
Amak, Aku dan Sayid sudah berada dalam mobil para mahasiswa itu. Seorang mahasiswa menyetir di depan. Di sebelahnya ada Datu Soleh. Di belakang, ada seorang mahasiwa lain dan keluarga datuk. Dalam keadaan jalan yang gelap tak diterangi bulan, mobil itu berjaan pelan dan terseok-seok.
“Reno, coba bilang sama datuk, apa yang bikin bapakmu marah dan mencekikmu tadi?” tanya Datuk.
Aku yang masih menangis karena amak tak bergerak dan tubuhnya makin dingin, mengangkat kepala dengan bingung. Aku berusaha mengingat apa yang sebelumnya membuat bapak marah.
“Bapak menuduh Uni bersama lelaki di parak orang! Padahal Uni kan bekerja memanen padi seharian di sawah Angku Amran. Saksinya banyak!” Sayid yang menjawab dengan nada marah.
“Oh, jadi tentang itu. Memang ramai dibicarakan orang di lapau petang tadi.” Kerabat Datuk Soleh yang duduk di belakang, angkat bicara.
“Tapi saya tidak melakukan hal itu. Bisa tanya pada Angku Amran, saya bekerja hingga petang di sawah Beliau!” Aku membela diri.
“Kalau mau menuduh itu harus ada saksinya. Tanpa saksi, maka berita itu jatuhnya fitnah. Nanti Datuk cari siapa yang menyebarkan fitnah ini. Dia berdosa, membuat seseorang tewas karena mulutnya yang berbisa itu!” Datuk Soleh menjadi geram.
“Bapak juga harus dihukum!” kata Sayid dengan hati mendidih penuh amarah.
“Biar jadi urusan polisi. Kita laporkan pada polisi, nanti!” Datuk Soleh benar-benar mengerti harus bagaimana disaat Reno dan adiknya bingung dan panik.
Akhirnya mereka tiba di rumah mantri dusun, yang berjarak dua dusun dari tempat kami. Hari sudah dini hari sekarang. Mantri itu memeriksa tubuh Amak yang mulai dingin. Dia menggeleng.
“Amakmu sudah meninggal,” ujarnya prihatin. Lebih baik secepatnya dimakamkan,” sarannya lagi.
“Jadi bagaimana? Apa masih mau periksa ke dokter?” tanya Datuk Soleh.
Aku menatap Sayid yang tertidur di dalam mobil. Dia pasti sangat lelah. Tubuhku juga sudah lelah. Semua orang sudah lelah dan tak beristirahat semalaman untuk menolongku.
“Kita pulang saja dan memakamkan Amak,” sahutku memutuskan.
“Sekarang, urusan berikutnya." Datuk Soleh menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Apa kau ingin melaporkan bapakmu ke polisi? Kita bisa turun ke balai desa. Di sebelahnya ada pos polisi,” jelas Datuk Soleh lagi.
“Apa tak bisa dihukum secara adat kita di sini saja?” tanyaku.
“Kalau itu yang kau pilih, maka kita harus mengumpulkan semua kepala suku yang ada di dusun kita. Prosesnya mungkin lama. Apa kau bisa bersabar?” tanya Datuk lagi.
“Aku hanya ingin dia pergi dari hidup kami! Usir saja dia dari kampung! Lagi pula, dia bukan orang kampung kita!” kata Reno tegas.
“Nanti Datuk sampaikan permintaanmu itu pada rapat kepala suku! Dan tentang orang yang menyebar fitnah itu, dia juga akan kita cari dalam rapat itu. Agar mendapat hukuman yang setimpal!” janji Datuk Soleh.
“Terima kasih, Datuk,” angguk Reno penuh rasa terima kasih.
“Tolong kabarkan Uda Asrul tentang Amak,” pintaku.
“Sudah Datuk telepon dia tadi. Dia bilang akan segera pulang.” Jawab Datuk Soleh lagi.
Setelah itu kami kembali ke dusun. Jenazah Amak langsung dibawa ke rumah kepala dusun. Pemikiran kami sederhana. Rumahku sudah habis terbakar. Dan surau berada tepat di sebelah kediaman kepala dusun. Subuh sudah datang saat kami sampai.
Pagi menjelang tak terasa. Sinar hangatnya membelai pipi kecoklatan yang terkulai saling menempel dengan Sayid adiknya. Reno terbangun sambil mengerjapkan mata karena silau matahari.
