
Uwo kami itu duduk terhenyak. Tak mengira kemenakannya sampai separah itu. Matanya melotot pada kemenakannya dan membentak.
“Sekarang bagaimana Kau pikir akan membayar semua itu? Apa ada uangmu? Kau sungguh gila! Tak berubah sedikitpun!”
Datuk Penghulu Basa tak peduli dengan kata-kata seperti itu. Mereka sudah merembukkan semua sanksi bahkan sebelum acara itu dimulai. Mereka memberi hukuman dengan rasa keadilan untuk kami kakak beradik.
“Kami tak punya uang sebanyak itu, Datuk!” kelit Uwo.
“Tak masalah. Urusan ini akan kami sampaikan pada ketua suku kalian. Dan Kemenakan Angku ini akan kami laporkan ke polisi sudah membunuh istrinya di rumah! Kami akan menyebarkan informasi ke kampung dan dusun tetangga, terkait ini. Juga melarang keluarga kalian menginjakkan kaki di kampung ini lagi!”
“Apa kau puas dengan itu, Asrul?” tanya Datuk Panghulu Basa.
Uda Asrul memang tak terlalu berharap dari keluarga Bapak yang terkenal kikir dan tak pernah peduli pada kami. Tapi tak disangka bahkan di depan semua orang, mereka masih tidak tahu malu!
“Selain itu, kami tak mau dia mendekati kami lagi. Kami sudah menganggapnya mati, setelah membunuh Amak kami!” kata Uda dengan mata menatap tajam pria yang menunduk di hadapan semua orang.
“Kau dengar? Hukumanmu ditambah, tak boleh mendekati ketiga anakmu lagi. Bahkan meski kau melihat mereka di kota atau pasar. Tak boleh mendekat!” tegas Datuk Panghulu Basa.
__ADS_1
“Pertemuan selesai! Mulai besok semua denda harus dikirim ke tempat Datuk Soleh. Ba’da Jumat, kita bersama-sama membangun rumah untuk mereka bertiga, sampai selesai. Semua harus membantu!”
Datuk Panghulu Basa menutup pertemuan tanpa menggubris protes Uwo yang masih tak puas dengan angka 45 juta yang harus dibayarkan keluarganya.
Saat Datuk Panghulu Basa berdiri hendak pergi, Uwo menghalangi. “Denda itu terlalu besar Datuk,” tawarnya lagi.
“Usia si Asrul 23 tahun. Selama itu, apa pernah Angku biayai sekolahnya? Pernah antarkan sekarung beras ke rumah mereka? Harta warisan inyiak Amak si Reno sudah habis digadaikan oleh kemenakan Angku. Lagi pula, Reno itu anak gadis, tapi dia harus pergi menyabit padi di sawah urang, demi seliter beras untuk makan!”
Suara Datuk yang menggelegar, menjadi perhatian orang-orang yang semula ingin membubarkan diri. Mereka berhenti untuk menonton apa yang akan terjadi berikutnya. Uwo kami memang tak punya malu.
“Bukan saya tak tahu keluarga Angku sangat kaya. Di dalam harta Angku ada hak mereka yang miskin dan papa! Mereka itu keluarga terdekat, tapi tak pernah mendapatkan haknya? Entahlah Allah akan berbuat apa pada Angku dan keluarga!”
Semua terdiam melihat Datuk tua itu pergi dengan kemarahan. Kami pun terdiam. Hanya orang yang punya hati yang bisa mengerti keadaan kami kakak beradik. Uda Asrul memeluk Sayid yang menangis.
“Jangan takut. Ada Allah yang akan menjaga kita dari orang zalim dan busuk!” kata Uda Asrul lantang.
Keesokan hari, Uda Asrul kembali ke kota. Kami sangat berharap pendidikannya nanti bisa membangkitkan lagi batang tarandam keluarga kami.
__ADS_1
Setelah dirembukkan dengan beberapa datuk, maka aku dan Sayid untuk sementara tinggal di rumah Datuk Soleh, menunggu gubuk sederhana kami dibangun kembali.
Uwo kami pergi membawa Bapak dan hanya meninggalkan uang 500 ribu. Uang itu diserahkan oleh Datuk Soleh dengan wajah prihatin. Kugunakan itu untuk membeli peralatan sekolah Sayid yang hangus terbakar. Tersisa sedikit sebagai pegangan pembeli bahan makanan. Dan aku masih terus menyabit ke sawah-sawah untuk mendapatkan sedikit upah.
Dalam waktu satu minggu, rumah sederhana kami jadi, tepat di atas rumah lama. Malin tak dapat memenuhi hukumannya, sehingga dia pergi dari dusun itu. Istrinya juga mengikuti pergi.
Bagiku seperti ini juga sudah cukup. Asal ada tempat untuk kami berteduh. Ada beras seliter dan garam gula di rumah. Segala sayur bisa kutanam atau cari di parak. Kalau beruntung, bisa mendapat ikan dari tali air atau pinggir sawah. Serta ada pekerjaan menanti di sawah dan parak urang.
Bahagia memang sesederhana itu untuk orang kecil seperti kami.
--End—
Cerpen
berikutnya: ANYELIR MERAH JAMBU
Stay tune dan jangan lupa tap love, gift, dan beri rate ⭐lima ya.. Oh ya, cerpen di sini tidak dikontrak, jadi jangan skip iklan yaa..
__ADS_1
Terima kasih.