WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
#SP-2


__ADS_3

Pagi ini rumah kami tenang, karena ternyata Bapak tidak pulang semalam. Adikku menikmati sarapannya dengan sumringah. Dia akhirnya punya cukup tenaga untuk pergi dan pulang sekolah ke dusun lain.


Kuperhatikan dari jendela, adikku yang melompati tali air depan rumah dengan lincah. Suara siulannya memecah hari manis pagi ini. Senyum itu yang kuupayakan hadir tiap pagi di rumah ini.


“Mak, Reno pergi. Masih ada sepetak sawah Angku Amran yang harus kami selesaikan pagi ini,” kataku.


“Ya,” kata Amak.


Hatiku tenang karena perut Amak sudah terisi pagi ini. Semoga siang nanti ada makanan yang bisa kubawa pulang.


Suara serunai padi yang ditiup entah siapa, terasa memanggil agar aku mempercepat langkah ke sawah. Itu adalah musik terindah dan tersyahdu yang mengiringi kehidupanku selama 20 tahun di dusun terpencil kaki gunung ini. Dusun yang bahkan tak punya sekolah dan hanya ada satu surau kecil dekat rumah kepala dusun.


Seorang perempuan diringi suaminya, muncul dari pematang di sampingku. “Mau ke sawah, Tek?” tanyaku berbasa-basi.


“Tidak! Mau ke parak!”


Matanya mengerling tajam saat melewatiku. Langkahnya yang terlalu dekat, membuatku menyingkir agar tidak jatuh ke sawah orang di sebelah.


Aku tak mengacuhkan tingkah anehnya dan melanjutkan perjalanan ke sawah Angku Amran yang sudah terlihat di ujung pandangan. Ada beberapa pohon pinang yang menjadi penanda sawah itu. Seperti sengaja ditanam sebagai patok dari setiap bidang sawahnya.


“Pagi sekali kamu datang?” salah seorang buruh tani bertanya saat melihatku muncul.


“Jangan sampai rejeki dipatok ayam karena kesiangan,” kataku tersenyum.


Tak lama Angku Amran datang dan mengarahkan kami untuk mengerjakan bagian masing-masing. Aku langsung  lompat ke sepetak sawah yang harus kukerjakan. Semua ini harus selesai hingga tengah hari, agar setelahnya bisa langsung membersihkan bulirnya. Maka upahnya bisa jadi dua kali lipat.


Tengah hari, perhitunganku meleset. Saat orang-orang sudah berhenti, aku masih punya sebaris tanaman padi yang belum kukerjakan.


“Apa perlu bantuan?” tanya pekerja lain.


“Indak, tinggal sedikit lagi. Duluan saja,” kataku mempersilakan mereka menuju tempat pengambilan upah.


Tapi tiba-tiba seseorang melompat turun ke sawah dan membantuku menyelesaikan barisan padi terakhir itu. Kemudian membantu menumpuk semua itu ke atas plastik besar di tengah sawah.


“Terima kasih,” kataku padanya.


“Uda siapa? Kenapa tidak pernah tahu kalau ada pekerja harian yang seperti Uda?” tanyaku lagi.


“Saya mahasiswa yang KKN di sini,” jawabnya masih dengan seulas senyum di wajah tampannya.

__ADS_1


Wajahku langsung cemberut. Mereka lah yang mengajarkan penggunaan alat baru itu. Hingga para pekerja seperti kami terancam kehilangan pekerjaan.


“Apa Uda juga mau menawarkan Angku Amran alat yang  sama dengan di tempat Angku Leman?” tanyaku judes.


“Bukan menawarkan." Dia meluruskan.


“Saya hanya mau mengajarkan teknologi baru agar pekerjaan  pertanian cepat selesai.” Pria itu tersenyum.


“Tapi dengan alat seperti itu, orang kecil seperti kami akan kehilangan pekerjaan dan kelaparan!” kataku pedas.


Mungkin aku terlihat seperti orang yang kurang berterima kasih. Tapi itulah kenyataan yang mereka orang kota itu tidak tahu.


Aku memandang gunungan batang pagi yang seperti permata berharga di tengah hamparan sawah luas membentang. Kutinggalkan tempat itu saat seorang pekerja Angku Amran datang melihat pekerjaanku.


“Terima kasih Pak Tuo,” kataku dengan senyum cerah. Kali ini dia memberiku sedikit uang dan seliter beras. Betapa bahagianya.


“Nanti setelah sholat zuhur, saya akan datang untuk membersihkan bulirnya,” kataku. Aku harus merebut pekerjaan itu lebih dulu, sebelum ditawarkan pada yang lain.


