
Ibu menyampaikan kabar itu dengan hati-hati. Tapi tetap saja, itu membuatku kembali meraung. Nasibku makin terpuruk. Kucoba berkali-kali menekan perutku, berharap janin itu tidak tumbuh di sana. Dia harus dimusnahkan! Aku tak sudi mengandung anak monster itu.
“Jangan! Jangan menyakiti dirimu sendiri begini. Kita tanya dokter bagaimana cara terbaik mengatasinya,” bujuk ibu sambil menahan kedua tanganku.
“Rika enggak mau! Enggak mau …!” teriakku histeris.
“Sabar … sabar ….” Ibu memelukku dengan tangan yang terus mengusap-usap punggungku. Aku bisa rasakan tubuh ibu yang juga gemetar. Aku memeluknya erat. Berusaha kuat untuk menenangkan diriku sendiri.
“Maafin Rika, Bu …. Bikin susah ibu dan Satria terus,” kataku di antara tangis.
“Ini cobaan, kita harus kuat,” kata ibu sambil mengusap punggungku. Setelah aku tenang, ibu menulis di kertas lagi.
“Jangan sakiti dirimu sendiri. Kita tanya dokter dulu,” tulisnya.
Aku membacanya dan mengangguk lemah. Sungguh tidak berdaya menghadapi semua cobaan ini.
“Rika enggak mau anak ini!” kataku teguh.
Ibu menulis lagi di kertas. “Ibu cari dokternya dulu dan bilang yang kamu mau. Jangan macam-macam ya. Tunggu ibu kembali.”
Aku mengangguk setelah membacanya. Lalu melihat ibu keluar dari kamar perawatanku. Kutarik kedua lutut dan memeluknya erat untuk menekan perutku. Keadaan kami sudah sulit. Aku tak boleh hamil. Tidak karena monster itu. Aku tak sudi!
Tak lama ibu kembali bersama seorang dokter wanita. Ibu mengikuti dari belakang bersama Satria. Adikku memegang kertas dan mengambil tas yang sebelumnya kami bawa ke pengadilan.
Dokter menunjukkan kertas bertulis padaku. “Embaknya udah enggak apa-apa. Jadi bisa pulang. Jangan lupa minum obatnya.”
Aku menoleh pada ibu. Bertanya-tanya bagaimana dengan pesanku tadi. Ibu hanya mengangguk tak jelas. Itu membuatku tak sabar.
“Saya enggak mau hamil anak bajingan itu, Dok! Buang saja anak ini! Bikin malu dan bikin susah saja!” kataku tanpa basa-basi.
Dokter itu semula terkejut dan melihat ke arah ibu. Tapi dengan segera tersenyum dan menulis di kertas.
“Tugas dokter menjaga kehidupan. Bukan membunuhnya.”
__ADS_1
Meskipun bisa kulihat wajah si dokter yang tak berdaya, tapi aku tak peduli. “Aku enggak mau hamil! Enggak mau! Anak ini harus mati! Mati!” teriakku marah sambil memukuli perutku sendiri.
Satria berlari dan mencampakkan tas kami. Isinya berhamburan di lantai. Dia memelukku, hingga punggungnya kena pukulan keras tanganku.
“Jangan begini, Mbak. Sabar. Kita cari jalan keluarnya,” bujuknya sambil terus mengeratkan pelukannya.
Tanganku kalah kuat dari pelukan adikku. Aku tak bisa melepaskan kedua tangannya yang melingkari punggungku. Hingga aku lelah dan berhenti dengan sendirinya. Mataku melihat masa depan yang suram di depanku. Pandanganku jadi kosong membayangkannya. Membuat tubuhku jatuh lemas tak bertenaga.
Seorang wanita paruh baya dan lelaki muda, membimbing wanita muda yang terlihat linglung, tak mengerti keadaan sekitar. Mereka menaiki taksi untuk pulang ke rumah. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menangis di sepanjang jalan. Menangisi nasib buruk yang menimpa putri dan keluarganya.
Aku tidak tahu berapa lama waktu yang terlewat, ketika perlahan aku menyadari keadaan. Kedua tangan dan kakiku diikat di kayu tempat tidur. Kucoba untuk menariknya. Tak bisa!
“Ibuu …!” teriakku parau. Kedua tangan dan kakiku bergerak seirama, melakukan pemberontakan, agar bisa lepas dari ikatan itu.
Yang masuk ke kamar adalah Bu Rt. Di tangannya ada buku pelajaran Satria yang sudah lusuh dan hampir penuh dengan tulisan. Ditunjukkannya tulisan padaku.
