
Seorang wanita muda, lusuh dan agak stress. Hidup bertualang ke sana kemari. Menyusuri jalan setiap hari terang. Makan hanya jika ada yang memberinya makan. Minum seadanya dan tidur di mana saja. Perutnya yang besar, membuat beberapa orang iba. Tapi tak kalah banyak juga yang berhati jahat mengganggu, untuk bisa mengambil keuntungan darinya.
Dia tak menyadari banyak hal. Hanya satu hal yang masih diingatnya. Kenangan buruk di tengah hutan itu sangat membekas di kepalanya. Jika ada yang menyentuh, dia akan mengamuk. Menjerit kencang dan memukuli dengan benda apapun yang ditemuinya. Beberapa preman pasar miskin yang tak mampu membayar wanita, telah beberapa orang harus menerima nasib mengenaskan.
Entah keberuntungan atau kesialan. Makin lama, keadaannya yang tak terurus dan bau segala macam, membuat tak ada lagi pria bahkan preman termiskin, yang ingin menjamahnya. Semua orang menolak dihampirinya.
“Pergi! Kau bau sekali!” usir orang-orang tak senang, bahkan memukulnya dengan ranting, agar menjauh dari pagar rumah mereka yang berharga.
Dia hidup menyendiri dan bicara sendiri. Tertawa dan menangis sendiri. Sesekali menengadah ke langit dan memanggil. “Bawa Rika, Bapak ….”
Lalu dia akan murung beberapa saat. Atau berkata sendiri. “Adik harus jaga ibu. Kakak mau cari bapak!” Kemudian dia akan berlari kecil dengan riang.
“Bapak … Rika datang …!” teriaknya seperti anak kecil.
Suatu hari, dia mulai merasa kelelahan berjalan. Dia berhenti di sebuah gubug reot di tengah ladang kering. Hari itu dia menangis sangat sedih.
“Rika lapar, Bu …,” tangisnya.
Dengan perut yang besar, dia beringsut bangkit dari lantai tanah tempat dia beristirahat malam tadi. Perutnya lapar dan sakit. Matanya nanar melihat rumput hijau tumbuh di bawah keteduhan pohon. Tangannya yang hitam dan kusam menjangkau dan menarik rumput itu dari tempat tumbuhnya. Memandangnya dengan senyum cerah dan segera dimasukkan ke dalam mulut.
Dia duduk dengan senang di tanah kering dan retak-retak. Tangannya sibuk memilin rumput sebelum dimasukkan dalam mulut dan mengunyahnya dengan semangat. Setelah beberapa genggam rumput di tangan habis dan dia tak lagi menemukan yang warna hijaunya memikat hati, dia berhenti.
Kepalanya menengadah ke matahari yang menyorot ganas di musim kemarau panjang itu. Dia ingin kembali menapaki jalan, tapi kakinya letih dan kadang napasnya tersengal.
“Ibu, perut Rika sakit …,” keluhnya.
Matanya yang kosong melihat ke satu tempat. Kemudian tangannya terulur. “Bapak … ikut!” panggilnya. “Rika enggak nakal,” katanya lagi.
Kemudian matanya kembali sayu, dan uluran tangannya jatuh. Air matanya juga jatuh berderai, begitu sedihnya.
Gadis itu sudah beberapa hari tak berdaya. Dia tak lagi menemukan rumput untuk dimakan. Bahkan selokan kecil tempat dia biasa mengambil air untuk minum, telah kering kerontang.
“Adik, embak lapar …. Haus ….”
__ADS_1
Rintihannya makin lama makin lirih. Gadis itu sudah terbaring di depan gubug reot, menatap sisa sinar matahari yang sudah mulai masuk ke peraduan. Dia mendesis, menangis, lalu menggumamkan sesuatu yang hanya dia yang tahu. Tubuhnya sudah penuh debu dan kotoran … juga darah!
Gelegar petir sejak senja, membuatnya tak bisa memejamkan mata. Matanya melihat dengan takut pada cahaya petir yang berkilat-kilat di langit gelap. Bibirnya terus mendesiskan rasa sakit.
Makin lama, desisnya berubah jadi jeritan sakit dan putus asa. Namun, gelegar petir menyamarkan suaranya. Angin dingin dan lembab mulai bertiup membelai pipinya. Dia menjerit keras lagi, seperti ingin membuang semua beban derita yang selama berbulan-bulan dipikulnya.
Hujan turun perlahan. Meluncurkan air penuh debu ke permukaan bumi. Lalu menderas diiringi suara petir yang tak putus. Gadis itu menggeliat-geliat di tanah basah, kesakitan. Dia sangat lemah, lapar dan haus.
