WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN

WANITA DALAM KUMPULAN CERPEN
#BS


__ADS_3

Kota itu gempar saat Sumanto ditangkap polisi. Tak ada yang mengira bahwa pria yang biasanya sangat ramah itu adalah pelaku pemerkosaan pada buruh pabrik tempatnya bekerja.


Meskipun Rika adalah korban, tapi pabrik tempatnya bekerja justru melayangkan surat pemecatan dan berlepas tangan.


Alasan mereka, itu adalah urusan pribadi yang dilakukan di luar pabrik dan di luar jam kerja. Mereka menolak bertanggung jawab.


Pabrik ingin secepatnya membersihkan citra perusahaan untuk menghentikan bola liar tudingan yang ditujukan pada mereka.


Mereka bahkan menekan keluarga Rika agar tidak menjelek-jelekkan pabrik pada media. Sebagai gantinya, mereka memberi bantuan biaya Rumah Sakit yang memang sudah sangat besar.


Ibu dan adiknya tak punya pilihan, selain menerima persyaratan itu. Dengan uang itu, mereka bisa melunasi semua biaya rumah sakit dan membawa Rika pulang. Mereka akan merawatnya sendiri di rumah.


“Mbak, kita sudah harus pulang. Nanti berobat jalan aja. Kita sudah enggak punya biaya untuk bayar rumah sakit.”


Adikku menunjukkan kertas yang ditulisnya. Aku mengangguk pasrah. Bagaimanapun, kondisiku memang sudah lebih baik setelah seminggu dirawat.


Tak lama ibu datang dengan berkas-berkas rumah sakit dan obat di tangan. Lalu dua perawat menghampiri dan melepas selang infus juga selang urine.


Dengan didorong kursi roda, aku sampai di pintu keluar rumah sakit. Satria memanggil taksi dan membantuku masuk. Kami pulang.


Sepanjang perjalanan, aku menyandarkan kepala pada bahu ibu dan memejamkan mata. Berusaha membuang bayangan buruk agar tidak menyusahkan keluarga dengan teriakan-teriakanku lagi.


Tak butuh waktu lama, berita kedatanganku menggemparkan tempat tinggal kami. Tak kurang ketua rt dan rw datang menjenguk. Entah benar-benar perhatian padaku, atau sekedar ingin tahu. Lalu silih berganti tetangga bertamu. Bermuka sedih di depan kami.


Tapi pikiran polosku sudah hilang. Monster itu mengajarkan bahwa yang terlihat baik juga memiliki sisi iblis di dalam dirinya. Aku tidak lagi mempercayai senyum siapapun saat ini, kecuali ibu dan adikku.


Keesokan hari, seorang wanita dengan lemak di seluruh badannya, menyerbu masuk ke kamar tempat aku terbaring.


Dia menunjuk-nunjuk dengan muka merah dan marah. Mulutnya bergerak-gerak begitu cepat, melebihi kecepatan mesin pabrik!


Satria sudah menariknya keluar dan berulang kali didorongnya jatuh. Kemudian ibu juga berusaha menghelanya pergi dan kembali didorongnya jatuh. Aku marah sekali.


“Pergi kau gendut!” teriakku marah. Beraninya dia menyakiti wanita yang paling kuhormati itu.


Tampaknya wanita itu bertambah marah mendengar teriakanku. Dia mencoba menjangkau rambutku. Dan dia berhasil. Kepalaku ditarik hingga aku hampir jatuh dari tempat tidur.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tak lama jambakan di rambutku sudah lepas. Kucoba memperbaiki posisiku yang menelungkup dan hampir jatuh ke lantai. Ingin tahu, siapa yang menyelamatkanku.


Polisi yang kemarin di rumah sakit, ternyata ada di sana dan sedang menahan tangan perempuan gendut itu di belakang punggungnya. Namun, perempuan yang seperti buldozer itu masih saja meronta-ronta.


Polisi membawanya keluar dari kamar. Ibu dan Satria mengikuti. Aku kembali sendirian di dalam kamar dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Tak lama kemudian Satria masuk kamar. Menunjuk botol air dan menawarkannya padaku. Aku mengangguk.


“Siapa perempuan itu tadi?” tanyaku.


Satria mengambil kertas dan menulis. “Istri Sumanto!”


Aku heran. “Mau apa dia ke sini? Sepertinya dia marah-marah tadi. Kamu dan ibu sampai jatuh. Apa ada yang sakit?” tanyaku bertubi-tubi.


“Enggak usah dipikirkan. Udah dibawa petugas ke kantor polisi karena menyerang Mbak!” Adikku menjelaskan lagi di tulisannya.


Aku mengangguk, menurutinya. Berbaring lagi dan merasakan kepalaku yang kembali berdenyut-denyut akibat jambakan keras tadi. Wajahku meringis menahankan sakit, juga amarah.


“Kenapa dia yang marah-marah ke sini? Bukankah harusnya aku yang marah pada mereka!” gerutuku sendiri.