“Kata Angku, membersihkan bulirnya di sawah besar itu saja. Nanti datang untuk memindahkannya saja ke sana,” kata pria tua itu.


“Baik, Pak Tuo,” balasku patuh, lalu pergi dari sana.


Kakiku berbelok ke arah parak entah milik siapa yang bertahun-tahun tak pernah dikerjakan. Melompat turun dari pematang dan membungkuk mencari-cari pakis muda yang tersisa diantara semak belukar.


Sesekali aku meluruskan punggung, lalu kembali menyibak tanaman liar yang sudah saling kait mengait. Memetik beberapa bunga biru yang bisa diseduh menjadi teh.


“Uni!”


Aku mendengar suara seseorang. Tapi tak kuacuhkan, karena merasa tidak mengenal suara itu. Kuteruskan mencari pakis yang  makin sulit terlihat di hari yang mulai panas ini.


“Uni!”


Suara itu sangat dekat. Aku menoleh dengan heran. Dia adalah mahasiswa yang tadi membantuku menyabit padi. Berdiri di hadapanku sejarak satu meter.


“Ada apa?” tanyaku curiga.


Apa dia ingin minta bagian dari upahku yang tak seberapa itu? Dia hanya mengerjakan sedikit dari baris terakhir. Lagi pula aku tidak ada menyuruhnya.


“Apa maksud Uni tadi bilang kalau yang kami kerjakan bisa membuat para pekerja kelaparan?”

__ADS_1


Aku terhenyak medengarnya. Ternyata ini yang ingin ditanyakannya hingga menyusulku ke parak kotor seperti ini.


“Apa kalian tidak lihat bagaimana kami bekerja dengan tangan? Jika tanpa alat, maka akan ada banyak penyabit yang bisa ikut membantu demi mendapatkan seliter beras!” Kutunjukkan padanya plastik beras yang kudapat tadi.


“Dan sekarang saya hanya perlu mencari ini ...,” kutunjukkan padanya batang-batang pakis yang kudapat. “... untuk teman makan nasi!”


“Kalian orang kota, tahu apa!” ketusku.


Kusudahi pencarian pakis karena hari mulai tinggi. Masih banyak yang harus dikerjakan di rumah.


Aku keluar dari parak yang penuh semak tinggi itu dan naik ke pematang. Tak peduli orang kota itu mau berpikir apa. Yang jelas, itulah pendapatku mengenai apa yang mereka lakukan di sawah Angku Leman kemarin.


Di kejauhan, sepasang mata jahil mengamati dua manusia berlainan jenis yang naik susul menyusul ke atas pematang lalu berpisah.


***


Malam itu setelah adikku Sayid pulang dari surau, kami makan dengan senang. Aku membawa pulang hampir seliter beras dan dua ekor ikan bado ukuran sedang. Ikan itu jadi banyak setelah dipotong-potong. Lebih senang lagi, karena setelah berhemat sejak kemarin, aku masih punya seliter beras untuk besok.


Adikku belajar di bawah sinar lampu togok yang kuning dan apinya meliuk-liuk diterpa angin dari lubang di dinding kayu rumah kami.


Tiba-tiba bapak masuk ke rumah tanpa salam. Pintu didorong kencang menabrak dinding kamar amak  dan mengejutkan kami semua.


“Apa yang kau kerjakan di parak orang dengan laki-laki itu!” tanyanya marah sambil menarik bagian depan bajuku.


Gerakannya sangat cepat, hingga aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di depanku dalam sedetik.


“Parak siapa? Lelaki siapa?” tanyaku bingung.


Aku biasanya tidak takut pada bapak. Tapi entah kenapa, kali ini pria itu seperti bukan bapakku! Ada kilat asing di matanya yang membuatku merinding.


“Jangan berkelit lagi. Sudah ramai orang membicarakan kamu di lapau! Bikin malu saja. Kalau teringin kali kawin, biar kucarikan laki!” teriaknya marah.


“Aku tidak melakukan apa-apa. Aku bekerja di sawah Angku Amran! Bapak bisa tanya di sana. Aku bekerja sampai petang!” jelasku panik.


Kali ini tangan bapak sudah menggenggam leherku. Samar bisa kudengar adikku Sayid berteriak-teriak melerai. Aku merasa pusing dan kepalaku bergoyang-goyang dalam genggaman tangan bapak. Aku mencoba melepas cengkerannya untuk menghirup udara. Pandanganku meredup.


Antara sadar dan tidak, kurasakan tubuhku melayang jatuh. Lalu teriakan parau Amak dan Sayid terdengar  bersahutan.


-Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2