“Sayid, bangun,” kataku membangunkan adik. Kami mencari-cari di mana Amak disemayamkan.
Setelah berjalan keluar pintu, berpapasan dengan putra kepala dusun. “Di mana Amak kami?” tanya Sayid.
“Di semayamkan di bawah rumah. Agar tak sulit untuk memandikannya,” jelas pria muda yang seusia dengan Uda Asrul itu.
Reno dan Sayid segera turun. Di sana sedang dibuat tiang dari kayu lalu antar tiang diikatkan kain panjang. Biasanya itu dipakai untuk menutupi tempat memandikan jenazah.
Tak jauh dari sana, Ada tikar pandan besar dibentangkan. Dan jenazah Amak dibaringkan di tengah-tengah, setelah ditutupi dengan kain. Aku duduk di sebelah Amak. Mencium wajahnya yang kaku dari balik kain penutup. Aku tak peduli dengan ramainya orang yang datang dan hilir mudik membantu urusan pemakaman.
__ADS_1
Kubuka sedikit kain penutup dan melihat wajah Amak yang memutih. Sisa kecantikannya masih membekas. Amak adalah wanita tercantik di dusun ini pada masanya. Kecantikannya terdengar hingga luar daerah. Banyak yang terpikay pada Amak, termasuk bapakku. Pria keturunan keluarga berada dari kampung lain. Hanya saja agak pemalas dan selalu mengandalkan kekayaan keluarga untuk hidup. Aku tak tahu apa yang dipikirkan Amai dan Uwo saat menikahkan putri mereka satu-satunya dengan pria seperti bapak. Lihatlah bagaimana menderita hidup Amak hingga akhir hayatnya.
“Reno ....” Suara seseorang memanggilku.
Aku menoleh. Itu adalah kepala dusun. “Ya, Pak Tuo,” sahutku.
“Udamu belum juga tiba. Apakah kau ingin memakamkan sebelum zuhur, atau setelahnya?” tanya Kepala Dusun hati-hati.
Tanpa kehadiran Uda, maka keputusan berada di tanganku. Aku hanya ingin semua selesai dengan cepat. “Setelah sholat zuhur saja.” Dengan begitu, maka Uda punya waktu hingga zuhur.
“Baik.” Kepala Dusun pergi lagi.
Sayid datang mendekat dan duduk di sebelahku. Wajahnya basah. Tangannya membawa Alquran dan dia mulai mengaji di sebelah jenazah Amak. Aku bangkit untuk berwudhu juga, agar bisa mengaji bersamanya.
Tepat setelah sholat zuhur usai, Uda Asrul tiba dengan mata sembab. Dia langsung lari ke tempat Amak setelah aku menunjukkan tempatnya saat turun dari surau.
“Amak, maafkan Asrul yang tak bisa menolong di saat genting. Asrul anak durhaka dan tidak berbakti!” katanya menyesali diri sambil memeluk tubuh Amak yang kaku.
Semua lega melihat keluargaku sudah lengkap. Ustad yang diundang dari dusun tetangga untuk memimpin pemakaman juga mengangguk-angguk. “Biarkan dia sebentar. Setelah itu suruh sholat zuhur sementara kita memandikan jenazah amaknya.”
Begitulah hari bergulir cepat hari ini. Kami bertiga sudah duduk di depan tanah merah basah dan membukit di depan kami. Ustad memimpin doa dan kami semua mengaminkan.
Sejak Amak pergi, hatiku terasa kosong. Serasa tak punya tujuan hidup lagi. Tak ada lagi yang perlu kuupayakan hingga setengah mati. Aku merasa gamang dengan kehilangan ini. Aku merasa tak lagi berharga.
Sepulang dari makam, Uda Asrul bertanya sungguh-sungguh apa yang terjadi padaku. Aku dan Sayid mengatakan hal yang sama lagi, entah untuk ke berapa kali. Dan itu membuatku muak, marah!
Setelah itu, aku tak melihat Uda Asrul hingga masuk waktu magrib. Aku yang sementara tinggal di surau bersama Sayid, heran melihat ramai orang datang ke rumah kepala dusun.
“Sudah tertangkap dia!” begitu suara orang-orang saling bersahutan. Riuh sekali.
__ADS_1
-Bersambung ...