
Sekarang tertuduh benar-benar sudah tinggal Malin seorang. Aku kagum dengan keefektifan cara pengusutan yang dilakukan Kepala Dusun. Tak heran dia terus menjadi Kepala Dusun setelah bertahun-tahun.
“Apa kau punya saksi atas apa yang kau lihat?” tanya Kepala Dusun pada Malin. Pria itu menggeleng lemah. Dia merasa sudah tak mungkin lepas lagi dari hukuman kampung itu.
“Dan kau hanya melihat mereka naik ke pematang!” Kepala Dusun menegaskan lagi.
Malin diam dan berpikir. Jawabannya saat ini adalah penentu hukuman yang akan diterimanya. Jika dia menjawab hanya melihat naik pematang seperti semula, maka dia mendapat hukuman menyebar informasi palsu saja. Tapi jika dia mengatakan mereka bersuka-sukaan, maka itu akan menjadi fitnah besar. Dan dia tak punya saksi yang mendukung pernyataannya. Tapi, melihat wajah pria kota yang tampak setenang air di lubuk, membuat emosinya naik.
Dilihatnya ke arah Reno. Sekarang dia menyesal buru-buru mengambil istri ketiga. Harusnya gadis hitam manis itu yang menjadi istri, barulah angannya terpuaskan.
“Jawab!” bentak Datuk Soleh tak sabar.
“Aku hanya melihat mereka naik pematang,” jawab Malin tertunduk lesu.
“Kau tidak ada melihat mereka melakukan hal-hal lain?” desak Kepala Dusun. Malin menggeleng.
“Sekarang kita sudah tahu tersangkanya. Hukumannya akan diputuskan dalam rapat adat minggu depan. Sekalian memutuskan nasib bapak si Reno yang tindakannya sudah membunuh istrinya sendiri!” putus Kepala Dusun.
Para penonton bergumam riuh. Memikirkan hukuman ayng akan diterima oleh Malin dan Bapak si Reno.
“Sekarang kita jernihkan berita simpang siur ini dulu. Kau, Farhan. Katakan apa yang terjadi sebenarnya!” tanya Datuk Soleh.
Bergantian orang kota itu dan aku menjelaskan yang sebenarnya dalam pertemuan. Sekarang semua orang mengerti apa yang terjadi di parak itu. Issu baru muncul ketika acara bubar.
“Yang dikatakan Reno ada benarnya. Kalau alat pertanian itu digunakan oleh para Angku pemilik sawah, maka kita akan kehilangan pekerjaan!” Para pekerja pertanian itu pulang dengan hati gundah.
Setelah semua bubar, Datuk Soleh masih menceramahi para mahasiswa itu di sana. Sambil berlalu, yang kudengar hanya, “...camkan itu. Di sini kampung terpencil. Tak boleh bercakap-cakap berdua saja dengan para wanita, kalau tak ingin jadi fitnah!”
“Iya, Datuk ....” Mereka menajawab serempak, seperti paduan suara.
__ADS_1
Di surau, kami kakak beradik bertiga, mengaji sebentar sebelum beranjak tidur.
“Uda mau cari kemana bapak lari!” kata Uda Asrul marah.
“Paling juga pulang ke rumah nenek!” timpal Sayid ketus.
“Biarkan saja. Reno sudah bilang sama Datuk Soleh. Hukuman dari keluarga kita adalah mengusirnya dari sini. Jangan ijinkan lagi dia masuk ke kampung sini,” kataku.
“Tapi, kalau tidak ada sanksi, dia pasti akan datang lagi,” kata adikku.
“Nanti Uda tambahkan permintaan ke Datuk Soleh. Kalau dia datang, kita akan lapor polisi atas tindakannya!” katanya geram.
“Uda, sekarang kami tidak punya rumah. Bagaimana jalan keluarnya?” tanyaku getir.
“Apa mau ikut Uda ke kota? Tapi kau tak bisa kerja menyabit padi lagi, ....”
Kulihat Uda Asrul bimbang. Aku tahu bahwa kehidupannya sendiri sudah sulit. Ditambah dua adiknya, pasti tidak terpikirkan olehnya harus menanggung kami berdua secepat ini.
“Kita sewakan saja tanah tapak rumah itu, untuk ongkos awal memindahkan sekolah Sayid dan tinggal di kota. Sudah tu, Reno akan cari kerja,” kataku memberi ide.