Hari berganti dan kami hidup dalam kesulitan. Selama ini, akulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibuku hanya bekerja menjadi buruh tani, kalau ada juragan yang panggil untuk bantu panen ataupun menanam padi. Dan sekarang belum musim panen. Aku melepas satu-satunya cincin emas yang masih utuh melingkar di jariku.


“Satria mana?” tanyaku.


Ibu mengambil kertas dan menulis. “Kerja!”


Aku terkejut. “Kenapa kerja? Apa dia udah enggak mau sekolah?” rasanya aku ingin marah saat ini. Dia adalah harapan kami untuk membangkitkan keluarga.


Sebuah kertas disodorkan ibu lagi padaku. “Adikmu kan sudah selesai ujian sekolah. Mereka tinggal tunggu pengumuman!”


Aku terdiam. Sepertinya kemelut ini membuatku lupa kalau adikku tersayang itu sebenarnya sudah selesai ujian. Tinggal menunggu pengumuman dan pergi jalan-jalan.


“Kerja di mana dia?” tanyaku.


“Di pabrik tempat kamu kerja dulu. Bosmu mengajaknya ikut kerja sebagai asisten dulu, sebulan ini.”

__ADS_1


Aku terdiam melihat lembaran kertas yang dipegang ibu. Hatiku berkecamuk. Ada rasa kesal, syukur dan khawatir membiarkan adikku kerja di sana. Aku takut dia diintimidasi pihak lain yang tak senang atas kasusku.


“Bilang sama Satria. Dia enggak perlu kerja di sana, kalau enggak kuat. Rika enggak mau Satria diintimidasi sama orang-orang yang benci sama Rika!” kataku tegas.


Ibu menunjukkan lembaran kertas lain padaku. “Ibu mau ke pasar, jual cincin ini. Kamu baik-baik di rumah.” Pesannya.


Aku mengangguk dan membiarkan ibu pergi. Kembali aku sendirian saja di dalam kamar. Kemarin polisi bilang, kasusku sudah dikirim ke kejaksaan. Aku tinggal tunggu waktu sidang.


“Kapan telingaku bisa mendengar lagi?” batinku. Bengkak di wajahku sudah mengempes. Tapi sakit di telinga masih terasa samar-samar. Setiap hari ibu membersihkannya dan mengoleskan lagi obat di luka yang terbuka.


Tadi pagi baru aku tahu apa yang selalu dikerjakan ibu. Lewat cermin bisa kulihat kalau daun telingaku sobek dan dokter sudah menjahitnya lagi. Tapi aku bisa lihat gulungan kapas yang selalu diganti ibu untuk diselipkan di lubang telinga.


“Apakah di dalam telingaku ada yang luka juga?” pikirku heran.


Ibu belum kembali juga dari pasar. Padahal aku ingin ke belakang. Karena sudah kebelet, akhirnya kucoba bangkit perlahan dan pergi ke belakang. Meskipun nyeri menerjang, Aku tetap harus jalan terseok-seok. Jangan lagi menyusahkan ibu mengurus kotoranku.


Aku lega setelah selesai buang hajat. Berjalan kembali ke kamar, melewati ruang tengah yang menjadi ruang serbaguna. Bisa jadi ruang tamu, ruang makan, ruang belajar Satria dan segala macam.


Aku melihat bayangan buram seseorang di balik jendela kaca. “Apakah ada tamu?” pikirku.


Bagaimanapun, aku memang tidak bisa mendengar jika seseorang mengetuk pintu rumah. Aku mendekat ke sana.


Saat tanganku sudah akan memutar kunci, hatiku ragu. Jangan-jangan si buldozer itu datang lagi. Aku mundur, jongkok merapat dinding, mencoba bersembunyi dari pandangan orang yang mungkin akan mengintip ke dalam lewat ventilasi.


“Kenapa aku yang takut? Aku kan tidak berbuat salah!” protes hatiku tak senang. Akhirnya aku berdiri lagi dan membuka tirai jendela. Ingin tahu siapa yang tadi datang.


Tepat saat aku singkapkan tirai jendela, orang itu melihat ke dalam. Aku tertegun. Itu Mas Agus, pacarku. Wajahnya cemas di balik kaca. Mulutnya komat-kamit sedari tadi. Aku hanya bisa memandangnya dari balik jendela kaca dambil mencucurkan air mata.


Kemudian berbalik dan menyeret langkah kembali ke kamar. “Aku kotor. Enggak pantes lagi ngarepin dia yang begitu baik!”


Aku sudah membulatkan keputusan ini. Hubungan kami selesai karena monster itu telah merenggut hal yang kujaga dengan hati-hati.


Aku duduk memeluk guling dan terus menangis. Hingga aku terlonjak kaget saat sebuah tangan hinggap di bahuku. Dengan cepat tangan itu kutepiskan. Dan berbalik menatap dengan garang.


Tapi tatapan itu berubah jadi deraian air mata ketika tahu bahwa ibulah yang berdiri di sana dan melihatku dengan sedih. Aku menghambur memeluknya.

__ADS_1


“Ibuu ….”


-Bersambung ....


__ADS_2