dan pekerja di tempat Datuk Soleh. TKarena rumah tak mungkin lagi diselamatkan, jadi aku memanggil “Tolong Amak!”


Orang datang mendekat untuk melihat. Mereka semua para pria, tak ada yang berani menyentuh Amak untuk memeriksa. “Kenapa amakmu?” tanya Datuk Soleh.


“Tadi Uni dicekik sama Bapak. Amak dan saya melerai. Bapak medorong Amak sampai jatuh. Saya pukuli dengan cambuang besi, baru lari dia.” Sayid menceritakan lagi yang terjadi dengan penuh kemarahan.


“Kita tak ada yang mengerti hal seperti ini. Harusnya bawa ke mantri di dusun lain!” kata orang-orang itu.


“Kau, pergilah ke surau, tempat orang-orang kota itu menginap. Mungkin mereka tahu cara memeriksa Amak si Reno ini.”


Aku hanya bisa menangis dan terus menggoyang tubuh Amak dalam pelukanku. Amak tak bersuara, tak mendesah ataupun merintih. Aku sebenar-benarnya takut saat ini. Pikiranku sudah buruk.


“Sebentar Datuk kabarkan pada Asrul kejadian ini.”


Datuk Soleh mengeluarkan ponselnya dari saku. Mengangkatnya ke atas kepala berputar-putar, bahkan berjalan kian kemari dengan ponsel diacungkan ke atas. Kata Uda, di dusun kami susah sekali sinyal. Itu sebabnya aku tak perlu dibekali alat seperti itu, percuma! Setiap ada sesuatu aku akan meminta tolong pada Datuk Soleh untuk mengabarkan Uda Asrul.


Aku mendengar suara motor sayup-sayup dan tak lama lebih ramai lagi orang yang datang. “Kasih jalan, biar mereka periksa,” perintah Datuk Soleh.


Beberapa mahasiswa kota itu mendekat. Seseorang berjongkok. “Maaf, Uni,” ujarnya. Aku mengangguk. Membiarkan pria itu mengambil tangan ibu dan memeriksa di pergelangan tangannya.


Aku bisa melihat kerutan kecil di antara kedua alis matanya. Hatiku makin kacau menyadari kekhawatiran pria muda itu.


“Amak kenapa, Uda?” tanyaku dengan wajah yang sudah penuh air mata bercampur ingus.


Dia tak menjawab. Tangannya menyusup ke leher ibu untuk meyakinkan dirinya sendiri. Kemudian menggeleng.

__ADS_1


“Coba Uni taruh kepala di dada amaknya, apakah ada terdengar bunyi jantung berdetak,” sarannya.


Tangan pria itu menarik salah seorang temannya. Memperagakan bagaimana aku harus memeriksa suara jantung Amak.


Aku menuruti perkataannya. Tempat itu kini hening dalam ketegangan. Hanya derak kayu dilalap api yang terdengar. Kutarik adikku untuk membandingkan suara dadanya dengan suara dada Amak. Aku kembali menangis.


“Coba Adik yang dengarkan,” kataku dengan air mata bercucuran.


Dengan kaku, Sayid berjongkok di sisi Amak yang terus diam. Air matanya ikut tumpah. Tapi dia mencoba mendengarkan suara jantung Amak dan tak lama menggerung dengan suara keras.


“Jangan tinggalkan Sayid, Amak ....”


Aku memeluknya dan menangis bersama.  Kemudian tubuh adikku mengejang. Matanya berkilat marah.


Terdengar orang-orang mengucap Innalillah.


“Aku akan mencari Bapak sampai dapat dan membunuhnya. Dia sudah membunuh Amak lalu melarikan diri!” Aku bisa melihat api dendam di mata adikku. Aku hanya bisa memeluk dan menyabarkannya.


“Sabar ...,” bisikku dengan suara tercekat.


“Sabar apa! Dia juga mau membunuh Uni tadi! Kalau tidak kupukul kepalanya, dia tak akan melepaskan Uni!” Sayid masih emosi, tak akan ada kata yang bisa menenangkannya. Aku memeluknya tanpa bicara.


Tapi kemudian orang-orang menjadi bertanya-tanya antar mereka apa permasalahan keluarga kami, sampai bapak membunuh Amak dan ingin membunuhku pula.


“Sebaiknya kita bawa ke dokter terdekat untuk memastikan,” usul salah seorang mahasiswa kota itu. Teman-temannya mengangguk.


“Aku ambil mobil,” sahut yang lain.


“Adakah yang tahu di mana dokter terdekat di sini?” tanya mahasiswa yang tadi jongkok di depanku.


“Saya tahu mantri terdekat. Kalau dokter, kita harus pergi ke kampung lain yang jauh.” kata Datuk Soleh.


“Kalau begitu kita bawa ke mantri dulu. Lihat apa yang dikatakannya saja.” Jawab mahasiswa itu.


“Biar saya tunjukkan jalan ke sana. Tunggu saya ambil sesuatu di rumah.” Datuk Soleh pergi tanpa menunggu persetujuan siapapun.

__ADS_1


-Bersambung ...


__ADS_2