Lalu aroma tanah yang telah basah di mana-mana, mampu menenangkan jiwanya. Membuatnya terpejam dengan wajah meringis. Mulutnya membuka dan menampung air yang jatuh dari atas. Dia meminumnya dengan lahap. Telapak tangannya menyeka wajah yang basah. Membuatnya jadi semakin berantakan oleh lunturan debu.
Entah berapa lama dia berjuang dengan geliat sakit di bawah hujan. Tangannya meraba-raba ke bawah, merasakan sesuatu yang mengganjal dan dia ingin itu segera keluar dan pergi.
Dengan panduan gelegar petir, dia menjerit panjang hingga setengah duduk. Air hujan seperti dicurahkan dari langit. Akan tetapi, sebuah tangisan halus tetap mampu memasuki telinga yang tidak berfungsi dengan baik itu.
Sambil terduduk dia mengamati benda kecil yang menjerit sambil menggerakkan tangan. Kepalanya miring mengamati. Langit yang gelap dalam hujan deras, bukan hal mudah untuk melihat apa yang ada di depannya.
“Adik?” panggilnya.
“Adik, embak di sini. Jangan sakit. Embak bawa ke mantri Slamet. Tunggu!”
Gadis itu berusaha untuk bisa jongkok. Tangannya meraba-raba mencari adiknya. Lalu sesuatu jatuh ke tanah disertai semburan darah yang deras. Dia tak mempedulikannya.
Tapi karena hal itu pula dia bisa mendengar suara lemah adiknya. Dengan cepat dia menggendong sang adik ke pelukan. Lalu berdiri dengan susah payah dan mencari jalan keluar dari ladang kering yang sekarang sudah basah kuyup itu.
Gadis itu berjalan terseok. Dia bahkan tidak lagi dapat melihat dengan jelas. Pandangannya kabur. Tapi dia tahu, dari cahaya yang melintas, itu adalah jalan. Dia harus ke sana dan menemukan mantri untuk mengobati adiknya
“Adik, tunggu sebentar lagi,” katanya terus.
Sesuatu bergantungan dan terhubung dengan sang adik. Saat berjalan kadang itu mengganggu langkahnya. Dia sudah mencoba menarik dan memeluknya bersama sang adik.
“Itu jalan. Rumah pak mantri Slamet ada di sana!” katanya senang.
Dia berlari di jalan raya sepi. Menyusuri jalan itu mengikuti kata hatinya. Saat melihat sebuah cahaya di kejauhan, wajahnya makin bersemangat. Matanya yang semula redup, kembali bersinar penuh harapan.
__ADS_1
“Itu rumah mantri. Adik sabar ya.” Gadis yang sedang menggendong adiknya itu berlari menyongsong cahaya di kejauhan.
Cahaya itu makin terlihat jelas dan berkedip-kedip semakin dekat. “Kenapa ada banyak cahaya?” gumamnya sambil tertegun di tengah jalan. Dia ingin menyongsongnya, tapi dia tak tahu cahaya mana yang merupakan lampu rumah mantri Slamet. Dia meragu, namun sinar itu semakin dekat dan terang.
Blarr …! Suara petir menyamarkan sebuah tabrakan tragis di malam hujan deras yang menandai awal musim hujan.
“Adiik!”
Gadis itu mendekap adiknya ke dada saat dia melayang di udara. Tapi dia tidak bersedih. Dia tersenyum melihat wajah bapaknya.
“Adik, kita dijemput bapak!” senyumnya bahagia.
Senyum terakhir sebelum bapak membawanya pergi mengakhiri penderitaan selama ini.
Brukk!
Seorang wanita muda kumal dan basah kuyup, jatuh terhempas di pinggir aspal basah. Tangannya memeluk erat sang adik. Darah terciprat di mana-mana.
Keesokan hari, desa setempat geger melihat mayat seorang wanita dan bayi baru lahir, lengkap dengan ari-arinya, berada di pinggir jalan raya antar propinsi yang sunyi.
Kemudian koran lokal memberitakannya. “Gadis Tak Dikenal dan Bayinya Tewas Akibat Tabrak Lari.”
Berbagai spekulasi beredar. Mungkin dia adalah selingkuhan seseorang dan dibuang di sana oleh pria tak bertanggung jawab. Opini lain muncul, Dia mungkin gadis yang ingin ingin menggugurkan kandungan akibat hubungan gelap.
Semua opini dan spekulasi itu hanya bertahan beberapa hari, tenggelam dengan berita-berita baru yang lebih menarik untuk dibahas.
-End-
Cerpen berikutnya: Serunai Padi.
Tetap ikuti kumpulan cerpen dengan tema wanita di buku ini. Jangan lupa kasih Like, Komentar, Love, Rate, Gift dan jangan skip iklan ya. Terima kasih.
*****
__ADS_1