“Ide itu boleh juga. Tapi menyewakan tanah tidak akan langsung datang penyewanya. Sementara waktu Uda hanya seminggu ini saja. Tak bisa libur lebih lama, Nanti kuliah Uda gagal jika terlalu banyak libur,” katanya.
“Andai ada gubuk kecil di atas rumah kita, Reno bisa tetap tinggal di sini bersama Sayid,” kataku lesu.
“Itu juga bisa. Hanya saja, apa yang akan dikatakan orang sekampung tentang Uda. Mereka akan mencibir, karena sebagai anak lelaki Uda tidak mau mengurus dua adik. Ada kau pula perempuan yang harus dilindungi!”
Aku merasa urusan ini terlalu pelik untuk kupikirkan malam ini. Jadi perbincangan itu tak kujawab lagi. Masing-masing kami tidur kelelahan oleh banyaknya peristiwa yang terjadi sehari kemarin.
***
__ADS_1
Selama seminggu itu, kami hidup dari belas kasihan orang lain. Meskipun begitu, aku tidak tinggal diam. Aku selalu pergi menyabit padi di sawah-sawah yang sedang panen. Sayid tetap sekolah, sementara Uda Asrul mengurus urusan keluarga.
Sore itu seseorang datang membawa bapak pulang. Seorang mamaknya juga datang untuk menjadi saksi atas tindakannya yang membuat istrinya tewas.
Ketika aku pulang sawah dan melihatnya, aku masiih mencoba untuk bersikap hormat dan mencium tangannya.
“Kapan datang Uwo,” tanyaku basa-basi. Dia tak menjawab.
Bisa kulihat air mukanya yang asam. Aku sendiri tak pernah menyukai keluarga mereka, karena tak pernah sekalipun datang menjenguk apa lagi membantu kehidupan kami.
Malam itu, rapat adat di kampung kami diselenggarakan. Semua suku yang ada di kampung, sudah mendatangkan datuknya, untuk mewakili. Terutama orang-orang yang menjadi tertuduh dan biang onar dengan gossip yang mereka sebarkan. Pertemuan dipimpin langsung oleh Datuk Panghulu Basa. Datuk tertinggi di kampung kami.
Karena sudah diketahui siapa saja yang bergosip di lapau, mereka mendapat hukuman masing-masing membawa lima lembar papan kayu untuk membangun kembali rumah kami. Fendi harus membayar sepuluh lembar papan dan lima batang kayu tiang.
Dan Malin mendapat hukuman lebih berat. Dia harus membeli lima sak semen dan satu truk pasir untuk lantai. Kalau dia tak mau membayar denda itu, maka dia tak boleh datang ke kampung kami lagi.
Semua mereka tertunduk. Tak mengira harus mengeluarkan duit sebesar itu gara-gara bergosip di lapau. Mata mereka menatap penuh kebencian pada Fendi, yang melemparkan berita tanpa dipikir.
Untuk bapakku yang tak bertanggung jawab itu, Dia harus membayar uang denda ganti rugi karena perbuatannya mengakibatkan rumah terbakar. Pria itu harus membayar dua puluh juta!
Pak tuo protes dengan besarnya angka yang dikemukakan Datuk Panghulu Basa.
“Angku pikir itu besar? Selama ini kemenakan Angku itu tak mengeluarkan sepeserpun uang untuk membesarkan anak-anaknya! Dia hanya menumpang hidup saja di sini! Apa Angku pernah datang dan menjenguk cucu Angku di sini? Pernah memberi mereka agak seratus ribu?” sindir Datuk yang sangat dihormati di tiga kampung sekitar.
Pak Tuo kami itu hanya memasang tampang masam. Sungguh tak bertanggung jawab sama sekali pada kemenakan dan cucu-cucunya.
“Itu baru hukuman denda rumah terbakar, Angku. Belum hutang dia buat selama ini karena gila judi di pacuan kuda. Dia terakhir menggadaikan sawah dan parak warisan Amak si Asrul! Itu tanah keluarga si Asrul. Warisan untuk si Reno! Kami sudah, hitung dan bertanya pada orang yang memegang tanah itu. Asalkan membayar dua puluh lima juta, maka sawah dan tanah itu mereka kembalikan!”
-Bersambung
__ADS_1
...