“Ibumu sekarang sakit dan dirawat di puskesmas. Adikmu sedang menjaga di sana. Jadi jangan rewel dan teriak-teriak. Sabar!”
Aku terdiam. “Ibu …,” lirihku. Pemberontakan kecilku langsung berhenti.
Aku marah mendapatkan kecaman seperti itu. “Ini bukan salahku! Bajingan sialan itu membuatku begini!” sergahku emosi.
Bu Rt menghembuskan napas panjang. Jelas sekali dia bosan.
“Yang bikin ibu dan adikmu lelah, siapa? Yang bikin ibumu sakit, siapa?” tulisnya.
Aku akhirnya hanya bisa terdiam. Lelah dan bingung. “Bagaimana keadaan ibu?” Pikiran itu terus berkecamuk dan tak mendapatkan jawaban.
Dua hari, Bu Rt dan Bu Rw datang mengurusku bergantian. Memberi makan ala kadarnya. Sampai akhirnya kulihat ibu berdiri di pintu kamar.
“Ibuu …,” panggilku penuh penyesalan.
“Maafin Rika, nyusahin ibu,” tangisku meluncur lagi.
__ADS_1
Ibu duduk di sampingku dan mengusap punggungku pelan-pelan. Aku sudah tenang sekarang. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk tidak menyusahkan ibu dan adikku lagi.
Tanganku gantian mengusap punggung ibu dan memeluknya. Ibu lelah dan butuh pelukan. Aku semakin bertekad untuk bangkit.
Satria masuk kamar dengan tas baju ibu. Dia meletakkannya di sudut kamar. Kuulurkan tangan, tanda ingin memeluknya. Adikku datang dan ikut memeluk aku dan ibu. Kuusap-usap punggung kedua orang yang sangat kucintai ini.
“Maafin Rika, udah nyusahin selama ini. Mulai sekarang Rika enggak akan nyusahin siapapun lagi,” janjiku. Mereka hanya diam dan menikmati pelukan kami.
Keluargaku memang tak butuh banyak hal. Kami cuma butuh ketenangan dalam menjalani hidup.
Minggu berikutnya, aku ditawari untuk pergi ke pengadilan. Tapi aku memang tidak cukup sehat untuk pergi. Surat keterangan dokter yang baru, diantarkan adikku ke sana pagi-pagi.
Aku merasakan pusing dan mual yang parah. Ini sangat menyiksa dan membuatku lemah berhari-hari. Sehari-hari hanya berada di dalam rumah. Aku membantu menyiapkan jualan ibu sebisaku. Kuharap dengan begitu, ibu tidak terlalu kerepotan lagi. Dan adikku bisa bekerja dengan tenang.
Suatu hari, aku sedang menjemur kain di samping rumah. Seharusnya tidak ada yang melihatku. Karena aku memang berusaha tidak menampakkan diri agar tidak terus menjadi gunjingan para tetangga.
“Eh, denger-denger si Rika hamidun dong!” kata seseorang yang aku tidak tahu siapa.
“Kayaknya sih gitu. Bu Rt bilang tanda-tanda orang hamil, waktu dia merawat di sini.”
Aku tertegun. Tapi berusaha tidak peduli dan mempercepat pekerjaanku
“Itulah salahnya. Coba pakai cara kekeluargaan. Kan bisa minta ditanggung jawabi sama Pak Sumanto!” timpal yang lain.
Aku pura-pura tuli saja dan menggantung kain cucianku yang terakhir.
“Sekarang, hamidun sendirian. Bapak anak itu malah dipenjara biar dia keliatan sebagai gadis suci. Akhirnya dapat apa? Yang ada ya malu tujuh turunan punya anak haram!”
Hatiku sangat sakit mendengar gosip orang-orang di sebelah rumah kami itu. Saat aku berbalik, kulihat Mas Agus menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti. Aku menunduk dan masuk ke rumah cepat-cepat.
“Hei! Kalian ini sukanya menggosipkan kehidupan orang lain saja! Fitnah sana-sini gak mikirin perasaan orangnya!”
Aku mendengar Mas Agus menyemprot para wanita yang menggosip disebelah. Tapi bukannya malu ketahuan menggosip, mereka justru menantang Mas Agus.
__ADS_1
“Kan si mas udah pacaran bertahun-tahun tuh. Keadaan Rika udah kaya begitu. Kalau emang beneran cinta, ini saatnya nujukin keseriusan. Nikahi saja dia, biar gak makin stress dan bikin malu satu kampung!”
-Bersambung ...